Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam
Pendidikan
Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks
dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi didalamnya
terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan salaing
menentukan. Sifatnya unik menunjukkan sekolah sebagai organisasi memiliki
ciri-ciri tertentu yang tidak bisa dimiliki oleh sekolah lain. Ciri-ciri yang
menempatkan sekolah memiliki karakter tersendiri, di mana terjadi proses
belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan umat manusia.
Karena kompleks dan unik tersebutlah memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi.
Keberhasilan sekolah adalah wujud dari kepemimpinan seorang kepala sekolah.
1.
Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan
oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada
individu atau kelompok yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya (Danim : 2003). Pemimpin formal adalah orang tang oleh lembaga
tertentu ditunjuk sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan
resmi untuk memangku suatu jabatan dalam struktur organisasi, dengan segala hak
dan kewajibannya yang berkaitan dengannya untuk mencapai sasaran organisasi
(Kartono:2010).
Dengan demikian kepemimpinan pendidikan adalah
kemempuan seseorang yang telah dipilih dan diberikan tanggung jawab untuk
mengorganisasikan sebuah lembaga dalam kemampuannya untuk mempengaruhi dan
menggerakkan individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan
secara bersama-sama.
Pengertian diatas dapat dilihat
unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam kepemimpinan pendidikan yaitu adanya
pengikut, tujuan yang akan dicapai, dan adanya kegiatan mempengaruhi.
2.
Tipe dan Gaya Kepemimpinan Pendidikan.
Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan,
temperamen, watak dan kepribadian sendiri yang unik dan khas sehingga tingkah
laku dan gayanya yang membedakan dirinya dan orang lain. Gaya hidup dari
seseorang akan mempengaruhi kepemimpinandengan beberapa tipe yaitu (a) tipe
pembelot; (b) tipe birokrat; (c) tipe misionaris; (d) Tipe pembangun; (e) Tipe
otokrat; (f) Otokrat yang bijak; (g) Tipe Kompromis; (h) Tipe eksekutif
3.
Peran Kepala Sekolah.
Pihak sekolah dalam menggapai visi dan misi
pendidikan perlu ditunjang oleh kemampuan kepala sekolah dalam menjalankan roda
kepemimpinannya. Dalam pelaksanaanya pekerjaan kepala sekolah merupakan
pekerjaan yang berat yang menuntut kemampuan ekstra, apalagi memimpin sekolah
yang berlabel Sekolah Luar Biasa. Dengan demikian dalam paradigma baru
manajemen pendidikan kepala sekolah sedikitnya harus mampu berfungsi sebagai
edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator, dan motivator.
Perspektif kedepan mengisyaratkan seorang kepala sekolah harus mampu berperan
sebagai figur dan mediatorbagi perkembangan masyarakat dan lingkungannya
(Mulyasa : 2006)
a Kepala Sekolah Sebagai Edukator (Pendidik)
Kepala sekolah sebagai edukator harus
memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga
kependidikan disekolahnya, menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan
nasihat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga
kependidika, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. Kepala sekolah
harus berusaha menanamkan, memajukan dan meningkatkan empat pilar yaitu
pembinaan mental, moral, fisik, dan artistik (Mulyasa : 2006). Kepala sekolah
sebagai edukator harus memiliki kemampuan dalam pengorganisasian sekolah antara
lain :
1. Kemampuan membimbing guru terutama dalam
hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan program pembelajaran,
penilaian hasil belajar peserta didik, analisis hasil penilaian belajar dan
layanan bimbingan konseling, serta pegembangan program pengayaan dan perbaikan.
2. Kemempuan membimbing tenaga kependidikan
non guru dalam penyusunan program kerja.
3. Kemampuan membimbing peserta didik.
4. Kemampuan mengembangkan tenaga
kependidikan berkaitan dengan pemberian kesempatan untuk mengikuti pendidikan
dan pelatihan secara teratur, MGMP, KKG, seminar
5. Kemampuan mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni.
6. Kemampuan memberi contoh model
pembelajaran dan bimbingan konseling yang baik.
b Kepala Sekolah Sebagai Manajer
Kepala sekolah
sebagai manajer dengan ketangkasan dan ketrampilan yang dimilikinya
mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk
mencapai tujuan. Manajemen pada hakikatnya merupakan suatu proses merencanakan
mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin, dan mengendalikan usaha para anggota
organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya organisasi dalam
rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Mulyasa : 2006).
Dalam rangka
melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer kepala sekolah harus memiliki strategi
yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama atau
kooperatif, pemberian kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan
profesinya dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam
berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah, dengan tidak mengesampingkan
bahwa kepala sekolah tetap berpedoman pada asas tujuan, asas keunggulan asas
mufakat, kesatuan dan persatuan, asas keakraban dan asas integritas.
c Kepala Sekolah Sebagai Administrator
Kepala sekolah sebagai
administrator memiliki hubungan yang erat dengan berbagai aktifitas pengelolaan
administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh
program sekolah.
Kemampuan
mengelola kurikulum harus diwujudkan dalam penyusunan kelengkapan data
administrasi pembelajaran, penyusunan kelengkapan data administrasi kegiatan
praktikum, dan penyusunan kelengkapan data administrasi kegiatan belajar
peserta didik
Kemampuan
mengelola dalam penyusunan data administrasi peserta didik, penyusunan data administrasi
kegiatan ekstrakurikuler, dan penyusunan kelengkapan data administrasi hubungan
sekolah dengan orang tua peserta didik, kemampuan dalam mengelola admministrasi
sarana dan prasarana.
Kemampuan
mengelola administrasi personalia dalam pengembangan kelengkapan data administrasi tenaga guru, serta
pengembangan kelengkapan data seperti perpustakaan, laporan, pegawai tata usaha, penjaga sekolah maupun
teknisi juga kemampuan seorang kepala sekolah dalam pengembangan data
administrasi surat masuk dan keluar, surat keputusan dan surat edaran
Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Kegiatan utama pendidikan disekolah dalam rangka mewujudkan
tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktifitas organisasi
sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektifitas pembelajaran. Untuk
mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala
kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan
melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara
langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan
dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
Salah satu tugas kepala sekolah adalah supervisor yaitu
mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan (Mulyasa:2006).
Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru
dalam melaksanakan pembelajaran, tingkat penguasaan kompetensi guru yang
bersangkutan–, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut
tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus
mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.
Jones dkk, sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002)
mengemukakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang
cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah
sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah
mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus
betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah sehingga kepala sekolah dapat
memberikan saran dan bimbingan kepada guru.
e Kepala Sekolah Sebagai Leader
Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat
menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan
kompetensi guru. Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya
kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan
yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru,
seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara
tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati
demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang
Budi Wiyono (2000) bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh
kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.
Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian
dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam
sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab;
(4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang
stabil, dan (7) teladan (Mulyasa: 2003).
f.
Kepala Sekolah Sebagai Inovator
Kepala sekolah
dalam melakukan peran dan fungsinya sebaga inovator dituntut memiliki strategi
yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari
gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada
seluruh tenaga kependidikan di sekolah dan mengembangkan model pembelajaran
yang inovatif. Kepala sekolah sebagai inovator akan tercermin dari cara-cara ia
melakukan pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, integratif,
rasional dan obyektif, keteladanan, disiplin, dan fleksibel (Mulyasa:2006)
Dengan demikian
kepala sekolah sebagai inovator harus mampu mencari, menemukan, dan
melaksanakan berbagai pembaharuan disekola
Kepala Sekolah Sebagai Motifator
Peran kepala
sekolah sebagai motivator dalam memberikan motivasi dapat ditumbuhkan melalui
pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin dorongan,
penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar.
Prinsip-prinsip
dalam memotivasi guru dalam meningkatkan profesionalismenya (a) kegiatan yang
dilakukan harus menarik dan menyenangkan; (b) tujuan kegiatan disusun dngan
jelas dan diinformasikan kepada guru sehingga tenaga kependidikan mengetahui
tujuan dan dapat juga dilibatkan dalam penyusunan tujuan; (c) Tenaga
kependidikan harus mengetahui setiap informasitentang hasil dari setiappekerjaan;
(d) Usahakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dengan memperhatikan
kondisi fisik, selalu memperhatikan mereka dan memberikan penghargaan; (e)
pemberian reward lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga
diperlukan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar