A. ANAK BERBAKAT
1.
Konsep Keberbakatan
Konsep keberbakatan meliputi dua hal yaitu:
1.
Mereka yang
secara potensial memiliki kemampuan-kemampuan unggul sehingga diperkirakan
dapat mencapai prestasi tinggi dalam satu atau lebih bidang kehidupan manusia.
2.
Mereka yang
sudah mampu mengaktulisasikan kemampuan-kemampuan unggulya tersebut sehingga
secara nyata mampu menunjukkan prestasi tinggi dalam satu hal atau lebih bidang
kehidupan manusia.
Berdasarkan konsep tersebut anak
berbakat penyandang ketunaan terbagi dalam dua kelompok, yaitu:
1.
Mereka yang
masih bersifat potensial
Pada kelompok ini relative lebih sulit untuk
diidentifikasi, dikarenakan belum ditampakkannya gejala-gejala tertentu yang
dapat dijadikan dasar untuk menduga keberbakatan mereka
2. Mereka yang
sudah mampu mengaktualkan keberbakatannya
Kelompok ini lebih relative mudah untuk
diidentifikasi, karena cirri-ciri keberbakatannya sudah ditampilkan secara
nyata dalam bentuk prestasi tinggi dalam satu atau lebih bidang kehidupan.
tanda-tanda keberbakatan sudah ditampilkan, tinggal ditelusuri lebih jauh
apakah memeuhi criteria minimal sebagai seorang tuna yang berbakat atau tidak. Masalahnya
adalah bagaimana menemukan kedua kelompok tersebut, sehingga mereka dapat
megembangkan keberbakatanya secara optimal.
Dibandingkan
dengan identifikasi keberbakatan pada anak yang tidak tuna, identifikasi pada
anak berbakat penyandang ketunaan cenderung lebih sulit. kesulitan tersebut
karena ada beberapa masalah yang mungkin muncul diantaranya:
1. Ciri-ciri keberbakatan tidak
ditampilkan secara konsisten berdasarkan waktu dan tempat
2. Keberbakatan yang dimiliki masih
bersifat pontensial dan tidak ditampakkan secara nyata dalam perilaku
sehari-hari karena terhambat oleh ketunaan
3. Lingkungan lebih focus dengan
ketunaannya, bahkan beraggapan mustahil mereka memiliki potensi unggul
4. Anak sengaja tidak mau menampakkan
keberbakatannya untuk menghidari tuntutan yang lebih besar dari lingkungan
5. Ketidaksiapan mental anak utuk
diidentifikasi secara formal melalui tes-tes atau tugas-tugas tertentu,
terutama bila dilakukan secara kelompok
6. Kesulitan dalam menjawab atau merespon
pertanyaan-pertanyaan, tugas-tugas, atau item-item yang diberikan
7. Keterbatasan pengetahuan dan
keterampilan guru anak tuna dalam mengidentifikasi keberbakatan siswannya
8. Terbatasnya instrumen-instrumen tes
standar yang sesuai dengan karakteristik anak
9. Kecendrungan lingkungan untuk
meremehkan prestasi anak tuna, kecuali melebihi prestasi anak normal pada
umumya
10. Keterbatasan
keterampilan dan pengetahuan ahli dalam identifikasi keberbakatan anak tuna.
sering menggunakan criteria minimal yag sama dengan anak normal tanpa
mempertimbangkan ketunaannya.
11. Keterbatasan informasi yang digunakan
untuk evaluasi keberbakatan anak.
Sehubungan
dengan adanya masalah-masalah yang mungkin ditemukan tersebut, dalam
identifikasi keberbakatan terhadap anak tuna perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:

a. Identifikasi hendaknya dilakukan dengan
pendekatan jamak. Pelaksanaan
identifikasi anak berbakat penyadang ketunaan hendaknya tidak terbatas pada
pendekatan melalui penggunan tes-tes psikologi yang sudah distandarisasi,
tetapi harus dilakukan pula dengan pendekatan lain. pendakatan lain tersebut
ialah pendekatan tanpa tes, seperti observasi dan yang lainnya. dengan demikian
data yang diperoleh dapat mengambarkan keadaan yang sesungguhya. Pada umumnya
tidak semua jenis tes psikologi yang bisa digunakan identifikasi keberbakatan
pada anak normal, cocok diterapakan untuk anak yang tuna. Dalam melaksanakan
idetifikasi keberbakatan para penyandang ketunaan, tes-tes psikologi mana yang
digunakan harus dipilih atau disesuaikan dengan kondisi anak tersebut. Misalnya
untuk identifikasi keberbakatan itelektual anak tunarungu, harus dipilih jenis
tes yang istruksinya sedikit menggunakan bahasa dan tidak menuntut
jawaban-jawaban verbal dari anak, sehingga akan lebih tepat kalau digunakan tes
yang menuntut jawaban secara visual atau kinestetik.
Dalam evaluasi tes seyogyanya digunakan
criteria yang relative berbeda dengan criteria yang dipakai pada anak biasa.
Disamping itu juga perlu mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan
kemampuan anak dalam merespon atau menjawab item tes yang diberikan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah
perlunya modifikasi terhadap item-item atau petunjuk-petunjuk tes sesuai dengan
kondisi atau ketunaan anak. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan pasti tentang
keberbakatan anak penyandang ketunaan, pengukuran terhadap aspek kemampuan
tertentu hendaknya dilakukan dengan berbagai macam tes yang sejenis. misalnya,
untuk mengukur keberbakatan intelektual anak perlu digunakan dua atau lebih tes
intelegensi yang sesuai dengan kondisi ketunaannya.
b. Keberbakatan tidak identik dengan
inteligensi tinggi
Iteligensi
tinggi merupakan salah satu faktor atau ciri keberbakatan. Disamping
inteligensi, masih ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, misalnya
kreativitas dan sebagainya. Dalam identifikasi keberbakatan hendaknya
mencangkup seluruh faktor yang dipersyaratkan dan tidak mengguakan inteligensi
sebagai criteria unggul.
a.
Prestasi
akademik tinggi tidak menjamin keberbakatan
Sekalipun
terdapat hubungan yang signifikan antara prestasi akademik dengan inteligensi,
namun inteligensi tinggi tidak selalu mencapai prestasi akademik yang tiggi.
banyak yang ditemukan orang yang berinteligesi normal berprestasi akademik tinggi,
karena mereka mampu mengfungsikan kemampuan inteligensinya secara optimal.
tetapi tidak sedikit orang yang memili inteligensi tinggi, karena berbagai
faktor menunujukkan prestasi akademik yang rendah.
Pada anak berbakat penyadang ketuaan,
karena pengaruh ketunaannya cenderug berprestasi akademik, ketunaan dapat
menghambat atau menghalagi seseorag untuk mencapai prestasi tinggi. jadi
sekalipun ditinjau dari sisi akademiknya yang rendah, tidak menutup kemungkinan
bahwa secara potensial mereka termasuk kedalam kualifikasi berbakat. sedangkan
mereka yang secara nyata mampu menunjukkan prestasi akademik tiggi, belum tentu
termasuk kualifikasi berbakat. Hasil penelitian Sunaryo Kartadinata, dkk (1993)
dari 66 siswa sekolah dasar yang berprestasi tiggi (unggulan kelas), hanya
terdapat tiga yag dapat digolongkan kedalam anak berbakat.
b.
Keberbakatan
mencangkup sifatnya yang potensial
Dalam
kasus anak berbakat peyandang ketunaan, diduga kuat banyak diantara mereka yang
secara potensial memiliki potensi unggul tetapi karena berbagai sebab
menjadikan keberbakatannya tidak teraktulisasikan. Menemukan anak berbakat
penyandang ketuaan yang sifatnya potensial sekalipun relative sulit, tetapi
memiliki arti yang sangat peting, tidak hanya utuk merancang program pendidikan
yang sesuai dengan keberbakatan yang dimilikiya, tetapi juga untuk menigkatkan
harkat dan martabat mereka.
c.
Harapan yang
rendah dari ligkungan
Hal
ini sering kali menimbulkan kesalahan dalam memahami keberbakatan. Lingkungan,
terutamanya guru pendidikan luar biasa sering kali beranggapan salah. Mereka
lebih memfokuskan pada ketunaannya, ketidakmampuannya dan keterbatasannya, dan
bukan pada kekuatan atau kelebihannya. Mereka juga memandang bahwa anak-anak
yang mengalami kesulitan dan kegagalan dari keberhasilan, karena itu tidak
mungkin ditemukan sesuatu kemampuan yang luar biasa dari diri mereka.
Akibat semua
itu mereka menaruh harapan terhadap anak tuna, termasuk yang berbakat. Kondisi
ini tentu tidak merangsang aktualisasi keberbaktan anak tuna dan menjadikan
keberbakatan mereka tidak teridentifikasi secara dini.
d.
Terbatasnya bidang aktulisasi keberbakatan
Berbeda
dengan anak berbakat pada umumnya bidang aktualisai keberbakatan anak berbakat
penyandang ketunaan sangat terbatas. Ketuanaan disamping dapat menghambat
aktualisasi keberbakatan, juga membatasi aktualisasi keberbakatan mereka.
Karena itu diduga kuat bahwa anak berbakat penyandang ketunaan cenderung
menunjukkan aktulisasi keberbakatan dalam bidang yang tertentu pula. Misalya
untuk anak berbakat penyadang tunanetra cenderugn pada bidang music dan
kemampuan verbal, sedangkan berbakat tunarunggu pada bidang motorik dan
mekanik. karena itu dalam menelusuri keberbakatan anak penyandang ketunaan
perlu lebih memfokuskan pada bidang-bidang tertentu sesuai dengan ketunaan
masing-masing.
Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan dalam identifikasi keberbakatan pada penyandang
ketunaan hal utama yang penting untuk diperhatikan adalah:
·
Pemahaman
tentang konsep keberbakatan dan kecederungan-kecenderuangan yang terjadi pada
anak penyandang ketunaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar