Ilustrasi:
Nani seorang siswa kelas 1 SD, dia berpenampilan
rapi seperti teman-teman lainnya, tetapi jarang terlihat bermain bersama
teman-temannya pada saat istirahat, dia lebih banyak diam. Pada saat pelajaran
di dalam kelas Nani lebih banyak terdiam pasive, seperti orang yang bingung.
Jika diberi tugas oleh guru dia lebih tidak tahu perintah apa yang harus
dikerjakan, apalagi jika beberapa tugas diberikan dalam satu instruksi
sekaligus. Dalam pelajaran bidang akademik Nanik baik membaca, menulis maupun
berhitung dia tidak mampu mengerjakan, pada buku catatannya hanya terlihat
coret-coret gambar yang tidak jelas maksudnya. Setelah gurunya curiga terhadap
perilaku Nani, maka dia dikonsultasikan pada ahli perkembangan anak dan
ternyata dinyatakan tunagrahita karena berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis
Nani memiliki kapasitas intelektual IQ 65.
Untuk memahami karakteristik
anak tunagrahita maka perlu disesuaikan dengan klasifikasinya karena setiap
kelompok tunagrahita memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Sesuai dengan
bidang bahasan pada materi ini akan dibahas pada karakteristik akademik
tunagrahita sebagai berikut:
Karakteristik anak
tunagrahita secara umum menurut James D. Page (Amin, 1995:34-37) dicirikan
dalam hal: kecerdasan, sosial, fungsi mental, dorongan dan emosi, kepribadian
serta organisme. Masing-masing hal itu sebagai aspek diantara tunagrahita
dengan dijelaskan sebagai berikut:
1) Intelektual.
Dalam pencapaian tingkat kecerdasan bagi
tunagrahita selalu dibawah rata-rata dengan anak yang seusia sama, demikian
juga perkembangan kecerdasan sangat terbatas. Mereka hanya mampu mencapai
tingkat usia mental setingkat usia mental anak usia mental anak Sekolah Dasar
kelas IV, atau kelas II, bahkan ada yang mampu mencapai tingkat usia mental
setingkat usia mental anak pra sekolah. Dalam hal belajar, sukar memahami
masalah. Masalah yang bersifat abstrak dan cara belajarnya banyak secara membeo
(rote learning) bukan dengan
pengertian.
2) Segi sosial.
Dalam kemampuan bidang sosial juga
mengalami kelambatan kalau dibandingkan dengan anak normal sebaya. Hal ini
ditunjukkan dengan pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara, dan
memimpin diri. Waktu masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus,
disuapi makanan, dipasangkan dan ditanggalkan pakaiannya, diawasi terus
menerus, setelah dewasa kepentingan ekonominya sangat tergantung pada bantuan
orang lain. Kemampuan sosial mereka ditunjukkan dengan Social Age (SA) yang sangat kecil dibandingkan dengan Cronological Age (CA). Sehingga skor
sosial Social Quotient (SQ)nya
rendah.
3) Ciri pada fungsi mental lainnya.
Mereka mengalami kesukaran dalam
memusatkan perhatian, jangkauan perhatiannya sangat sempit dan cepat beralih
sehingga kurang tangguh dalam menghadapi tugas. Pelupa dan mengalami kesukaran
mengungkapkan kembali suatu ingatan, kurang mampu membuat asosiasi serta sukar membuat
kreasi baru.
4) Ciri dorongan dan emosi
Perkembangan dorongan emosi anak
tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaannya
masing-masing. Anak yang berat dan sangat berat ketunagrahitaannya hampir tidak
memperlihatkan dorongan untuk mempertahankan diri, dalam keadaan haus dan lapar
tidak menunjukkan tanda-tandanya, mendapat perangsang yang menyakitkan tidak
mampu menjauhkan diri dari perangsang tersebut. Kehidupan emosinya lemah,
dorongan biologisnya dapat berkembang tetapi penghayatannya terbatas pada
perasaan senang, takut, marah, dan benci. Anak yang tidak terlalu berat
ketunagrahitaannya mempunyai kehidupan emosi yang hampir sama dengan anak
normal tetapi kurang kaya, kurang kuat, kurang beragam, kurang mampu menghayati
perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.
5) Ciri kemampuan dalam bahasa
Kemampuan bahasa sangat terbatas
perbendaraaan kata terutama kata yang abstrak. Pada anak yang
ketunagrahitaannnya semakin berat banyak yang mengalami gangguan bicara
disebabkan cacat artikulasi dan problem dalam pembentukan bunyi.
6) Ciri kemampuan dalam bidang akademis
Mereka sulit mencapai bidang akademis
membaca dan kemampuan menghitung yang problematis, tetapi dapat dilatih dalam
menghitung yang bersifat perhitungan.
7) Ciri kepribadian
Kepribadian anak tunagrahita dari berbagai
penelitian oleh Leahy, Balla, dan Zigler (Hallahan & Kauffman, 1988:69)
bahwa anak yang merasa retarded
tidak percaya terhadap kemampuannya, tidak mampu mengontrol dan mengarahkan
dirinya sehingga lebih banyak bergantung pada pihak luar (external locus of control). Mereka
tidak mampu untuk mengarahkan diri sehingga segala sesuatu yang terjadi pada
dirinya bergantung pengarahan dari luar.
8) Ciri kemampuan dalam organisme.
Kemampuan anak tunagrahita untuk
mengorganisasi keadaan dirinya sangat jelek, terutama pada anak tunagrahita
yang kategori berat. Hal ini ditunjukan dengan baru dapat berjalan dan
berbicara pada usia dewasa, sikap gerak langkahnya kurang serasi, pendengaran
dan penglihatannya tidak dapat difungsikan, kurang rentan terhadap perasaan
sakit, bau yang tidak enak, serta makanan yang tidak enak.
Sedang karakteristik anak tunagrahita, yang lebih spesifik berdasarkan
berat ringannya kelainan dapat
dikemukakan sebagai berikut:
1)
Mampudidik
Mampudidik merupakan istilah pendidikan yang
digunakan untuk mengelompokkan tunagrahita ringan. Mampudidik memiliki
kapasitas inteligensi antara 50 – 70 pada skala Binet maupun Weschler. Mereka
masih mempunyai kemampuan untuk dididik dalam bidang akademik yang sederhana
(dasar) yaitu membaca, menulis dan berhitung. Anak mampudidik kemampuan
maksimalnya setara dengan anak usia 12 tahun atau kelas 6 sekolah dasar,
apabila mendapatkan layanan dan bimbingan belajar yang sesuai maka anak mampu didik dapat lulus sekolah
dasar. Anak mampu didik setelah dewasa masih memungkinkan untuk dapat bekerja
mencari nafkah, dalam bidang yang tidak memerlukan banyak pemikiran.
Tunagrahita mampudidik umumnya tidak desertai dengan kelainan fisik baik
sensori maupun motoris, sehingga kesan lahiriah anak mampudidik tidak berbeda
dengan anak normal sebaya, bahkan sering anak mampu didik dikenal dengan
terbelakang mental 6 jam, hal ini dikarenakan anak terlihat terbelakang mental
sewaktu mengikuti pelajaran akademik di sekolah saja, yang mana jam sekolah
adalah 6 jam setiap hari.
2)
Mampulatih
Tunagrahita mampulatih secara fisik sering
memiliki atau disertai dengan kelinan fisik baik sensori mapupun motoris,
bahkan hampir semua anak yang memiliki kelainan dengan tipe klinik masuk pada
kelompok mampu latih sehingga sangat mudah untuk mendeteksi anak mampu latih,
karena penampilan fisiknya (kesan lahiriah) berbeda dengan anak normal sebaya. Anak
mampulatih memiliki kapasitas inteligensi (IQ) berkisar antara 30 – 50,
kemampuan tertingginya setara dengan anak normal usia 8 tahun atau kelas 2 SD.
Kemampuan akademik anak mampulatih tidak dapat mengikuti pelajaran yang
bersifat akademik walaupun secara sederhana seperti membaca, menulis dan
berhitung. Anak mampulatih hanya mampu dilatih dalam keterampilan mengurus diri
sendiri dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
3)
Perlurawat
Anak perlu rawat adalah klasifikasi anak
tunagrahita yang paling berat, jika pada istilah kedokteran disebut dengan
idiot. Anak perlu rawat memiliki kapasitas inteligensi di bawah 25 dan sudah
tidak mampu dilatih keterampilan. Anak ini hanya mampu dilatih pembiasaan
(conditioning) dalam kehidupan sehari-hari. Seumur hidupnya tidak dapat lepas
dari orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar