KOTAK OPINI

Kamis, 17 Januari 2013

IDENTIFIKASI DAN ASESMEN ANAK TUNANETRA



A.  TUNA NETRA
Kata tunanetra berasal dari kata tuna yang berarti rusak, luka, kurang sedangkan netra berarti mata. Sehingga, tunanetra berarti rusak matanya. Menurut Frans. Harsana Sasraningrat (1981:169), tunanetra adalah suatu kondisi dari dria penglihatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi itu disebabkan karena kerusakan pada bola mata, syaraf optik, dan atau bagian otak yang mengolah stimulus visual. Menurut A Zahl (1962:15) dalam bukunya Blindness. Seseorang dikatakan buta apabila memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada mata lebih baik setelah dikoreksi dengan tepat, atau keterbatasan dalam bidang penglihatan sedemikian rupa sehingga diameter dari bidang penglihatan yang paling lebar membentuk sudut tidak lebih dari 20 derajat. Tunanetra adalah kondisi dria penglihatan  yang karena sesuatu hal mengalami luka/kerusakan baik struktural dan atau fungsional, sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
            Identifikasi adalah kegiatan menentukan atau menetapkan identitas (ciri-ciri atau keadaan khusus) seseorang atau benda. (Depdikbud, 1990: 319). Jadi identifikasi anak tunanetra berarti menemukan atau menetapkan ciri-ciri atau keadaan khusus dari seseorang anak, apakah yang bersangkutan mempunyai gangguan penglihatan dan atau menyandang tunanetra atau tidak.
            Secara sederhana ada beberapa aspek informasi yang perlu mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan identifikasi. Alat identifikasi dalam rangka menemukenali anak yang memerlukan layanan pendidikan khusus yaitu:
1.         Informasi riwayat perkembangan anak
            Informasi ini penting sebab dengan mengetahui latar belakang perkembangan anak, mungkin kita dapat menemukan sumber penyebab problema belajar. Informasi mengenai perkembangan anak sangat penting bagi guru untuk mempertimbangkan kebijakan program pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Informasi perkembangan anak biasanya mencakup identitas anak, riwayat masa kehamilan dan kelahiran, perkembangan masa balita, perkembangan fisik, perkembangan sosial, dan perkembangan pendidikan. Riwayat masa kehamilan dan kelahiran meliputi perkembangan masa kehamilan, penyakit yang diderita ibu, usia di dalam kandungan, proses kelahiran, tempat kelahiran, penolong persalinan, gangguan pada saat proses kelahiran, berat badan bayi, panjang badan bayi, dan tanda-tanda kelainan pada bayi.
            Perkembangan masa balita sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai lama menyusu ibunya, usia akhir minum susu kaleng, kegiatan imunisasi, penimbangan, kualitas dan kuantitas makanan pada masa balita, kesulitan makan yang dialami, dan sebagainya. Perkembangan fisik diperlukan terutama data mengenai kapan anak mulai dapat merangkak, berdiri, berjalan, naik sepeda roda tiga, naik sepeda roda dua, berbicara dengan kalimat lengkap, kesulitan gerakan yang dialami, status gizi balita, dan riwayat kesehatan.
Perkembangan sosial terutama berkaitan dengan hubungan dengan saudara, hubungan dengan teman, hubungan dengan orang tua dan guru, hobi anak, dan minat khusus.
2.      Data orang tua/wali siswa
            Selain data mengenai anak, tidak kalah pentingnya adalah informasi mengenai keadaan orang tua/wali siswa yang bersangkutan. Lingkungan keluarga dapat meliputi pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, status sosial ekonomi, sikap dan penerimaan orang tua terhadap anak, serta pola asuh yang diterapkan keluarga terhadap anak.
            Data orang tua/wali siswa sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai identitas orang tua/wali, hubungan orang tua-anak, data sosial ekonomi orang tua, serta tanggungan dan tanggapan orang tua/ keluarga terhadap anak. Identitas orang tua harus lengkap, tidak hanya identitas ayah melainkan juga identitas ibu, misalnya umur, agama, status, pendidikan, pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan, dan tempat tinggal.
            Hubungan orang tua-anak menggambarkan sejauh mana intensitas komunikasi antara orang tua dan anak. Misalnya apakah kedua orang tua satu rumah atau tidak, demikian juga dengan anak. Apakah diasuh salah satu orang tua, pembantu, atau keluarga lain. Semua kondisi tersebut mempunyai pengaruh terhadap anak.
            Mengenai data keadaan sosial ekonomi diperlukan agar sekolah dapat memperhitungkan kemampuan orang tua dalam pendidikan anaknya. Data sosial ekonomi dapat mencakup informasi mengenai jabatan formal maupun non formal ayah dan ibu, serta besarnya penghasilan rata-rata per bulan.
Sedangkan mengenai tanggapan orang tua yang perlu diungkapkan antara lain persepsi orang tua terhadap anak, kesulitan yang dirasakan orang tua terhadap anak yang bersangkutan, harapan orang tua dan bantuan yang diharapkan orang tua untuk anak yang bersangkutan.
3.      Informasi mengenai profil kelainan anak
            Informasi mengenai gangguan/kelainan anak sangat penting, sebab dari beberapa penelitian terbukti bahwa anak-anak yang prestasi belajarnya rendah cenderung memiliki gangguan/kelainan penyerta. Survei terhadap 696 siswa SD dari empat provinsi di Indonesia yang rata-rata nilai rapornya kurang dari 6,0 (enam, nol), ditemukan bahwa 71,8% mengalami disgrafia, 66,8% disleksia, 62,2% diskalkulia, juga 33% mengalami gangguan emosi dan perilaku, 31% gangguan komunikasi, 7,9% cacat / kelainan anggota tubuh, 6,6% gangguan gizi dan kesehatan, 6% gangguan penglihatan, dan 2% gangguan pendengaran (Balitbang, 1996).
            Tanda-tanda kelainan atau gangguan khusus pada siswa (jika ada) perlu diketahui guru. Kadang-kadang adanya kelainan khusus pada diri anak, secara langsung atau tidak langsung, dapat menjadi salah satu faktor timbulnya problema belajar. Tentu saja hal ini sangat bergantung pada berat ringannya kelainan yang dialami serta sikap penerimaan anak terhadap kondisi tersebut.

1.             TINDAK LANJUT KEGIATAN IDENTIFIKASI
            Sebagai tindak lanjut dari kegiatan identifikasi anak berkelainan untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai, maka dilakukan tindak lanjut sebagai berikut:
1.      Perencanaan pembelajaran dan pengorganisasian siswa
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.       Menetapkan bidang-bidang atau aspek problema belajar yang akan ditangani: Apakah seluruh mata pelajaran, sebagian mata pelajaran, atau hanya bagian tertentu dari suatu mata pelajaran.
b.      Menetapkan pendekatan pembelajaran yang akan dipilih termasuk rencana pengorganisasian siswa, apakah bentuknya berupa pelajaran remedial, penambahan latihan-latihan di dalam kelas atau luar kelas, pendekatan kooperatif, atau kompetitif, dan lain- lain.
c.       Menyusun program pembelajaran individual.

2.         Pelaksanaan pembelajaran
            Pada tahap ini guru melaksanakan program pembelajaran serta pengorganisasian siswa berkelainan dalam kelas reguler sesuai dengan rancangan yang telah disusun dan ditetapkan pada tahap sebelumnya. Sudah tentu pelaksanaan pembelajaran harus senantiasa disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan anak, tidak dapat dipaksakan sesuai dengan target yang akan dicapai oleh guru. Program tersebut bersifat fleksibel.

3.      Pemantauan kemajuan belajar dan evaluasi
            Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar anak, perlu dilakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kemajuan dan/atau bahkan kemunduran belajar anak. Jika anak mengalami kemajuan dalam pendekatan yang dipilih guru perlu terus dimantapkan, tetapi jika tidak terdapat kemajuan, perlu diadakan peninjauan kembali, baik mengenai isi dan pendekatan program, maupun motivasi anak yang bersangkutan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya semua problema anak, secara bertahap dapat diperbaiki sehingga anak terhindar dari kemungkinan tidak naik kelas atau anak putus sekolah.
            Secara umum tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan penyimpangan dalam perkembangannya dibandingkan anak-anak lain seusianya, yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program pembelajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.
Identifikasi anak yang mengalami gangguan penglihatan:
  1. Tidak mampu melihat,
  2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,
  3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
  4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
  5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
  6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
  7. Mata bergoyang terus.
            Nilai standarnya adalah 6, artinya bila anak mengalami minimal 6 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.
Contoh Hasil Identifikasi
I.             Identitas Anak
                Nama     lengkap                  :
Tempat, tanggal lahir         :
Umur                                      :
Agama                                                  
Anak Ke                                                :
Jenis kelamin                        :
Alamat rumah                     :
Sekolah                                 :
Kelas                                      :
Tipe gangguan                     : low vision
Jarak baca                            : 15 cm

II.            Riwayat Kehamilan
1.      Kondisi kehamilan Ibu             :tidak ada gangguan, rutin melakukan pemeriksaan kehamilan
2.      Nutrisi saat kehamilan              : asupan gizi tercukupi
3.      Sakit yang diderita                     : influenza dan panas
4.      Kecelakaan saat hamil             : tidak mengalami kecelakaan

III.          Riwayat kelahiran
1.      Usia kehamilan                          : 8 bulan (premature)
2.      Berat saat lahir                           : 17,5 ons
3.      Panjang                                        : 46 cm
4.      Proses kelahiran                         : normal
5.      Dibantu oleh                               : dokter
6.      Tempat kelahiran                      : rumah sakit
7.      Peralatan bantuan                     : didalam inkubator 2 bulan
IV.          Riwayat Penyakit Anak
1.      Anak menderita lemah jantung.
2.      Selama masa balita anak sakit demam, flu yang biasa diderita anak-anak.
V.            Riwayat Perkembangan Penglihatan Anak
Usia 3 bulan anak tidak merespon ketika diajak bermain dengan mainan yang digerakkan.
VI.          Silsilah Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang mengalami kelainan penglihatan
VII.         Hasil pemeriksaan dengan media snellen chart
1.               Menggunakan mata anak tanpa bantuan   
a.                      Mata kanan                    : 2/30
b.                     Mata kiri                           : 3/60
c.                      Kedua mata                    : 4/60
2.               Menggunakan pin hole
a.                      Mata kanan                    : 6/20
b.                     Mata kiri                           : 6/20

VIII.       Kelainan yang dialami anak
1.      Jenis                                      : Low vision sedang
2.      Kondisi mata                      : Bola mata bersih seperti mata normal
                                                  Bola mata sering bergerak
3.      Dugaan                                : Anak mengalami kelainan refraksi, juling dan diperkirakan kelainan retinopati


2.             Pengertian Assesmen Anak Tuna Netra
Assesmen adalah Proses  sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.  Assessment adalah suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran terhadap anak tunanetra

3.             Tujuan Asesment
Asesmen yang dilakukan setelah deteksi
·         Untuk menyaring kemampuan anak tunanetra.
 Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan anak dalam setiap aspek sehingga guru bisa menentukan bagaimana pengajaran yang akan diberikan terhadap anak tersebut.
·         Untuk keperluan pengklasifikasian, penempatan, dan penentuan program pendidikan anak tunanetra
·         Untuk menentukan arah dan kebutuhan pendidikan anak tunanetra. Arah/ tujuan pendidikan anak tunanetra pada dasarnya sama dengan arah/tujuan pendidikan pada umumnya. Hanya saja, mengingat kemampuan anak tunanetra yang terbatas, maka perlu dirumuskan tujuan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik.
·         Untuk mengembangkan program pendidikan yang diindividualisasikan atau IEP (Individualized Educational Program). Dengan data yang diperoleh sebagai hasil asesmen dapatlah diketahui kemampuan dan ketidakmampuan anak tunanetra.
·         Untuk mengembangkan strategi, lingkungan belajar, dan evaluasi pengajaran.

Contoh Assesmen Tuna Netra
Gejala Yang Diamati
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
dst
1. Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
a
Kurang melihat (Kabur) tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter










b
Kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya










c
Tidak dapat menulis mengikuti garis lurus










d
Sering meraba dan tersandung waktu berjalan










e
Bagian bola mata yang hitam bewarna keruh/ bersisik/kering










f
Tidak mampu melihat










g
Mata bergoyang terus










h
Peradangan hebat pada kedua bola mata










i
Kerusakan nyata pada kedua bola mata











NILAI STANDAR: 4














Tidak ada komentar:

Posting Komentar