Disiplin, arif dan berwibawa
Banyaknya peserta didik yang berperilaku
kurang senonoh misal terlibat narkoba, minuman keras, membolos, berkelahi,
merokok, membuat keributan dikelas dan pelanggaran lain yang berangkat dari pribadi yang kurang
disiplin. Oleh karena itu gurulah yang harus memulainya, sebagai guru dia harus
memiliki pribadi yang disiplin arif, dan berwibawa.
Dalam menanamkan disiplin,
guru bertanggung jawab mengarahkan, berbuat baik, menjadi contoh, sabar, dan
penuh pengertian. Guru harus mampu mendisiplinkan peserta didik dengan kasih
sayang, terutama disiplin diri. Untuk kepentingan tersebut Mulyasa (2007) mengatakan, guru harus mampu melakukan hal-hal
sebagai berikut.
1) Membantu peserta didik mengembangkan pola
perilaku untuk dirinya.
2) Membantu peserta didik meningkatkan
standar perilakunya.
3) Melaksanakan peraturan sebagai alat
penegakan disiplin.
Reisman dan Payne dalam Mulyasa (2007: 124), mengemukakan strategi umum mendisiplinkan
peserta didik sebagai berikut.
1) Konsep diri (self-concept); strategi ini
menekankan bahwa konsep-konsep diri peserta didik merupakan faktor penting dari
setiap perilaku. Untuk menumbuhkan konsep diri, guru disarankan bersikap
empatik, menerima, hangat dan terbuka sehingga peserta didik dapatr
mengekplorasikan pikiran dan perasaanya dalam memecahkan masalah.
2) Ketrampilan berkomunikasi (communication skills); guru harus
memiliki ketrampilan komunikasi yang efektif agar mampu menerima semua
perasaan, dan mendorong timbulnya kepatuhan peserta didik.
3) Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami (natural logical and consequences); perilaku-perilaku yang salah terjadi karena
peserta didik telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhadap dirinya. Hal
ini mendorong perilaku-perilaku yang salah. Untuk itu, guru disarankan: a)
menunjukkan secara tepat perilaku yang salah, sehingga membantu peserta didik
mengatasi perilakuknya, dan b) memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari
perilaku yang salah.
4) Klarifikasi nilai (values clarification);
strategi ini dilakukan untuk membantu peserta didik dalam menjawab
pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya
sendiri.
5) Analisis transaksional (transactional analysis); disarankan agar guru bersikap dewasa,
terutama apabila berhadapan dengan peserta didik yang menghadapi masalah.
6) Terapi realitas (reality therapy); Guru perlu
bersikap positif dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan disekolah, dan
melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran.
7) Disiplin yang terintegrasi (assertive discipline); guru harus mampu menegendalikan, mengembangkan
dan mempertahankan pertauran, tata tertib sekolah, termasuk pemanfaatan papan
tulis untuk menuliskan nama-nama peserta didik yang berilaku menyimpang.
8) Modifikasi perilaku (behavior modification); guru
harus menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, yang dapat memodifikasi
perilaku peseta didik.
9) Tantangan bagi disiplin (dare to discipline); guru harus cekatan, terorganisasi dan tegas
dalam mengendalikan disiplin peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar