KOTAK OPINI

Sabtu, 13 April 2013

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS





Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menunjukkan keadaan anak berkebutuhan khusus. Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan, dan merupakan terjemahan dari child with special needs yang telah digunakan secara luas di dunia internasional, ada beberapa istilah lain yang pernah dan mungkin masih digunakan sampai saat ini diantaranya anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang, dan anak luar biasa, ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan kependekan dari diference ability. Sejalan dengan perkembangan pengakuan terhadap hak azasi manusia termasuk anak-anak ini, maka digunakanlah istilah anak berkebutuhan khusus. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa konsekuensi yaitu cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah dipergunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan potensinya. Contoh, seorang anak tunanetra, jelas dia memiliki keterbatasan pada bidang penglihatannya, tetapi dia juga memiliki potensi kemampuan intelektual yang tidak berbeda dengan anak normal, maka untuk dapat berprestasi sesuai kapasitas intelektualnya diperlukan alat bantu kompensatif indera penglihatan seperti talking computer, talking books, buku tulisan Braille dsb. Dengan dipenuhinya kebutuhan itu maka tunanetra akan dapat berprestasi sesuai dengan kapasitas intelektualnya dan mampu berkompetisi dengan anak normal.

A. KONSEP DASAR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
            Memahami anak berkebutuhan khusus tidak dapat dilepaskan dari adanya perbedaan, penggunaan pendekatan perkembangan untuk melihat  perbedaan pada anak usia dini sangatlah tepat. Perkembangan anak-anak pada umumnya sering kita kenal dengan perkembangan normatif artinya perkembangan yang sesuai dengan tahap dan tugas perkembangan sesuai dengan usia anak. Perkembangan yang tidak sesuai dengan perkembangan normatif dikenal dengan perkembangan nonnormatif yang mana menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan pada berbagai demensi perkembangan normatif. Perbedaan perkembangan inilah yang dikenal dengan anak berkebutuhan khusus. Pada prinsipnya ada 2 perbedaan yang dapat digunakan untuk menjelaskan keadaan anak berkebutuhan khusus perbedaan tersebut adalah:

1.      Perbedaan interindividual
Berarti membandingkan keadaan individu dengan orang lain  atau dengan standar tumbuh kembang normatif dalam berbagai demensi diantaranya perbedaan keadaan mental (kapasitas kemampuan intelektual), kemampuan panca indera (sensory), kemampuan gerak motorik, kemampuan komunikasi, perilaku sosial, dan keadaan fisik. Pada anak usia sekolah dapat digunakan  perbedaan pencapaian prestasi belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran. Hal ini dimungkinkan dengan adanya standar kompetensi yang harus dimiliki siswa untuk setiap tingkat atau level kelas yang telah dirumuskan secara nasional. Standardisasi alat ukur untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat kelas memang harus segera diadakan sesuai dengan kurikulum yang telah disusun (curiculum based assesment). Jika memang  prestasi anak berada jauh di bawah standar kelulusan, maka dimungkinkan anak ini masuk kelompok anak berkebutuhan khusus.  Selain perbedaan dalam prestasi akademik juga perbedaan kemampuan akademik. Untuk mengetahui kemampuan akademik ini biasanya digunakan tes kecerdasan yang dapat mengukur potensi kemampuan intelektual yang dinyatakan dengan satuan IQ. Secara teoretis keadaan populasi IQ anak akan mengikuti kurve normal (Gb. 1), dimana anak yang memiliki IQ pada posisi ekstrim -2 dan +2 standar deviasi kurve normal, maka perlu diperhatikan sebagai anak berkebutuhan khusus.  Perbedaan ini tidak sekedar berbeda dengan rerata normal, tetapi perbedaan yang signifikan, sehingga anak tersebut memang memerlukan praktek pendidikan dan pengajaran khusus untuk mengembangkan potensinya secara optimal.

2.      Perbedaan intraindividual
Adalah suatu perbandingan antar potensi yang ada dalam diri individu itu sendiri, perbedaan ini dapat muncul dari berbagai aspek meliputi intelektual, fisik, psikologis, dan sosial. Sebagai ilustrasi ada seorang siswa yang memiliki prestasi belajar sangat cemerlang tetapi dia sangat tidak disenangi oleh teman-temanya karena dia besifat tertutup dan individual, serta sulit diajak kerja sama. Dari gambaran tersebut maka dapat dibandingkan antara kemampuan intelektual dan kemampuan sosial siswa tersebut cukup signifikan, sehingga siswa tersebut memerlukan treatmen atau perlakuan khusus agar potensinya dapat berkembang optimal. Untuk lebih dapat memahami perbedaan ini dapat digunakan pendekatan multiple intelgen yang dikemukakan oleh Gardner, dapat juga dilihat dari berbagai aspek inteligensi dari wechsler maupun Binet.
                 Selain masalah perbedaan, ada beberapa terminologi yang dapat digunakan untuk memahami anak berkebutuhan khusus.  Istilah tersebut yaitu:
1.      Impairment
Merupakan suatu keadaan atau kondisi dimana individu mengalami kehilangan atau abnormalitas psikologis, fisiologis atau fungsi struktur anatomis secara umum pada tingkat organ tubuh. Contoh seseorang yang mengalami amputasi satu kakinya, maka dia mengalami kecacatan kaki.
2.      Disability
Suatu keadaan dimana individu mengalami kekurang mampuan yang dimungkinkan karena adanya  keadaan impairment seperti kecacatan pada organ tubuh. Contoh pada orang yang cacat kakinya, maka dia akan merasakan berkurangnya fungsi kaki untuk melakukan mobilitas.
3.      Handicaped.
Keadaan dimana individu mengalami ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan.  Hal ini dimungkinkan karena adanya kelainan dan berkurangnya fungsi organ individu. Contoh, orang yang mengalami amputasi kaki sehingga untuk aktivitas mobilitas berinteraksi dengan lingkungannya dia memerlukan kursi roda.
Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak  berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan-perbedaan baik perbedaan interindividual maupun intraindividual yang signifikan, dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan  sehingga untuk mengembangkan potensinya dibutuhkan pendidikan dan pengajaran khusus. Sebagai catatan bahwa anak berkebutuhan khusus bukanlah anak sakit, tetapi anak sehat memiliki kondisi sedemikan rupa, sehingga untuk mengembangkan potensinya memerlukan pemenuhan kebutuhan khusus.

B.  KLASIFIKASI
Catatan statistik kependudukan di suatu wilayah, akan mencatat jumlah semua anak usia sekolah di wilayah tersebut, tanpa harus membedakan anak normal atau berkebutuhan khusus. Demikian juga bagi dinas pendidikan suatu wilayah yang akan memberikan bantuan beaya pendidikan, tidak akan membedakan siswa normal dan berkebutuhan khusus, mereka hanya membedakan akan jenjang dan jenis pendidikan yang memperoleh bantuan beaya pendidikan. Hal ini berarti klasifikasi anak berkebutuhan khusus dalam permasalahan umum tidak begitu diperlukan atau kurang berarti, tetapi ada kalanya klasifikasi itu diperlukan.
Anak berkebutuhan khusus merupakan satu istilah umum yang menyatukan berbagai jenis kekhususan atau kelainan. Seorang guru sekolah khusus (SLB), merasakan kesulitan dalam menghadapi anak didiknya yaitu anak berkebutuhan khusus yang begitu heterogin, sehingga dia perlu mengelompokkan anak didiknya berdasar jenis kelainannya agar lebih homogin sehingga dapat memberikan layanan pendidikan dan pembelajaran yang lebih optimal.
Untuk kepentingan penanganan baik pendidikan maupun pengajaran dan therapy terhadap anak berkebutuhan khusus, maka diperlukan klasifikasi dengan tujuan agar penanganan anak lebih sesuai dan dapat dilakukan secara kelompok homogin (klasikal) tetapi dapat memperoleh hasil yang optimal. Adapun jenis anak berkebutuhan khusus diantaranya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

C.  JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
  1. Kelainan Mental terdiri dari:
a.       Mental Tinggi
Sering dikenal dengan anak berbakat intelektual, dimana selain memiliki kemampuan intelektual di atas rerata normal yang signifikan juga memiliki kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas.
b.      Mental rendah
Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual (IQ) di bawah rerata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learners) yaitu anak yang memiliki IQ antara 70 – 90. Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus.
c.       Berkesulitan Belajar Spesifik
Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achivement) yang diperoleh siswa. Anak berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang memiliki kapasitas intelektual normal ke atas tetapi memiliki prestasi belajar rendah pada bidang akademik tertentu.
  1. Kelainan Fisik meliputi:
a.       Kelainan Tubuh (Tunadaksa)
Adanya kondisi tubuh yang menghambat proses interaksi dan sosialisasi individu meliputi kelumpuhan yang dikarenakan polio, dan gangguan pada fungsi syaraf otot yang disebabkan kelayuhan otak (cerebral palsy), serta adanya kehilangan organ tubuh (amputasi).
b.      Kelainan indera Penglihatan (Tunanetra)
Seseorang yang sudah tidak mampu menfungsikan indera penglihatannya untuk keperluan pendidikan dan pengajaran walaupun telah dikoreksi dengan lensa. Kelainan penglihatan dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu buta dan low vision.
c.       Kelaianan Indera Pendengaran (Tunarungu)
Kelainan pendengaran adalah seseorang yang telah mengalami kesulitan untuk menfungsikan pendengaranya untuk interaksi dan sosialisasi dengan lingkungan termasuk pendidikan dan pengajaran. Kelainan pendengaran dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu tuli  (the deaf) dan kurang dengar (hard of hearing).
d.      Kelainan Wicara
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti orang lain. Kelainan wicara ini dapat bersifat fungsional dimana mungkin disebabkan karena ketunaruguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidak sempurnaan organ wicara maupun adanya gangguan pada organ motoris yang berkaitan dengan wicara.
  1. Kelainan Emosi
Gangguan emosi merupakan masalah psikologis, dan hanya dapat dilihat dari indikasi perilaku yang tampak pada individu (akan dibahas lebih dalam pada bab IV) adapun klasifikasi gangguan emosi meliputi:
a.       Gangguan Perilaku
mengganggu di kelas
tidak sabaran – terlalu cepat bereaksi
tidak menghargai – menentang
menyalahkan orang lain
kecemasan terhadap prestasi di sekolah
dependen pada orang lain
pemahaman yang lemah
reaksi yang tidak sesuai
melamun, tidak ada perhatian, menarik diri
b.      Gangguan Konsentrasi (ADD/Atention Deficit Disorder)
Enam atau lebih gejala inattention, berlangsung paling sedikit 6 bulan, ketidakmampuan untuk beradaptasi, dan tingkat perkembangannya tidak konsisten. Gejala-gejala inattention tersebut ialah:
Sering gagal untuk memperhatikan secara detail, atau sering membuat kesalahan dalam pekerjaan sekolah atau aktivitas yang lain.
Sering kesulitan untuk memperhatikan tuga-tugas atau aktivitas permainan.
Sering tidak mendengarkan ketika orang lain bicara.
Sering tidak mengikuti instruksi untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah.
Kesulitan untuk mengorganisir tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas.
Tidak menyukai pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah.
Sering tidak membawa peralatan sekolah seperrti pensil buku dan sebagainya.
Sering mudah beralih pada stimulus luar.
Mudah melupakan terhadap aktivitas sehari-hari.

c.       Anak Hiperaktive (ADHD/Atention Deficit with Hiperactivity Disorder)
Perlaku tidak bisa diam
Ketidak mampuan untuk memberi perhatian yang cukup lama
Hiperaktivitas
Aktivitas motorik yang tinggi
Mudah buyarnya perhatian
Canggung
Infleksibilitas
Toleransi yang rendah terhadap frustrasi
Berbuat tanpa dipikir akibatnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar