KOTAK OPINI

Rabu, 05 Juni 2013

ANAK TUNA GRAHITA




1.      Anak Tuna Grahita
Tunagrahita adalah Istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata (Sumantri, 2007). Anak tunagrahita atau bukan adalah apa yang menyebabkan ketertinggalannya, anak terlambat masuk sekolah tentu tingkat kelasnya akan ketinggalan oleh temannya yang seusia. Anak tuna grahita adalah mereka yang kecerdasannya berada di bawah rata-rata (Amin, 1995). Anak tunagrahita atau dikenal juga dengan istilah terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya mengakibatkan dirinya sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara klasikal, oleh karena itu anak terbelakang mental membutuhkan layanan pendidikan secara khusus yakni disesuaikan dengan kemampuannya. Di Indonesia banyak istilah yang dipergunakan untuk menyebut Tunagrahita. Ada yang menyebut dengan lemah otak, lemah ingatan, tunamental, lemah pikiran, cacat mental, terbelakang mental. Dalam bahasa asing juga banyak istilah yang dipergunakan seperti mentally handicapped, mentally defected amentia, feeble minded dan mental deviciency. Sedangkan menurut batasan dari AAMD dalam Delphie (2006) menyatakan bahwa anak Tunagrahita secara umum mempunyai tingkat kemampuan intelektual di bawah rerata, dan mengalami hambatan terhadap perilaku adaptif selama masa perkembangan hidupnya dari 0 tahun hingga 18 tahun, yang mengisyaratkan adanya kemampuan intelektual jika diukur dengan WISC-RIII 1991, mempunyai skor IQ 70, dan mempunyai hambatan pada komponen yang tidak bersifat intelektual, yakni perilaku adaptif (adaptive behavior).

2.       Klasifikasi Anak Tunagrahita.
Berdasarkan uraian di atas, untuk memudahkan dalam memberikan layanan terhadap anak tunagrahita perlu adanya klasifikasi ( pengelompokan) yang didasarkan pada tarap intelegensinya, yang kebanyakan diukur dengan test PP 72 tahun 1991 dan Skala Weschler (WISC). Adapun pengelompokannya sebagai berikut:
a)      Tunagrahita Ringan (moron atau debil)
                  Kelompok ini memiliki IQ antara 50-70 menurut PP 72 tahun 1991, sedangkan menurut Weschler memiliki IQ 55-70. Mereka masih dapat belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana. Anak tunagrahita ringan masih dapat dididik menjadi tenaga trampil dan dapat bekerja di perusahaan, namun demikian anak terbelakang mental ringan tidak mampu melakukan penyesuaian sosial secara independen. Anak akan membelanjakan uangnya dengan lugu, tidak dapat merencanakan masa depan, dan bahkan  suka berbuat kesalahan yang pada umumnya anak tersebut tidak mengalami gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti anak normal pada umumnya, oleh karena itu agak sukar membedakan secara fisik antara anak tunagrahita ringan dengan anak normal. Bila dikehendaki, mereka ini masih dapat bersekolah di sekolah anak berkesulitan belajar. Ia akan dilayani pada kelas khusus dengan guru dari pendidikan luar biasa. Dalam berbicaranya banyak yang lancar, tetapi perbendaharan katanya minim, Mereka mengalami kesulitan dalam berpikir abstrak, tetapi mereka masih mampu mengikuti pelajaran yang bersifat akademik atau tool subject, baik di sekolah biasa maupun di sekolah luar biasa (SLB). Umur kecerdasannya apabila sudah dewasa sama dengan anak normal yang berusia 12 tahun.
b)      Tunagrahita Sedang
Tunagrahita sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki  IQ 30-50 pada PP 72 tahun 1991 dan 40-55 menurut Skala Weschler (WISC). Anak Tunagrahita sedang dapat bisa mencapai perkembangan MA sampai kurang lebih 7 tahun. Mereka dapat dididik mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya seperti menghindari dari kebakaran, berjalan di jalan raya, berlindung dari hujan, dan sebagainya.
Anak tunagrahita sedang, sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca dan berhitung walaupun mereka dapat menulis secara sosial, misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumah dan lain-lain. Masih dapat dididik mengurus diri sendiri seperti mandi, berpakaian, makan, minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, membersihkan perabot rumah tangga, dan sebagainya. Aktifitas kehidupan sehari-hari anak tunagrahita sedang membutuhkan pengawasan yang terus menerus. Anak  masih dapat diberdayakan untuk bekerja di tempat kerja terlindung (sheltered workshop).
c)      Tunagrahita Berat dan Sangat Berat 
Kelompok anak tunagrahita berat sering disebut Idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi antara anak tunagrahita berat dan sangat berat. Tunagrahita berat ( severe ) dan sangat berat ( profound ) menurut PP 71 tahun 1991 memilki IQ kurang dari 30, dan dibawah 40 menurut skala Weschler (WISH). Kemampuan mental atau MA maksimal yang dapat dicapai kurang dari tiga tahun. Anak yang tergolong dalam kelompok tunagrahita berat pada umummya hampir tidak memiliki kemampuan untuk dilatih mengurus diri sendiri. Oleh karena itu anak tunagrahita berat memerlukan bantuan perawatan secara total dalam hal berpakaian, mandi, makan, minum, merias diri atau kebersihan diri dan lain-lain.  Bahkan mereka memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya ( benda –benda yang ada disekitar akan dimakan ) Hampir semua  Anak Tunagrahita berat dan sangat berat menyandang ketunaan ganda. Umpamanya sebagai tambahan ketunagrahitaan tersebut, anak juga mengalami kelumpuhan ( karena cacat otak ), tuli atau keterbatasan lainnya.

3.       Faktor Penyebab
                  Mengenai faktor penyebab ketunagrahitaan para ahli sudah berusaha membaginya menjadi beberapa kelompok. Ada yang membaginya menjadi dua gugus, yaitu indogen dan eksogen. Ada juga yang membaginya berdasarkan waktu terjadinya penyebab, disusun secara kronologis sebagai berikut faktor-faktor yang terjadi sebelum anak lahir (prenatal), faktor-faktor yang terjadi ketika anak lahir (natal), dan faktor-faktor yang terjadi setelah anak dilahirkan (pos natal).  Di bawah ini akan dikemukakan beberapa faktor penyebab ketunagrahitaan, baik yang berasal dari faktor keturunan maupun yang berasal dari faktor lingkungan..
1. Faktor keturunan
      Ketika terjadi fertilisasi dan terjadi manusia baru, maka ia akan memperoleh faktor-faktor yang diturunkan, baik dari ayah maupun dari ibu yang disebut genotif. Aktualisasi genotif dihasilkan atas kerjasama dengan lingkungan. Sebagai pembawa sikat keturunan, gene antara lain menentukan warna kulit, bentuk tubuh, raut wajah, dan kecerdasan.
2. Gangguan metabolisme dan gizi
      Metabolisme dan gizi merupakan dua hal yang sangat penting bagi perkembangan individu, terutama perkembangan sel-sel otak. Kegagalan dalam metabolisme dan pemenuhan gizi akan mengakibatkan terjadinya gangguan pisik dan mental pada individu.
3. Infeksi dan keracunan
a. Rubella. Wanita hamil yang terjangkit penyakit rubella akan mengakibatkan janin yang dikandungnya menderita tunagrahita, tunarungu, penyakit jantung, dan lain-lain.
b. Syphilis. Bayi dalam kandungan ibunya yang terjangkit syphilis akan lahir mengalami kelainan, seperti tunagrahita.
4. Masalah pada kelahiran. Ketunagrahitaan juga dapat disebabkan akibat sulitnya proses kelahiran, sehingga bayi dikeluarkan dengan menggunakan tank yang dapat merusak otak.
5. Faktor lingkungan (sosial-budaya)
      Banyak peneliti yang melaporkan bahwa lingkungan dapat berpengaruh terhadap fungsi intelek anak.  Anak tunagrahita banyak ditemukan :
a. Di daerah yang taraf ekonominya lemah
b. Dalam keluarga yang kurang menyadari pentingnya pendidikan dini bagi anak, kurang kasih sayang, dan kurangnya kontak pribadi dengan anak.


4.       Usaha Pencegahan
Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya ketunagrahitaan adalah sebagai berikut :
1. Diagnostik prenatal
      Yaitu suatu usaha memeriksakan kehamilan untuk menemukan kemungkinan kelainan-kelainan pada janin.
2. Imunisasi
      Imunisasi dilakukan terhadap ibu hamil dan balita agar terhindar dari penyakit-penyakit yang dapat mengganggu perkembangan anak.
3. Tes darah
      Ini dilakukan terhadap pasangan calon suami istri untuk menghidari kemungkinan menurunkan benih-benih yang berkelainan,
4. Pemeliharaan kesehatan
Ibu hamil hendaknya memeriksakan kesehatan secara rutin. Juga menyediakan makanan bergizi yang cukup, menghindari radiasi, dan sebagainya.
5. Program KB
Ini diperlukan untuk mengatur kehamilan dan membina keluarga yang sejahtera.

5.       Perkembangan Anak Tuna Grahita
·         Perkembangan kognitif.
            Suppes (1974) menjelaskan bahwa kognisi merupakan bidang yang luas yang meliputi semua kemampuan akademik yang berhhubungan dengan wilayah persepsi. Mussen, Conger, dan Kagan (1974) paling sedikit terdiri dari 5 proses yaitu persepsi, memory, kemunculan ide – ide evaluasi penalaran dan proses – proses itu meliputi sejumlah unit yaitu skema, gambaran, symbol, konsep dan kaidah – kaidah. Kognisi adalah bidang yang luas dan beragam, peneliti tidak dapat memusatkan pada satu proses kognitif umur pada waktu tertentu. Anak terbelakang menunjukkan deficit pemerolehan pengetahuan seperti yang digambarakan proses kognisi meliputi proses dimana pengetahuan itu diperoleh, disimpan dan dimanfaatkan. Jika terjadi gangguan perkembangan intelektual akan tercermin pada proses kognitif. Yang dikemukakan Mussen dkk (persepsi, memory, ide – ide, evaluasi, dan penalaran).
            Beberapa penjelasan tentang kekurangan anak tunagrahita pada ingatan jangka pendek dapat diapahami dengan pendekatan konsep neuro-biologis. Spitz (1963) menerapkan teori kejenuhan cortical  (Cortical Satiation Theory) terhadap anak tunagrahita Spitz mengajukan sebuah hipotesis bahwa sel cortical (Cortical cells) anak tunagrahita lebih lambat dalam perubahan kimia, listrik, dan perubahan fisik. Perubahan-perubahan temporer pada sel ortical lebih lambat kembali pada keadaan semula. Perubahan-perubahan yang terjadi pada sel cortical lebih sulit.
            Fleksibilitas mental yang kurang pada anak tunagrahita mengakibatkan kesulitan dalam pengorganisasian bahan yang akan dipelajari. Oleh karena itu sukar bagi anak tunagrahita untuk menangkap informasi yang kompleks.

·          Perkembangan bahasa
            Secara umum perkembangan bahasa digambarkan oleh  Myklebust (1960), meliputi beberapa tahap perkembangan, berikut :
a.       Inerlanguage
Inerlanguage adalah aspek bahasa yang pertama berkembang. Muncul kira – kira pada usia 6 bulan. Karakteristik perilaku yang muncul pada tahap ini adalah pembentukan konsep – konsep sederhana, seperti anak mendemonstrasikan pengetahuannya tentang hubungan sederhana antara satu objek dengan objek yang lainnya. Tahap berikut dari perkembangan innerlanguage adalah anak dapat memahami hubungan – hubungan yang lebih kompleks dan dapat bermain dengan mainan dalam situasi yang bermakna. Contohnya menyusun perabot didalam rumah – rumahan. Bentuk yang lebih komples dari perkembangan innerlanguage adalah mentransformasikan pengalaman ke dalam symbol bahasa.
b.      Receptive Language
Setelah innerlanguage berkembang, maka tahap berikutnya dalah receptive language muncul. Pada kira – kira umur 8 bulan anak mulai mengerti sedikit – sedikit tentang apa yang dikatakan orang lain kepadanya, anak mulai merespon apabila namanya dipanggil dan mulai mengerti perintah. Menjelang kira – kira umur 4 tahunan anak lebih menguasai kemahiran mendengar dan setelah itu proses penerimaan (receptive process) memberikan perluasan kepada sistim bahasa verbal. Terhadap hubungan timbal balik antara innerlanguage dengan receptive language. Perkembangan innerlanguage, melewati fase pembentukan konsep – konsep sederhana menjadi tergantung kepada receptive language.
c.       Ekspressive Language
Aspek terakhir dari perkembangan bahasa adalah bahasa ekspresif (ekspresive language). Menurut Myklebust ekspresive language berkembang setelah pemantapan pemahan. Bahasa ekspresif anak muncul pada usia kira – kira 1 tahun.
Perkembangan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kognisi, keduanya mempunyai hubungan timbale balik. Perkembangan kognisi anak tugrahita mengalami hambatan, karenanya perkembangan bahasanya juga akan terhambat. Anak tuna grahita pada umumnya tidak bias menggunakan kalimat majemuk, dalam percakapan sehari – hari mereka lebih banyak menggunakan kalimat tunggal. Ketika anak tunagrahita dibandingkan dengan anak normal pada CA yang sama, anak tunagrahita pada umumnya mengalami gangguan artikulasi, kualitas suara, dan ritme. Selain itu anak tunagrahita mengalami kelambatan dalam perkembangan bicara (ekspresive auditori language). Dalam perkembangan morfologi anak normal menguasai peningkatan sejumlah morfem sejalan dengan perkembangan umum. Demikian juga anak tunagrahita dan anak normal yang memiliki MA yang sama memperlihatkan level yang sama dalam perkembangan morfologi. Akan tetapi anak tunagrahita yang memiliki CA yang sama dengan anak normal, anak tunagrahita memiliki tahap lebih rendah dengan perkembangan morfologinya.
Ada penelitian yang menarik yang dilakukan oleh Endang Rochyadi (1983) mengenai kemampuan berbahasa anak tunagrahita khususnya berkaitan dengan sintaksis dan perbendaharaan kata. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa MA berkolerasi dengan kemampuan tata bahasa (sintaksis), sedangkan CA berkolerasi dengan perbendaharaan kata. Ini berarti bahwa sintaksis memerlukan kemampuan kecerdasan yang baik.
Hal terakhir dari perkembangan bahasa berkaitan dengan kemampuan bahasa yang disebut semantic. Anak – anak memperlihatkan perkembangan semantic sama seperti pada komponen lainnya. Anak terbelakang menunjukkan perkembangan semantic lebih lambat dari pada anak normal. Tetapi tidak ada bukti bahwa mereka memiliki perbedaan pola perkembangan sistaksis. Perkembangan vocabulary anak tunagrahita telah diteliti secara luas. Hasilnya menunjukkan bahwa anak tunagrahita lebih lambat dari pada anak normal dari pada kata permenit lebih banyak menggunakan kata – kata positif, lebih sering menggunakan kata – kata yang lebih umum, hamper tidak pernah menggunakan kata – kata yang lebih umum, hamper tidak pernah menggukan kata ganti, lebih sering menggunakan kata – kata bentuk tunggal, dan anak tunagrahita dapat menggunakan kata – kata bervariasi.

·          Emosi dan Sosial
            Perkembangan dorongan (drive) dan emosi berkaitan dengan derajat ketunagrahitaan seorang anak. Anak tunagrahita berat tidak dapat menunjukkan dorongan pemeliharaan dirinya sendiri. Mereka tidak bisa menunjukkan rasa lapar atau haus dan tidak dapat menghindari bahaya. Pada anak tunagrahita sedang, dorongan berkembang lebih baik tetapi kehidupan emosinya terbatas pada emosi – emosi yang sederhana.
            Pada anak terbelakang ringan kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan anak normal akan tetapi tidak sekaya anak normal. Anak tunagrahita dapat memperlihatkan kesedihan tetapi sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka bisa mengekspresikan kegembiraan, tetapi sulit untuk mengungkapkan kekaguman. Kepribaian dan penyesuaian social merupakan proses yang saling berkaitan.
            Kepribadian seseorang mencerminkan cara yang tersebut berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya pengalaman – pengalaman penyesuaian diri sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian. Dalam kepribadian tercakup susunan fisik, karakteristik emosi, serta karakteristik seseorang. Di dalamnya juga tercakup cara – cara memberikan respon terhadap rangsangan yang datingnya dari dalam maupun dari luar baik rangsangan fisik maupun social. Apakah anak tunagrahita memiliki karakteristik khusus dalam kepribadiannya.
            Dari penelitian yang dilakukan oleh Mc Iver dengan menggunakan Children’s Personality Questionare ternyata bahwa anak – anak tunagrahita mempunyai beberapa kekurangan. Anak tunagrahita pria memiliki kekurangan berupa tidak matangnya emosi, depresi, bersikap dingin, menyendiri, tidak dapat dipercaya, impulsif, lancaag dan merusak. Anak tunagrahita wanita mudah dipengaruhi, kurang tabah, ceroboh, kurang dapat menahan diri dan cenderung melanggar ketentuan dalam hal lain anak tunagrahita sama dengan anak normal. Kekurangan – kekurangan dalam hal kepribadian akan berakibat pada proses penyesuaian diri.
            Penyesuaian diri merupakan proses psikologis yang terjadi ketika kita menghadapi berbagai situasi. Seperti anak normal, anak tunagrahita akan menghayati suatu emosi, jika kebutuhannya terhalangi. Emosi – emosi yang positif adalah cinta, girang, simpatik. Emosi ini tampak pada anak tuna grahita yang masih muda terhadap peristiwa – peristiwa yang bersifat konkret, lingkungan bersifat positif terhadapnya, maka mereka akan lebih mampu menunjukkan emosi – emosi yang positif itu. Emosi – emosi yang negative adalah perasaan takut, giris, marah, dan benci. Anak terbelakang yang masih muda takut kepada hal – hal yang mengancam keselamatannya. Anak tunagrahita yang lebih tua takut terhadap hal – hal yang berkenaan dengan hubungan social.
Dalam tingkah laku social tercakup hal – hal seperti keterikatan dan ketergantrungan, hubungan kesebayaan, self concept dan tingkah laku moral. Yang dimaksud dengan tingkah laku keterikatan dan ketergantungan adalah kontak anak dengan orang dewasa (orang lain). Masalah keterikatan dan ketergantungan anak terbelakang telah diteliti oleh Zigler (1961) dan Steneman (1962, 1969). Seperti halnya anak normal, anak tunagrahita yang masih muda mula – mula memiliki tingkah laku keterikatan kepada orang tua dan orang dewasa yang lain. Dengan bertambahnya umur keterkaitan ini dialihkan kepada teman sebaya. Ketergantungan yang tadinya bersifat satu pihak menjadai hubungan yang timbal balik. Ketika anak merasa takut, giris, tegang, dan kehilangan orang tempat bergantung, kecenderungan ketergantungannya bertambah. Berbeda dengan anak normal, anak tunagrahita lebih banyak bersifat bergantung pada orang lain, dan kurang terpengaruh oleh bantuan social. Dalam hubungan kesebayaan seperti halnya dengan anak kecil menolak anak yang lain, tetapi setelah bertambah umur, mereka mengadakan kontak dan melakukan kegiatan – kegiatan yang bersifat kerjasama. Berbeda dengan anak normal, anak tuna grahita jarang diterima, sering ditolak oleh kelompok serta jarang menyadari posisi diri dalam kelompok

·         Perkembangan Fisik. Fungsi-fungsi perkembangan anak tunagraita ada yang tertinggal jauh oleh anak normal.adapula yang sama atau hamper menyamai anak normal.perkembangan jasmani dan motorik anak tunagrahita tidak secepat perkembangan anak normal pada umumnya.hasil penelitian menunjukan bahwa 3 th – 12 th ada dalam kategori kurang sekali. Sedangkan anak normal pada umur yang sama ada dalam kategori kurang (M.Umardjani,1984). Dengan demikian tingkat jasmani anak tunagrahita setingkat lebih rendah dibandingkan dengan anak normal pada umur yang sama. Banyak hasil penelitian menunjukan bahwa pada anak terbelakang korelasi tersebut lebih besar dari pada yang terdapat pada anak normal.dalam hal kesegaran jasmani M Umarjani (1984) menemukan bahwa korelasi anak terbelakang putra dan putri masing – masing 0,96 dengan taraf signifikan 0,01 serta 0,617 dengan taraf signifikan 0,05.perkembangan motorik mencakup dua hal yaitu gross motor (seperti berjalan, melompat, melempar) dan fine motor (seperti menulis, menyulam, menggunting dsb) pada anak-anak yang pertama berkembang adalah gross, sedangkan fine motor.kita mempelajari gerak-gerak jari dengan mudah, tetapi lain halnya dengan anak tunagrahita mereka mengalami kesulitan untuk menguasainya. Banyak gerak-gerak yang kita pelajari hampir secara instingtif, harus dipelajari anak tunagrahita secara khusus. Adapun gerak-gerak yang termasuk gerak fundamental menurut Wessel (1974) Perincian sebagai berikut :
o   Functional run/jalan
o   Functional leap/lompat
o   Functional horizontal jump/lompatan
o   Functional vertical jump/lompatan vertikal
o   Functional gallop/langkah
o   Functional slide
Functional skip object control, meliputi :
o   Functional underhand roll
o   Functional underhand throw
o   Functional overhand throw
o   Functional kick
o   Functional continous bounce
o   Functional catch
o   Functional underhand strike
o   Functional overhand strike
o   Functional forehand strike/pukulan punggung tangan
o   Functional backhand strike/pukulan telapak tangan
Functional two – janded sidearm rytmic skill, meliputi :
o   Functional movements to an even beat
o   Functional movements to an uneven beat/
o   Accent and phrasing/penucapan kata dan kalimat
o   Limitate movements/pergrerakan terbatas
o   Communication

6.       Dampak ketunagrahitaan
                  Orang yang paling banyak menanggung beban akibat ketunagrahitaan adalah orang tua dan keluarga anak tersebut. Oleh karena itu dikatakan bahwa penanganan anak tunagrahita merupakan psikiatri keluarga. Keluarga anak tunagrahita berada dalam resiko, mereka menghadapi resiko yang berat. Saudara – saudara anak tersebut pun menghadapi hal – hal yang bersifat emosional.
                  Saat yang krisis adalah ketika keluarga itu pertama kali menyadari bahwa anak tersebut tidak normal seperti yang lain. Jika anak tersebut menunjukkan gejala – gejala kelainan fisik (misalnya mongolisme) maka kelainan anak dapat segera diketahui sejak anak dilahirkan. Tetapi jika anak tersebut tidak mempunyai kelainan fisik, maka orang tua hanya akan mengetahui dari hasil penelitian. Cara menyampaikan hasil penelitian sangatlah penting. Orang tua mungkin menolak kenyataan atau menerima dengan beberapa persyaratan tertentu. Dalam memberitahukan kepada orang tua hendaknya dilakukan  terhadap kedua – duanya (suami istri) secara bersamaan. Dianjurkan sejak awal sudah diperkenalkan dengan orang yang juga mempunyai anak cacat. Orang tua hendaknya menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Lahirnya anak cacat (tunagrahita) selalu merupakan tragedy. Reaksi orang tua berbeda – beda tergantung pada berbagai factor, misalnya apakah kecacatan tersebut dapat segera diketahuinya atau terhambat diketahuinya. Factor lain yang juga yang sangat penting ialah derajat ketunagrahitaannya dan jelas tidaknya kecacatan tersebut terlihat orang lain.
      Perasaan dan tingkah laku orang tua itu berbeda – beda dan dapat dibagi menjadi :
a.       Proteksi biologis
b.      Perubahan tiba – tiba, hal ini mendorong untuk
1.      Menolak kehadiran anak dengan memberikan sikap dingin.
2.      Menolak dengan rasionalisasi, menahan anaknya di rumah dengan mendatangkan orang yang terlatih untuk mengurusnya.
3.      Merasa berkewajiban untuk memelihara tetapi melakukan tanpa memberikan kehangatan.
4.      Memelihara dengan berlebihan sebagai kompensasi terhadap perasaan menolak.

c.       Merasa ada yang tidak beres tentang urusan keturunan
1.      Perasaan ini mendorong timbulnya suatu perasaan depresi.
2.      Merasa kurang mampu mengasuhnya perasaan ini mehilangkan kepercayaan kepada diri sendiri dalam mengasuhnya.
3.      Kehilangan kepercayaan akan mempunyai anak yang normal.
a.       Karena kehilangan kepercayaan tersebut orang tua cepat marah, tingkah laku agresif.
b.      Kedudukan tersebut dapat mengakibatkan depresi.
c.       Pada permulaan mereka segera mampu menyesuaikan diri sebagai orang tua anak tunagrahita, akan tetapi mereka terganggu lagi saat – saat menghadapi peristiwa – peristiwa kritis.
d.      Terkejut dan kehilangan kepercayaan diri, kemudian berkonsultasi untuk mendapat berita – berita yang lebih baik.
e.       Banyak tulisan yang menyatakan bahwa orang tua merasa berdosa. Sebenarnya perasaan tersebut tidak selalu ada. Perasaan tersebut bersifat kompleks dan dapat mengakibatkan depresi.
f.       Merasa bingung dan malu, yang mengakibatkan orang tua kurang suka bergaul dan lebih suka menyendiri.

Adapun saat – saat kritis itu terjadi pada saat berikut :
1.      Pertama kali mengetahui bahwa anaknya cacat.
2.      Memasuki pada umur sekolah, pada saat tersebut sangat penting kemampuan masuk sekolah biasa, sebagai tanda bahwa anak tersebut normal.
3.      Meninggalkan sekolah.
4.      Orang tua bertambah tua, sehingga tidak mampu lagi memelihara anaknya yang cacat.

7.       Penyebab Tuna Grahita
                  Seseorang menjadi tunagrahita disebabkan oleh berbagai factor. Para ahli membagi factor tersebt dalam beberapa kelompok :
a.       Factor Keturunan
Meliputi hal – hal berikut.
  • Kelainan kromosom, dapat dilihat dari bentuk dan nomornya, dilihat dari bentuknya dapat berupa infresi (kelainan yang menyebabkan berubahnya urutan gene karena melilitnya kromosom, delesi (kegagalan meiosis, yaitu salah satu pasangan tidak membelah sehingga terjadi kekurangan kromosom pada salah satu sel), duplikasi (kromosom tidak berhasil memisahkan diri sehingga tidak terjadi kelebihan kromosom pada salah satu sel yang lain), translokasi (adanya kromosom yang patah dan patahannya menempel pada kromosom lain).
  •  Kelainan gene, terjadi pada waktu mutasi, tidak selamnya tampak dari luar (tetap dalam tingkat genotip).


b.      Gangguan metabolism dan gizi
Metabolism dan gizi merupakan factor yang sangat penting dalam individu terutama dalam perkembangan sel – sel otak, kegagalan itu dapat menyebabkan gangguan fisik dan mental pada individu. Kelainan itu antara lain phenylketonuria (akibat gangguan metabolism asam amino) dengan gejala yang Nampak berupa : tunagrahita, kekurangan pigmen, kejang syaraf, kelianan tingkah laku gargoylism (kerusakan metabolism saccharide yang menjadi tempat penyimpanan asam mukopolysaccharide dalam hati limpa kecil dan otak gejala yang Nampak ketidak normalan tinggi badan, kerangka tuuh yang tidak proposional, telapak tangan lebar dan pendek, persendian kaku, lidah lebar dan menonjol dan tunagrahita, cretinism (keadaan hypohydrodism kronik yang terjadi selama masa janin atau saat dilahirkan) dengan gejala kelainan yang tampak ketidak normalan fisik yang khas pada tunagrahita.

c.       Infeksi dan keracunan
Keadaan ini disebabkan oleh terjangkitnya penyakit – penyakit selama janin dalam kandungan. Penyakit yang dimaksud antara lain rubella yang mengakibatkan ketunagrahitaan serta adanya kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan, berat badan sangat kurang ketika dilahikan, syphilis bawaan, syndrome grafidity beracun.

d.      Trauma dan zat radio aktif
Terjadi trauma pada otak ketika bayi dilahirkan atau terkena radiasi zat radio aktif saat hamil dapat mengakibatkan ketunagrahitaan. Trauma yang terjadi pada saat dilahirkan biasanya disebabkan oleh kelahiran yang sulit sehingga memerlukan alat bantu. Ketidak tepatan penyinaran radiasi sinar X selama bayi dalam kandungan mengakibatkan cacat mental microsephaly.

e.       Masalah pada kelahiran
Masalah yang terjadi pada saat kelahiran misalnya kelahiran yang disertai hypoxia yang dipasyikan bayi akan menderita kerusakan otak, kejang, dan nafas pendek. Kerusakan juga disebabkan oleh trauma mekanis terutama pada kelahiran yang sulit.

f.       Factor lingkungan
Studi yang dilakukan Kirk (Triman Prasadio, 1982:25) menemukan bahwa anak yang berasal dari keluarga yang tingkat sosialnya ekonominya rendah menunjukkan kecenderungan mempertahankan mental pada taraf yang sama bahkan prestasi belajarnya berkurang dengan meningkatnya usia. Kurangnya rangsangan intelektual yang memadai mengakibatkan timbulnya hambatan dalam perkembangan intelegensia sehingga anak dapat berkembang menjadi anak retardasirental.

8.       Usaha Pencegahannya.
Berbagai alternative dan upaya – upaya pencegahan yang disarankan antara lain :
·         Penyluh genetic, yaitu sesuatu usaha mengkomunikasikan berbagai informasi mengenai masalah genetika.
·         Diagnotis prenatal, yaitu usaha pemeriksaan kehamilan sehingga dapat diketahui lebih dini apakah janin mengalami kelainan.
·         Imunisasi, diakukan terhadap ibu hamil maupun anak balita.
·         Tes darah, dilakuka terhadap pasangan yang akan menikah untuk menghindari kemungkian menurunkan benih – benih kelainan.
·         Melalui program KB, pasangan suami istri dapat mengatur kehamilan dan menciptakan keluarga yang sejahtera baik fisik dan psikis.
·         Tindakan operasi, dibutuhkan bila ada kelahiran dengan resiko tinggi misalnya kekurangan oksigen, adanya trauma pada masa perenatal atau proses kelahiran.
·         Sanitasi lingkungan, mengupayakan terciptanya lingkungan yang baik sehingga tidak menghambat perkembangan bayi atau anak.
·         Pemeliharaan kesehatan, terutama pada ibu hamil yang menyangkut pemeriksaan kesehatan selama hamil, penyediaan vitamin, menghindaari radiasi.
·         Intervensi dini, dibutuhkan oleh para orang tua agar dapat membantu perkebangan anak secara dini.

9.       Layanan pendidikan ATG.
  1. Kelas Transisi. Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tunagrahita. Kelas tansisi sedapat mungkin berada disekolah regler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
  1. Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C, C1).
    Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1
  2. Pendidikan Terpadu. Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (Slow Learner).
  1. Program Sekolah di Rumah. Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
  1. Pendidikan Inklusif. Sejalan dengan perkembangan layaan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusi. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan prinsip “Education for All”. Layanan pendidikan inklusi diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) oarang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusi masih dalam tahap rintisan.

Panti (Griya) Rehabilitasi.
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam pati ini terbatas dala hal:
1.      Pengenalan diri
2.      Sensori motor dan persepsi
3.      Motorik kasar dan ambulasi (pindak dari satu tempat ke tempat lain)
4.      Kemampuan berbahasa dan komunikasi
5.      Bina diri dan kemampuan sosial.

10.   Identifikasi dan Asesmen ATG
1.      Identifikasi anak
            Ada beberapa cara untuk melakukan identifikasi anak tunagrahita, diantaranya  adalah:
observasi, tes buatan, tes psikologi.
·         Observasi. Observasi merupakan metode yang tertua diantara metode-metode yang digunakan untuk mengenali anak atau orang dewasa yang tunagrahita. Metode ini membutuhkan waktu yang relatif lama, tetapi memberikan hasil yang lebih lengkap dibandingkan dengan metode lain. observasi bisa juga untuk melengkapi hasil tes dari psikolog, karena hasil tes belum tentu menunjukkan keadaan anak yang sebenarnya. Sebelum melakukan observasi seorang observer harus memahami dulu perkembangan rata-rata anak pada umumnya . Ada dua macam bentuk observasi. Pertama membiarkan anak hidup dalam lingkungan yang wajar, observer hanya mencatat gejala-gejala yang timbul selama observasi. Supaya observasi lebih terarah harus memiliki pedoman observasi. Pedoman observasi ini dapat dibuat dengan mengacu pada perkembangan rata-rata anak pada umumnya. Cara ini tidak selamanya efektif karena memerlukan waktu yang cukup banyak. Kedua, supaya lebih efektif observer menciptakan lingkungan kondisi lingkungan yang dapat menarik perhatian anak sehingga anak mau bicara, melakukan sesuatu dan lain sebagainya. Perbandingan antara umur kecerdasan dengan umur yang sebenarnya menunjukkan tingkat ketunagrahitaan anak tersebut. Misal umur kecerdasan anak umur 2 tahun sedang umur sebenarnya 3 tahun maka anak tersebut mungkin termasuk kategori tuna grahita ringan karena menghasilkan IQ kira-kira 66 yaitu 2/3 x 100 = 66.
·         Tes Buatan Guru. Tes buatan adalah tes yang dibuat oleh guru atau orang yang berkepentingan untuk mengenali anak tunagrahita. Supaya hasil tes lebih lengkap dan akurat akan lebih baik bila disertai dengan observasi. Tes bisa dibuat berdasarkan pada tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui anak pada masa-masa perkembangannya. Pada pelaksanaannya anak diminta untuk mengerjakan tugas-tugas perkembangan yang sesuai dengan umurnya, apabila anak belum dapat maka  anak diberi tugas unuk umur sebelumnya sebaliknya apabila anak mampu untuk mengerjakan tugas perkembangan yang sesuai dengan umurnya maka dilanjutkan pada tugas perkembangan untuk umur di atasnya. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka dalam pelaksanaan tes harus diciptakan kondisi yang membuat anak nyaman dan tidak terbebani oleh keberadaan tester sehinggan membuat anak gugup dan tidak melaksanakan tugasnya. 
·         Tes Psikologi. Tes psikologi merupakan salah satu alat untuk mengenali apakah seorang anak mengalami ketunagrahitaan atau tidak. Tes psikologi yang dipergunakan adalah tes
kecerdasasan. Tes ini lebih obyektif karena materi tes sudah diujicobakan sehingga  70
memenuhi persyaratan, prosedur pelaksanaannyapun diatur, termasuk cara pengolahan
hasil tes, sehingga akan mengurangi bias pada hasil tes.   
Tes kecerdasan akan lebih baik apabila disertai dengan tes kematangan sosial, mengingat kenyataannya bahwa seseorang dikatakan tunagrahita apabila mengalami keterlambatan dalam kecerdasan dan disertai hambatan dalam prilaku adaptifnya. Tes kecerdasan yang ada dewasa ini lebih banyak yang dikembangkan di luar negeri, oleh karena itu dalam penggunaanya harus hati-hati, karena lingkungan fisik dan lingkungan sosial dan budaya serta kondisi ekonomi masing-masing negara seringkali tidak sama. Supaya tes-tes yang dikembangkan di luar negeri bisa digunakan maka perlu adaptasi dengan kondisi setempat. Diantara tes-tes psikologi yang banyak digunakan adalah tes buatan Binet yang kemudian direvisi di Stanford University sehingga disebut Test Stanford-Binet, Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) dan Raven’s Matrices.
            Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita dengan indikasi sebagai berikut:
  1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,
  2. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
  3. Perkembangan bicara/bahasa terlambat
  4. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan
  5. (pandangan kosong),
  6. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
  7. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).
            Nilai standarnya adalah 4, artinya bila anak mengalami minimal 4 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.

CONTOH ALAT IDENTIFIKASI ANAK GRAHITA
1.       Nama Sekolah     :
2.       Kelas                                      :
3.       Diisi tanggal                           :
4.       Nama GPK                           :
5.       Guru Kelas                            :

Gejala Yang Diamati
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Dst
 Tunagrahita




A
1. Kecerdasan
a. Ringan :

Memiliki IQ 50-70 (dari WISC)

















B
Dua kali berturut-turut tidak naik kelas

















C
Masih mampu membaca,menulis dan berhitung sederhana

















D
Tidak dapat berberfikir secara abstrak


















Perilaku adaptif

















A
Kurang perhatian terhadap lingkungan

















B
Sulit menyesuaikan diri dengan situasi  (interaksi sosial)





































b. Sedang

















A
Memiliki IQ 25-50 (dari WISC)

















B
Tidak dapat berfikir secara abstrak

















C
Hanya mampu membaca kalimat tunggal

















D
Mengalami kesulitan dalam berhitung sekalipun sederhana





































Perilaku adaptif

















A
Perkembangan interaksi dan kumunikasinya  terlambat 

















B
Mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru (penyesuaian diri)

















C
Kurang mampu untuk mengurus diri sendiri 





































C Berat

















A
Memiliki IQ 25- ke bawah  (dari WISC)

















B
Hanya mampu membaca satu kata

















c.
Sama sekali tidak dapat berfikir secara abstrak





































Perilaku adaptif

















A
Tidak dapat melakukan kontak sosial

















B
Tidak mampu mengurus diri sendiri

















C
Akan banyak bergantung pada bantuan orang lain





































2.      Pelaksanaan  Asesmen Anak Tuna Grahita.
            Asesmen adalah proses yang sistimatis dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu. Mengumpulkan informasi yang relevan, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan, dan menerapkan seluruh proses pembuatan keputusan tersebut.
            Asesmen ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan asesmen formal dan asesmen informal. Asesmen formal adalah asesmen dengan menggunakan tes standar yang sudah disusun sedemikian rupa oleh para ahli sehingga memiliki standar tertentu, sedangkan tes informal adalah penilaian dengan menganalisis hasil pekerjaan siswa atau dengan tes buatan guru. Adapun langkah-langkah untuk melakukan asesmen sebagai berikut melakukan identifikasi, menetukan tujuan asesmen, mengembangkan alat asesmen, dan penafsiran hasil asesmen.
            Adapun langkah-langkah untuk melakukan asesmen sebagai berikut melakukan identifikasi, menetukan tujuan asesmen, mengembangkan alat asesmen, dan penafsiran hasil asesmen. Dalam penyusunan asesmen ini ada beberapa tahapan yang meliputi kegiatan identifikasi, tujuan asesmen, pengembangan alat asesmen, pelaksanaan , penafsiran hasil asesmen.
·         Identifikasi, Identifikasi disini adalah menentukan anak tunagrahita yang akan diasesmen. Identifikasi dapat dilakukan melalui pengamatan/observasi yang cermat mengenai perilaku anak tunagrahita saat belajar dan menganalisis hasil kerja anak. Identifikasi harus menghasilkan siapa yang akan diasesmen dan dalam aspek apa asesmen itu perlu dilakukan.
·         Menetapkan Tujuan Asesmen, Setelah hasil identifikasi diketahui, selanjutya ditetapkan tujuan asesmen yang akan dilakukan. Tujuan asesmen setiap murid akan sama atau berbeda tergantung pada gejala yang ditemukan pada waktu identifikasi.
·         Mengembangkan alat asesmen, Untuk melakukan asesmen guru dapat menggunakan alat asesmen yang sudah baku (asesmen formal) atau alat asesmen buatan sendiri (asesmen informal). Dalam asesmen informal guru harus mengembangkan alat asesmen sendiri. Alat asesmen ini disesuaikan dengan kurikulum.
·         Pelaksanaan asesmen. Guru melakukan asesmen sesuai dengan aspek yang akan diasesmen dalam waktu dan ditempat tertentu. Waktu yang digunakan dalam melakukan asesmen disesuaikan dengan alat yang dikembangkan serta disesuaikan dengan kemampuan anak dalam memusatkan perhatian sesuai usiannya. Misalnya usia kelas satu SD, lama tes sebaiknya tidak lebih dari 30 menit (Widati S 2003:5). Tes yang diberikan lebih dari 30 menit tidak akan memberikan informasi yang akurat tentang kemampuan anak karena perhatian anak sudah terpecah. Dalam pelakasanaan asesmen penting pula untuk diperhatikan dalam hal menciptakan ruangan atau tempat asesmen yang kondusif. Tempat asesmen harus terhindar dari hal-hal yang dapat mengganggu perhatian anak, sehingga tempat asesmen itu menjadi nyaman dan menimbulkan rasa nyaman bagi anak.
·         Penafsiran. Setelah melaksanakan asesmen, tahap selanjutnya adalah guru mengolah hasil asesmen dan menafsirkannya. Dalam kegiatan inilah akhirnya mengambil keputusan untuk menentukan pembelajaran yang tepat untuk anak tunagrahita. Kegiatan menafsirkan ini cukup menentukan, jika penafsiran keliru, maka program pembelajaran yang dikembangkan akan keliru pula.
            Hasil asesmen ini harus dikaitkan pula dengan kurikulum. Lihatlah materi pelajaran yang sesuai dengan jenjang kelas dimana anak tunagrahita berada. Apabila pada kurikulum itu tidak ditemukan materi yang sesuai dengan hasil asesmen maka harus dicari pada jenjang di bawahnya, jika masih belum ditemukan juga cari kembali pada jenjang di bawahnya lagi, demikian seterusnya, hingga ditemukan materi yang sejalan dengan hasil asesmen.

3.      Tujuan Asesmen Anak Tuna Grahita.
Tujuan asesmen ini adalah:
a. Asesmen setelah deteksi.
1)  Untuk menyaring kemampuan anak tunagrahita
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan anak dalam setiap aspek.Misalnya,Bagaimana kemampuan bahasanya,kemampuan kognitipnya,kemampuan gerak,dan kemampuan penyesuaian dirinya.
2)  Untuk keperluan pengklasifikasian,penempatan,dan penetuan program pendidikan anak  tunagrahita setelah diadakan penyaringan maka dapat diperkirakan apakah anak tersebut termasuk kedalam kategori tunagrahita ringan,sedang,atau berat.pengambilan kesimpulan dan penetapan sudah tentu harus didukung oleh data yang jelas.pengklasifikasian ini kaitannya dengan usaha penempatan.sebab perbedaan kemampuan anak tunagrahita amat berbeda.
3). Untuk menentukan arah dan kebutuhan pendidikan anak tunagrahita.Arah atau tujuan anak tunagrahita pada adasarnya sama dengan tujuan pendidikan pada umumnya hanya saja mengingat kemampuan anak tunagrahita yang terbatas,maka perlu dirumuskan tujuan khusus yang disesuaikan dengan tingkat ketunagrahitaannya.dengan demikian keluasan dan kedalaman tujuan pendidikan bagi mereka sangat erat kaitannya dengan tingkat ketunagrahitaan.maka perumusan tujuan untuk masing-masing tingkat ketunagrahitaan sangat diperlukan karena merupakan dasar pendangan atau acuan untuk menentukan arah ataupun program pendidikannya.
4)  Untuk mengembangkan program pendidikan yang diindividualisasakan atau biasa juga disebut IEP (Individualized Educational Program).dengan data yang diperoleh sebagai hasil asesmen dapatlah diketahui kemampuan dan ketidak mampuan anak tunagrahita. Kemampuan-kemampuan itu menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan berikutnya.
5) Untuk menentukan strategi,lingkungan belajar,dan evaluasi pengajaran, sama halnya dengan IEP bahwa dengan melihat hasil asesmen dapat ditentukan model strategi,lingkungan belajar,evaluasi maupun tindak lanjut pengajaran.
b. Asesmen pada saat dan setelah diberikan pelajaran
            Asesmen yang dilaksanakan pada saat dan setelah anak tunagrahita diberi pelajaran diperlukan untuk maksud merencanakan program selanjutnya. Adapun tujuan asesmen ini adalah :
·         Agar guru mendapat informasi tentang keberhasilan dan kegagalan mengajar serta kemajuan dan kesulitan belajar siswa.
·         Agar guru dapat memilih dan menentukan program,evaluasi, dan strategi belajar mengajar,setra pengaturan lingkungan belajar.
·         Agar guru dapat melakukan diagnosis,melaksanakan remidi dan memberikan tindak lanjut pelajaran.

4.      Ruang lingkup asesmen
            Dengan memperhatikan tujuan asesmen maka ruang lingkup asesmen dapat dikelompokan sebagai berikut:
a.    ruang lingkup asesmen yang diberikan sebelum anak mengikuti pelajaran
·         Kemampuan menolong diri,meliputi: makan-minum,berpakaian dan merias diri,menjaga kebersiahan diri,keselamatan diri dan orientasi lingkungan.
·         Kemampuan psikomotor,meliputi : gerak motorik kasar-halus,membangun bentuk, melipat, menggunting, menggambar dan menempel
·         Perkembangan social-emusional ,meliputi: bereaksi terhadap rangsangan dari luar, menyesuaikan diri pada situasi, bermain bersama, partisipasi dalam kegiatan,melaksanakan perintah, sikap percaya diri.
·         Perkembangan bahasa, meliputi: bicara, pembendaharaan kata, menulis, menggambar.
·         Perkembangan kognitif ,meliputi:pengertian tentang ukuran,  jumlah, bentuk;  inisiatif, melaksanakan perintah, orientasi ruang dan sebagainya.
b.    Ruang lingkup pada saat anak telah belajar dikelas. Setelah anak tunagrahita mengikuti pelajaran, ruang lingkup asesmen meliputi penilaian. Untuk menentukan apa yang harus diajarkan kepada siswa secara individu dan penilaian untuk menentukan cara guru dalam mengajar siswa untuk mencapai kemajuan yang optimal.
c.    Alat asesmen.
Bervariasinya tingkat intelegensi dan kognitif anak tunagrahita,menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasikekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.Asesmen pada anak tunagrahita dilakukan untuk mengukur tingkatintelegensi dan kognitif, baik secara individual maupun kelompok. Alatuntuk asesmen anak tunagrahita dapat digunakan seperti berikut ini:
·         Tes Intelegensi WISC-R (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model WISC-R)
·         Tes Intelegensi Stanford Binet (alat atau instrumen isian untukmengukur tingkat kecerdasan seseorang model Stanford Binet)
·         Cognitive Ability test (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat pengetahuan yang dikuasai)

5.      Macam-Macam Asesmen Tuna Grahita.
·         Asesmen Perkembangan. Asesmen perkembangan ini meliputi perkembangan: kognitif, motorik, sosial/emosi, dan bahasa/komunikasi.
·         Asesmen Akademik Yang termasuk kedalam asesmen akademik antara lain: asesmen matematik (pra matematik dan matematik), asesmen membaca (pramembaca, membaca awal, membaca lanjut)
            Asesmen Perkembangan Sosial 9-10 tahun. Perkembangan Sosial, Pengelompokan sosial dan perilaku sosial pada masa akhir anak-anak disebut sebagai usia berkelompok karena ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai suatu anggota kelompok (Elizabeth B. Hurlock: 1980: 155). Krech et. al. (1962:104-106) mengungkapkan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari kecenderungan-kecenderungan ciri-ciri respon interpersonalnya, yang terdiri dari :
·         Kecenderungan Peranan (Role Disposition); yaitu kecenderungan yang mengacu kepada tugas, kewajiban dan posisi yang dimiliki seorang individu,
·         Kecenderungan Sosiometrik (Sociometric Disposition); yaitu kecenderungan yang bertautan dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain, dan
·         Ekspressi (Expression Disposition), yaitu kecenderungan yang bertautan dengan ekpresi diri dengan menampilkan kebiasaaan-kebiasaan khas (particular fashion).
            Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam melakukan asesmen perkembangan sosial anak, untuk mendapatkan gambaran yang nyata dari perilaku sosial anak. Berdasarkan teori di atas maka maka aspek perkembangan sosial dapat kami kembangkan kedalam indikator-indikator antara lain Aspek Sosial yang diamati berupa 1) Kecenderungan Peranan; Meniru, Kerjasama, Perilaku akrab. 2) Kecenderungan Sosiometrik ; Dukungan social, Empati 3) Ekspressi; Persaingan, Membagi.
Contoh Asessmen Menulis
Pada saat asesmen guru dapat melakukan observasi kemampuan anak dalam hal
1. menulis dari kiri ke kanan
2. memegang pensil
3. menulis nama sendiri
4. menulis huruf-huruf
5. menyalin kata dari papan tulis ke buku atau kertas
6. menulis pada garis yang tepat
7. posisi kertas
8. penggunaan tangan dominan
9. posisi duduk

Instrumen Informal Untuk Menilai Bentuk Huruf
Nomor
Jenis Kesalahan
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
 a seperti oa seperti u
 i seperti e tanpa titik
 r seperti i
 b seperti li
 b seperti g
 e tertutup tidak ada lubangnya
 t dengan garis di atasnya
 m seperti w


Instrumen Informal Untuk Menilai Bentuk Huruf
Aspek
Deskripsi
Posisi duduk

Posisi kertas

Memegang pensil/alat tulis

Bentuk

Ukuran

Spasi (antar huru dan antar kata)

Ketepatan pada garis

Kualitas garis


Contoh  hasil asesmen
Catatan Hasil Asesmen
Aspek
Deskripsi
Posisi duduk
Pada saat duduk, badan kurang tegak, dagu menempel pada meja, telapak kaki menapak dengan baik pada lantai, dan posisi tangan tidak menopang badan tapi direntangkan ke depan.
Posisi kertas
Posisi kertas miring/tidak sejajar dengan badan
Memegang pensil/alat tulis
Mampu memegang pensil dengan tiga jari
Bentuk
Bentuk tulisan huruf dan kata terlalu condong dan tidak konsisten;kadang condong kadang tegak.
Ukuran
Ukuran huruf tidak konsisten ada yang terlalu besar hingga melewati garis dan ada yang terlalu kecil
Spasi (antar huruf dan antar kata)
Anak belum memahami spasi antar kata sehingga kata yang ditulis cenderung menumpuk.
Ketepatan pada garis
Huruf ditulis mengangkang di atas garis.
Kualitas garis (terlalu tebal atau terlalu


Penafsiran:
            Anak membutuhkan materi/latihan posisi duduk, posisi kertas, latihan bentuk huruf yang konsisten, ukuran, spasi antar kata, ketepatan pada garis, dan kualitas garis.
  
11.  Media Serta Asas Pembelajaran Bagi Anak Tunagrahita
Seperti dalam pembelajaran anak-anak pada umumnya, maka pembelajaran bagi  anak tunagrahita pun, media pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting, hal ini dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir. Alat Bantu pelajaran penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita. Hal ini disebabkan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak, mereka membtutuhkan hal-hal kongkrit. Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari, maka dibutuhkan alat pelajaran yang memadai.
Selanjutnya diterangkan tentang karakteristik alat Bantu pelajaran untuk anak tunagrahita antara lain.
1.      Warna. Tidak terlalu menyolok
2.      Garis dan bentuk tidak boleh abstrak
Hal yang penting adalah dalam menciptakan atau memilih alat bantu atau media pembelajaran ini harus diingat tentang hal-hal yang perlu ditonjolkan atau yang akan menjadi pusat / pokok pembicaraan. Anak tunagrahita akan mengalami kesulitan apabila dihadapkan dengan obyek yang kurang jelas tanpa tekanan tertentu.
Jadi dalam memilih media pembelajaran bagi anak tunagrahita, harus benar-benar selektif dan mengarah pada hal yang abstrak, serta disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan yang ada pada masing-masing anak.     
Media pembelajaran merupakan suatu elemen penting yang tidak dapat terpisahkan dari proses pembelajaran secara keseluruhan dan dapat lebih meningkatkan kualitas belajar siswa, kualitas mengajar guru, di samping itu dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran baik di sekolah umum maupun di SLB termasuk bagi anak-anak tunagrahita.
Untuk itu sudah sewajarnya bila dalam proses pembelajaran media pembelajaran harus benar-benar direncanakan dan  digunakan dengan sebaik-baiknya oleh setiap guru.
Asas pengajaran yang di terapkan kepada siswa Tuna Grahita adalah sebagai berikut:
  1. Asas keperagaan. Karena anak tuna grahita sangat lambat daya tangkapnya maka penggunaan alat bantu mengajar sangat bermanfaat. Manfaat penggunaan alat peraga bagi anak tuna grahita yaitu untuk menarik minat anak untuk belajar agar anak tidak cepat bosan karena anak tuna grahita cepat sekali bosan dalam menerima pelajaran, mencegah verbalisme yaitu anak hanya tahu kata-kata tanpa mengerti maksudnya anak tuna grahita sering menirukan apa yang didengar atau dikatakan oleh temannya padahal mereka tidak tahu maksud yang dikatakan tersebut, dengan alat peraga pengalaman anak akan diberikan secara baik yaitu dari yang paling kongkret menuju ke hal yang kongkret akhirnya ke hal-hal yang abstrak, anak akan mendapat pengertian yang mendalam. Untuk anak tuna grahita penggunaan alat peraga ini lebih banyak karena berguna membantu proses berpikir anak, meskipun pengertian materi-materi tersebut sangat sederhana.
  1. Asas Kehidupan Kongkret. Di dalam penerapan asas ini anak diperlihatkan dengan benda atau dengan situasi yang sesungguhnya, kemudian dijelaskan pula penggunaan atau kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Suatu contoh anak diajak ke pasar, dikenalkan alat-alat atau kebutuhan makanan sehari-hari. Misal: panci, sendok, piring, garpu dan lain-lain beserta penggunaan atau bahan makan misal beras, sayuran, gula, dan sebagainya. Atau contoh lain anak dikenalkan alat-alat yang dipergunakan untuk membersihkan gigi, dijelaskan bagaimana cara menggunakan sekaligus diberi pengertian dengan menggosok gigi secara rutin dapat terjaga kesehatan giginya.
  1. Asam Sosialisasi. Bersosialisasi penting sekali bagi anak tuna grahita. anak tuna grahita harus belajar mewujudkan dirinya sendiri dan diharapkan anak merasa bahwa dirinya punya pribadi yang ada persamaan dan perbedaan dengan pribadi yang lain. Dengan penerapan asas ini diharapkan anak terbelakang dapat menemukan tempat tertentu dalam masyarakat yang sesuai dengan kemampuannya dan dapat mengembangkan tingkah laku yang sesuai serta dapat diterima dalam masyarakat.
  1. Asas Skala Perkembangan Mental. Mengingat bahwa anak tuna grahita mempunyai keterbelakangan dalam kemampuan berpikir, akibatnya ada anak yang mempunyai umur kalender lebih banyak, sedang umur mentalnya dibawah umur kalendernya. Oleh sebab itu dalam pengajaran diterapkan asas skala perkembangan mental. Asas ini berhubungan dengan penempatan anak di dalam kelas-kelas. Pengajaran akan berhasil apabila di dalam suatu kelas perkembangan mental anak sama atau hampir sama, sehingga memudahkan dalam memberikan materi pelajaran. Meskipun demikian dalam menyampaikan pelajaran guru harus menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.
  1. Asas Individual. Maksud asas individual yaitu pemberian bantuan atau bimbingan kepada seseorang sesuai dengan kemampuannya agar dapat belajar dengan baik. Asas ini penting sekali bagi anak tuna grahita dikarenakan kemampuannya yang terbatas sehingga menghambat perkembangan kepribadian. Oleh karena itulah perlu pengajaran individual. Karena selain kemampuan yang terbatas, anak tuna grahita cenderung terganggu emosinya/ emosi tidak stabil dimana hal ini merupakan penghambat, maka perlu pengajaran individual guna mencari sebab dan cara mengurangi gangguan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar