1. Pengertian Tuna
Laras
Istilah resmi “tuna laras” baru dikenal
dalam dunia Pendidikan Luar Biasa (PLB). Istilah tersebut berasal dari kata
“tuna” yang berarti kurang dan “laras” yang berarti sesuai. Jadi, anak tuna
laras berarti anak yang bertingkah laku kurang/ tidak sesuai dengan lingkungan.
Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam
masyarakat tempat ia berada. Anak tuna laras sering disebut dengan anak tuna
sosial karena tingkah laku mereka menunjukkan penentangan yang terus menerus
terhadap norma-norma masyarakat yang berwujud seperti mencuri, mengganggu dan
menyakiti orang lain (Soemantri, 2006) Istilah yang digunakan untuk anak
yang berkelainan perilaku (anak tuna laras) dalam konteks kehidupan sehari-hari
di kalangan praktisi sangat bervariasi. Perbedaan pemberian julukan kepada anak
yang berperilaku menyimpang tidak lepas dari konteks pihak yang berkepentingan.
Misalnya, para orang tua cenderung menyebut anak tuna laras dengan istilah anak
jelek (bad boy), para guru menyebutnya dengan anak yang tidak dapat
diperbaiki (incurrigible), para psikeater/ psikolog lebih senang
menyebutnya sebagai anak yang terganggu emosinya (emotional disturb child),
para pekerja sosial menyebutnya sebagai anak yang tidak dapat mengikuti aturan
atau norma sosial yang berlaku (social maladjusted child), atau jika
mereka berurusan dengan hukum maka para hakim biasa menyebutnya sebagai
anak-anak pelanggar/ penjahat (deliquent).
Terlepas dari julukan yang diberikan kepada para tuna laras,
secara substansial kesamaan makna yang terdapat pada pemberian “gelar” pada anak
tuna laras, disamping menunjuk pada cirinya, yaitu terdapatnya penyimpangan
perilaku sebagai pelanggaran terhadap peraturan/ norma yang berlaku
dilingkungannya (Sunardi, 1985), juga akibat dari perbuatan yang
dilakukannya dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain, …..a behavior
deviation is that behavior of a child wich; (i) has a detrimental effect on his
development and adjustment and/ or (ii) interferers with the lives of other
people(Kirk, 1970).
Menurut ketentuan Undang-Undang Pokok Pendidikan No. 12 Tahun
1952, anak tuna laras adalah individu yang mempunyai tingkah laku menyimpang/
berkelainan, tidak memiliki sikap, melakukan pelanggaran terhadap peraturan/
norma-norma sosial dengan frekuensi cukup besar, tidak/ kurang mempunyai
toleransi terhadap kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh suasana,
sehingga membuat kesulitan bagi diri sendiri maupun orang lain. Dalam dokumen kurikulum
SLB bagian E tahun 1977 menyebutkan, yang disebut tuna laras adalah (1) anak
yang mengalami gangguan/ hambatan emosi dan tingkah laku sehingga tidak/ kurang
menyesuaikan diri dengan baik, baik terhadap lingkungan, sekolah, maupun
masyarakat; (2) anak yang mempunyai kebiasaan melanggar norma umum yang berlaku
dimasyarakat; (3) anak yang melakukan kejahatan.
Definisi anak tuna laras atau emotionally handicapped atau
behavioral disorder lebih terarah pada definisi Eli M Bower (1981) yang
menyatakan bahwa anak dikatakan memiliki hambatan emosional atau kelainan
perilaku apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut
ini :
·
Tidak
mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, pengindraan atau
kesehatan
·
Ketidakmampuan
menjalin hubungan yang menyenangkan dengan teman dan guru
·
Bertingkahlaku
yang tidak pantas pada keadaan normal
·
Perasaan
tertekan atau tidak bahagia terus-menerus
·
Cenderung
menunjukkan gejala-gejala fisik seperti takut pada masalah-masalah sekolah (Delphie,
2006)
Dari
uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang diidentifikasikan
mengalami gangguan atau penyimpangan perilaku adalah individu yang :
·
Tidak mampu
mendefinisikan dengan tepat kesehatan mental dan perilaku yag normal
·
Tidak mampu
mengukur emosi dan perilakunya sendiri
·
Mengalami
kesulitan dalam menjalankan fungsi sosialisasi (Hallahan& Kauffman, 1991)
Beberapa
komponen yang penting diperhatikan dalam menilai seorang anak mengalami
gangguan emosi/ perilaku atau tidak, yaitu :
·
Adanya
penyimpangan perilaku yang terus menerus menurut norma yang berlaku sehingga
menimbulkan ketidakmampuan belajar dan penyesuaian diri
·
Penyimpangan itu tetap ada walaupun telah
menerima layanan belajar serta bimbingan
2. Klasifikasi Tuna Laras
Secara garis besar anak tuna laras
dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan
diri dengan lingkungan sosial (social maladjusted) dan anak yang
mengalami gangguan emosi (emotional disturb). William M. C (1975)
mengemukakan kedua klasifikasi tersebut sebagai berikut :
1.
Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial
:
·
The
semi-socialize child
Anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial namun
terbatas hanya pada lingkungan tertentu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan
norma/ aturan yang ada dikelompok/ keluarganya dengan norma/ aturan yang ada di
masyarakat.
·
Children
arrested at a primitive level of socialization
Anak
pada kelompok ini perkembangan sosialnya berhenti pada tingkatan yang rendah.
Hal ini disebabkan mereka tidak mendapat bimbingan dan dorongan dari
orangtuanya kearah sikap sosial yang benar, sehingga dalam berperilaku mereka
cenderung didorong oleh nafsu.
·
Children
arrested with minimum socialization capacity
Anak
dalam kelompok ini sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk belajar
sikap-sikap sosial. Hal ini disebabkan mereka tidak pernah mengenal kasih
sayang, sehingga mereka cenderung bersikap apatis dan egois.
2.
Anak yang mengalami gangguan emosi, yaitu :
·
Neurotic
behavior. Anak dikelompok ini
masih dapat bergaul dengan orang lain, namun mereka mempunyai masalah pribadi
yang tidak mampu diselesaikannya. Anak seperti ini biasanya disebabkan oleh
sikap keluarga yang menolak atau terlalu memanjakan mereka, kesalahan
pengajaran atau karena kesulitan belajar yang berat
·
Children with
psycotic processes.
Mereka mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang
lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan nyata, hal tersebut
disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf akibat keracunan, minuman keras
atau narkoba.
Menurut
Quay (1979) dalam Samuel A. Kirk and James J. Gallagher (1986)
yang dialih bahasakan oleh Moh. Amin dkk (1991 : 51) mengelompokkan
sebagai berikut :
·
Anak yang
mengalami gangguan perilaku yang kacau (conduct disorder) mengacu pada
anak yang melawan pada peraturan, hiperaktif dll.
·
Anak yang
cemas-menarik diri (anxicus-withdraw) yaitu anak yang pemalu, suka menyendiri,
minder dll. Mereka tertekan batinnya.
·
Dimensi
ketidakmatangan (immaturity) mengacu pada anak yang lambat, kurang perhatian,
pemalas dll. Mereka mirip anak autistik.
·
Anak agresi
sosialisasi (sozialized-aggressive) memiliki ciri yang mirip dengan
gangguan perilaku yang bersosialisasi dengan “genk” tertentu. Umumnya mereka
menjadi ancaman bagi masyarakat umum.
Pendapat lain menyebutkan bahwa anak
yang dikategorikan mengalami kelainan penyesuaian perilaku adalah anak yang
mempunyai tingkah laku yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku
dirumah, disekolah dan dimasyarakat lingkungannya (Mackie, 1957). Subgrup dari
bentuk kelainan penyesuaian sosial (social maladjusted) ini adalah
delinquent. Batasan tentang delinquent itu sendiri hanya diberikan jika anak
terlibat dalam konflik atau pelanggaran hukum, children who have in conflict
with the law (Kirk, 1970).
Sebagaimana jenis ketunaan yang lain, anak yang dikategorikan
berkelainan perilaku (tuna laras) dapat dikelompokkan dalam jenjang, mulai
jenjang sangat ringan sampai sangat berat. Berikut ini beberapa pedoman yang
dapat digunakan untuk menentukan intensitas berat ringannya ketuna larasan
(Riadi, 1978; Patton, 1991).
·
Besar
kecilnya gangguan emosi. Makin dalam perasaan negatif, makin berat penyimpangan
·
Frekuensi
tindakan. Semakin sering dan kurangnya penyesalan setelah melakukan perbuatan
yang tidak baik, dianggap makin berat penyimpangannya
·
Berat ringan
kejahatan yang dilakukan. Disesuaikan dengan peraturan hukum pidana
·
Tempat dan
situasi pelanggaran/ kenakalan dilakukan. Dianggap berat jika berani
melakukannya di lingkungan masyarakat
·
Mudah sukarnya
dipengaruhi untuk bertingkah laku baik.
·
Tunggal atau
gandanya ketunaan yang dialami. Jika mempunyai ketunaan lain, masuk dalam
kategori berat dalam pembinaannya.
3. Karakteristik Anak
Tuna Laras
Karakteristik yang
dikemukakan Hallahan dan kauffman (1986) berdasarkan dimensi tingkah laku anak
tuna laras adalah sebagai berikut :
·
Anak
yang mengalami gangguan perilaku. berkelahi, memukul menyerang, Pemarah,
Pembangkang, Suka merusak , Kurang
ajar, tidak sopan, Penentang, tidak mau bekerjasama, Suka menggangu, Suka
ribut, pembolos, Mudah marah, Suka pamer, Hiperaktif, pembohong , Iri hati, pembantah, Ceroboh, pengacau, Suka menyalahkan orang
lain , Mementingkan diri sendiri
·
Anak yang
mengalami kecemasan dan menyendiri. Cemas,Tegang, Tidak punya teman ,
Tertekan, Sensitif, Rendah diri, Mudah frustasi, Pendiam,
Mudah bimbang
·
Anak
yang kurang dewasa. Pelamun, Kaku, Pasif, Mudah dipengaruhi, Pengantuk,
Pembosan
·
Anak
yang agresif bersosialisasi. Mempunyai komplotan jahat, Berbuat onar bersama
komplotannya, Membuat genk, Suka diluar rumah sampai larut, Bolos sekolah,
Pergi dari rumah.
Selain karakteristik diatas, berikut
ini karakteristik yang berkaitan dengan segi akademik, sosial/ emosional dan
fisik/ kesehatan anak tuna laras.
1.
Karakteristik Akademik :
Kelainan perilaku mengakibatkan penyesuaian sosial dan sekolah yang buruk.
Akibatnya, dalam belajarnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut :
·
Hasil belajar
dibawah rata-rata
·
Sering berurusan
dengan guru BK
·
Tidak naik kelas
·
Sering membolos
·
Sering melakukan
pelanggaran, baik disekolah maupun dimasyarakat, dll
2.
Karakteristik Sosial/ Emosional :
Karakteristik sosial/ emosional tuna laras dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.Karakteristik
Sosial
1)Masalah
yang menimbulkan gangguan bagi orang lain :
-
Perilaku itu tidak diterima masyarakat, biasanya melanggar norma budaya
-
Perilaku itu bersifat menggangu, dan dapat dikenai sanksi oleh kelompok sosial
2)
Perilaku itu ditandai dengan tindakan agresif, yaitu :
-
Tidak mengikuti aturan
-
Bersifat mengganggu
-
Bersifat membangkang dan menentang
-
Tidak dapat bekerjasama
3)
Melakukan tindakan yang melanggar hukum dan kejahatan remaja
b.
Karakteristik Emosional
a)
Hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, misalnya tekanan batin dan rasa
cemas
b)
Ditandai dengan rasa gelisah, rasa malu, rendah diri, ketakutan dan sifat
perasa/ sensitif
c.
Karakteristik Fisik/ kesehatan :
Pada anak tuna laras umumnya masalah fisik/ kesehatan yang
dialami berupa gangguan makan, gangguan tidur atau gangguan gerakan. Umumnya
mereka merasa ada yang tidak beres dengan jasmaninya, ia mudah mengalami
kecelakaan, merasa cemas pada kesehatannya, seolah-olah merasa sakit, dll.
Kelainan lain yang berupa fisik yaitu gagap, buang air tidak terkontrol, sering
mengompol, dll.
4. Faktor-faktor Penyebab
Tuna Laras
Ada beberapa hal yang menjadi
penyebab tuna laras. Secara umum faktor penyebab tersebut dapat dibagi menjadi
dua kelompok, yaitu (1) faktor internal yaitu faktor yang langsung berkaitan
dengan kondisi individu tersebut seperti keturunan, kondisi fisik dan
psikisnya, (2) faktor external yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar
individu, terutama lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat (Patton,
1991)
1.
Faktor Internal
a.
Berkercerdasan rendah atau kurang dapat mengikuti tuntutan sekolah.
b.
Adanya ganguan atau kerusakan pada otak (brain damage)
c.
Memiliki ganguan kejiwaan bawaan.
d.
Frustasi yang terus menerus
2.
Faktor Eksternal
a.
Kemampuan sosial dan ekonomi rendah
b.
Adanya konflik budaya yaitu adanya perbedaan pandangan hidup antara keadaan
sekolah dan kebiasaan keluarga.
c.
Adanya pengaruh negatif dari genk-genk atau kelompok.
d.
Kurangnya kasih sayang orang tua karena kehadirannya tidak diharapkan.
e.
Kondisi keluarga yang tidak harmonis (broken home).
Selain itu ada pendapat lain yang menyatakan bahwa meningkatnya
penyimpangan sosial disuatu wilayah disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
kurangnya displin diri, lemahnya moral seseorang, mulai melupakan Tuhan,
kemajuan masyarakat yang menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru serta kurangnya
rasa tanggunga jawab dari pemimpin yang ada. Namun hal tersebut disangkal
karena seandainya demikian, mengapa tidak semua orang yang hidup dilingkungan
seperti itu menjadi tuna laras, menjadi jahat. Tentu ada hal lain yang
menyebabkan seseorang menjadi tuna laras, selain hal-hal tersebut.
Profesor Cyril Burt menekankan bahwa sebab-sebab tuna
laras itu kompleks (multiple causation). Setelah kemajuan dibidang ilmu
jiwa, ternyata banyak sebab-sebab yang ditemukan pada tuna laras, merujuk pada
kondisi mentalnya. Yaitu mereka yang termasuk pribadi yang tidak memiliki
penyesuaian diri yang baik atau sehat dengan lingkungan sosialnya, lebih
berpotensi mengalami tuna laras.
5. Layanan Pendidikan
bagi Anak Tuna laras
Sesuai
dengan karakteristik anak tunalaras yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
kebutuhan pendidikan anak tuna laras diharapkan dapat mengatasi problem/
permasalahan perilaku anak tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka
perlu dilakukan hal-hal berikut :
·
Berusaha
mengatasi semua masalah perilaku anak dengan menyesuaikan kondisi dan proses
belajar dengan karakteristik anak tuna laras tersebut
·
Berusaha
mengembangkan kemampuan fisik anak serta mengembangkan bakat dan intelektualnya
·
Memberi bekal
berupa keterampilan khusus yang bermanfaat.
·
Memberi
kesempatan pada anak agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
norma-norma hidup di masyarakat dengan sebaik-baiknya
·
Memberi rasa
aman agar mereka tidak merasa dikucilkan dan mampu mengembangkan rasa percaya
diri
·
Memberikan
penghargaan pada mereka agar moral mereka terangkat sehingga mereka merasa
diterima oleh lingkungan
Kauffman(1996)
mengemukakan beberapa kondisi yang menyebabkan ketuna larasan dan pembelajaran
tidak berhasil, antara lain :
·
Guru yang tidak
sensitif terhadap anak
·
Harapan guru
yang tidak wajar
·
Pengelolaan
pembelajaran yang tidak konsisten
·
Pengajaran
keterampilan yang tidak relevan atau nonfungsional
·
Pola
reinforcement yang keliru, misalnya diberikan saat anak berlaku tidak wajar
·
Model/
contoh yang tidak baik dari guru atau dari teman sebaya
Model pendekatan: Model biogenetic, Model
behavioral/tingkah laku, Model psikodinamika, Model ekologis
Teknik pendekatan: Perawatan dengan obat, Modifikasi
perilaku, Strategi psikodinamika, Strategi ekologi, Tempat layanan berupa :
- Tempat khusus (SLB-E)
- Tempat integrasi (terpadu)
Kondisi yang tidak menguntungkan tersebut agar dihindari
sehingga tidak terjadi perkembangan anak kearah penyimpangan perilaku dan
kegagalan akademiknya. Lingkungan sekolah yang ditata baik akan membuat anak
senang dan betah untuk belajar dan menghindarkan anak dari rasa bosan, lelah
serta tingkah laku yang tidak wajar.
Di dalam pelaksanaannya kita mengenal macam-macam bentuk
penyelenggaraan pendidikan bagi anak tuna laras/ sosial sebagai berikut:
·
Penyelenggaraan
bimbingan dan penyuluhan di sekolah reguler.
Jika
diantara murid di sekolah tersebut ada anak yang menunjukan gejala kenakalan
ringan segera para pembimbing memperbaiki mereka. Mereka masih tinggal
bersama-sama kawannya di kelas, hanya mereka mendapat perhatian dan layanan
khusus.
·
Kelas
khusus
Apabila
anak tuna laras perlu belajar terpisah dari teman pada satu kelas.
Kemudian gejala-gejala kelainan baik emosinya maupun kelainan tingkah lakunya dipelajari. Diagnosa itu diperlukan sebagai dasar penyembuhan. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.
Kemudian gejala-gejala kelainan baik emosinya maupun kelainan tingkah lakunya dipelajari. Diagnosa itu diperlukan sebagai dasar penyembuhan. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.
·
Sekolah
Luar Biasa bagian Tuna laras tanpa asrama
Bagi
Anak Tuna laras yang perlu dipisah belajarnya dengan kata kawan yang lain
karena kenakalannya cukup berat atau merugikan kawan sebayanya.
·
Sekolah
dengan asrama
Bagi
mereka yang kenakalannya berat, sehingga harus terpisah dengan kawan maupun
dengan orangtuanya, maka mereka dikirim ke asrama. Hal ini juga dimaksudkan
agar anak secara kontinyu dapat terus dibimbing dan dibina. Adanya asrama
adalah untuk keperluan penyuluhan.
Dengan adanya sekolah bagi anak tuna laras berarti membantu para
orangtua anak yang sudah kewalahan mendidik puteranya, membantu para guru yang
selalu diganggu apabila sedang mengajar dan mengamankan kawan-kawannya terhadap
gangguan anak nakal. Pengembangan pendidikan bagi anak tuna laras sebaiknya paralel
atau dikaitkan dengan mengintensifkan usaha Bimbingan Penyuluhan di sekolah
reguler. Sehingga apabila anak itu tidak mengalami perbaikan dari usaha
bimbingan dan penyuluhan dari kelas khusus maka mereka dapat dikirim ke Sekolah
Luar Biasa bagian Tuna laras.
6.
Identifikasi dan Asesmen ATL
1.
Identifikasi Anak.
Tujuan
Identifikasi adalah
·
Untuk menghimpun informasi apakah seorang anak
mengalami kelainan/penyimpangan.
·
Untuk penyusunan progam pembelajaran sesuai
dengan kemampuan dan ketidakmampuannya.
·
Untuk mengetahui klasifikasi anak
tunalaras
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk
mengenali/mengidentifikasi anak tuna laras :
·
Psikotes. Dengan psikotes dapat
diteetapkan latar belakang gangguan, missal apakah kematangan social anak cukup
berkembang. Kematangan social, gangguan emosi sikap dan kecerdasan Nampak pada
tes kepribadian khususnya pada test proyektif. Dalam tes ini anak dihadapkan
pada gambar dsb, yang harus ditafsirkan, diberi komentar dengan memakai skala
yang sudah ditentukan. Test proyektif ada beberapa macam antara lain tes
rorchach, thematic apperception test, tes gambar orang, dispert fable tes.
·
Sosiometri. Caranya dengan menanyakan
kepada anggota kelompoknya siapa anggota kelompoknya yang mereka sukai, setiap
anggota memilih menurut pilihannya sendiri. Anggota yang tidak disukai/dibenci
mungkin merupakan anak tunalaras.
·
Membandingkan dengan tingkah laku pada
umumnya
Anak dengan hambatan emosional atau
kelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima
komponen berikut:
- Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena factor intelektual, sensori atau kesehatan.
- Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.
- Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
- Secara umum mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi.
- Bertendensi kea rah symptoms fisik: merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah
Berikut
identifikasi anak yang mengalami kelainan tingkah laku dan social :
- Bersikap membangkang,
- Mudah terangsang emosinya,
- Sering melakukan tindakan aggresif,
- Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum
Kebutuhan
dalam pembelajaran anak tuna laras setelah identifikasi hendaknya memperhatikan
:
·
Perlu
adanya penataan lingkungan yang kondusif (menyenangkan) bagi setiap anak.
·
Kurikulum
hendaknya disesuaikan dengan hambatan dan masalah yang dihadapi oleh setiap
anak.
·
Adanya
kegiatan yang bersifat kompensatoris sesuai dengan bakat dan minat anak.
·
Perlu
adanya pengembangan akhlak atau mental melalui kegiatan sehari-hari, dan contoh
dari lingkungan.
CONTOH ALAT IDENTIFIKASI
TUNALARAS
INFORMASI PERKEMBANGAN ANAK
(Diisi oleh Orang tua)
Petunjuk :
Isilah daftar berikut pada kolom yang tersedia sesuai dengan
kondisi anak yang sebenarnya. Jika ada yang kurang jelas, konsultasikan kepada
guru kelas tempat anak Bapak/Ibu bersekolah.
A. Identitas Anak :
1.
Nama :
..............................................
2.
Tempat dan tanggal lahir/umur :
..............................................
3.
Jenis kelamin :
..............................................
4.
Agama :
..............................................
5.
Status anak :
..............................................
6.
Anak ke dari jumlah saudara :
..............................................
7.
Nama sekolah :
..............................................
8.
Kelas :
..............................................
9.
Alamat :
..............................................
B.
Riwayat Kelahiran :
1.
Perkembangan masa kehamilan :
..............................................
2.
Penyakit pada masa kehamilan :
..............................................
3.
Usia kandungan :
..............................................
4.
Riwayat proses kelahiran :
..............................................
5.
Tempat kelahiran :
..............................................
6.
Penolong proses kelahiran :
..............................................
7.
Gangguan pada saat bayi lahir :
..............................................
8.
Berat bayi :
..............................................
9.
Panjang bayi :
..............................................
10.
Tanda-tanda kelainan pada bayi :
..............................................
C.
Perkebangan Masa Balita :
1.
Menetek ibunya hingga umur :
...................................................
2.
Minum susu kaleng hingga umur :
...................................................
3.
Imunisasi (lengkap/tidak) :
..................................................
4.
Pemeriksaan/penimbangan rutin/tdk :
..............................................
5.
Kualitas makanan
: ..................................................
6.
Kuantitas makan :
..................................................
7.
Kesulitan makan (ya/tidak) :
..................................................
D.
Perkembangan Fisik :
1.
Dapat berdiri pada umur :
....................................................
2.
Dapat berjalan pada umur :
....................................................
3.
Naik sepeda roda tiga pada umur :
...................................................
4.
Naik sepeda roda dua pada umur :
....................................................
5.
Bicara dengan kalimat lengkap :
....................................................
6.
Kesulitan gerakan yang dialami :
....................................................
7.
Status Gizi Balita (baik/kurang) :
....................................................
8.
Riwayat kesehatan (baik/kurang) :
....................................................
9.
Penggunaan tangan dominan :
………………………...............
E. Perkembangan
Bahasa :
1.
Meraba/berceloteh pada umur :
.................................................
2.
Mengucapkan satu suku kata yang bermakna kalimat (mis. Pa berarti bapak) pada
umur :
3. Berbicara dengan satu kata bermakna pada umur : ..........................
4.
Berbicara dengan kalimat lengkap sederhana pada umur : …………….
F. Perkembangan
Sosial :
5.
Hubungan dengan saudara :
.............................................................
6.
Hubungan dengan teman :
.............................................................
7.
Hubungan dengan orangtua :
.............................................................
8.
Hobi
: .............................................................
9.
Minat khusus :
.............................................................
G. Perkembangan
Pendidikan :
1.
Masuk TK umur :
.............................................................
2.
Lama Pendidikan di TK :
.............................................................
3.
Kesulitan selama di TK :
.............................................................
4.
Masuk SD umur :
.............................................................
5.
Kesulitan selama di SD :
.............................................................
6.
Pernak tidak naik kelas :
..............................................................
7.
Pelayanan khusus yang pernah diterima anak: ...................................
8.
Prestasi belajar yang dicapai :
............................................................
9.
Mata Pelajaran yang dirasa paling sulit
: .........................................
10.
Mata Pelajaran yang dirasa paling disenangi :
....................................
11.
Keterangan lain yang dianggap perlu :
................................................
ALAT
IDENTIFIKASI ANAK TUNA LARAS
Nama Sekolah :
Kelas :
Diisi
tanggal :
Nama Petugas :
Guru Kelas :
No.
|
Pengamatan
|
Tingkat
Perilaku
|
|||||
Tidak
Sama
sekali
|
sedikit
|
Agak
banyak
|
Sangat
banyak
|
||||
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
|
Tidak pernah diam atau terlalu
aktif
Mudah diganggu perhatinnya, implusif
Menggangu anak lain
Tidak dapat menyelesaikan
pekerjaan yang telah dimulainya, daya perhatian pendek
Tidak memperhatikan, mudah
merangsang
Keinginan harus segera terpenuhi,
mudah frustasi
Mudah dan sering menangis
Terus menerus gelisah
Jiwanya mudah berubah secara
drastis
Marah meluap-luap, eksplosif
perilaku tidak terduga
Mudah terangsang
emosimya/emosional
Menentang otoritas
Sering bertindak melanggar norma
sosial/norma susila/hukum dan agama
|
||||||
2. Hakekat dan Tujuan
Asesmen
Asesmen sebagai proses pengumpulan informasi
yang akan digunakan untuk membuat suatu pertimbangan dan keputusan berhubungan
dengan seorang anak. Dalam kaitannya dengan masalah penanggulangan kelainan
tingkah laku asesmen bertujuan :
·
Untuk penjaringan ( screening )
·
Pengidentifikasian untuk klasifikasi (classification)
·
Untuk pengembangan program pengajaran (develop instructional program)
·
Untuk mengukur kemajuan siswa (measure pupil progress)
·
Untuk mengevaluasi keefektifitas program
( evaluate program effectiveness)
3. Alat dan Teknik
Assesmen
Ada dua jenis asesmen yaitu asesmen
formal dan asesmen informal. Asesmen formal biasanya menggunakan tes yang baku
formal atau tes norma kelompok yang digunakan untuk mengetahui kemampuan
individu dibandingkan dengan kemampuan kelompok. Prosedur tes dan evaluasi
formal lebih tepat digunakan untuk klasifikasi dan penempatan karena
pengukurannya lebih obyektif . tes formal biasanya digunakan untuk mengukur
proses belajar siswa, kemampuan intelektual, kemampuan akademik. Asesmen
informal menggunakan atau alat dan teknik informal yang dibuat oleh guru
berdasarkan kurikulum yang ada yaitu untuk mengetahui kekuatan atau kelemahan
siswa dalam suatu bidang dan digunakan secara terus menerus. Alat dan teknik
yang digunakan berupa observasi, wawancara, ceklis, tes, rating scale. Teknik
wawancara untuk memperoleh data tentang anak, orang tua , keluarga, riwayat
kelahiran, perkembangan fisik, social
pendidikan. Data tentang anak mencakup nama alamat, tempat tangal lahir.
Informasi asesmen tentang gangguan tingkah laku dapat diperoleh melalui
observasi langsung di kelas atau sekolah. Ada kalanya guru ingin satu jenis
tingkah laku yang menyimpang dalam satu kelas
dengan skala penjaringan informal yang dibuat guru. Ada 2 metode asesmen
yaitu :
a.
Metode asesmen yang berorientasi
pada kepribadian. Metode ini untuk menemukan sebab-sebab kekacauan tingkah
laku. Alat yang digunakan untuk mengungkap masalah kepribadian adalah personality inventories dirancang
untuk mengukur objektifitas karakter emosi individual kecuali bagi personality for children (PIC) yang
dirancang untuk mengukur kepribadian pemuda dan orang dewasa. Project
techniques tes proyektif digunakan untuk mengukur karakter emosi individu,
melalui pernyataan individu yang diproyeksikan dari pikiran, perasaan,
kebutuhan dan motivasi.
b.
Metode asesmen yang berorientasi
pada tingkah laku. Alat asesmen yang digunakan untuk mengungkap masalah tingkah
laku adalah
·
Behavior
rating scale. Alat ini digunakan bagi anak-anak yang
mempunyai masalah hubungan antar sesama disekolah. Guru dan orang tua dapat
menilai tingkah laku anaknya dengan menggunakan skala penilain yang
relatif mudah untuk
mengadministrasikannya. Child behavior
chek list dirancang untuk mengungkapkan masalah tingkahlaku seperti masalah
perhatian, agresif, kecemasan menyendiri.
·
Walker
problem behavior identification. Alat ini dirancang
untuk mengidentifikasi masalah tingkahlaku anak kelas 4 sampai kelas 6. Terdiri
dari 50 item tingkahlaku yang diberikan pada anak di sekolah. WPBIC mengukur 5
ketegori masalah tingkah laku 1) tindakan keterlaluan 2) penyendiri 3)
kebingungan 4) tidak bisa berteman 5) ketidakdewasaan.
·
Resived
behavior problem checklist. Terdiri dari dari 89 item
dirancang untuk mengidentifikasi masalah tingkah laku anak dan remaja yang
digunakan untuk menjaring 6 faktor tingkah laku yaitu condust disorder,
socialized aggression, attention problems immaturity, anxiety withdrawal, motor
exces. Skor ini kemudian dibandingkan dengan data skala penemuan empiric.
·
Child
behavior checklist. Terdiri dari 113 masalah tingkah laku
yang dinilai oleh orang tua dengan umur
anak 4-16 tahun. CBCL mempunyai dua faktor
yaitu faktor sindron external dan sindron internal.
Contoh
Asesmen untuk Anak Tunalaras
Asesmen untuk Anak Tunalaras
A.
Identifikasi Anak
Biodata
Anak
Nama
:
Temp.
Tgl. Lahir :
Usia
:
Agama
:
Berat
Badan
:
Saudara
:
Sekolah
:
Kelas
:
Alamat
:
Hobby
:
Biodata
Orang Tua
Nama
Ayah
:
Temp.
Tgl. Lahir :
Usia
:
Agama
:
Pekerjaan
:
Pendidikan
Terakhir :
Nama
Ibu
:
Temp. Tgl
Lahir :
Usia
:
Agama
:
Pekerjaan
:
Pendidikan
Terakhir :
B. Riwayat Kesehatan
Anak
C.
Hasil Asesmen
1.
Instrumen hasil observasi di Sekolah dan di Lingkungan Rumah
2.
Instrumen diisi oleh Orang Tua
3.
Wawancara dengan Orang Tua
4.
Wawancara dengan Guru Kelas
Instrumen hasil observasi di Sekolah dan di
Lingkungan Rumah
Pengisi
Instrumen :
Tanggal
Pelaksanaan :
Aspek yang diamati
|
Jawaban
|
Keterangan
|
|
Ya
|
Tidak
|
||
SOSIAL
|
|||
1.
Anak dapat menyebutkan identitas dirinya
2.
Anak dapat memulai percakapan dengan teman sebayanya
3.
Anak dapat mengajak teman untuk bermain
4.
Anak dapat berempati apabila ada teman yang tidak mempunyai mainan
5.
Anak dapat berkomunikasi dengan teman sebayanya atau dengan orang yang lebih
dewasa
6.
Anak dapat menjalin hubungan dengan orang-orang yang baru dikenalnya
7.
Anak mau membagi makanan dengan teman sebayanya
8.
Anak memiliki ketertarikan yang besar untuk bergabung dengan anak lain yang
sebayanya
9.
Anak menegur temannya atau orang yang ia kenal saat bertemu di jalan
10.
Anak memiliki empati terhadap bintang seperti ayam, kucing atau anjing
Mis.
Memberikan makan
11.
Anak memiliki sifat agresif dan posesisf yang tinggi akan suatu hal
|
|||
Pengisi
Instrumen :
Tanggal Pelaksanaan
:
Aspek yang diamati
|
FREKUENSI
|
Keterangan
|
|||
30 menit
|
I jam
|
2 Jam
|
|||
PEMBELAJARAN
|
|||||
1.
Anak telat masuk kelas
2.
Anak tidak konsentrasi dengan pelajarannya
3.
Anak merasa tidak nyaman di tempat duduknya
4.
Anak menggangu teman di kelasnya
5.
Anak memukul meja atau kursi
6.
Anak membanting alat-alat belajarnya seperti buku / pensil
7.
Anak marah-marah karena alas an yang tidak jelas
8.
Anak berteriak di kelas
9.
Anak menangis tanpa sebab yang jelas
10.
Anak menunjukkan kecemasan akan dirinya
11.
Anak izin ke luar kelas
12.
Anak sibuk dengan buku-bukunya dan tidak mendengarkan perintah guru
13.
Anak telat mengumpulkan tugas
14.
Anak tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru
15.
Anak memukul teman sebangkunya
16.
Anak memakan bekalnya di kelas]
17.
Anak membentak guru ketika diberi tahu / dinasihati
18.
Anak tidur di kelas
19.
|
|||||
Instrumen yang diisi oleh Orang
Tua
Aspek yang diamati
|
Jawaban
|
Keterangan
|
|
Ya
|
Tidak
|
||
SOSIAL & EMOSI
|
|||
1.
Anak merespon dengan baik perintah dari orang tua
2.
Anak dapat memulaik komunikasi dengan orang-orang di rumah
3.
Anak menunjukkan rasa empati kepada keluarga
4.
Anak mudah tersenyum social dengan orang-orang rumah
5.
Anak menunjukkan rasa sayangnya kepada kelaurga seperti memeluk atau mencium
ibu atau ayahnya
6.
Anak dapat bergabung ketika keluarga sedang berkumpul seperti duduk bersama
ketika nonton TV
7.
Anak mudah tersinggung
8.
Agresivitas anak akan suatu hal
9.
Anak mudah marah akibat hal-hal kecil seperti diambil mainannya
10.
Anak memiliki teman yang banyak
11.
Anak memiliki masalah dalam membina hubungan dengan teman sebayanya dan
keluarga
12.
Anak suka berekreasi seperti pergi berenang
13.
Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu hal yang baru
14.
Anak memiliki rasa percaya diri yang tinggi
15.
Anak tampak memilih-milih teman dalam bergaul berdasarkan gender
|
|||
7.
Metode
pembelajaran ATL
Metode pembelajarannya adalah :
·
Pendampingan dengan satu atau dua guru
pada setiap siswa. Maksud dari metode ini adalah pendampingan dari guru dan
guru tersebut dapat berasal dari pihak keluarga. Sehingga peran dari orangtua
sangat dituntut dan berperan penting dalam pembentukan karakter anak dan
pendidikan yang diperolehnya.
·
Mengemas metode pendidikan dengan
permainan yang menyenangkan dan tanpa adanya paksaan.
·
Memberikan ruang yang cukup dan memadai
untuk mengekspresikan keinginan atau emosi anak.
Media pembelajaran merupakan perantara
komunikasi antara guru dan murid yang disesuaikan dengan kebutuhan artinya
bahwa proses belajar mengajar di SLB, penggunaan media sangat penting sekali
terhadap keberhasilan belajar anak berkebutuhan khusus (ABK) .
Media
penting bagi ABK :
·
Anak Berkebutuhan
Khusus adalah anak yang mengalami gangguan/kerusakan fisik dan psihis sehingga
mengganggu aktifitas kehidupannya.
·
Keterbatasan
anak berkebutuhan khusus dalam gangguan/kerusakan itu menjadikan mereka
memiliki keterbatasan dalam mengakses semua aktifitas baik fisik atau psihis.
·
Dengan demikian
pemanfaatan alat bantu/media dalam pembelajaran bisa membantu anak berkebutuhan
khusus mengoptimalkan kemampuannya.
Klasifikasi
Media Pembelajaran :
·
Media audio :
menghasilkan bunyi suara. Mis : kaset, tape recorder, radio
·
Media visual ;
dapat memperlihatkan rupa dan bentuk
a.
dua dimensi –non transparansi gambar-transparansi slide, film, lembar
tranfaransi
b.
Tiga Dimensi : model benda sebenarnya
Pengelompokan
media oleh Leshin, Pollock & Reigeluth dalam Arsyad, (2006:36) :
·
media berbasis
manusia (guru, instruktur, tutor, main-peran, kegiatan kelompok, field-trap).
·
media berbasis
cetak (buku, penuntun, buku latihan (zvorkbook), alat bantu kerja, dan lembaran
lepas);
·
media berbasis
visual (buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta, gambar, transparansi,
slide)
·
media berbasis
audio-visual (video, film, program slide-tape, televisi); dan
·
media berbasis komputer (pengajaran dengan
bantuan komputer, interaktif video, hypertext).
8.
Cara Pencegahan ATL
Menurut Kaufman bahwa hiperaktif
nampaknya tidak secara otomatis sebagaimana anak menjadi dewasa, karena itu
perlu diupayakan beberapa cara pencegahannya antara lain :
·
Member
perhatian yang cukup
·
Memberikan
contoh dalam perbuatan
·
Membiasakan
anak dengan perbuatan/kegiatan positif.
·
Suasana
rumah yang tentram
·
Pendidikan
agama sejak dini
·
Membangun
hubungan akrab dengan anak
Pencegahan
anak yang agresif antara lain :
·
Batasi
anak menonton adegan kekerasan dalam TV
·
Meningkatkan
kebahagiaan dalam keluarga
·
Batasi
pertengkaran dalam rumah tangga
·
Berikan
kesempatan bermain keluar pada anak
·
Memberikan
batas waktu
Pencegahan
anak yang anti social :
·
Bangunlah
keakraban
·
Member
tanggapan yang cukup
·
Hindari
sifat dictator
·
Berikan
contoh
·
Siapkan
aturan-aturan dengan menyiapkan peraturan
secara spesifik dan berikan alasannya, jangan terlalu banyak peraturan,
beri pilihan dan fleksibilitas
Upaya
pencegahan yang dilakukan sekolah antara lain
·
Meningkatkan
hubungan guru dan orang tua
·
Meningkatkan
kegiatan siswa di luar jam sekolah dibawah bimbingan guru
·
Menjaga
disiplin sekolah yang melibatkan semua aparat sekolah
·
Bimbingan
dan konseling
Upaya yang
dilakukan oleh masyarakat/ instansi terkait
·
Meningkatkan
kegiatan pemuda
·
Bergabung
dengan kegiatan yang dilakukan pemerintah dan instansi terkait (beasiswa,
seminar pramuka, ceramah,
·
Peningkatan
razia pelajar secara terpadu.
