Ilustrasi
Tina seorang gadis kecil usia 5 tahun, dia akan
masuk taman kanak-kanak. Kesan lahiriah tampak Tina adalah anak yang lucu dan
ceria, dalam aktivitas motorik sehari-hari tampak berkesan lamban, pada
kegiatan yang bersifat visual seperti, mewarnai, menggambar, menyusun peg-board
dan puzle Tina tidak mampu menyelesaikan. Maka dia di bawa ke dokter untuk melihat
gangguan yang ada padanya, ternyata Tina memiliki kelainan penglihatan yang
oleh dokter dinyatakan memiliki tingkat ketajaman (visus sentralis) 20/200,
maka dia dinyatakan sebagai anak tunanetra dan memerlukan media pembelajaran
dan permainan yang khusus.
Anak tunanetra adalah
anak-anak yang mengalami kelainan atau gangguan fungsi penglihatan, yang
dinyatakan dengan tingtat ketajaman penglihatan atau visus sentralis di atas
20/200 dan secara pedagogis membutuhkan
layanan pendidikan khusus dalam belajarnya di sekolah. Beberapa karakteristik
anak-anak tunanetra adalah:
1. Segi Fisik
Secara fisik anak-anak tunanetra, nampak sekali
adanya kelainan pada organ penglihatan/mata, yang secara nyata dapat dibedakan
dengan anak-anak normal pada umumnya hal ini terlihat dalam aktivitas mobilitas
dan respon motorik yang merupakan umpan balik dari stimuli visual.
2. Segi Motorik
Hilangnya indera penglihatan sebenarnya tidak
berpengaruh secara langsung terhadap keadaan motorik anak tunanetra, tetapi
dengan hilangnya pengalaman visual menyebabkan tunanetra kurang mampu melakukan
orientasi lingkungan. Sehingga tidak seperti anak-anak normal, anak tunanetra harus belajar bagaimana
berjalan dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai
keterampilan orientasi dan mobilitas.
3. Perilaku
Kondisi tunanetra tidak secara langsung menimbulkan
masalah atau penyimpangan perilaku pada diri anak, meskipun demikian hal
tersebut berpengaruh pada perilakunya. Anak
tunanetra sering menunjukkan perilaku stereotip, sehingga menunjukkan
perilaku yang tidak semestinya. Manifestasi perilaku tersebut dapat berupa
sering menekan matanya, membuat suara dengan jarinya, menggoyang-goyangkan
kepala dan badan, atau berputar-putar. Ada beberapa teori yang mengungkap
mengapa tunanetra kadang-kadang mengembangkan perilaku stereotipnya. Hal itu
terjadi mungkin sebagai akibat dari tidak adanya rangsangan sensoris,
terbatasnya aktifitas dan gerak di dalam lingkungan, serta keterbatasan sosial.
Untuk mengurangi atau menghilangkan
perilaku tersebut dengan membantu mereka memperbanyak aktifitas, atau dengan
mempergunakan strategi perilaku tertentu, seperti memberikan pujian atau
alternatif pengajaran, perilaku yang lebih positif, dan sebagainya.
4. Akademik
Secara umum kemampuan akademik, anak-anak tunanetra sama seperti
anak-anak normal pada umumnya. Keadaan ketunanetraan
berpengaruh pada perkembangan keterampilan akademis, khususnya dalam bidang
membaca dan menulis. Dengan kondisi yang demikian maka tunanetra mempergunakan
berbagai alternatif media atau alat untuk membaca dan menulis, sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing. Mereka mungkin mempergunakan huruf braille atau
huruf cetak dengan berbagai alternatif ukuran. Dengan asesmen dan pembelajaran
yang sesuai, tunanetra dapat mengembangkan kemampuan membaca dan menulisnya
seperti teman-teman lainnya yang dapat melihat.
5. Pribadi dan sosial
Mengingat tunanetra
mempunyai keterbatasan dalam belajar melalui pengamatan dan menirukan, maka
anak tunananetra sering mempunyai
kesulitan dalam melakukan perilaku sosial yang benar.
Sebagai akibat dari
ketunanetraannya yang berpengaruh terhadap keterampilan sosial, anak tunanetra
perlu mendapatkan latihan langsung dalam bidang pengembangan persahabatan,
menjaga kontak mata atau orientasi wajah, penampilan postur tubuh yang baik,
mempergunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah, mempergunakan intonasi suara
atau wicara dalam mengekspresikan perasaan, menyampaikan pesan yang tepat pada
waktu melakukan komunikasi.
Penglihatan memungkinkan kita untuk bergerak
dengan leluasa dalam suatu lingkungan, tetapi tunanetra mempunyai keterbatasan
dalam melakukan gerakan tersebut. Keterbatasan tersebut mengakibatkan
keterbatasan dalam memperoleh pengalaman dan juga berpengaruh pada hubungan
sosial. Dari keadaan tersebut mengakibatkan tunanetra lebih terlihat memiliki
sikap:
Ø Curiga yang berlebihan pada orang lain,
ini disebabkan oleh kekurangmampuannya dalam berorientasi terhadap
lingkungannya
Ø Mudah tersinggung. Akibat
pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan atau mengecewakan yang sering
dialami, menjadikan anak-anak tunanetra mudah tersinggung.
Ø Ketergantungan pada orang lain. Anak-anak
tunanetra umumnya memilki sikap ketergantungan yang kuat pada oranglain dalam
aktivitas kehidupan sehari-hari. Kondisi yang demikian umumnya wajar terjadi
pada anak-anak tunanetra berkenaan dengan keterbatasan yang ada pada dirinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar