KOTAK OPINI

Rabu, 05 Juni 2013

ANAK TUNA LARAS



1.     Pengertian Tuna Laras
       Istilah resmi “tuna laras” baru dikenal dalam dunia Pendidikan Luar Biasa (PLB). Istilah tersebut berasal dari kata “tuna” yang berarti kurang dan “laras” yang berarti sesuai. Jadi, anak tuna laras berarti anak yang bertingkah laku kurang/ tidak sesuai dengan lingkungan. Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat tempat ia berada. Anak tuna laras sering disebut dengan anak tuna sosial karena tingkah laku mereka menunjukkan penentangan yang terus menerus terhadap norma-norma masyarakat yang berwujud seperti mencuri, mengganggu dan menyakiti orang lain (Soemantri, 2006) Istilah yang digunakan untuk anak yang berkelainan perilaku (anak tuna laras) dalam konteks kehidupan sehari-hari di kalangan praktisi sangat bervariasi. Perbedaan pemberian julukan kepada anak yang berperilaku menyimpang tidak lepas dari konteks pihak yang berkepentingan. Misalnya, para orang tua cenderung menyebut anak tuna laras dengan istilah anak jelek (bad boy), para guru menyebutnya dengan anak yang tidak dapat diperbaiki (incurrigible), para psikeater/ psikolog lebih senang menyebutnya sebagai anak yang terganggu emosinya (emotional disturb child), para pekerja sosial menyebutnya sebagai anak yang tidak dapat mengikuti aturan atau norma sosial yang berlaku (social maladjusted child), atau jika mereka berurusan dengan hukum maka para hakim biasa menyebutnya sebagai anak-anak pelanggar/ penjahat (deliquent).
       Terlepas dari julukan yang diberikan kepada para tuna laras, secara substansial kesamaan makna yang terdapat pada pemberian “gelar” pada anak tuna laras, disamping menunjuk pada cirinya, yaitu terdapatnya penyimpangan perilaku sebagai pelanggaran terhadap peraturan/ norma yang berlaku dilingkungannya (Sunardi, 1985), juga akibat dari perbuatan yang dilakukannya dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain, …..a behavior deviation is that behavior of a child wich; (i) has a detrimental effect on his development and adjustment and/ or (ii) interferers with the lives of other people(Kirk, 1970).
       Menurut ketentuan Undang-Undang Pokok Pendidikan No. 12 Tahun 1952, anak tuna laras adalah individu yang mempunyai tingkah laku menyimpang/ berkelainan, tidak memiliki sikap, melakukan pelanggaran terhadap peraturan/ norma-norma sosial dengan frekuensi cukup besar, tidak/ kurang mempunyai toleransi terhadap kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh suasana, sehingga membuat kesulitan bagi diri sendiri maupun orang lain.  Dalam dokumen kurikulum SLB bagian E tahun 1977 menyebutkan, yang disebut tuna laras adalah (1) anak yang mengalami gangguan/ hambatan emosi dan tingkah laku sehingga tidak/ kurang menyesuaikan diri dengan baik, baik terhadap lingkungan, sekolah, maupun masyarakat; (2) anak yang mempunyai kebiasaan melanggar norma umum yang berlaku dimasyarakat; (3) anak yang melakukan kejahatan.
       Definisi anak tuna laras atau emotionally handicapped atau behavioral disorder lebih terarah pada definisi Eli M Bower (1981) yang menyatakan bahwa anak dikatakan memiliki hambatan emosional atau kelainan perilaku apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut ini :
·         Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, pengindraan atau kesehatan
·         Ketidakmampuan menjalin hubungan yang menyenangkan dengan teman dan guru
·         Bertingkahlaku yang tidak pantas pada keadaan normal
·         Perasaan tertekan atau tidak bahagia terus-menerus
·         Cenderung menunjukkan gejala-gejala fisik seperti takut pada masalah-masalah sekolah (Delphie, 2006)
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang diidentifikasikan mengalami gangguan atau penyimpangan perilaku adalah individu yang :
·         Tidak mampu mendefinisikan dengan tepat kesehatan mental dan perilaku yag normal
·         Tidak mampu mengukur emosi dan perilakunya sendiri
·         Mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi sosialisasi (Hallahan& Kauffman, 1991)
Beberapa komponen yang penting diperhatikan dalam menilai seorang anak mengalami gangguan emosi/ perilaku atau tidak, yaitu :
·         Adanya penyimpangan perilaku yang terus menerus menurut norma yang berlaku sehingga menimbulkan ketidakmampuan belajar dan penyesuaian diri
·          Penyimpangan itu tetap ada walaupun telah menerima layanan belajar serta bimbingan

2.     Klasifikasi Tuna Laras
            Secara garis besar anak tuna laras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (social maladjusted) dan anak yang mengalami gangguan emosi (emotional disturb). William M. C (1975) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut sebagai berikut :
1. Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial :
·         The semi-socialize child Anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial namun terbatas hanya pada lingkungan tertentu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan norma/ aturan yang ada dikelompok/ keluarganya dengan norma/ aturan yang ada di masyarakat.
·         Children arrested at a primitive level of socialization
Anak pada kelompok ini perkembangan sosialnya berhenti pada tingkatan yang rendah. Hal ini disebabkan mereka tidak mendapat bimbingan dan dorongan dari orangtuanya kearah sikap sosial yang benar, sehingga dalam berperilaku mereka cenderung didorong oleh nafsu.
·         Children arrested with minimum socialization capacity
Anak dalam kelompok ini sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk belajar sikap-sikap sosial. Hal ini disebabkan mereka tidak pernah mengenal kasih sayang, sehingga mereka cenderung bersikap apatis dan egois.

2. Anak yang mengalami gangguan emosi, yaitu :
·         Neurotic behavior. Anak dikelompok ini masih dapat bergaul dengan orang lain, namun mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Anak seperti ini biasanya disebabkan oleh sikap keluarga yang menolak atau terlalu memanjakan mereka, kesalahan pengajaran atau karena kesulitan belajar yang berat
·         Children with psycotic processes. Mereka mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan nyata, hal tersebut disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf akibat keracunan, minuman keras atau narkoba.
Menurut Quay (1979) dalam Samuel A. Kirk and James J. Gallagher (1986) yang dialih bahasakan oleh Moh. Amin dkk (1991 : 51) mengelompokkan sebagai berikut :
·         Anak yang mengalami gangguan perilaku yang kacau (conduct disorder) mengacu pada anak yang melawan pada peraturan, hiperaktif dll.
·         Anak yang cemas-menarik diri (anxicus-withdraw) yaitu anak yang pemalu, suka menyendiri, minder dll. Mereka tertekan batinnya.
·         Dimensi ketidakmatangan (immaturity) mengacu pada anak yang lambat, kurang perhatian, pemalas dll. Mereka mirip anak autistik.
·         Anak agresi sosialisasi (sozialized-aggressive) memiliki ciri yang mirip dengan gangguan perilaku yang bersosialisasi dengan “genk” tertentu. Umumnya mereka menjadi ancaman bagi masyarakat umum.
            Pendapat lain menyebutkan bahwa anak yang dikategorikan mengalami kelainan penyesuaian perilaku adalah anak yang mempunyai tingkah laku yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dirumah, disekolah dan dimasyarakat lingkungannya (Mackie, 1957). Subgrup dari bentuk kelainan penyesuaian sosial (social maladjusted) ini adalah delinquent. Batasan tentang delinquent itu sendiri hanya diberikan jika anak terlibat dalam konflik atau pelanggaran hukum, children who have in conflict with the law (Kirk, 1970).
            Sebagaimana jenis ketunaan yang lain, anak yang dikategorikan berkelainan perilaku (tuna laras) dapat dikelompokkan dalam jenjang, mulai jenjang sangat ringan sampai sangat berat. Berikut ini beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk menentukan intensitas berat ringannya ketuna larasan (Riadi, 1978; Patton, 1991).
·         Besar kecilnya gangguan emosi. Makin dalam perasaan negatif, makin berat penyimpangan
·         Frekuensi tindakan. Semakin sering dan kurangnya penyesalan setelah melakukan perbuatan yang tidak baik, dianggap makin berat penyimpangannya
·         Berat ringan kejahatan yang dilakukan. Disesuaikan dengan peraturan hukum pidana
·         Tempat dan situasi pelanggaran/ kenakalan dilakukan. Dianggap berat jika berani melakukannya di lingkungan masyarakat
·         Mudah sukarnya dipengaruhi untuk bertingkah laku baik.
·         Tunggal atau gandanya ketunaan yang dialami. Jika mempunyai ketunaan lain, masuk dalam kategori berat dalam pembinaannya.

3.     Karakteristik Anak Tuna Laras
                   Karakteristik yang dikemukakan Hallahan dan kauffman (1986) berdasarkan dimensi tingkah laku anak tuna laras adalah sebagai berikut :
·         Anak yang mengalami gangguan perilaku. berkelahi, memukul menyerang, Pemarah, Pembangkang, Suka merusak , Kurang ajar, tidak sopan, Penentang, tidak mau bekerjasama, Suka menggangu, Suka ribut, pembolos, Mudah marah, Suka pamer, Hiperaktif, pembohong , Iri hati, pembantah, Ceroboh, pengacau, Suka menyalahkan orang lain , Mementingkan diri sendiri
·         Anak yang mengalami kecemasan dan menyendiri. Cemas,Tegang, Tidak punya teman , Tertekan, Sensitif, Rendah diri, Mudah frustasi, Pendiam, Mudah bimbang
·         Anak yang kurang dewasa. Pelamun, Kaku, Pasif, Mudah dipengaruhi, Pengantuk, Pembosan
·         Anak yang agresif bersosialisasi. Mempunyai komplotan jahat, Berbuat onar bersama komplotannya, Membuat genk, Suka diluar rumah sampai larut, Bolos sekolah, Pergi dari rumah.

            Selain karakteristik diatas, berikut ini karakteristik yang berkaitan dengan segi akademik, sosial/ emosional dan fisik/ kesehatan anak tuna laras.
1. Karakteristik Akademik : Kelainan perilaku mengakibatkan penyesuaian sosial dan sekolah yang buruk. Akibatnya, dalam belajarnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut :
·         Hasil belajar dibawah rata-rata
·         Sering berurusan dengan guru BK
·         Tidak naik kelas
·         Sering membolos
·         Sering melakukan pelanggaran, baik disekolah maupun dimasyarakat, dll
2. Karakteristik Sosial/ Emosional : Karakteristik sosial/ emosional tuna laras dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.Karakteristik Sosial
1)Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain :
- Perilaku itu tidak diterima masyarakat, biasanya melanggar norma budaya
- Perilaku itu bersifat menggangu, dan dapat dikenai sanksi oleh kelompok sosial
2) Perilaku itu ditandai dengan tindakan agresif, yaitu :
- Tidak mengikuti aturan
- Bersifat mengganggu
- Bersifat membangkang dan menentang
- Tidak dapat bekerjasama
3) Melakukan tindakan yang melanggar hukum dan kejahatan remaja
b. Karakteristik Emosional
a) Hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, misalnya tekanan batin dan rasa cemas
b) Ditandai dengan rasa gelisah, rasa malu, rendah diri, ketakutan dan sifat perasa/ sensitif
c. Karakteristik Fisik/ kesehatan :
            Pada anak tuna laras umumnya masalah fisik/ kesehatan yang dialami berupa gangguan makan, gangguan tidur atau gangguan gerakan. Umumnya mereka merasa ada yang tidak beres dengan jasmaninya, ia mudah mengalami kecelakaan, merasa cemas pada kesehatannya, seolah-olah merasa sakit, dll. Kelainan lain yang berupa fisik yaitu gagap, buang air tidak terkontrol, sering mengompol, dll.

4.     Faktor-faktor Penyebab Tuna Laras
            Ada beberapa hal yang menjadi penyebab tuna laras. Secara umum faktor penyebab tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu (1) faktor internal yaitu faktor yang langsung berkaitan dengan kondisi individu tersebut seperti keturunan, kondisi fisik dan psikisnya, (2) faktor external yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar individu, terutama lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat (Patton, 1991)
1. Faktor Internal
a. Berkercerdasan rendah atau kurang dapat mengikuti tuntutan sekolah.
b. Adanya ganguan atau kerusakan pada otak (brain damage)
c. Memiliki ganguan kejiwaan bawaan.
d. Frustasi yang terus menerus
2. Faktor Eksternal
a. Kemampuan sosial dan ekonomi rendah
b. Adanya konflik budaya yaitu adanya perbedaan pandangan hidup antara keadaan sekolah dan kebiasaan keluarga.
c. Adanya pengaruh negatif dari genk-genk atau kelompok.
d. Kurangnya kasih sayang orang tua karena kehadirannya tidak diharapkan.
e. Kondisi keluarga yang tidak harmonis (broken home).
            Selain itu ada pendapat lain yang menyatakan bahwa meningkatnya penyimpangan sosial disuatu wilayah disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : kurangnya displin diri, lemahnya moral seseorang, mulai melupakan Tuhan, kemajuan masyarakat yang menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru serta kurangnya rasa tanggunga jawab dari pemimpin yang ada. Namun hal tersebut disangkal karena seandainya demikian, mengapa tidak semua orang yang hidup dilingkungan seperti itu menjadi tuna laras, menjadi jahat. Tentu ada hal lain yang menyebabkan seseorang menjadi tuna laras, selain hal-hal tersebut.
            Profesor Cyril Burt menekankan bahwa sebab-sebab tuna laras itu kompleks (multiple causation). Setelah kemajuan dibidang ilmu jiwa, ternyata banyak sebab-sebab yang ditemukan pada tuna laras, merujuk pada kondisi mentalnya. Yaitu mereka yang termasuk pribadi yang tidak memiliki penyesuaian diri yang baik atau sehat dengan lingkungan sosialnya, lebih berpotensi mengalami tuna laras.

5.     Layanan Pendidikan bagi Anak Tuna laras
Sesuai dengan karakteristik anak tunalaras yang telah dikemukakan sebelumnya, maka kebutuhan pendidikan anak tuna laras diharapkan dapat mengatasi problem/ permasalahan perilaku anak tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka perlu dilakukan hal-hal berikut :
·         Berusaha mengatasi semua masalah perilaku anak dengan menyesuaikan kondisi dan proses belajar dengan karakteristik anak tuna laras tersebut
·         Berusaha mengembangkan kemampuan fisik anak serta mengembangkan bakat dan intelektualnya
·         Memberi bekal berupa keterampilan khusus yang bermanfaat.
·         Memberi kesempatan pada anak agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan norma-norma hidup di masyarakat dengan sebaik-baiknya
·         Memberi rasa aman agar mereka tidak merasa dikucilkan dan mampu mengembangkan rasa percaya diri
·         Memberikan penghargaan pada mereka agar moral mereka terangkat sehingga mereka merasa diterima oleh lingkungan
Kauffman(1996) mengemukakan beberapa kondisi yang menyebabkan ketuna larasan dan pembelajaran tidak berhasil, antara lain :
·         Guru yang tidak sensitif terhadap anak
·         Harapan guru yang tidak wajar
·         Pengelolaan pembelajaran yang tidak konsisten
·         Pengajaran keterampilan yang tidak relevan atau nonfungsional
·         Pola reinforcement yang keliru, misalnya diberikan saat anak berlaku tidak wajar
·         Model/ contoh yang tidak baik dari guru atau dari teman sebaya
Model pendekatan: Model biogenetic, Model behavioral/tingkah laku, Model psikodinamika, Model ekologis
Teknik pendekatan: Perawatan dengan obat, Modifikasi perilaku, Strategi psikodinamika, Strategi ekologi, Tempat layanan berupa :
    1. Tempat khusus (SLB-E)
    2. Tempat integrasi (terpadu)
            Kondisi yang tidak menguntungkan tersebut agar dihindari sehingga tidak terjadi perkembangan anak kearah penyimpangan perilaku dan kegagalan akademiknya. Lingkungan sekolah yang ditata baik akan membuat anak senang dan betah untuk belajar dan menghindarkan anak dari rasa bosan, lelah serta tingkah laku yang tidak wajar.
            Di dalam pelaksanaannya kita mengenal macam-macam bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi anak tuna laras/ sosial sebagai berikut:
·         Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan di sekolah reguler.
Jika diantara murid di sekolah tersebut ada anak yang menunjukan gejala kenakalan ringan segera para pembimbing memperbaiki mereka. Mereka masih tinggal bersama-sama kawannya di kelas, hanya mereka mendapat perhatian dan layanan khusus.
·         Kelas khusus
Apabila anak tuna laras perlu belajar terpisah dari teman pada satu kelas.
Kemudian gejala-gejala kelainan baik emosinya maupun kelainan tingkah lakunya dipelajari. Diagnosa itu diperlukan sebagai dasar penyembuhan. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.
·         Sekolah Luar Biasa bagian Tuna laras tanpa asrama
Bagi Anak Tuna laras yang perlu dipisah belajarnya dengan kata kawan yang lain karena kenakalannya cukup berat atau merugikan kawan sebayanya.
·         Sekolah dengan asrama
Bagi mereka yang kenakalannya berat, sehingga harus terpisah dengan kawan maupun dengan orangtuanya, maka mereka dikirim ke asrama. Hal ini juga dimaksudkan agar anak secara kontinyu dapat terus dibimbing dan dibina. Adanya asrama adalah untuk keperluan penyuluhan.
            Dengan adanya sekolah bagi anak tuna laras berarti membantu para orangtua anak yang sudah kewalahan mendidik puteranya, membantu para guru yang selalu diganggu apabila sedang mengajar dan mengamankan kawan-kawannya terhadap gangguan anak nakal.  Pengembangan pendidikan bagi anak tuna laras sebaiknya paralel atau dikaitkan dengan mengintensifkan usaha Bimbingan Penyuluhan di sekolah reguler. Sehingga apabila anak itu tidak mengalami perbaikan dari usaha bimbingan dan penyuluhan dari kelas khusus maka mereka dapat dikirim ke Sekolah Luar Biasa bagian Tuna laras.

6.     Identifikasi dan Asesmen ATL
1.              Identifikasi Anak.
Tujuan Identifikasi adalah
·         Untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan.
·         Untuk penyusunan progam pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan ketidakmampuannya.
·         Untuk mengetahui klasifikasi anak tunalaras
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengenali/mengidentifikasi anak tuna laras :
·         Psikotes. Dengan psikotes dapat diteetapkan latar belakang gangguan, missal apakah kematangan social anak cukup berkembang. Kematangan social, gangguan emosi sikap dan kecerdasan Nampak pada tes kepribadian khususnya pada test proyektif. Dalam tes ini anak dihadapkan pada gambar dsb, yang harus ditafsirkan, diberi komentar dengan memakai skala yang sudah ditentukan. Test proyektif ada beberapa macam antara lain tes rorchach, thematic apperception test, tes gambar orang, dispert fable tes.
·         Sosiometri. Caranya dengan menanyakan kepada anggota kelompoknya siapa anggota kelompoknya yang mereka sukai, setiap anggota memilih menurut pilihannya sendiri. Anggota yang tidak disukai/dibenci mungkin merupakan anak tunalaras.
·         Membandingkan dengan tingkah laku pada umumnya
            Anak dengan hambatan emosional atau kelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut:
  1. Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena factor intelektual, sensori atau kesehatan.
  2. Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.
  3. Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
  4. Secara umum mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi.
  5. Bertendensi kea rah symptoms fisik: merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah
Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan tingkah laku dan social :
  1. Bersikap membangkang,
  2. Mudah terangsang emosinya,
  3. Sering melakukan tindakan aggresif,
  4. Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum
Kebutuhan dalam pembelajaran anak tuna laras setelah identifikasi hendaknya memperhatikan :
·         Perlu adanya penataan lingkungan yang kondusif (menyenangkan) bagi setiap anak.
·         Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan hambatan dan masalah yang dihadapi oleh setiap anak.
·         Adanya kegiatan yang bersifat kompensatoris sesuai dengan bakat dan minat anak.
·         Perlu adanya pengembangan akhlak atau mental melalui kegiatan sehari-hari, dan contoh dari lingkungan.

CONTOH ALAT IDENTIFIKASI  TUNALARAS

INFORMASI PERKEMBANGAN ANAK
(Diisi oleh Orang tua)
Petunjuk :
Isilah daftar berikut pada kolom yang tersedia sesuai dengan kondisi anak yang sebenarnya. Jika ada yang kurang jelas, konsultasikan kepada guru kelas tempat anak Bapak/Ibu bersekolah.
A.    Identitas Anak :
1.              Nama                                                                   : ..............................................
2.              Tempat dan tanggal lahir/umur      : ..............................................
3.              Jenis kelamin                                                      : ..............................................
4.              Agama                                                                 : ..............................................
5.              Status anak                                                         : ..............................................
6.              Anak ke dari jumlah saudara          : ..............................................
7.              Nama sekolah                                                    : ..............................................
8.              Kelas                                                                    : ..............................................
9.              Alamat                                                                 : ..............................................

B.         Riwayat Kelahiran :
1.      Perkembangan masa kehamilan            : ..............................................
2.      Penyakit pada masa kehamilan             : ..............................................
3.      Usia kandungan                                         : ..............................................
4.      Riwayat proses kelahiran                         : ..............................................
5.      Tempat kelahiran                                      : ..............................................
6.      Penolong proses kelahiran                        : ..............................................
7.      Gangguan pada saat bayi lahir               : ..............................................
8.      Berat bayi                                                    : ..............................................
9.      Panjang bayi                                                               : ..............................................
10.  Tanda-tanda kelainan pada bayi            : ..............................................

C.   Perkebangan Masa Balita :
1.          Menetek ibunya hingga umur         : ...................................................
2.          Minum susu kaleng hingga umur   : ...................................................
3.          Imunisasi (lengkap/tidak)               : ..................................................
4.          Pemeriksaan/penimbangan rutin/tdk : ..............................................
5.          Kualitas makanan                           : ..................................................
6.          Kuantitas makan                            :  ..................................................
7.          Kesulitan makan (ya/tidak)             : ..................................................

D.  Perkembangan Fisik :
1.          Dapat berdiri pada umur                 : ....................................................
2.          Dapat berjalan pada umur               : ....................................................
3.          Naik sepeda roda tiga pada umur     : ...................................................
4.          Naik sepeda roda dua pada umur    : ....................................................
5.          Bicara dengan kalimat lengkap        : ....................................................
6.          Kesulitan gerakan yang dialami       : ....................................................
7.          Status Gizi Balita (baik/kurang)      : ....................................................
8.          Riwayat kesehatan (baik/kurang)    : ....................................................
9.          Penggunaan tangan dominan             : ………………………...............

E.  Perkembangan Bahasa :
1.      Meraba/berceloteh pada umur               : .................................................
2.      Mengucapkan satu suku kata yang bermakna kalimat (mis. Pa berarti bapak) pada umur :
  3.    Berbicara dengan satu kata bermakna pada umur             : ..........................
4.      Berbicara dengan kalimat lengkap sederhana pada umur                : …………….

F.  Perkembangan Sosial :
5.              Hubungan dengan saudara    : .............................................................
6.              Hubungan dengan teman       : .............................................................
7.              Hubungan dengan orangtua   : .............................................................
8.              Hobi                                       : .............................................................
9.              Minat khusus                         : ............................................................. 

G.  Perkembangan Pendidikan :
1.              Masuk TK umur                   : .............................................................
2.              Lama Pendidikan di TK        : .............................................................
3.              Kesulitan selama di TK        : .............................................................
4.              Masuk SD umur                  : .............................................................
5.              Kesulitan selama di SD        : .............................................................
6.              Pernak tidak naik kelas       : ..............................................................
7.              Pelayanan khusus yang pernah diterima anak: ...................................
8.              Prestasi belajar yang dicapai  : ............................................................
9.              Mata Pelajaran yang dirasa paling sulit    : .........................................
10.          Mata Pelajaran yang dirasa paling disenangi : ....................................
11.          Keterangan lain yang dianggap perlu : ................................................

ALAT IDENTIFIKASI ANAK  TUNA LARAS

Nama Sekolah     :
Kelas                      :
Diisi tanggal          :
Nama Petugas      :
Guru Kelas            :
No.
Pengamatan
Tingkat Perilaku
Tidak
Sama sekali
sedikit
Agak
banyak
Sangat
banyak
1.
2.

3.
4.


5.

6.

7.
8.
9.

10.

11.

12.
13.
Tidak pernah diam atau terlalu aktif
Mudah diganggu perhatinnya, implusif
Menggangu anak lain
Tidak dapat menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulainya, daya perhatian pendek
Tidak memperhatikan, mudah merangsang
Keinginan harus segera terpenuhi, mudah frustasi
Mudah dan sering menangis
Terus menerus gelisah
Jiwanya mudah berubah secara drastis
Marah meluap-luap, eksplosif perilaku tidak terduga
Mudah terangsang emosimya/emosional
Menentang otoritas
Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum dan agama













2.      Hakekat dan Tujuan Asesmen
            Asesmen sebagai proses pengumpulan informasi yang akan digunakan untuk membuat suatu pertimbangan dan keputusan berhubungan dengan seorang anak. Dalam kaitannya dengan masalah penanggulangan kelainan tingkah laku asesmen bertujuan :
·         Untuk penjaringan ( screening )
·         Pengidentifikasian untuk klasifikasi (classification)
·         Untuk pengembangan program pengajaran (develop instructional program)
·         Untuk mengukur kemajuan siswa (measure pupil progress)
·         Untuk mengevaluasi keefektifitas program ( evaluate program effectiveness)

3.      Alat dan Teknik Assesmen
            Ada dua jenis asesmen yaitu asesmen formal dan asesmen informal. Asesmen formal biasanya menggunakan tes yang baku formal atau tes norma kelompok yang digunakan untuk mengetahui kemampuan individu dibandingkan dengan kemampuan kelompok. Prosedur tes dan evaluasi formal lebih tepat digunakan untuk klasifikasi dan penempatan karena pengukurannya lebih obyektif . tes formal biasanya digunakan untuk mengukur proses belajar siswa, kemampuan intelektual, kemampuan akademik. Asesmen informal menggunakan atau alat dan teknik informal yang dibuat oleh guru berdasarkan kurikulum yang ada yaitu untuk mengetahui kekuatan atau kelemahan siswa dalam suatu bidang dan digunakan secara terus menerus. Alat dan teknik yang digunakan berupa observasi, wawancara, ceklis, tes, rating scale. Teknik wawancara untuk memperoleh data tentang anak, orang tua , keluarga, riwayat kelahiran, perkembangan fisik,  social pendidikan. Data tentang anak mencakup nama alamat, tempat tangal lahir. Informasi asesmen tentang gangguan tingkah laku dapat diperoleh melalui observasi langsung di kelas atau sekolah. Ada kalanya guru ingin satu jenis tingkah laku yang menyimpang dalam satu kelas  dengan skala penjaringan informal yang dibuat guru. Ada 2 metode asesmen yaitu :
a.      Metode asesmen yang berorientasi pada kepribadian. Metode ini untuk menemukan sebab-sebab kekacauan tingkah laku. Alat yang digunakan untuk mengungkap masalah kepribadian  adalah personality inventories dirancang untuk mengukur objektifitas karakter emosi individual kecuali bagi personality for children (PIC) yang dirancang untuk mengukur kepribadian pemuda dan orang dewasa. Project techniques tes proyektif digunakan untuk mengukur karakter emosi individu, melalui pernyataan individu yang diproyeksikan dari pikiran, perasaan, kebutuhan dan motivasi.
b.      Metode asesmen yang berorientasi pada tingkah laku. Alat asesmen yang digunakan untuk mengungkap masalah tingkah laku adalah
·         Behavior rating scale. Alat ini digunakan bagi anak-anak yang mempunyai masalah hubungan antar sesama disekolah. Guru dan orang tua dapat menilai tingkah laku anaknya dengan menggunakan skala penilain yang relatif  mudah untuk mengadministrasikannya. Child behavior chek list dirancang untuk mengungkapkan masalah tingkahlaku seperti masalah perhatian, agresif, kecemasan menyendiri.
·         Walker problem behavior identification. Alat ini dirancang untuk mengidentifikasi masalah tingkahlaku anak kelas 4 sampai kelas 6. Terdiri dari 50 item tingkahlaku yang diberikan pada anak di sekolah. WPBIC mengukur 5 ketegori masalah tingkah laku 1) tindakan keterlaluan 2) penyendiri 3) kebingungan 4) tidak bisa berteman 5) ketidakdewasaan.
·         Resived behavior problem checklist. Terdiri dari dari 89 item dirancang untuk mengidentifikasi masalah tingkah laku anak dan remaja yang digunakan untuk menjaring 6 faktor tingkah laku yaitu condust disorder, socialized aggression, attention problems immaturity, anxiety withdrawal, motor exces. Skor ini kemudian dibandingkan dengan data skala penemuan empiric.
·         Child behavior checklist. Terdiri dari 113 masalah tingkah laku yang dinilai oleh orang tua  dengan umur anak 4-16 tahun. CBCL mempunyai dua faktor  yaitu faktor sindron external dan sindron internal.
Contoh Asesmen untuk Anak Tunalaras

Asesmen untuk Anak Tunalaras

A.    Identifikasi Anak
Biodata Anak
Nama                           :
Temp. Tgl. Lahir         :
Usia                             :
Agama                         :
Berat Badan                :
Saudara                       :
Sekolah                       :
Kelas                           :
Alamat                        :
Hobby                         :

Biodata Orang Tua
Nama Ayah                 :
Temp. Tgl. Lahir         :
Usia                             :
Agama                         :
Pekerjaan                     :
Pendidikan Terakhir    :

Nama Ibu                    :
Temp. Tgl Lahir          :
Usia                             :
Agama                         :
Pekerjaan                     :
Pendidikan Terakhir    :


  B.     Riwayat Kesehatan Anak

C.    Hasil Asesmen
1.      Instrumen hasil observasi di Sekolah dan di Lingkungan Rumah
2.      Instrumen diisi oleh Orang Tua
3.      Wawancara dengan Orang Tua
4.      Wawancara dengan Guru Kelas

Instrumen hasil observasi di Sekolah dan di Lingkungan Rumah

Pengisi Instrumen       :
Tanggal Pelaksanaan  :

Aspek yang diamati
Jawaban
Keterangan
Ya
Tidak
SOSIAL

1.   Anak dapat menyebutkan identitas dirinya
2.   Anak dapat memulai percakapan dengan teman sebayanya
3.   Anak dapat mengajak teman untuk bermain
4.   Anak dapat berempati apabila ada teman yang tidak mempunyai mainan
5.   Anak dapat berkomunikasi dengan teman sebayanya atau dengan orang yang lebih dewasa
6.   Anak dapat menjalin hubungan dengan orang-orang yang baru dikenalnya
7.   Anak mau membagi makanan dengan teman sebayanya
8.   Anak memiliki ketertarikan yang besar untuk bergabung dengan anak lain yang sebayanya
9.   Anak menegur temannya atau orang yang ia kenal saat bertemu di jalan
10.        Anak memiliki empati terhadap bintang seperti ayam, kucing atau anjing
Mis. Memberikan makan
11.        Anak memiliki sifat agresif dan posesisf yang tinggi akan suatu hal









Pengisi Instrumen       :
Tanggal Pelaksanaan  :

Aspek yang diamati
FREKUENSI
Keterangan
30 menit
I jam
2 Jam
PEMBELAJARAN


1.      Anak telat masuk kelas
2.      Anak tidak konsentrasi dengan pelajarannya
3.      Anak merasa tidak nyaman di tempat duduknya
4.      Anak menggangu teman di kelasnya
5.      Anak memukul meja atau kursi
6.      Anak membanting alat-alat belajarnya seperti buku / pensil
7.      Anak marah-marah karena alas an yang tidak  jelas
8.      Anak berteriak di kelas
9.      Anak menangis tanpa sebab yang jelas
10.  Anak menunjukkan kecemasan akan dirinya
11.  Anak izin ke luar kelas
12.  Anak sibuk dengan buku-bukunya dan tidak mendengarkan perintah guru
13.  Anak telat mengumpulkan tugas
14.  Anak tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru
15.  Anak memukul teman sebangkunya
16.  Anak memakan bekalnya di kelas]
17.  Anak membentak guru ketika diberi tahu / dinasihati
18.  Anak tidur di kelas
19.











Instrumen yang diisi oleh Orang Tua
Aspek yang diamati
Jawaban
Keterangan
Ya
Tidak
SOSIAL & EMOSI

1.      Anak merespon dengan baik perintah dari orang tua
2.      Anak dapat memulaik komunikasi dengan orang-orang di rumah
3.      Anak menunjukkan rasa empati kepada keluarga
4.      Anak mudah tersenyum social dengan orang-orang rumah
5.      Anak menunjukkan rasa sayangnya kepada kelaurga seperti memeluk atau mencium ibu atau ayahnya
6.      Anak dapat bergabung ketika keluarga sedang berkumpul seperti duduk bersama ketika nonton TV
7.      Anak mudah tersinggung
8.      Agresivitas anak akan suatu hal
9.      Anak mudah marah akibat hal-hal kecil seperti diambil mainannya
10.  Anak memiliki teman yang banyak
11.  Anak memiliki masalah dalam membina hubungan dengan teman sebayanya dan keluarga
12.  Anak suka berekreasi seperti pergi berenang
13.  Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu hal yang baru
14.  Anak memiliki rasa percaya diri yang tinggi
15.  Anak tampak memilih-milih teman dalam bergaul berdasarkan gender





7.    Metode pembelajaran ATL
Metode pembelajarannya adalah :
·         Pendampingan dengan satu atau dua guru pada setiap siswa. Maksud dari metode ini adalah pendampingan dari guru dan guru tersebut dapat berasal dari pihak keluarga. Sehingga peran dari orangtua sangat dituntut dan berperan penting dalam pembentukan karakter anak dan pendidikan yang diperolehnya.
·         Mengemas metode pendidikan dengan permainan yang menyenangkan dan tanpa adanya paksaan.
·         Memberikan ruang yang cukup dan memadai untuk mengekspresikan keinginan atau emosi anak.
            Media pembelajaran merupakan perantara komunikasi antara guru dan murid yang disesuaikan dengan kebutuhan artinya bahwa proses belajar mengajar di SLB, penggunaan media sangat penting sekali terhadap keberhasilan belajar anak berkebutuhan khusus (ABK) .
Media penting bagi ABK :
·         Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mengalami gangguan/kerusakan fisik dan psihis sehingga mengganggu aktifitas kehidupannya.
·         Keterbatasan anak berkebutuhan khusus dalam gangguan/kerusakan itu menjadikan mereka memiliki keterbatasan dalam mengakses semua aktifitas baik fisik atau psihis.
·         Dengan demikian pemanfaatan alat bantu/media dalam pembelajaran bisa membantu anak berkebutuhan khusus mengoptimalkan kemampuannya.
Klasifikasi Media Pembelajaran :
·         Media audio : menghasilkan bunyi suara. Mis : kaset, tape recorder, radio
·         Media visual ; dapat memperlihatkan rupa dan bentuk
a. dua dimensi –non transparansi gambar-transparansi slide, film, lembar tranfaransi
b. Tiga Dimensi : model benda sebenarnya
Pengelompokan media oleh Leshin, Pollock & Reigeluth dalam Arsyad, (2006:36) :
·         media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main-peran, kegiatan kelompok, field-trap).
·         media berbasis cetak (buku, penuntun, buku latihan (zvorkbook), alat bantu kerja, dan lembaran lepas);
·         media berbasis visual (buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta, gambar, transparansi, slide)
·         media berbasis audio-visual (video, film, program slide-tape, televisi); dan
·          media berbasis komputer (pengajaran dengan bantuan komputer, interaktif video, hypertext).

8.     Cara Pencegahan ATL
       Menurut Kaufman bahwa hiperaktif nampaknya tidak secara otomatis sebagaimana anak menjadi dewasa, karena itu perlu diupayakan beberapa cara pencegahannya antara lain :
·         Member perhatian yang cukup
·         Memberikan contoh dalam perbuatan
·         Membiasakan anak dengan perbuatan/kegiatan positif.
·         Suasana rumah yang tentram
·         Pendidikan agama sejak dini
·         Membangun hubungan akrab dengan anak
Pencegahan anak yang agresif antara lain :
·         Batasi anak menonton adegan kekerasan dalam TV
·         Meningkatkan kebahagiaan dalam keluarga
·         Batasi pertengkaran dalam rumah tangga
·         Berikan kesempatan bermain keluar pada anak
·         Memberikan batas waktu
Pencegahan anak yang anti social :
·         Bangunlah keakraban
·         Member tanggapan yang cukup
·         Hindari sifat dictator
·         Berikan contoh
·         Siapkan aturan-aturan dengan menyiapkan peraturan  secara spesifik dan berikan alasannya, jangan terlalu banyak peraturan, beri pilihan dan fleksibilitas
Upaya pencegahan yang dilakukan sekolah antara lain
·         Meningkatkan hubungan guru dan orang tua
·         Meningkatkan kegiatan siswa di luar jam sekolah dibawah bimbingan guru
·         Menjaga disiplin sekolah yang melibatkan semua aparat sekolah
·         Bimbingan dan konseling
Upaya yang dilakukan oleh masyarakat/ instansi terkait
·         Meningkatkan kegiatan pemuda
·         Bergabung dengan kegiatan yang dilakukan pemerintah dan instansi terkait (beasiswa, seminar pramuka, ceramah,
·         Peningkatan razia pelajar secara terpadu.