A. TUNA NETRA
Kata tunanetra berasal dari kata tuna yang berarti rusak, luka, kurang
sedangkan netra berarti mata.
Sehingga, tunanetra berarti rusak matanya. Menurut Frans. Harsana Sasraningrat
(1981:169), tunanetra adalah suatu kondisi dari dria penglihatan yang tidak
berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi itu disebabkan karena kerusakan pada
bola mata, syaraf optik, dan atau bagian otak yang mengolah stimulus visual.
Menurut A Zahl (1962:15) dalam bukunya Blindness.
Seseorang dikatakan buta apabila memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau
kurang pada mata lebih baik setelah dikoreksi dengan tepat, atau keterbatasan
dalam bidang penglihatan sedemikian rupa sehingga diameter dari bidang
penglihatan yang paling lebar membentuk sudut tidak lebih dari 20 derajat. Tunanetra
adalah kondisi dria penglihatan yang
karena sesuatu hal mengalami luka/kerusakan baik struktural dan atau
fungsional, sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Identifikasi
adalah kegiatan menentukan atau menetapkan identitas (ciri-ciri atau keadaan
khusus) seseorang atau benda. (Depdikbud, 1990: 319). Jadi identifikasi anak
tunanetra berarti menemukan atau menetapkan ciri-ciri atau keadaan khusus dari
seseorang anak, apakah yang bersangkutan mempunyai gangguan penglihatan dan
atau menyandang tunanetra atau tidak.
Secara sederhana ada beberapa aspek
informasi yang perlu mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan identifikasi. Alat
identifikasi dalam rangka menemukenali anak yang memerlukan layanan pendidikan
khusus yaitu:
1.
Informasi riwayat perkembangan anak
Informasi ini penting sebab dengan mengetahui latar belakang
perkembangan anak, mungkin kita dapat menemukan sumber penyebab problema belajar. Informasi mengenai perkembangan anak sangat penting bagi
guru untuk mempertimbangkan kebijakan program pembelajaran yang akan diberikan
kepada anak. Informasi perkembangan anak biasanya mencakup identitas anak,
riwayat masa kehamilan dan kelahiran, perkembangan masa balita, perkembangan
fisik, perkembangan sosial, dan perkembangan pendidikan. Riwayat masa kehamilan
dan kelahiran meliputi perkembangan masa kehamilan, penyakit yang diderita ibu,
usia di dalam kandungan, proses kelahiran, tempat kelahiran, penolong
persalinan, gangguan pada saat proses kelahiran, berat badan bayi, panjang
badan bayi, dan tanda-tanda kelainan pada bayi.
Perkembangan masa balita
sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai lama menyusu ibunya, usia akhir
minum susu kaleng, kegiatan imunisasi, penimbangan, kualitas dan kuantitas
makanan pada masa balita, kesulitan makan yang dialami, dan sebagainya. Perkembangan
fisik diperlukan terutama data mengenai kapan anak mulai dapat merangkak,
berdiri, berjalan, naik sepeda roda tiga, naik sepeda roda dua, berbicara dengan kalimat lengkap, kesulitan gerakan
yang dialami, status gizi balita, dan riwayat kesehatan.
Perkembangan
sosial terutama berkaitan dengan hubungan dengan saudara, hubungan
dengan teman, hubungan
dengan orang tua dan guru, hobi anak, dan
minat khusus.
2. Data orang
tua/wali siswa
Selain data mengenai anak, tidak
kalah pentingnya adalah informasi mengenai keadaan orang tua/wali siswa yang
bersangkutan. Lingkungan keluarga dapat meliputi pendidikan orang tua,
pekerjaan orang tua, status sosial ekonomi, sikap dan penerimaan orang tua
terhadap anak, serta pola asuh yang diterapkan keluarga terhadap anak.
Data orang tua/wali siswa
sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai identitas orang tua/wali, hubungan orang tua-anak, data sosial ekonomi
orang tua, serta tanggungan dan tanggapan orang tua/ keluarga terhadap anak.
Identitas orang tua harus lengkap, tidak hanya identitas ayah melainkan juga
identitas ibu, misalnya umur, agama, status, pendidikan, pekerjaan pokok,
pekerjaan sampingan, dan tempat tinggal.
Hubungan orang tua-anak menggambarkan sejauh
mana intensitas komunikasi antara orang tua dan anak. Misalnya apakah kedua orang tua satu
rumah atau tidak, demikian juga dengan anak. Apakah diasuh salah satu orang tua, pembantu, atau
keluarga lain. Semua kondisi tersebut mempunyai pengaruh terhadap anak.
Mengenai data keadaan sosial ekonomi
diperlukan agar sekolah dapat memperhitungkan kemampuan orang tua dalam pendidikan anaknya.
Data sosial ekonomi dapat mencakup informasi mengenai jabatan formal maupun non
formal ayah dan ibu, serta besarnya penghasilan rata-rata per bulan.
Sedangkan
mengenai tanggapan orang tua yang perlu diungkapkan antara lain persepsi orang tua terhadap
anak, kesulitan yang dirasakan orang tua terhadap anak yang bersangkutan,
harapan orang tua dan bantuan yang diharapkan orang tua untuk anak yang
bersangkutan.
3.
Informasi
mengenai profil kelainan anak
Informasi mengenai gangguan/kelainan
anak sangat penting, sebab dari beberapa penelitian terbukti bahwa anak-anak
yang prestasi belajarnya rendah cenderung memiliki gangguan/kelainan penyerta.
Survei terhadap 696 siswa SD dari empat provinsi di Indonesia yang rata-rata
nilai rapornya kurang dari 6,0 (enam, nol), ditemukan bahwa 71,8% mengalami
disgrafia, 66,8% disleksia, 62,2% diskalkulia, juga 33% mengalami gangguan
emosi dan perilaku, 31% gangguan komunikasi, 7,9% cacat / kelainan anggota
tubuh, 6,6% gangguan gizi dan kesehatan, 6% gangguan penglihatan, dan 2%
gangguan pendengaran (Balitbang, 1996).
Tanda-tanda kelainan atau gangguan
khusus pada siswa (jika ada) perlu diketahui guru. Kadang-kadang adanya
kelainan khusus pada diri anak, secara langsung atau tidak langsung, dapat
menjadi salah satu faktor timbulnya problema belajar. Tentu saja hal ini sangat bergantung
pada berat ringannya kelainan yang dialami serta sikap penerimaan anak terhadap
kondisi tersebut.
1.
TINDAK LANJUT
KEGIATAN IDENTIFIKASI
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan
identifikasi anak berkelainan untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang
sesuai, maka dilakukan tindak lanjut sebagai berikut:
1. Perencanaan
pembelajaran dan pengorganisasian siswa
Pada
tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.
Menetapkan bidang-bidang atau aspek
problema belajar yang
akan ditangani: Apakah seluruh mata pelajaran, sebagian mata pelajaran, atau
hanya bagian tertentu dari suatu mata pelajaran.
b.
Menetapkan pendekatan pembelajaran
yang akan dipilih termasuk rencana pengorganisasian siswa, apakah bentuknya
berupa pelajaran remedial, penambahan latihan-latihan di dalam kelas atau luar
kelas, pendekatan kooperatif, atau kompetitif, dan lain- lain.
c.
Menyusun program pembelajaran
individual.
2.
Pelaksanaan pembelajaran
Pada tahap ini guru melaksanakan
program pembelajaran serta pengorganisasian siswa berkelainan dalam kelas
reguler sesuai dengan rancangan
yang telah disusun dan ditetapkan pada tahap sebelumnya. Sudah tentu
pelaksanaan pembelajaran harus senantiasa disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan anak, tidak dapat dipaksakan sesuai dengan target yang akan dicapai oleh guru.
Program tersebut bersifat fleksibel.
3. Pemantauan
kemajuan belajar dan evaluasi
Untuk mengetahui keberhasilan guru
dalam membantu mengatasi kesulitan belajar anak, perlu dilakukan pemantauan
secara terus menerus terhadap kemajuan dan/atau bahkan kemunduran belajar anak. Jika anak mengalami kemajuan
dalam pendekatan yang dipilih guru perlu
terus dimantapkan, tetapi jika tidak terdapat kemajuan, perlu diadakan
peninjauan kembali, baik mengenai isi dan pendekatan program, maupun motivasi anak yang
bersangkutan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya
semua problema anak, secara bertahap dapat
diperbaiki sehingga anak terhindar dari kemungkinan tidak naik kelas atau anak putus
sekolah.
Secara
umum tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak
mengalami kelainan penyimpangan dalam perkembangannya dibandingkan anak-anak
lain seusianya, yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program
pembelajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.
Identifikasi anak yang mengalami
gangguan penglihatan:
- Tidak mampu melihat,
- Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,
- Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
- Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
- Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
- Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
- Mata bergoyang terus.
Nilai
standarnya adalah 6, artinya bila anak mengalami minimal 6 gejala di atas, maka
anak termasuk tunanetra.
Contoh Hasil Identifikasi
I. Identitas Anak
Nama lengkap :
Tempat, tanggal lahir :
Umur :
Agama
Anak Ke :
Jenis kelamin :
Alamat rumah :
Sekolah :
Kelas :
Tipe gangguan :
low vision
Jarak baca :
15 cm
II. Riwayat Kehamilan
1.
Kondisi kehamilan Ibu :tidak
ada gangguan, rutin melakukan pemeriksaan kehamilan
2.
Nutrisi saat kehamilan :
asupan gizi tercukupi
3.
Sakit yang diderita :
influenza dan panas
4.
Kecelakaan saat hamil : tidak
mengalami kecelakaan
III. Riwayat kelahiran
1.
Usia kehamilan :
8 bulan (premature)
2.
Berat saat lahir :
17,5 ons
3.
Panjang :
46 cm
4.
Proses kelahiran :
normal
5.
Dibantu oleh :
dokter
6.
Tempat kelahiran :
rumah sakit
7.
Peralatan bantuan : didalam
inkubator 2 bulan
IV. Riwayat Penyakit Anak
1.
Anak menderita lemah jantung.
2.
Selama masa balita anak sakit demam, flu yang biasa diderita anak-anak.
V. Riwayat Perkembangan
Penglihatan Anak
Usia 3 bulan
anak tidak merespon ketika diajak bermain dengan mainan yang digerakkan.
VI. Silsilah Penyakit
Keluarga
Tidak ada keluarga yang mengalami kelainan penglihatan
VII. Hasil pemeriksaan dengan
media snellen chart
1.
Menggunakan mata anak tanpa bantuan
a.
Mata kanan : 2/30
b.
Mata kiri : 3/60
c.
Kedua mata : 4/60
2.
Menggunakan pin hole
a.
Mata kanan : 6/20
b.
Mata kiri : 6/20
VIII. Kelainan yang dialami anak
1.
Jenis :
Low vision sedang
2.
Kondisi mata : Bola
mata bersih seperti mata normal
Bola mata
sering bergerak
3.
Dugaan : Anak mengalami
kelainan refraksi, juling dan diperkirakan kelainan retinopati
2.
Pengertian
Assesmen Anak Tuna Netra
Assesmen adalah
Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang
anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi
seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya
dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program
pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif. Assessment
adalah suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui
kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk
layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu
rancangan pembelajaran terhadap anak tunanetra
3.
Tujuan
Asesment
·
Untuk
menyaring kemampuan anak tunanetra.
Hal
ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan anak dalam setiap aspek
sehingga guru bisa menentukan bagaimana pengajaran yang akan diberikan terhadap
anak tersebut.
·
Untuk
keperluan pengklasifikasian, penempatan, dan penentuan program pendidikan anak
tunanetra
·
Untuk
menentukan arah dan kebutuhan pendidikan anak tunanetra.
Arah/ tujuan pendidikan anak tunanetra pada dasarnya sama
dengan arah/tujuan pendidikan pada umumnya. Hanya saja, mengingat
kemampuan anak tunanetra yang terbatas, maka perlu dirumuskan tujuan khusus
yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh
masing-masing peserta didik.
·
Untuk
mengembangkan program pendidikan yang diindividualisasikan atau IEP
(Individualized Educational Program). Dengan data yang diperoleh sebagai hasil
asesmen dapatlah diketahui kemampuan dan ketidakmampuan anak tunanetra.
Contoh Assesmen Tuna Netra
Gejala
Yang Diamati
|
NAMA
SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
|
||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
dst
|
||
1. Gangguan Penglihatan
(Tunanetra)
|
|||||||||||
a
|
Kurang melihat (Kabur) tidak mampu
mengenali orang pada jarak 6 meter
|
||||||||||
b
|
Kesulitan mengambil benda kecil di
dekatnya
|
||||||||||
c
|
Tidak dapat menulis mengikuti
garis lurus
|
||||||||||
d
|
Sering meraba dan tersandung waktu
berjalan
|
||||||||||
e
|
Bagian bola mata yang hitam
bewarna keruh/ bersisik/kering
|
||||||||||
f
|
Tidak mampu melihat
|
||||||||||
g
|
Mata bergoyang terus
|
||||||||||
h
|
Peradangan hebat pada kedua bola
mata
|
||||||||||
i
|
Kerusakan nyata pada kedua bola
mata
|
||||||||||
NILAI STANDAR: 4
|
|||||||||||

Tidak ada komentar:
Posting Komentar