Ilustrasi:
Dadi seorang anak yang menderita gangguan
pendengaran sejak lahir, awalnya orangtuanya tidak menduga jika badu tunarungu.
Mula-mula Dadi dianggapnya anak yang baik jarang menangis dan pendiam, tetapi
lama-kelamaan setelah usia Dadi hampir 2 tahun belum dapat bicara seperti pada
anak umumnya serta tidak pernah merespon suara yang ada disekelilingnya, pada
saat itulah orang tuanya curiga terhadap perkembangan, dan kondisi Dadi yang
sering seperti orang terkejut jika bertemu dengan orang lain yang datang dari
belakang atau yang muncul tiba-tiba. Maka Dadi dibawa konsultasi ke dokter ahli
THT dan setelah menjani pemeriksaan pendengaran dinyatakan jika ia menderita
ketunarunguan.
Tunarungu adalah istilah
yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga
seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka memiliki karakteristik yang
khas, berbeda dari anak-anak normal pada umumnya. Beberapa karakteristik anak
tunarungu, diantaranya adalah:
1. Segi Fisik
·
Cara
berjalannya kaku dan agak membungkuk. Akibat terjadinya permasalahan pada organ
keseimbangan pada telinga, menyebabkan anak-anak tunarungu mengalami
kekurangseimbangan dalam aktivitas fisiknya.
·
Pernapasannya
pendek, dan tidak teratur. Anak-anak tunarungu tidak pernah mendengarkan
suara-suara dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana bersuara atau mengucapkan
kata-kata dengan intonasi yang baik, sehingga mereka juga tidak terbiasa
mengatur pernapasannya dengan baik, khususnya dalam berbicara.
·
Cara
melihatnya agak beringas. Penglihatan merupakan salah satu indra yang paling
dominan bagi anak-anak penyandang tunarungu, dimana sebagian besar
pengalamanannya diperoleh melalui penglihatan. Oleh karena itu anak-anak
tunarungu juga dikenal sebagai anak visual, sehingga cara melihatpun selalu
menunjukkan keingintahuan yang besar dan terlihat beringas.
2. Segi Bahasa
·
Miskin
akan kosa kata
·
Sulit
mengartikan kata-kata yang mengandung ungkapan, atau idiomatic
·
Tatabahasanya
kurang teratur
3. Intelektual
·
Kemampuan
intelektualnya normal. Pada dasarnya anak-anak tunarungu tidak mengalami
permasalahan dalam segi intelektual. Namun akibat keterbatasan dalam
berkomunikasi dan berbahasa, perkembangan intelektual menjadi lamban
·
Perkembangan
akademiknya lamban akibat keterbatasan bahasa. Seiring terjadinya kelambanan
dalam perkembangan intelektualnya akibat adanya hambatan dalam berkomunikasi,
maka dalam segi akademiknya juga mengalami keterlambatan.
4. Sosial-emosional
·
Sering
merasa curiga dan syak wasangka. Sikap seperti ini terjadi akibat adanya
kelainan fungsi pendengarannya. Mereka tidak dapat memahami apa yang
dibicarakan oranglain, sehingga anak-anak tunarungu menjadi mudah merasa
curiga.
·
Sering
bersikap agresif

Tidak ada komentar:
Posting Komentar