Ilustrasi:
Dini seorang anak cerebral palsy, sejak kecil dia
mengalami kelumpuhan atau kelayuhan pada anggota gerak sebelah kanan yaitu
tangan dan kaikanannya yang disertai gangguan pada otot motorik wicara. Dini jika berjalan terlihat sempoyongan,
dan bila bicara sulit untuk dimengerti orang lain. Pada awalnya oleh
lingkungan dia dianggap sebagai anak
yang tidak normal mentalnya. Tetapi lama-kelamaan lingkungan menyadari bahwa
dia memahami dan mengerti apa yang di bicarakan orang lain, tetapi sangat sulit
untuk ekspresi responya secara verbal maupun motorik lainnya. Setelah dia
bersekolah di sekolah khusus atau SLB untuk anak-anak tunadaksa, dia dapat
mengekspresikan maksudnya dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan dan
sedikit dapat dimengerti orang lain.
Anak tunadaksa adalah
anak-anak yang mengalami kelainan fisik, atau cacat tubuh, yang mencakup
kelainan anggota tubuh maupun yang mengalami kelainan anggota gerak dan
kelumpuhan yang disebabkan karena kelainan yang ada di syaraf pusat atau otak,
disebut sebagai cerebral palcsy (CP), dengan karakteristik sebagai berikut:
1.
Gangguan Motorik
Gangguan motoriknya berupa kekakuan, kelumpuhan,
gerakan-gerakan yang tidak dapat dikendalikan, gerakan ritmis dan gangguan
keseimbangan. Gangguan motorik ini meliputi motorik kasar dan motorik
halus.
2.
Gangguan Sensorik
Pusat sensoris
pada manusia terleak otak, mengingat
anak cerebral palsy adalah anak yang
mengalami kelainan di otak, maka sering anak cerebral palsy disertai gangguan
sensorik, beberapa gangguan sensorik antara lain penglihatan, pendengaran,
perabaan, penciuman dan perasa. Gangguan penglihatan pada cerebral palsy
terjadi karena ketidakseimbangan otot-otot mata sebagai akibat kerusakan otak. Gangguan
pendengaran pada anak cerebral palsy sering dijumpai pada jenis athetoid.
3.
Gangguan Tingkat Kecerdasan
Walaupun anak
cerebral palsy disebabkan karena kelainan otaknya tetapi keadaan kecerdasan
anak cerebral palsy bervariasi, tingkat kecerdasan anak cerebral palsy mulai
dari tingkat yang paling rendah sampai gifted. Sekitar 45% mengalami keterbelakangan mental, dan 35% lagi mempunyai
tingkat kecerdasan normal dan diatas rata-rata. Sedangkan sisanya cenderung
dibawah rata-rata (Hardman, 1990).
4.
Kemampuan Berbicara
Anak cerebral
palsy mengalami gangguan wicara yang disebabkan oleh kelainan motorik otot-otot
wicara terutama pada organ artikulasi seperti lidah, bibir, dan rahang bawah,
dan ada pula yang terjadi karena kurang dan tidak terjadi proses interaksi
dengan lingkungan. Dengan keadaan
yang demikian maka bicara anak-anak cerebral palsy menjadi tidak jelas dan
sulit diterima orang lain.
5.
Emosi dan Penyesuaian Sosial
Respon dan sikap masyarakat terhadap kelainan pada
anak cerebral palsy, mempengaruhi pembentukan pribadi anak secara umum. Emosi
anak sangat bervariasi, tergantung rangsang yang diterimanya. Secara umum tidak
terlalu berbeda dengan anak–anak normal, kecuali beberapa kebutuhan yang tidak
terpenuhi yang dapat menimbulkan emosi yang tidak terkendali. Sikap atau
penerimaan masyarakat terhadap anak cerebral palsy dapat memunculkan keadaan
anak yang merasa rendah diri atau kepercayaan dirinya kurang, mudah
tersinggung, dan suka menyendiri, serta kurang dapat menyesuaiakan diri dan
bergaul dengan lingkungan.
Sedangkan anak anak yang mengalami kelumpuhan yang
dikarenakan kerusakan pada otot motorik yang sering diderita oleh anak-anak
pasca polio dan muscle dystrophy lain mengakibatkan gangguan motorik terutama gerakan lokomosi, gerakan ditempat, dan
mobilisasi. Ada sebagian anak dengan gangguan gerak yang berat, ringan, dan
sedang. Untuk berpindah tempat perlu alat ambulasi, juga perlu alat bantu dalam
memenuhi kebutuhannya, yaitu memenuhi kebutuhan gerak. Dalam kehidupan
sehari-hari anak perlu bantuan dan alat yang sesuai. Keadaan kapasitas
kemampuan intelektual anak gangguan gerak otot ini tidak berbeda dengan anak
normal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar