KOTAK OPINI

Senin, 07 Desember 2009

Kecemasan Matematika Anak Diskalkulia


PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Setiap orang tua berharap anaknya adalah anak yang sempurna dengan prestasi belajar yang menyenangkan. Dalam mengukur keberhasilan anak para orang tua sering kali orang tua tidak rasioanal . jika seorang anak tidak bisa memenuhi harapan orang tua , maka anak dianggap gagal. Kalau anak tidak masuk rangking 10 besar, orang tua akan merasa kecewa dan anak menjadi tumpuan kemarahan. Bagi anak, hal tersebut justru akan menjadi beban yang dapat menurunkan prestasinya dan menjadikan frustasi yang sangat berdampak pada kemampuan menyerap pelajaran dan prestasi belajarnya. Selain orang tua yang berperan dalam pendidikan anak, faktor lain tidak bisa diabaiakan , seperti faktor anak sebagai individu dengan karakteristiknya, kondisi tempat belajar anak atau sekolah dan lingkungan masyarakat. Menurut Sumadi Suryabrata (1983:8) faktornya
a. bahan atau hal yang harus dipelajari
b. faktor llingkungan
c. faktor instrumental
d. kondisi individu si pelajar

2. Masalah
Kurikulum sekolah di Indonesia yang saat ini ada kecenderungan menitik beratkan pada mata pelajaran tertentu, seperti matematika. Matematika adalah mata pelajaran yang diterima oleh semua peserta didik mulai tingkat dasar sampai menengah membuat matematika perlu perhatian khusus. Dalam pelajaran matematika , informasi yang masuk berupa permasalahan yang berbentuk kuantitas, yaitu permasalahan ynag berhubungan dengan angka-angka dalam bentuk, pengurangan, pemjumlahan, pembagian dan perkalian.
Siswa sekolah dasar secara kronologis berada dalam rentang usia 7-12 tahun. Dalam masa ini sesuatu yang konkrit lebih mudah diterima, termasuk pelajaran matematika, apabila disajikan dalam bentuk konkrit. Bagi anak mengalami prestasi belajar rendah, selama ini kurang memahami konsep matematika. Kegagalan pada belajar matematika, mungkin disebabkan menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit dan rumit. Pada umumnya siswa menganggap pelajaran matematika rumit karena proses pemecahannya yang berbelit-belit.
Ini mengakibatkan siswa cemas dalam menghadapi pelajaran matematika dan karena ketidakmengertiannya itu mereka memilih menghindar bila pelajaran matematika. Kondisi ini adalah masalah dalam prestasi belajar matematika anak diskalkulia ( anak berkesulitan belajar matematika.

3. Tujuan penulisan
Kecemasan adalah pengalaman yang manusiawi dan universal dalam kehidupan manusia. Menurut Moh. Shaleh Muntasir (1993 : 78) ”Kecemasan timbul karena terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan”. Kecemasan ini akan meninbulkan aktifitas lain yang menggangu siswa itu sendiri. Kecemasan yang dihadapi siswa terhadap pelajaran matematika ini tentunya akan berakibat pula pada prestasi belajar matematikanya. Penulisan makalah ini bertujuan membahas masalah pada prestasi belajar matematika anak diskakulia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor , diantaranya adalah kecemasan pada diri anak dalam hal ini kecemasan dalam matematika.

PEMBAHASAN

Matematika merupakan suatu pola penemuan pemecahan masalah melalui hubungan antara objek dengan informasi dan pengetahuan berhitung. Kesulitan belajar matematikan tingkat berat dan gangguan konseptual dalam belajar yang berkaiatan dengan unsur kuantitas sering disebut ” diskalkulia” . Diskalkulia menurut Sunardi ( 1988 : 63) diikuti oleh gejala-gejala;
”(1) sering sulit membedakan tanda-tanda dalam hitungan (2) sering sulit mengoperasikan hitungan atau bilangan (3) sering salah membilang(4) sulit membedakan angka yang mirip misalnya 6 dan 9, 17 dan 71”.

Anak diskalkulia sering membuat kekeliruan. Sedangkan menurut Robert dikutip oleh Munawir ( 1993:35) adalah :
”kesalahan operasi, misalnya harusnya mengurangkan tapi dijumlahkan, kesalahan hitungan, artinya menggunakan operasi bilangan betul tapi hasilnya salah dan yang terakhir adalah kesalahan rumus”.

Kecemasan matematika juga dialami oleh anak diskalkulia. Kecemasan matematika itu sendiri oleh oleh Zakiah Darajat (1985:75)dikatakan bahwa : ”pengaruh kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika terhadap pikiran memang besar sekali, diantaranya yang tidak bisa konsentrasi tentang pelajaran, kemampuan berpikir menurun sehingga siswa seolah-olah merasa tidak cerdas”.
Timbulnya masalah belajar matematika pada anak diskalkulia pada tingkat sekolah sekolah dasar juga dapat dipengaruhi oleh cara mengajar guru, yang membuat siswa merasa bosan dan tidak memusatkan perhatian pada pelajaran. Kondisi badan siswa pun harus sehat. Karena dalam belajar diperlukan kondisi tubuh yang sehat. Bila kesehatan menurun , maka daya tangkap pun menurun. Siswa yang tidak mampu menyerap materi akan merasa takut dan cemas bila dia ditunjuk dan tidak menjawab pertanyaan guru.
Kekeliruan-keliruan dalam belajar matematika pada anak diskalkulia pada disebabakan oleh kecemasan sangat berpengaruh pada prestasi belajar matematika siswa tersebut. Hasil belajar adalah merupakan output dari proses kegiatan belajar. Hasil belajar ini biasanya dinyatakan dalam bentuk angka. Angka yang diperoleh dari kegiatan belajar inilah yang disebut prestasi belajar.

PENUTUP

Prestasi belajar matematika anak diskalkulia diantaranya dipengaruhi oleh faktor psikologi yaitu kecemasan terhadap pelajaran matematika. Berdasarkan hasil tersebut, ada saran yang bisa dijadikan pertimbangan yaitu, antara lain ; di sejumlah sekolah dasar, terdapat siswa yang karena suatu hal membutuhkan perhatian dan penanganan tertentu agar dapat menyerap pelajaran matematika seoptimal mungkin. Sejumlah siswa tersebut dapat dikategorikaan anak kesulitan belajar matematika ( diskalkulia) yang perlu penangan khusus sehingga dapat memperoleh prestasi belajar yang diharapkan.
Bagi orangtua, keterlibatan orangtua dalam meningkatkan prestasi belajar matenmatika siswa sangat penting sebagai penyedia sarana dan prasarana dan sebagai pelindung secara psikologis siswa.
Hendaknya siswa menghindari ketegangan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar matematika dan berusaha memecahkan soal matematika, serta menanamkan bahwa matematika bukanlah pelajaran yang rumit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar