Ada beberapa istilah yang digunakan untuk
menunjukkan keadaan anak berkebutuhan khusus. Istilah anak berkebutuhan khusus
merupakan istilah terbaru yang digunakan, dan merupakan terjemahan dari child with special needs yang telah
digunakan secara luas di dunia internasional, ada beberapa istilah lain yang
pernah dan mungkin masih digunakan sampai saat ini diantaranya anak cacat, anak
tuna, anak berkelainan, anak menyimpang, dan anak luar biasa, ada satu istilah
yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan
kependekan dari diference ability. Sejalan dengan perkembangan pengakuan
terhadap hak azasi manusia termasuk anak-anak ini, maka digunakanlah istilah
anak berkebutuhan khusus. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa
konsekuensi yaitu cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang
pernah dipergunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa
lebih menitik beratkan pada kondisi
(fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih
pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan
potensinya. Contoh, seorang anak tunanetra, jelas dia memiliki keterbatasan
pada bidang penglihatannya, tetapi dia juga memiliki potensi kemampuan
intelektual yang tidak berbeda dengan anak normal, maka untuk dapat berprestasi
sesuai kapasitas intelektualnya diperlukan alat bantu kompensatif indera
penglihatan seperti talking computer, talking books, buku tulisan Braille dsb.
Dengan dipenuhinya kebutuhan itu maka tunanetra akan dapat berprestasi sesuai
dengan kapasitas intelektualnya dan mampu berkompetisi dengan anak normal.
A. KONSEP DASAR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Memahami anak berkebutuhan
khusus tidak dapat dilepaskan dari adanya perbedaan, penggunaan pendekatan
perkembangan untuk melihat perbedaan
pada anak usia dini sangatlah tepat. Perkembangan anak-anak pada umumnya sering
kita kenal dengan perkembangan normatif artinya perkembangan yang sesuai dengan
tahap dan tugas perkembangan sesuai dengan usia anak. Perkembangan yang tidak
sesuai dengan perkembangan normatif dikenal dengan perkembangan nonnormatif
yang mana menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan pada berbagai demensi perkembangan
normatif. Perbedaan perkembangan inilah yang dikenal dengan anak berkebutuhan
khusus. Pada prinsipnya ada 2 perbedaan yang dapat digunakan untuk menjelaskan
keadaan anak berkebutuhan khusus perbedaan tersebut adalah:
1. Perbedaan interindividual
Berarti membandingkan keadaan individu
dengan orang lain atau dengan standar
tumbuh kembang normatif dalam berbagai demensi diantaranya perbedaan keadaan
mental (kapasitas kemampuan intelektual), kemampuan panca indera (sensory),
kemampuan gerak motorik, kemampuan komunikasi, perilaku sosial, dan keadaan
fisik. Pada anak usia sekolah dapat digunakan perbedaan pencapaian prestasi belajar siswa
dalam berbagai mata pelajaran. Hal ini dimungkinkan dengan adanya standar
kompetensi yang harus dimiliki siswa untuk setiap tingkat atau level kelas yang
telah dirumuskan secara nasional. Standardisasi alat ukur untuk setiap mata
pelajaran pada setiap tingkat kelas memang harus segera diadakan sesuai dengan
kurikulum yang telah disusun (curiculum based assesment). Jika memang prestasi anak berada jauh di bawah standar
kelulusan, maka dimungkinkan anak ini masuk kelompok anak berkebutuhan
khusus. Selain perbedaan dalam prestasi
akademik juga perbedaan kemampuan akademik. Untuk mengetahui kemampuan akademik
ini biasanya digunakan tes kecerdasan yang dapat mengukur potensi kemampuan
intelektual yang dinyatakan dengan satuan IQ. Secara teoretis keadaan populasi
IQ anak akan mengikuti kurve normal (Gb. 1), dimana anak yang memiliki IQ pada
posisi ekstrim -2 dan +2 standar deviasi kurve normal, maka perlu diperhatikan
sebagai anak berkebutuhan khusus. Perbedaan
ini tidak sekedar berbeda dengan rerata normal, tetapi perbedaan yang
signifikan, sehingga anak tersebut memang memerlukan praktek pendidikan dan
pengajaran khusus untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
2. Perbedaan intraindividual
Adalah suatu perbandingan antar potensi
yang ada dalam diri individu itu sendiri, perbedaan ini dapat muncul dari
berbagai aspek meliputi intelektual, fisik, psikologis, dan sosial. Sebagai
ilustrasi ada seorang siswa yang memiliki prestasi belajar sangat cemerlang
tetapi dia sangat tidak disenangi oleh teman-temanya karena dia besifat
tertutup dan individual, serta sulit diajak kerja sama. Dari gambaran tersebut
maka dapat dibandingkan antara kemampuan intelektual dan kemampuan sosial siswa
tersebut cukup signifikan, sehingga siswa tersebut memerlukan treatmen atau
perlakuan khusus agar potensinya dapat berkembang optimal. Untuk lebih dapat
memahami perbedaan ini dapat digunakan pendekatan multiple intelgen yang
dikemukakan oleh Gardner, dapat juga dilihat dari berbagai aspek inteligensi
dari wechsler maupun Binet.
Selain
masalah perbedaan, ada beberapa terminologi yang dapat digunakan untuk memahami
anak berkebutuhan khusus. Istilah tersebut
yaitu:
1. Impairment
Merupakan suatu keadaan atau kondisi
dimana individu mengalami kehilangan atau abnormalitas psikologis, fisiologis
atau fungsi struktur anatomis secara umum pada tingkat organ tubuh. Contoh
seseorang yang mengalami amputasi satu kakinya, maka dia mengalami kecacatan
kaki.
2. Disability
Suatu keadaan dimana individu mengalami
kekurang mampuan yang dimungkinkan karena adanya keadaan impairment seperti kecacatan pada
organ tubuh. Contoh pada orang yang cacat kakinya, maka dia akan merasakan
berkurangnya fungsi kaki untuk melakukan mobilitas.
3. Handicaped.
Keadaan dimana individu mengalami
ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Hal ini dimungkinkan karena adanya kelainan
dan berkurangnya fungsi organ individu. Contoh, orang yang mengalami amputasi
kaki sehingga untuk aktivitas mobilitas berinteraksi dengan lingkungannya dia
memerlukan kursi roda.
Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa anak berkebutuhan
khusus adalah anak yang memiliki perbedaan-perbedaan baik perbedaan
interindividual maupun intraindividual yang signifikan, dan mengalami kesulitan
dalam berinteraksi dengan lingkungan
sehingga untuk mengembangkan potensinya dibutuhkan pendidikan dan
pengajaran khusus. Sebagai catatan bahwa anak berkebutuhan khusus bukanlah anak
sakit, tetapi anak sehat memiliki kondisi sedemikan rupa, sehingga untuk
mengembangkan potensinya memerlukan pemenuhan kebutuhan khusus.
B. KLASIFIKASI
Catatan statistik kependudukan di suatu
wilayah, akan mencatat jumlah semua anak usia sekolah di wilayah tersebut,
tanpa harus membedakan anak normal atau berkebutuhan khusus. Demikian juga bagi
dinas pendidikan suatu wilayah yang akan memberikan bantuan beaya pendidikan,
tidak akan membedakan siswa normal dan berkebutuhan khusus, mereka hanya
membedakan akan jenjang dan jenis pendidikan yang memperoleh bantuan beaya
pendidikan. Hal ini berarti klasifikasi anak berkebutuhan khusus dalam
permasalahan umum tidak begitu diperlukan atau kurang berarti, tetapi ada kalanya
klasifikasi itu diperlukan.
Anak berkebutuhan khusus merupakan satu istilah
umum yang menyatukan berbagai jenis kekhususan atau kelainan. Seorang guru
sekolah khusus (SLB), merasakan kesulitan dalam menghadapi anak didiknya yaitu
anak berkebutuhan khusus yang begitu heterogin, sehingga dia perlu
mengelompokkan anak didiknya berdasar jenis kelainannya agar lebih homogin
sehingga dapat memberikan layanan pendidikan dan pembelajaran yang lebih
optimal.
Untuk kepentingan penanganan baik pendidikan
maupun pengajaran dan therapy terhadap anak berkebutuhan khusus, maka
diperlukan klasifikasi dengan tujuan agar penanganan anak lebih sesuai dan dapat
dilakukan secara kelompok homogin (klasikal) tetapi dapat memperoleh hasil yang
optimal. Adapun jenis anak berkebutuhan khusus diantaranya dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
C. JENIS
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
- Kelainan Mental terdiri dari:
a. Mental Tinggi
Sering dikenal dengan anak berbakat
intelektual, dimana selain memiliki kemampuan intelektual di atas rerata normal
yang signifikan juga memiliki kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas.
b. Mental rendah
Kemampuan mental rendah atau kapasitas
intelektual (IQ) di bawah rerata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak
lamban belajar (slow learners) yaitu anak yang memiliki IQ antara 70 – 90.
Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan
khusus.
c. Berkesulitan Belajar Spesifik
Berkesulitan belajar berkaitan dengan
prestasi belajar (achivement) yang diperoleh siswa. Anak berkesulitan belajar
spesifik adalah anak yang memiliki kapasitas intelektual normal ke atas tetapi
memiliki prestasi belajar rendah pada bidang akademik tertentu.
- Kelainan Fisik meliputi:
a. Kelainan Tubuh (Tunadaksa)
Adanya kondisi tubuh yang menghambat
proses interaksi dan sosialisasi individu meliputi kelumpuhan yang dikarenakan
polio, dan gangguan pada fungsi syaraf otot yang disebabkan kelayuhan otak
(cerebral palsy), serta adanya kehilangan organ tubuh (amputasi).
b. Kelainan indera Penglihatan (Tunanetra)
Seseorang yang sudah tidak mampu
menfungsikan indera penglihatannya untuk keperluan pendidikan dan pengajaran
walaupun telah dikoreksi dengan lensa. Kelainan penglihatan dapat dikelompokkan
menjadi 2 yaitu buta dan low vision.
c. Kelaianan Indera Pendengaran (Tunarungu)
Kelainan pendengaran adalah seseorang yang
telah mengalami kesulitan untuk menfungsikan pendengaranya untuk interaksi dan
sosialisasi dengan lingkungan termasuk pendidikan dan pengajaran. Kelainan
pendengaran dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu tuli (the deaf) dan kurang dengar (hard of
hearing).
d. Kelainan Wicara
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam
mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat
dimengerti orang lain. Kelainan wicara ini dapat bersifat fungsional dimana mungkin
disebabkan karena ketunaruguan, dan organik yang memang disebabkan adanya
ketidak sempurnaan organ wicara maupun adanya gangguan pada organ motoris yang
berkaitan dengan wicara.
- Kelainan Emosi
Gangguan emosi merupakan masalah
psikologis, dan hanya dapat dilihat dari indikasi perilaku yang tampak pada
individu (akan dibahas lebih dalam pada bab IV) adapun klasifikasi gangguan
emosi meliputi:
a. Gangguan Perilaku
mengganggu
di kelas
tidak
sabaran – terlalu cepat bereaksi
tidak
menghargai – menentang
menyalahkan
orang lain
kecemasan
terhadap prestasi di sekolah
dependen
pada orang lain
pemahaman
yang lemah
reaksi
yang tidak sesuai
melamun,
tidak ada perhatian, menarik diri
b. Gangguan Konsentrasi (ADD/Atention Deficit
Disorder)
Enam atau lebih
gejala inattention, berlangsung paling sedikit 6 bulan, ketidakmampuan
untuk beradaptasi, dan tingkat perkembangannya tidak konsisten. Gejala-gejala inattention
tersebut ialah:
Sering gagal
untuk memperhatikan secara detail, atau sering membuat kesalahan dalam
pekerjaan sekolah atau aktivitas yang lain.
Sering kesulitan
untuk memperhatikan tuga-tugas atau aktivitas permainan.
Sering tidak
mendengarkan ketika orang lain bicara.
Sering tidak
mengikuti instruksi untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah.
Kesulitan untuk
mengorganisir tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas.
Tidak menyukai
pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah.
Sering tidak
membawa peralatan sekolah seperrti pensil buku dan sebagainya.
Sering mudah
beralih pada stimulus luar.
Mudah melupakan
terhadap aktivitas sehari-hari.
c.
Anak Hiperaktive (ADHD/Atention Deficit with
Hiperactivity Disorder)
Perlaku
tidak bisa diam
Ketidak
mampuan untuk memberi perhatian yang cukup lama
Hiperaktivitas
Aktivitas
motorik yang tinggi
Mudah
buyarnya perhatian
Canggung
Infleksibilitas
Toleransi yang rendah terhadap frustrasi
Berbuat tanpa dipikir akibatnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar