1.
Anak
Tuna Grahita
Tunagrahita adalah Istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang
mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata (Sumantri, 2007). Anak
tunagrahita atau bukan adalah apa yang menyebabkan ketertinggalannya, anak
terlambat masuk sekolah tentu tingkat kelasnya akan ketinggalan oleh temannya
yang seusia. Anak tuna grahita adalah mereka yang kecerdasannya berada di bawah
rata-rata (Amin, 1995). Anak tunagrahita atau dikenal juga dengan istilah
terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya mengakibatkan dirinya
sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara klasikal, oleh
karena itu anak terbelakang mental membutuhkan layanan pendidikan secara khusus
yakni disesuaikan dengan kemampuannya. Di Indonesia banyak istilah yang
dipergunakan untuk menyebut Tunagrahita. Ada yang menyebut dengan lemah otak,
lemah ingatan, tunamental, lemah pikiran, cacat mental, terbelakang mental.
Dalam bahasa asing juga banyak istilah yang dipergunakan seperti mentally handicapped, mentally defected
amentia, feeble minded dan mental deviciency. Sedangkan menurut batasan
dari AAMD dalam Delphie (2006) menyatakan bahwa anak Tunagrahita secara umum
mempunyai tingkat kemampuan intelektual di bawah rerata, dan mengalami hambatan
terhadap perilaku adaptif selama masa perkembangan hidupnya dari 0 tahun hingga
18 tahun, yang mengisyaratkan adanya kemampuan intelektual jika diukur dengan
WISC-RIII 1991, mempunyai skor IQ 70, dan mempunyai hambatan pada komponen yang
tidak bersifat intelektual, yakni perilaku adaptif (adaptive behavior).
2.
Klasifikasi Anak Tunagrahita.
Berdasarkan uraian di
atas, untuk memudahkan dalam memberikan layanan terhadap anak tunagrahita perlu
adanya klasifikasi ( pengelompokan) yang didasarkan pada tarap intelegensinya,
yang kebanyakan diukur dengan test PP 72 tahun 1991 dan Skala Weschler (WISC).
Adapun pengelompokannya sebagai berikut:
a)
Tunagrahita Ringan (moron atau debil)
Kelompok ini memiliki IQ antara 50-70 menurut PP 72
tahun 1991, sedangkan menurut Weschler memiliki IQ 55-70. Mereka masih dapat
belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana. Anak tunagrahita ringan masih
dapat dididik menjadi tenaga trampil dan dapat bekerja di perusahaan, namun
demikian anak terbelakang mental ringan tidak mampu melakukan penyesuaian
sosial secara independen. Anak akan membelanjakan uangnya dengan lugu, tidak
dapat merencanakan masa depan, dan bahkan
suka berbuat kesalahan yang pada umumnya anak tersebut tidak mengalami
gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti anak normal pada umumnya,
oleh karena itu agak sukar membedakan secara fisik antara anak tunagrahita
ringan dengan anak normal. Bila dikehendaki, mereka ini masih dapat bersekolah
di sekolah anak berkesulitan belajar. Ia akan dilayani pada kelas khusus dengan guru dari
pendidikan luar biasa. Dalam berbicaranya banyak yang lancar,
tetapi perbendaharan katanya minim, Mereka mengalami kesulitan dalam berpikir
abstrak, tetapi mereka masih mampu mengikuti pelajaran yang bersifat akademik
atau tool subject, baik di sekolah biasa maupun di sekolah luar biasa (SLB).
Umur kecerdasannya apabila sudah dewasa sama dengan anak normal yang berusia 12
tahun.
b)
Tunagrahita Sedang
Tunagrahita
sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 30-50 pada PP 72 tahun 1991 dan 40-55
menurut Skala Weschler (WISC). Anak Tunagrahita sedang dapat bisa mencapai
perkembangan MA sampai kurang lebih 7 tahun. Mereka dapat dididik mengurus diri
sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya seperti menghindari dari
kebakaran, berjalan di jalan raya, berlindung dari hujan, dan sebagainya.
Anak
tunagrahita sedang, sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik
seperti belajar menulis, membaca dan berhitung walaupun mereka dapat menulis
secara sosial, misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumah dan lain-lain.
Masih dapat dididik mengurus diri sendiri seperti mandi, berpakaian, makan,
minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, membersihkan perabot
rumah tangga, dan sebagainya. Aktifitas kehidupan sehari-hari anak tunagrahita
sedang membutuhkan pengawasan yang terus menerus. Anak masih dapat diberdayakan untuk bekerja di
tempat kerja terlindung (sheltered
workshop).
c)
Tunagrahita Berat dan
Sangat Berat
Kelompok
anak tunagrahita berat sering disebut Idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi
antara anak tunagrahita berat dan sangat berat. Tunagrahita berat ( severe ) dan sangat berat ( profound ) menurut PP 71 tahun 1991
memilki IQ kurang dari 30, dan dibawah 40 menurut skala Weschler (WISH).
Kemampuan mental atau MA maksimal yang dapat dicapai kurang dari tiga tahun.
Anak yang tergolong dalam kelompok tunagrahita berat pada umummya hampir tidak
memiliki kemampuan untuk dilatih mengurus diri sendiri. Oleh karena itu anak
tunagrahita berat memerlukan bantuan perawatan secara total dalam hal
berpakaian, mandi, makan, minum, merias diri atau kebersihan diri dan
lain-lain. Bahkan mereka memerlukan
perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya ( benda –benda yang ada disekitar
akan dimakan ) Hampir semua Anak
Tunagrahita berat dan sangat berat menyandang ketunaan ganda. Umpamanya sebagai
tambahan ketunagrahitaan tersebut, anak juga mengalami kelumpuhan ( karena
cacat otak ), tuli atau keterbatasan lainnya.
3.
Faktor Penyebab
Mengenai faktor penyebab ketunagrahitaan para ahli sudah berusaha
membaginya menjadi beberapa kelompok. Ada yang membaginya menjadi dua gugus,
yaitu indogen dan eksogen. Ada juga yang membaginya berdasarkan waktu
terjadinya penyebab, disusun secara kronologis sebagai berikut faktor-faktor
yang terjadi sebelum anak lahir (prenatal), faktor-faktor yang terjadi ketika
anak lahir (natal), dan faktor-faktor yang terjadi setelah anak dilahirkan (pos
natal). Di bawah ini akan dikemukakan
beberapa faktor penyebab ketunagrahitaan, baik yang berasal dari faktor
keturunan maupun yang berasal dari faktor lingkungan..
1. Faktor
keturunan
Ketika terjadi fertilisasi dan terjadi
manusia baru, maka ia akan memperoleh faktor-faktor yang diturunkan, baik dari
ayah maupun dari ibu yang disebut genotif. Aktualisasi genotif
dihasilkan atas kerjasama dengan lingkungan. Sebagai pembawa sikat keturunan,
gene antara lain menentukan warna kulit, bentuk tubuh, raut wajah, dan
kecerdasan.
2. Gangguan
metabolisme dan gizi
Metabolisme dan gizi merupakan dua hal
yang sangat penting bagi perkembangan individu, terutama perkembangan sel-sel
otak. Kegagalan dalam metabolisme dan pemenuhan gizi akan mengakibatkan
terjadinya gangguan pisik dan mental pada individu.
3. Infeksi
dan keracunan
a. Rubella.
Wanita hamil yang terjangkit penyakit rubella akan mengakibatkan
janin yang dikandungnya menderita tunagrahita, tunarungu, penyakit jantung, dan
lain-lain.
b. Syphilis.
Bayi dalam kandungan ibunya yang terjangkit syphilis akan lahir
mengalami kelainan, seperti tunagrahita.
4. Masalah
pada kelahiran. Ketunagrahitaan juga dapat disebabkan akibat sulitnya proses
kelahiran, sehingga bayi dikeluarkan dengan menggunakan tank yang dapat merusak
otak.
5. Faktor
lingkungan (sosial-budaya)
Banyak peneliti yang melaporkan bahwa
lingkungan dapat berpengaruh terhadap fungsi intelek anak. Anak tunagrahita banyak ditemukan :
a. Di
daerah yang taraf ekonominya lemah
b. Dalam
keluarga yang kurang menyadari pentingnya pendidikan dini bagi anak, kurang
kasih sayang, dan kurangnya kontak pribadi dengan anak.
4.
Usaha
Pencegahan
Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah
terjadinya ketunagrahitaan adalah sebagai berikut :
1.
Diagnostik prenatal
Yaitu suatu usaha memeriksakan kehamilan
untuk menemukan kemungkinan kelainan-kelainan pada janin.
2.
Imunisasi
Imunisasi dilakukan terhadap ibu hamil dan
balita agar terhindar dari penyakit-penyakit yang dapat mengganggu perkembangan
anak.
3. Tes darah
Ini dilakukan terhadap pasangan calon
suami istri untuk menghidari kemungkinan menurunkan benih-benih yang
berkelainan,
4.
Pemeliharaan kesehatan
Ibu
hamil hendaknya memeriksakan kesehatan secara rutin. Juga menyediakan makanan
bergizi yang cukup, menghindari radiasi, dan sebagainya.
5. Program
KB
Ini
diperlukan untuk mengatur kehamilan dan membina keluarga yang sejahtera.
5.
Perkembangan Anak Tuna Grahita
·
Perkembangan kognitif.
Suppes (1974) menjelaskan bahwa
kognisi merupakan bidang yang luas yang meliputi semua kemampuan akademik yang
berhhubungan dengan wilayah persepsi. Mussen, Conger, dan Kagan (1974) paling
sedikit terdiri dari 5 proses yaitu persepsi, memory, kemunculan ide – ide
evaluasi penalaran dan proses – proses itu meliputi sejumlah unit yaitu skema,
gambaran, symbol, konsep dan kaidah – kaidah. Kognisi adalah bidang yang luas
dan beragam, peneliti tidak dapat memusatkan pada satu proses kognitif umur
pada waktu tertentu. Anak terbelakang menunjukkan deficit pemerolehan
pengetahuan seperti yang digambarakan proses kognisi meliputi proses dimana
pengetahuan itu diperoleh, disimpan dan dimanfaatkan. Jika terjadi gangguan
perkembangan intelektual akan tercermin pada proses kognitif. Yang dikemukakan
Mussen dkk (persepsi, memory, ide – ide, evaluasi, dan penalaran).
Beberapa penjelasan tentang
kekurangan anak tunagrahita pada ingatan jangka pendek dapat diapahami dengan
pendekatan konsep neuro-biologis. Spitz (1963) menerapkan teori kejenuhan
cortical (Cortical Satiation Theory) terhadap anak tunagrahita Spitz
mengajukan sebuah hipotesis bahwa sel cortical (Cortical cells) anak
tunagrahita lebih lambat dalam perubahan kimia, listrik, dan perubahan fisik.
Perubahan-perubahan temporer pada sel ortical lebih lambat kembali pada keadaan
semula. Perubahan-perubahan yang terjadi pada sel cortical lebih sulit.
Fleksibilitas mental yang kurang
pada anak tunagrahita mengakibatkan kesulitan dalam pengorganisasian bahan yang
akan dipelajari. Oleh karena itu sukar bagi anak tunagrahita untuk menangkap informasi
yang kompleks.
·
Perkembangan
bahasa
Secara umum perkembangan bahasa
digambarkan oleh Myklebust (1960), meliputi beberapa tahap perkembangan,
berikut :
a.
Inerlanguage
Inerlanguage
adalah aspek bahasa yang pertama berkembang. Muncul kira – kira pada usia 6
bulan. Karakteristik perilaku yang muncul pada tahap ini adalah pembentukan
konsep – konsep sederhana, seperti anak mendemonstrasikan pengetahuannya
tentang hubungan sederhana antara satu objek dengan objek yang lainnya. Tahap
berikut dari perkembangan innerlanguage adalah anak dapat memahami hubungan –
hubungan yang lebih kompleks dan dapat bermain dengan mainan dalam situasi yang
bermakna. Contohnya menyusun perabot didalam rumah – rumahan. Bentuk yang lebih
komples dari perkembangan innerlanguage adalah mentransformasikan pengalaman ke
dalam symbol bahasa.
b.
Receptive Language
Setelah
innerlanguage berkembang, maka tahap berikutnya dalah receptive language
muncul. Pada kira – kira umur 8 bulan anak mulai mengerti sedikit – sedikit tentang
apa yang dikatakan orang lain kepadanya, anak mulai merespon apabila namanya
dipanggil dan mulai mengerti perintah. Menjelang kira – kira umur 4 tahunan
anak lebih menguasai kemahiran mendengar dan setelah itu proses penerimaan
(receptive process) memberikan perluasan kepada sistim bahasa verbal. Terhadap
hubungan timbal balik antara innerlanguage dengan receptive language.
Perkembangan innerlanguage, melewati fase pembentukan konsep – konsep sederhana
menjadi tergantung kepada receptive language.
c.
Ekspressive Language
Aspek
terakhir dari perkembangan bahasa adalah bahasa ekspresif (ekspresive
language). Menurut Myklebust ekspresive language berkembang setelah pemantapan
pemahan. Bahasa ekspresif anak muncul pada usia kira – kira 1 tahun.
Perkembangan
bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kognisi, keduanya mempunyai hubungan
timbale balik. Perkembangan kognisi anak tugrahita mengalami hambatan,
karenanya perkembangan bahasanya juga akan terhambat. Anak tuna grahita pada
umumnya tidak bias menggunakan kalimat majemuk, dalam percakapan sehari – hari
mereka lebih banyak menggunakan kalimat tunggal. Ketika anak tunagrahita
dibandingkan dengan anak normal pada CA yang sama, anak tunagrahita pada
umumnya mengalami gangguan artikulasi, kualitas suara, dan ritme. Selain itu
anak tunagrahita mengalami kelambatan dalam perkembangan bicara (ekspresive
auditori language). Dalam perkembangan morfologi anak normal menguasai
peningkatan sejumlah morfem sejalan dengan perkembangan umum. Demikian juga
anak tunagrahita dan anak normal yang memiliki MA yang sama memperlihatkan
level yang sama dalam perkembangan morfologi. Akan tetapi anak tunagrahita yang
memiliki CA yang sama dengan anak normal, anak tunagrahita memiliki tahap lebih
rendah dengan perkembangan morfologinya.
Ada
penelitian yang menarik yang dilakukan oleh Endang Rochyadi (1983) mengenai
kemampuan berbahasa anak tunagrahita khususnya berkaitan dengan sintaksis dan
perbendaharaan kata. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa MA berkolerasi
dengan kemampuan tata bahasa (sintaksis), sedangkan CA berkolerasi dengan
perbendaharaan kata. Ini berarti bahwa sintaksis memerlukan kemampuan
kecerdasan yang baik.
Hal
terakhir dari perkembangan bahasa berkaitan dengan kemampuan bahasa yang
disebut semantic. Anak – anak memperlihatkan perkembangan semantic sama seperti
pada komponen lainnya. Anak terbelakang menunjukkan perkembangan semantic lebih
lambat dari pada anak normal. Tetapi tidak ada bukti bahwa mereka memiliki
perbedaan pola perkembangan sistaksis. Perkembangan vocabulary anak tunagrahita
telah diteliti secara luas. Hasilnya menunjukkan bahwa anak tunagrahita lebih
lambat dari pada anak normal dari pada kata permenit lebih banyak menggunakan
kata – kata positif, lebih sering menggunakan kata – kata yang lebih umum,
hamper tidak pernah menggunakan kata – kata yang lebih umum, hamper tidak
pernah menggukan kata ganti, lebih sering menggunakan kata – kata bentuk
tunggal, dan anak tunagrahita dapat menggunakan kata – kata bervariasi.
·
Emosi dan Sosial
Perkembangan dorongan (drive) dan
emosi berkaitan dengan derajat ketunagrahitaan seorang anak. Anak tunagrahita
berat tidak dapat menunjukkan dorongan pemeliharaan dirinya sendiri. Mereka
tidak bisa menunjukkan rasa lapar atau haus dan tidak dapat menghindari bahaya.
Pada anak tunagrahita sedang, dorongan berkembang lebih baik tetapi kehidupan
emosinya terbatas pada emosi – emosi yang sederhana.
Pada anak terbelakang ringan
kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan anak normal akan tetapi tidak
sekaya anak normal. Anak tunagrahita dapat memperlihatkan kesedihan tetapi
sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka bisa mengekspresikan
kegembiraan, tetapi sulit untuk mengungkapkan kekaguman. Kepribaian dan
penyesuaian social merupakan proses yang saling berkaitan.
Kepribadian seseorang mencerminkan
cara yang tersebut berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya pengalaman –
pengalaman penyesuaian diri sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian.
Dalam kepribadian tercakup susunan fisik, karakteristik emosi, serta
karakteristik seseorang. Di dalamnya juga tercakup cara – cara memberikan
respon terhadap rangsangan yang datingnya dari dalam maupun dari luar baik
rangsangan fisik maupun social. Apakah anak tunagrahita memiliki karakteristik
khusus dalam kepribadiannya.
Dari penelitian yang dilakukan oleh
Mc Iver dengan menggunakan Children’s Personality Questionare ternyata bahwa
anak – anak tunagrahita mempunyai beberapa kekurangan. Anak tunagrahita pria
memiliki kekurangan berupa tidak matangnya emosi, depresi, bersikap dingin,
menyendiri, tidak dapat dipercaya, impulsif, lancaag dan merusak. Anak
tunagrahita wanita mudah dipengaruhi, kurang tabah, ceroboh, kurang dapat
menahan diri dan cenderung melanggar ketentuan dalam hal lain anak tunagrahita
sama dengan anak normal. Kekurangan – kekurangan dalam hal kepribadian akan
berakibat pada proses penyesuaian diri.
Penyesuaian diri merupakan proses
psikologis yang terjadi ketika kita menghadapi berbagai situasi. Seperti anak
normal, anak tunagrahita akan menghayati suatu emosi, jika kebutuhannya
terhalangi. Emosi – emosi yang positif adalah cinta, girang, simpatik. Emosi
ini tampak pada anak tuna grahita yang masih muda terhadap peristiwa –
peristiwa yang bersifat konkret, lingkungan bersifat positif terhadapnya, maka
mereka akan lebih mampu menunjukkan emosi – emosi yang positif itu. Emosi –
emosi yang negative adalah perasaan takut, giris, marah, dan benci. Anak
terbelakang yang masih muda takut kepada hal – hal yang mengancam
keselamatannya. Anak tunagrahita yang lebih tua takut terhadap hal – hal yang
berkenaan dengan hubungan social.
Dalam tingkah laku
social tercakup hal – hal seperti keterikatan dan ketergantrungan, hubungan
kesebayaan, self concept dan tingkah laku moral. Yang dimaksud dengan tingkah
laku keterikatan dan ketergantungan adalah kontak anak dengan orang dewasa
(orang lain). Masalah keterikatan dan ketergantungan anak terbelakang telah
diteliti oleh Zigler (1961) dan Steneman (1962, 1969). Seperti halnya anak
normal, anak tunagrahita yang masih muda mula – mula memiliki tingkah laku
keterikatan kepada orang tua dan orang dewasa yang lain. Dengan bertambahnya
umur keterkaitan ini dialihkan kepada teman sebaya. Ketergantungan yang tadinya
bersifat satu pihak menjadai hubungan yang timbal balik. Ketika anak merasa
takut, giris, tegang, dan kehilangan orang tempat bergantung, kecenderungan
ketergantungannya bertambah. Berbeda dengan anak normal, anak tunagrahita lebih
banyak bersifat bergantung pada orang lain, dan kurang terpengaruh oleh bantuan
social. Dalam hubungan kesebayaan seperti halnya dengan anak kecil menolak anak
yang lain, tetapi setelah bertambah umur, mereka mengadakan kontak dan
melakukan kegiatan – kegiatan yang bersifat kerjasama. Berbeda dengan anak
normal, anak tuna grahita jarang diterima, sering ditolak oleh kelompok serta
jarang menyadari posisi diri dalam kelompok
·
Perkembangan
Fisik. Fungsi-fungsi perkembangan anak tunagraita ada yang tertinggal jauh
oleh anak normal.adapula yang sama atau hamper menyamai anak normal.perkembangan
jasmani dan motorik anak tunagrahita tidak secepat perkembangan anak normal
pada umumnya.hasil penelitian menunjukan bahwa 3 th – 12 th ada dalam kategori
kurang sekali. Sedangkan anak normal pada umur yang sama ada dalam kategori
kurang (M.Umardjani,1984). Dengan demikian tingkat jasmani anak tunagrahita
setingkat lebih rendah dibandingkan dengan anak normal pada umur yang sama.
Banyak hasil penelitian menunjukan bahwa pada anak terbelakang korelasi
tersebut lebih besar dari pada yang terdapat pada anak normal.dalam hal
kesegaran jasmani M Umarjani (1984) menemukan bahwa korelasi anak terbelakang
putra dan putri masing – masing 0,96 dengan taraf signifikan 0,01 serta 0,617
dengan taraf signifikan 0,05.perkembangan motorik mencakup dua hal yaitu gross
motor (seperti berjalan, melompat, melempar) dan fine motor (seperti menulis,
menyulam, menggunting dsb) pada anak-anak yang pertama berkembang adalah gross,
sedangkan fine motor.kita mempelajari gerak-gerak jari dengan mudah, tetapi
lain halnya dengan anak tunagrahita mereka mengalami kesulitan untuk
menguasainya. Banyak gerak-gerak yang kita pelajari hampir secara instingtif,
harus dipelajari anak tunagrahita secara khusus. Adapun gerak-gerak yang
termasuk gerak fundamental menurut Wessel (1974) Perincian sebagai berikut :
o Functional
run/jalan
o Functional
leap/lompat
o Functional
horizontal jump/lompatan
o Functional
vertical jump/lompatan vertikal
o Functional
gallop/langkah
o Functional
slide
Functional skip
object control, meliputi :
o Functional
underhand roll
o Functional
underhand throw
o Functional
overhand throw
o Functional
kick
o Functional
continous bounce
o Functional
catch
o Functional
underhand strike
o Functional
overhand strike
o Functional
forehand strike/pukulan punggung tangan
o Functional
backhand strike/pukulan telapak tangan
Functional two –
janded sidearm rytmic skill, meliputi :
o Functional
movements to an even beat
o Functional
movements to an uneven beat/
o Accent
and phrasing/penucapan kata dan kalimat
o Limitate
movements/pergrerakan terbatas
o Communication
6.
Dampak ketunagrahitaan
Orang
yang paling banyak menanggung beban akibat ketunagrahitaan adalah orang tua dan
keluarga anak tersebut. Oleh karena itu dikatakan bahwa penanganan anak
tunagrahita merupakan psikiatri keluarga. Keluarga anak tunagrahita berada dalam
resiko, mereka menghadapi resiko yang berat. Saudara – saudara anak tersebut
pun menghadapi hal – hal yang bersifat emosional.
Saat
yang krisis adalah ketika keluarga itu pertama kali menyadari bahwa anak
tersebut tidak normal seperti yang lain. Jika anak tersebut menunjukkan gejala
– gejala kelainan fisik (misalnya mongolisme) maka kelainan anak dapat segera
diketahui sejak anak dilahirkan. Tetapi jika anak tersebut tidak mempunyai
kelainan fisik, maka orang tua hanya akan mengetahui dari hasil penelitian.
Cara menyampaikan hasil penelitian sangatlah penting. Orang tua mungkin menolak
kenyataan atau menerima dengan beberapa persyaratan tertentu. Dalam
memberitahukan kepada orang tua hendaknya dilakukan terhadap kedua –
duanya (suami istri) secara bersamaan. Dianjurkan sejak awal sudah
diperkenalkan dengan orang yang juga mempunyai anak cacat. Orang tua hendaknya
menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Lahirnya anak cacat (tunagrahita)
selalu merupakan tragedy. Reaksi orang tua berbeda – beda tergantung pada
berbagai factor, misalnya apakah kecacatan tersebut dapat segera diketahuinya
atau terhambat diketahuinya. Factor lain yang juga yang sangat penting ialah
derajat ketunagrahitaannya dan jelas tidaknya kecacatan tersebut terlihat orang
lain.
Perasaan
dan tingkah laku orang tua itu berbeda – beda dan dapat dibagi menjadi :
a.
Proteksi biologis
b.
Perubahan tiba – tiba, hal ini mendorong untuk
1.
Menolak kehadiran anak dengan memberikan sikap dingin.
2.
Menolak dengan rasionalisasi, menahan anaknya di rumah dengan mendatangkan
orang yang terlatih untuk mengurusnya.
3.
Merasa berkewajiban untuk memelihara tetapi melakukan tanpa memberikan
kehangatan.
4.
Memelihara dengan berlebihan sebagai kompensasi terhadap perasaan menolak.
c.
Merasa ada yang tidak beres tentang urusan keturunan
1.
Perasaan ini mendorong timbulnya suatu perasaan depresi.
2.
Merasa kurang mampu mengasuhnya perasaan ini mehilangkan kepercayaan kepada
diri sendiri dalam mengasuhnya.
3.
Kehilangan kepercayaan akan mempunyai anak yang normal.
a.
Karena kehilangan kepercayaan tersebut orang tua cepat marah, tingkah laku
agresif.
b.
Kedudukan tersebut dapat mengakibatkan depresi.
c.
Pada permulaan mereka segera mampu menyesuaikan diri sebagai orang tua anak
tunagrahita, akan tetapi mereka terganggu lagi saat – saat menghadapi peristiwa
– peristiwa kritis.
d.
Terkejut dan kehilangan kepercayaan diri, kemudian berkonsultasi untuk mendapat
berita – berita yang lebih baik.
e.
Banyak tulisan yang menyatakan bahwa orang tua merasa berdosa. Sebenarnya
perasaan tersebut tidak selalu ada. Perasaan tersebut bersifat kompleks dan
dapat mengakibatkan depresi.
f.
Merasa bingung dan malu, yang mengakibatkan orang tua kurang suka bergaul dan
lebih suka menyendiri.
Adapun saat – saat
kritis itu terjadi pada saat berikut :
1.
Pertama kali mengetahui bahwa anaknya cacat.
2.
Memasuki pada umur sekolah, pada saat tersebut sangat penting kemampuan masuk
sekolah biasa, sebagai tanda bahwa anak tersebut normal.
3.
Meninggalkan sekolah.
4.
Orang tua bertambah tua, sehingga tidak mampu lagi memelihara anaknya yang
cacat.
7.
Penyebab Tuna Grahita
Seseorang menjadi tunagrahita
disebabkan oleh berbagai factor. Para ahli membagi factor tersebt dalam
beberapa kelompok :
a.
Factor Keturunan
Meliputi
hal – hal berikut.
- Kelainan kromosom, dapat dilihat dari bentuk dan nomornya, dilihat dari bentuknya dapat berupa infresi (kelainan yang menyebabkan berubahnya urutan gene karena melilitnya kromosom, delesi (kegagalan meiosis, yaitu salah satu pasangan tidak membelah sehingga terjadi kekurangan kromosom pada salah satu sel), duplikasi (kromosom tidak berhasil memisahkan diri sehingga tidak terjadi kelebihan kromosom pada salah satu sel yang lain), translokasi (adanya kromosom yang patah dan patahannya menempel pada kromosom lain).
- Kelainan gene, terjadi pada waktu mutasi, tidak selamnya tampak dari luar (tetap dalam tingkat genotip).
b.
Gangguan metabolism dan gizi
Metabolism
dan gizi merupakan factor yang sangat penting dalam individu terutama dalam
perkembangan sel – sel otak, kegagalan itu dapat menyebabkan gangguan fisik dan
mental pada individu. Kelainan itu antara lain phenylketonuria (akibat
gangguan metabolism asam amino) dengan gejala yang Nampak berupa : tunagrahita,
kekurangan pigmen, kejang syaraf, kelianan tingkah laku gargoylism
(kerusakan metabolism saccharide yang menjadi tempat penyimpanan asam
mukopolysaccharide dalam hati limpa kecil dan otak gejala yang Nampak ketidak
normalan tinggi badan, kerangka tuuh yang tidak proposional, telapak tangan
lebar dan pendek, persendian kaku, lidah lebar dan menonjol dan tunagrahita, cretinism
(keadaan hypohydrodism kronik yang terjadi selama masa janin atau saat
dilahirkan) dengan gejala kelainan yang tampak ketidak normalan fisik yang khas
pada tunagrahita.
c.
Infeksi dan keracunan
Keadaan
ini disebabkan oleh terjangkitnya penyakit – penyakit selama janin dalam
kandungan. Penyakit yang dimaksud antara lain rubella yang mengakibatkan
ketunagrahitaan serta adanya kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan,
berat badan sangat kurang ketika dilahikan, syphilis bawaan, syndrome grafidity
beracun.
d.
Trauma dan zat radio aktif
Terjadi
trauma pada otak ketika bayi dilahirkan atau terkena radiasi zat radio aktif
saat hamil dapat mengakibatkan ketunagrahitaan. Trauma yang terjadi pada saat
dilahirkan biasanya disebabkan oleh kelahiran yang sulit sehingga memerlukan
alat bantu. Ketidak tepatan penyinaran radiasi sinar X selama bayi dalam
kandungan mengakibatkan cacat mental microsephaly.
e.
Masalah pada kelahiran
Masalah
yang terjadi pada saat kelahiran misalnya kelahiran yang disertai hypoxia yang
dipasyikan bayi akan menderita kerusakan otak, kejang, dan nafas pendek.
Kerusakan juga disebabkan oleh trauma mekanis terutama pada kelahiran yang
sulit.
f.
Factor lingkungan
Studi yang
dilakukan Kirk (Triman Prasadio, 1982:25) menemukan bahwa anak yang berasal
dari keluarga yang tingkat sosialnya ekonominya rendah menunjukkan
kecenderungan mempertahankan mental pada taraf yang sama bahkan prestasi
belajarnya berkurang dengan meningkatnya usia. Kurangnya rangsangan intelektual
yang memadai mengakibatkan timbulnya hambatan dalam perkembangan intelegensia
sehingga anak dapat berkembang menjadi anak retardasirental.
8.
Usaha Pencegahannya.
Berbagai alternative dan upaya –
upaya pencegahan yang disarankan antara lain :
·
Penyluh genetic, yaitu sesuatu usaha mengkomunikasikan berbagai informasi mengenai
masalah genetika.
·
Diagnotis prenatal, yaitu usaha pemeriksaan kehamilan sehingga dapat diketahui
lebih dini apakah janin mengalami kelainan.
·
Imunisasi, diakukan terhadap ibu hamil maupun anak balita.
·
Tes darah, dilakuka terhadap pasangan yang akan menikah untuk menghindari
kemungkian menurunkan benih – benih kelainan.
·
Melalui program KB, pasangan suami istri dapat mengatur kehamilan dan
menciptakan keluarga yang sejahtera baik fisik dan psikis.
·
Tindakan operasi, dibutuhkan bila ada kelahiran dengan resiko tinggi misalnya
kekurangan oksigen, adanya trauma pada masa perenatal atau proses kelahiran.
·
Sanitasi lingkungan, mengupayakan terciptanya lingkungan yang baik sehingga
tidak menghambat perkembangan bayi atau anak.
·
Pemeliharaan kesehatan, terutama pada ibu hamil yang menyangkut pemeriksaan
kesehatan selama hamil, penyediaan vitamin, menghindaari radiasi.
·
Intervensi dini, dibutuhkan oleh para orang tua agar dapat membantu perkebangan
anak secara dini.
9.
Layanan pendidikan ATG.
- Kelas Transisi. Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tunagrahita. Kelas tansisi sedapat mungkin berada disekolah regler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
- Sekolah
Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C, C1).
Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1 - Pendidikan Terpadu. Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (Slow Learner).
- Program Sekolah di Rumah. Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
- Pendidikan Inklusif. Sejalan dengan perkembangan layaan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusi. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan prinsip “Education for All”. Layanan pendidikan inklusi diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) oarang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusi masih dalam tahap rintisan.
Panti
(Griya) Rehabilitasi.
Panti ini
diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai
kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda
seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di
panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam pati ini terbatas dala
hal:
1. Pengenalan diri
2. Sensori motor dan
persepsi
3. Motorik kasar dan
ambulasi (pindak dari satu tempat ke tempat lain)
4. Kemampuan berbahasa dan komunikasi
5. Bina diri dan kemampuan sosial.
10. Identifikasi dan Asesmen ATG
1. Identifikasi
anak
Ada
beberapa cara untuk melakukan identifikasi anak tunagrahita, diantaranya adalah:
observasi, tes buatan, tes psikologi.
·
Observasi.
Observasi merupakan metode yang tertua diantara metode-metode yang digunakan
untuk mengenali anak atau orang dewasa yang tunagrahita. Metode ini membutuhkan
waktu yang relatif lama, tetapi memberikan hasil yang lebih lengkap
dibandingkan dengan metode lain. observasi bisa juga untuk melengkapi hasil tes
dari psikolog, karena hasil tes belum tentu menunjukkan keadaan anak yang
sebenarnya. Sebelum melakukan observasi seorang observer harus memahami dulu
perkembangan rata-rata anak pada umumnya . Ada dua macam bentuk observasi.
Pertama membiarkan anak hidup dalam lingkungan yang wajar, observer hanya
mencatat gejala-gejala yang timbul selama observasi. Supaya observasi lebih
terarah harus memiliki pedoman observasi. Pedoman observasi ini dapat dibuat
dengan mengacu pada perkembangan rata-rata anak pada umumnya. Cara ini tidak
selamanya efektif karena memerlukan waktu yang cukup banyak. Kedua, supaya
lebih efektif observer menciptakan lingkungan kondisi lingkungan yang dapat
menarik perhatian anak sehingga anak mau bicara, melakukan sesuatu dan lain
sebagainya. Perbandingan antara umur kecerdasan dengan umur yang sebenarnya
menunjukkan tingkat ketunagrahitaan anak tersebut. Misal umur kecerdasan anak
umur 2 tahun sedang umur sebenarnya 3 tahun maka anak tersebut mungkin termasuk
kategori tuna grahita ringan karena menghasilkan IQ kira-kira 66 yaitu 2/3 x
100 = 66.
·
Tes
Buatan Guru. Tes buatan adalah tes yang dibuat oleh guru atau orang yang
berkepentingan untuk mengenali anak tunagrahita. Supaya hasil tes lebih lengkap
dan akurat akan lebih baik bila disertai dengan observasi. Tes bisa dibuat
berdasarkan pada tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui anak pada
masa-masa perkembangannya. Pada pelaksanaannya anak diminta untuk mengerjakan
tugas-tugas perkembangan yang sesuai dengan umurnya, apabila anak belum dapat
maka anak diberi tugas unuk umur
sebelumnya sebaliknya apabila anak mampu untuk mengerjakan tugas perkembangan
yang sesuai dengan umurnya maka dilanjutkan pada tugas perkembangan untuk umur
di atasnya. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka dalam pelaksanaan tes
harus diciptakan kondisi yang membuat anak nyaman dan tidak terbebani oleh
keberadaan tester sehinggan membuat anak gugup dan tidak melaksanakan
tugasnya.
·
Tes
Psikologi. Tes psikologi merupakan salah satu alat untuk mengenali
apakah seorang anak mengalami ketunagrahitaan atau tidak. Tes psikologi yang
dipergunakan adalah tes
kecerdasasan. Tes ini lebih obyektif
karena materi tes sudah diujicobakan sehingga
70
memenuhi persyaratan, prosedur
pelaksanaannyapun diatur, termasuk cara pengolahan
hasil tes, sehingga akan mengurangi
bias pada hasil tes.
Tes kecerdasan akan lebih baik apabila
disertai dengan tes kematangan sosial, mengingat kenyataannya bahwa seseorang
dikatakan tunagrahita apabila mengalami keterlambatan dalam kecerdasan dan
disertai hambatan dalam prilaku adaptifnya. Tes kecerdasan yang ada dewasa ini
lebih banyak yang dikembangkan di luar negeri, oleh karena itu dalam
penggunaanya harus hati-hati, karena lingkungan fisik dan lingkungan sosial dan
budaya serta kondisi ekonomi masing-masing negara seringkali tidak sama. Supaya
tes-tes yang dikembangkan di luar negeri bisa digunakan maka perlu adaptasi
dengan kondisi setempat. Diantara tes-tes psikologi yang banyak digunakan
adalah tes buatan Binet yang kemudian direvisi di Stanford University sehingga
disebut Test Stanford-Binet, Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC)
dan Raven’s Matrices.
Adapun cara mengidentifikasi seorang
anak termasuk tunagrahita dengan indikasi sebagai berikut:
- Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,
- Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
- Perkembangan bicara/bahasa terlambat
- Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan
- (pandangan kosong),
- Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
- Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).
Nilai standarnya adalah 4, artinya
bila anak mengalami minimal 4 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.
CONTOH ALAT IDENTIFIKASI ANAK GRAHITA
1.
Nama Sekolah :
2.
Kelas :
3.
Diisi tanggal :
4.
Nama GPK :
5.
Guru Kelas :
Gejala
Yang Diamati
|
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
|
|||||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
Dst
|
||
Tunagrahita
|
||||||||||||||||||
A
|
1. Kecerdasan
a. Ringan :
Memiliki IQ
50-70 (dari WISC)
|
|||||||||||||||||
B
|
Dua kali
berturut-turut tidak naik kelas
|
|||||||||||||||||
C
|
Masih mampu membaca,menulis dan
berhitung sederhana
|
|||||||||||||||||
D
|
Tidak dapat
berberfikir secara abstrak
|
|||||||||||||||||
Perilaku
adaptif
|
||||||||||||||||||
A
|
Kurang perhatian terhadap
lingkungan
|
|||||||||||||||||
B
|
Sulit menyesuaikan diri dengan
situasi (interaksi sosial)
|
|||||||||||||||||
b.
Sedang
|
||||||||||||||||||
A
|
Memiliki IQ 25-50 (dari WISC)
|
|||||||||||||||||
B
|
Tidak dapat berfikir secara
abstrak
|
|||||||||||||||||
C
|
Hanya mampu membaca kalimat
tunggal
|
|||||||||||||||||
D
|
Mengalami
kesulitan dalam berhitung sekalipun sederhana
|
|||||||||||||||||
Perilaku
adaptif
|
||||||||||||||||||
A
|
Perkembangan
interaksi dan kumunikasinya
terlambat
|
|||||||||||||||||
B
|
Mengalami kesulitan untuk
beradaptasi dengan lingkungan yang baru (penyesuaian diri)
|
|||||||||||||||||
C
|
Kurang mampu untuk mengurus diri
sendiri
|
|||||||||||||||||
C
Berat
|
||||||||||||||||||
A
|
Memiliki IQ 25- ke bawah (dari WISC)
|
|||||||||||||||||
B
|
Hanya mampu
membaca satu kata
|
|||||||||||||||||
c.
|
Sama sekali tidak dapat berfikir
secara abstrak
|
|||||||||||||||||
Perilaku
adaptif
|
||||||||||||||||||
A
|
Tidak
dapat melakukan kontak sosial
|
|||||||||||||||||
B
|
Tidak mampu mengurus diri sendiri
|
|||||||||||||||||
C
|
Akan banyak
bergantung pada bantuan orang lain
|
|||||||||||||||||
2.
Pelaksanaan Asesmen Anak Tuna Grahita.
Asesmen adalah proses yang
sistimatis dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat
kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu. Mengumpulkan informasi
yang relevan, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan,
dan menerapkan seluruh proses pembuatan keputusan tersebut.
Asesmen ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan
asesmen formal dan asesmen informal. Asesmen formal adalah asesmen dengan
menggunakan tes standar yang sudah disusun sedemikian rupa oleh para ahli
sehingga memiliki standar tertentu, sedangkan tes informal adalah penilaian
dengan menganalisis hasil pekerjaan siswa atau dengan tes buatan guru. Adapun
langkah-langkah untuk melakukan asesmen sebagai berikut melakukan identifikasi,
menetukan tujuan asesmen, mengembangkan alat asesmen, dan penafsiran hasil
asesmen.
Adapun langkah-langkah untuk
melakukan asesmen sebagai berikut melakukan identifikasi, menetukan tujuan
asesmen, mengembangkan alat asesmen, dan penafsiran hasil asesmen. Dalam
penyusunan asesmen ini ada beberapa tahapan yang meliputi kegiatan
identifikasi, tujuan asesmen, pengembangan alat asesmen, pelaksanaan ,
penafsiran hasil asesmen.
·
Identifikasi, Identifikasi
disini adalah menentukan anak tunagrahita yang akan diasesmen. Identifikasi
dapat dilakukan melalui pengamatan/observasi yang cermat mengenai perilaku anak
tunagrahita saat belajar dan menganalisis hasil kerja anak. Identifikasi harus
menghasilkan siapa yang akan diasesmen dan dalam aspek apa asesmen itu perlu
dilakukan.
·
Menetapkan Tujuan Asesmen, Setelah
hasil identifikasi diketahui, selanjutya ditetapkan tujuan asesmen yang akan
dilakukan. Tujuan asesmen setiap murid akan sama atau berbeda tergantung pada
gejala yang ditemukan pada waktu identifikasi.
·
Mengembangkan alat asesmen, Untuk
melakukan asesmen guru dapat menggunakan alat asesmen yang sudah baku (asesmen
formal) atau alat asesmen buatan sendiri (asesmen informal). Dalam asesmen informal
guru harus mengembangkan alat asesmen sendiri. Alat asesmen ini disesuaikan
dengan kurikulum.
·
Pelaksanaan asesmen. Guru
melakukan asesmen sesuai dengan aspek yang akan diasesmen dalam waktu dan
ditempat tertentu. Waktu yang digunakan dalam melakukan asesmen disesuaikan
dengan alat yang dikembangkan serta disesuaikan dengan kemampuan anak dalam
memusatkan perhatian sesuai usiannya. Misalnya usia kelas satu SD, lama tes
sebaiknya tidak lebih dari 30 menit (Widati S 2003:5). Tes yang diberikan lebih
dari 30 menit tidak akan memberikan informasi yang akurat tentang kemampuan
anak karena perhatian anak sudah terpecah. Dalam pelakasanaan asesmen penting
pula untuk diperhatikan dalam hal menciptakan ruangan atau tempat asesmen yang
kondusif. Tempat asesmen harus terhindar dari hal-hal yang dapat mengganggu
perhatian anak, sehingga tempat asesmen itu menjadi nyaman dan menimbulkan rasa
nyaman bagi anak.
·
Penafsiran. Setelah
melaksanakan asesmen, tahap selanjutnya adalah guru mengolah hasil asesmen dan menafsirkannya.
Dalam kegiatan inilah akhirnya mengambil keputusan untuk menentukan
pembelajaran yang tepat untuk anak tunagrahita. Kegiatan menafsirkan ini cukup
menentukan, jika penafsiran keliru, maka program pembelajaran yang dikembangkan
akan keliru pula.
Hasil asesmen ini harus dikaitkan
pula dengan kurikulum. Lihatlah materi pelajaran yang sesuai dengan jenjang
kelas dimana anak tunagrahita berada. Apabila pada kurikulum itu tidak
ditemukan materi yang sesuai dengan hasil asesmen maka harus dicari pada
jenjang di bawahnya, jika masih belum ditemukan juga cari kembali pada jenjang
di bawahnya lagi, demikian seterusnya, hingga ditemukan materi yang sejalan
dengan hasil asesmen.
3. Tujuan Asesmen Anak Tuna Grahita.
Tujuan
asesmen ini adalah:
a.
Asesmen setelah deteksi.
1) Untuk menyaring kemampuan
anak tunagrahita
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui
kemampuan anak dalam setiap aspek.Misalnya,Bagaimana kemampuan
bahasanya,kemampuan kognitipnya,kemampuan gerak,dan kemampuan penyesuaian
dirinya.
2) Untuk keperluan
pengklasifikasian,penempatan,dan penetuan program pendidikan anak
tunagrahita setelah diadakan penyaringan maka dapat diperkirakan apakah anak
tersebut termasuk kedalam kategori tunagrahita ringan,sedang,atau
berat.pengambilan kesimpulan dan penetapan sudah tentu harus didukung oleh data
yang jelas.pengklasifikasian ini kaitannya dengan usaha penempatan.sebab
perbedaan kemampuan anak tunagrahita amat berbeda.
3). Untuk menentukan arah dan
kebutuhan pendidikan anak tunagrahita.Arah atau tujuan anak tunagrahita pada
adasarnya sama dengan tujuan pendidikan pada umumnya hanya saja mengingat
kemampuan anak tunagrahita yang terbatas,maka perlu dirumuskan tujuan khusus
yang disesuaikan dengan tingkat ketunagrahitaannya.dengan demikian keluasan dan
kedalaman tujuan pendidikan bagi mereka sangat erat kaitannya dengan tingkat
ketunagrahitaan.maka perumusan tujuan untuk masing-masing tingkat
ketunagrahitaan sangat diperlukan karena merupakan dasar pendangan atau acuan
untuk menentukan arah ataupun program pendidikannya.
4) Untuk mengembangkan program
pendidikan yang diindividualisasakan atau biasa juga disebut IEP
(Individualized Educational Program).dengan data yang diperoleh sebagai
hasil asesmen dapatlah diketahui kemampuan dan ketidak mampuan anak tunagrahita.
Kemampuan-kemampuan itu menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan berikutnya.
5) Untuk menentukan
strategi,lingkungan belajar,dan evaluasi pengajaran, sama halnya dengan IEP
bahwa dengan melihat hasil asesmen dapat ditentukan model strategi,lingkungan
belajar,evaluasi maupun tindak lanjut pengajaran.
b.
Asesmen pada saat dan setelah diberikan pelajaran
Asesmen yang dilaksanakan pada saat
dan setelah anak tunagrahita diberi pelajaran diperlukan untuk maksud
merencanakan program selanjutnya. Adapun tujuan asesmen ini adalah :
·
Agar guru mendapat informasi tentang
keberhasilan dan kegagalan mengajar serta kemajuan dan kesulitan belajar siswa.
·
Agar guru dapat memilih dan menentukan
program,evaluasi, dan strategi belajar mengajar,setra pengaturan lingkungan
belajar.
·
Agar guru dapat melakukan
diagnosis,melaksanakan remidi dan memberikan tindak lanjut pelajaran.
4. Ruang lingkup asesmen
Dengan
memperhatikan tujuan asesmen maka ruang lingkup asesmen dapat dikelompokan
sebagai berikut:
a.
ruang lingkup asesmen yang diberikan sebelum anak
mengikuti pelajaran
·
Kemampuan
menolong diri,meliputi:
makan-minum,berpakaian dan merias diri,menjaga kebersiahan diri,keselamatan
diri dan orientasi lingkungan.
·
Kemampuan
psikomotor,meliputi
: gerak motorik kasar-halus,membangun bentuk, melipat, menggunting, menggambar
dan menempel
·
Perkembangan
social-emusional ,meliputi:
bereaksi terhadap rangsangan dari luar, menyesuaikan diri pada situasi, bermain
bersama, partisipasi dalam kegiatan,melaksanakan perintah, sikap percaya diri.
·
Perkembangan
bahasa, meliputi:
bicara, pembendaharaan kata, menulis, menggambar.
·
Perkembangan
kognitif ,meliputi:pengertian
tentang ukuran, jumlah, bentuk; inisiatif, melaksanakan perintah, orientasi
ruang dan sebagainya.
b.
Ruang lingkup
pada saat anak telah belajar dikelas. Setelah anak tunagrahita mengikuti pelajaran, ruang
lingkup asesmen meliputi penilaian. Untuk menentukan apa yang harus diajarkan
kepada siswa secara individu dan penilaian untuk menentukan cara guru dalam
mengajar siswa untuk mencapai kemajuan yang optimal.
c. Alat asesmen.
Bervariasinya tingkat intelegensi dan kognitif anak tunagrahita,menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasikekurangan
dan kelebihan yang dimilikinya.Asesmen pada anak tunagrahita dilakukan
untuk mengukur tingkatintelegensi dan kognitif, baik secara
individual maupun kelompok. Alatuntuk asesmen anak tunagrahita dapat digunakan
seperti berikut ini:
·
Tes Intelegensi WISC-R (alat atau
instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model WISC-R)
·
Tes Intelegensi Stanford Binet (alat atau instrumen isian untukmengukur
tingkat kecerdasan seseorang model Stanford Binet)
·
Cognitive Ability test (alat atau
instrumen isian untuk mengukur tingkat pengetahuan yang dikuasai)
5.
Macam-Macam
Asesmen Tuna Grahita.
·
Asesmen Perkembangan. Asesmen
perkembangan ini meliputi perkembangan: kognitif, motorik, sosial/emosi, dan
bahasa/komunikasi.
·
Asesmen Akademik Yang termasuk kedalam
asesmen akademik antara lain: asesmen matematik (pra matematik dan matematik),
asesmen membaca (pramembaca, membaca awal, membaca lanjut)
Asesmen Perkembangan Sosial 9-10
tahun. Perkembangan Sosial, Pengelompokan sosial dan perilaku sosial pada masa
akhir anak-anak disebut sebagai usia berkelompok karena ditandai dengan adanya
minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk
diterima sebagai suatu anggota kelompok (Elizabeth B. Hurlock: 1980: 155). Krech
et. al. (1962:104-106) mengungkapkan bahwa untuk memahami perilaku sosial
individu, dapat dilihat dari kecenderungan-kecenderungan ciri-ciri respon
interpersonalnya, yang terdiri dari :
·
Kecenderungan Peranan (Role
Disposition); yaitu kecenderungan yang mengacu kepada tugas, kewajiban dan
posisi yang dimiliki seorang individu,
·
Kecenderungan Sosiometrik (Sociometric
Disposition); yaitu kecenderungan yang bertautan dengan kesukaan, kepercayaan terhadap
individu lain, dan
·
Ekspressi (Expression Disposition),
yaitu kecenderungan yang bertautan dengan ekpresi diri dengan menampilkan
kebiasaaan-kebiasaan khas (particular fashion).
Ada beberapa langkah yang harus
ditempuh dalam melakukan asesmen perkembangan sosial anak, untuk mendapatkan
gambaran yang nyata dari perilaku sosial anak. Berdasarkan teori di atas maka
maka aspek perkembangan sosial dapat kami kembangkan kedalam indikator-indikator
antara lain Aspek Sosial yang diamati berupa 1) Kecenderungan Peranan; Meniru,
Kerjasama, Perilaku akrab. 2) Kecenderungan Sosiometrik ; Dukungan social,
Empati 3) Ekspressi; Persaingan, Membagi.
Contoh Asessmen
Menulis
Pada saat asesmen
guru dapat melakukan observasi kemampuan anak dalam hal
1. menulis dari
kiri ke kanan
2. memegang pensil
3. menulis nama
sendiri
4. menulis
huruf-huruf
5. menyalin kata
dari papan tulis ke buku atau kertas
6. menulis pada
garis yang tepat
7. posisi kertas
8. penggunaan
tangan dominan
9. posisi duduk
Instrumen
Informal Untuk Menilai Bentuk Huruf
Nomor
|
Jenis
Kesalahan
|
Keterangan
|
1
2
3
4
5
6
7
8
|
a seperti oa seperti
u
i seperti e tanpa titik
r seperti i
b seperti li
b seperti g
e tertutup tidak ada lubangnya
t dengan garis di atasnya
m seperti w
|
Instrumen
Informal Untuk Menilai Bentuk Huruf
Aspek
|
Deskripsi
|
Posisi duduk
|
|
Posisi kertas
|
|
Memegang pensil/alat tulis
|
|
Bentuk
|
|
Ukuran
|
|
Spasi (antar huru dan antar kata)
|
|
Ketepatan pada garis
|
|
Kualitas garis
|
Contoh hasil asesmen
Catatan
Hasil Asesmen
Aspek
|
Deskripsi
|
Posisi duduk
|
Pada saat duduk, badan kurang
tegak, dagu menempel pada meja, telapak kaki menapak dengan baik pada lantai,
dan posisi tangan tidak menopang badan tapi direntangkan ke depan.
|
Posisi kertas
|
Posisi kertas miring/tidak sejajar
dengan badan
|
Memegang pensil/alat tulis
|
Mampu memegang pensil dengan tiga
jari
|
Bentuk
|
Bentuk tulisan huruf dan kata
terlalu condong dan tidak konsisten;kadang condong kadang tegak.
|
Ukuran
|
Ukuran huruf tidak konsisten ada
yang terlalu besar hingga melewati garis dan ada yang terlalu kecil
|
Spasi (antar huruf dan antar kata)
|
Anak belum memahami spasi antar
kata sehingga kata yang ditulis cenderung menumpuk.
|
Ketepatan pada garis
|
Huruf ditulis mengangkang di atas
garis.
|
Kualitas garis (terlalu tebal atau
terlalu
|
Penafsiran:
Anak membutuhkan materi/latihan
posisi duduk, posisi kertas, latihan bentuk huruf yang konsisten, ukuran, spasi
antar kata, ketepatan pada garis, dan kualitas garis.
11. Media Serta Asas Pembelajaran Bagi Anak Tunagrahita
Seperti dalam pembelajaran anak-anak
pada umumnya, maka pembelajaran bagi anak tunagrahita pun, media
pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting, hal ini
dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir. Alat Bantu pelajaran
penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita. Hal ini disebabkan anak
tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak, mereka membtutuhkan hal-hal
kongkrit. Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari, maka
dibutuhkan alat pelajaran yang memadai.
Selanjutnya diterangkan tentang
karakteristik alat Bantu pelajaran untuk anak tunagrahita antara lain.
1. Warna. Tidak terlalu
menyolok
2. Garis dan bentuk tidak
boleh abstrak
Hal yang penting adalah dalam
menciptakan atau memilih alat bantu atau media pembelajaran ini harus diingat
tentang hal-hal yang perlu ditonjolkan atau yang akan menjadi pusat / pokok
pembicaraan. Anak tunagrahita akan mengalami kesulitan apabila dihadapkan
dengan obyek yang kurang jelas tanpa tekanan tertentu.
Jadi dalam memilih media pembelajaran
bagi anak tunagrahita, harus benar-benar selektif dan mengarah pada hal yang
abstrak, serta disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan yang ada pada
masing-masing anak.
Media pembelajaran merupakan suatu
elemen penting yang tidak dapat terpisahkan dari proses pembelajaran secara
keseluruhan dan dapat lebih meningkatkan kualitas belajar siswa, kualitas
mengajar guru, di samping itu dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil
pembelajaran baik di sekolah umum maupun di SLB termasuk bagi anak-anak
tunagrahita.
Untuk itu sudah sewajarnya bila dalam
proses pembelajaran media pembelajaran harus benar-benar direncanakan dan
digunakan dengan sebaik-baiknya oleh setiap guru.
Asas pengajaran yang di terapkan kepada
siswa Tuna Grahita adalah sebagai berikut:
- Asas keperagaan. Karena anak tuna grahita sangat lambat daya tangkapnya maka penggunaan alat bantu mengajar sangat bermanfaat. Manfaat penggunaan alat peraga bagi anak tuna grahita yaitu untuk menarik minat anak untuk belajar agar anak tidak cepat bosan karena anak tuna grahita cepat sekali bosan dalam menerima pelajaran, mencegah verbalisme yaitu anak hanya tahu kata-kata tanpa mengerti maksudnya anak tuna grahita sering menirukan apa yang didengar atau dikatakan oleh temannya padahal mereka tidak tahu maksud yang dikatakan tersebut, dengan alat peraga pengalaman anak akan diberikan secara baik yaitu dari yang paling kongkret menuju ke hal yang kongkret akhirnya ke hal-hal yang abstrak, anak akan mendapat pengertian yang mendalam. Untuk anak tuna grahita penggunaan alat peraga ini lebih banyak karena berguna membantu proses berpikir anak, meskipun pengertian materi-materi tersebut sangat sederhana.
- Asas Kehidupan Kongkret. Di dalam penerapan asas ini anak diperlihatkan dengan benda atau dengan situasi yang sesungguhnya, kemudian dijelaskan pula penggunaan atau kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Suatu contoh anak diajak ke pasar, dikenalkan alat-alat atau kebutuhan makanan sehari-hari. Misal: panci, sendok, piring, garpu dan lain-lain beserta penggunaan atau bahan makan misal beras, sayuran, gula, dan sebagainya. Atau contoh lain anak dikenalkan alat-alat yang dipergunakan untuk membersihkan gigi, dijelaskan bagaimana cara menggunakan sekaligus diberi pengertian dengan menggosok gigi secara rutin dapat terjaga kesehatan giginya.
- Asam Sosialisasi. Bersosialisasi penting sekali bagi anak tuna grahita. anak tuna grahita harus belajar mewujudkan dirinya sendiri dan diharapkan anak merasa bahwa dirinya punya pribadi yang ada persamaan dan perbedaan dengan pribadi yang lain. Dengan penerapan asas ini diharapkan anak terbelakang dapat menemukan tempat tertentu dalam masyarakat yang sesuai dengan kemampuannya dan dapat mengembangkan tingkah laku yang sesuai serta dapat diterima dalam masyarakat.
- Asas Skala Perkembangan Mental. Mengingat bahwa anak tuna grahita mempunyai keterbelakangan dalam kemampuan berpikir, akibatnya ada anak yang mempunyai umur kalender lebih banyak, sedang umur mentalnya dibawah umur kalendernya. Oleh sebab itu dalam pengajaran diterapkan asas skala perkembangan mental. Asas ini berhubungan dengan penempatan anak di dalam kelas-kelas. Pengajaran akan berhasil apabila di dalam suatu kelas perkembangan mental anak sama atau hampir sama, sehingga memudahkan dalam memberikan materi pelajaran. Meskipun demikian dalam menyampaikan pelajaran guru harus menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.
- Asas Individual. Maksud asas individual yaitu pemberian bantuan atau bimbingan kepada seseorang sesuai dengan kemampuannya agar dapat belajar dengan baik. Asas ini penting sekali bagi anak tuna grahita dikarenakan kemampuannya yang terbatas sehingga menghambat perkembangan kepribadian. Oleh karena itulah perlu pengajaran individual. Karena selain kemampuan yang terbatas, anak tuna grahita cenderung terganggu emosinya/ emosi tidak stabil dimana hal ini merupakan penghambat, maka perlu pengajaran individual guna mencari sebab dan cara mengurangi gangguan tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar