KOTAK OPINI

Kamis, 17 Januari 2013

IDENTIFIKASI DAN ASESMEN ANAK AUTIS



A.  ANAK AUTIS

1.             Identifikasi Anak Autis
            Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi social, kognisi, dan aktifitas imajinasi, gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Sedangkan pada autisme infatil gejalanya mulai lahir

Istilah indentifikasi dimaknai sebagai proses penjaringan, sedangkan asesmen dimaknai sebagai penyaringan. Identifikasi anak dimaksudkan sebagai suatu upaya seseorang (orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk melakukan proses penjaringan terhadap anak yang mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, intelektual, social, emosional/tingkah laku) dalam rangka pemberian layanan pendidikan yang sesuai.
Salah satu cara untuk mengidentifikasi anak autisme adalah dengan melihat gejala yang muncul, sesuai dengan kriteria DSM IV (diagnosical Manual).
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik
  • Tidak mampu menjalani interaksi social yang cukup memadai
  • Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
  • Tidak empati
  • Kurang mampu mengadakan hubungan social dan emosional yang timbal balik
2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi
  • Perkembangan terhambat atau sama sekali tidak berkembang
  • Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi
  • Sering menggunakan bahasa aneh yang diulang-ulang
  • Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang dapat meniru
3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan
  • Mempertahankan suatu minat atau lebih dengan cara yang khas dan berlebihan.
  • Terpaku pada suatu kegiatan dan rutinitas yang tidak ada gunanya.
  • Ada gerakan-gerakan aneh yang yang tidak ada gunanya.
  • Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

ALAT IDENTIFIKASI ANAK AUTIS

Nama Sekolah         :
Kelas                                       :
Diisi tanggal                        :
Nama GPK                 :
Guru Kelas                              :

Gejala Yang Diamati
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Dst

1.
Anak Autis

















a
Kesulitan mengenal dan merespon dengan emosi dan isyarat sosial

















b
Tidak bisa menunjukkan perbedaan ekspresi muka secara jelas

















c
Kurang memiliki perasaan dan empati

















d
 ekspresi emosi yang kaku

















e
Sering menunjukkan perilaku dan meledak-ledaK

















f
Menunjukkan perilaku yang bersifat stereotip 

















g
Sulit untuk diajak berkomunikasi secara verbal

















h
Cevderung menyendiri

















i
Sering mengabaikan situasi disekelilingnya




































2.             Asesmen Anak Autis
            Asesmen merupakan suatu kegiatan untuk melakukan pengamatan, analisis tugas, pemberian tes untuk menafsirkan, mendeskripsikan tentang karakteristik seseorang, guna pengambilan keputusan tentang pelayanan bagi individu yang bersangkutan. Asesmen ini dimaksudkan untuk memahami keunggulan dan hambatan belajar siswa dan diharapkan program yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Manfaat Asesmen antara lain :
  1. Untuk mengetahui mengenai identitas anak autisme secara lengkap dan terinci.
  2. Untuk mengetahui tingkat kemampuan dan kebutuhan anak autism.
  3. Pedoman untuk mengklasifikasikan dan menyusun program-program kegiatan anak autism.
  4. Pedoman untuk penyusunan program dan strategi pembelajaran.

Berikut ini beberapa tes yang dapat digunakan bagi anak autis :
  1. Tes CPM (the coloured progressive matrices) Tes ini khusus dipergunakan untuk mengetes anak berumur 5.5 – 11.0 tahun atau orang dewasa yang diperkirakan mengalami kelainan mental. Tes CPM ini terdiri atas 3 seri yaitu seri A, seri AB, dan seri B. tiap-tiap seri terdiri atas 12 soal. Tes ini berwarna dan dipergunakan untuk mengetes anak kecil dan anak-anak luar biasa/berkelainan. Bagi anak, tes ini dapat diungkap melalui:
-                    Pengertian akan bentuk
-                    Pengertian akan warna
-                    Asosiasi
-                    Ketelitian
-                    Mencari kelainan anak
            Penilaian dan pemberian sama dengan tes CPM. Perbedaannya tes ini diberikan secara individual bukan secara klasikal. Penggunaan tes ini tidak hanya sekali saja diberikan. Apabila di dalam penafsiran sementara tidak cocok, untuk memantapkan harus diadakan re-tes dengan jarak waktu. Sebab mungkin anak belum dapat menyesuaikan diri. Mungkin bahasa tester terlalu sukar bagi anak atau mungkin suasana ruang tes kurang baik.
Syarat-syarat cara memberi tes CPM :
·         Pergunakan bahasa yang sederhana dan cukup dimengerti anak, sesuaikan bahasa itu dengan bahasa anak.
·         Jika tes secara klasikal buku soal jangan dibagikan dulu sebelum keterangan tester selesai di depan kelas. Formulir dibagikan terlebih dahulu.
·         Suasana dibuat supaya tidak menakutukan bagi testee.
·         Perlakukan testee sebagai orang yang tidak kita selidiki.
·         Beritahukan apa maksud pemeberian tes itu (saya ingin tau bakat apa saja yang ada dlam diri anda).

2.      Tes WISC(Wechsler intelligence scale for children)
      Tes ini diciptakan oleh Dr. Wechsler. Tes ini terdiri dari 2 macam yaitu Wechsler  intelligence scale for children (WISC) dan Wechsler adult intelligence scale (WAIS). WISC digunakan untuk mengetes anak umur 5;00-15;11. Sedangkan WAIS untuk mengetes anak umur 16;00-75;00. Tes Wechsler ini telah dibakukan.
Dalam penelitian ini yang digunakan adalah WISC karena anak yang menjadi subyek penelitian adalah anak SD. Tes ini dipergunakan untuk mengecek anak-anak yang tidak terjangkit oleh angket model  A, B, C tetapi dengan tes SPM menunjukan tataran I, II + dan atau  II, serta anak yang terjaring dengan angket model A, B dan C tetapi hasil tes SPM menunujukan dibawah tataran II.
      Untuk mengukur tingkat kecerdasan seorang anak paling sedikit harus diberikan kepada anak yang dites lima subtes dari tiap-tiap kelompok. Adapun subtes yang boleh tidak diteskan ialah kosa kata dari kelompok verbal tes dan kesesatan dari kelompok performance test. Masing-masing subtes mempunyai tujuan untuk mengungkap aspek-aspek kejiwaan testee. Materi tes WISC terdiri atas dua kelompok yaitu verbal tes dan performance tes. Setiap kelompok terdiri atas subtes sebagai berikut :
Kelompok verbal
·      Information test. Pengetahuan umum, orientasi umum. Untuk mengungkap apakah seorang anak dapat member keterangan dari hal-hal yang diketahui.
·      Comprehension test :  (pemahaman/general attitude). Untuk mengungkap pengertian umum dari anak atas pengalaman atau pengertian yang dimilikinya.
·      Arithmetic test : kecerdasan otak. Untuk mengungkap pengertian, kecakapan berpikir dan ketepatan berpikir.
·      Similarities test : persamaan. Untuk mengungkap daya abstraksi, kesimpulan umum mencari unsure kesamaan dari dua masalah atau subyek yang berbeda dan mengungkap pengertian umum atau pengetahuan umum seorang anak dengan adanya dua hal yang mempunyai kesamaan (analogi).
·      Vocabulary test : kosakata. Untuk mengungkap seberapa luas pengetahuan anak dalam masyarakat dan mengungkap kecakapan anak mendefinisikan suatu perkataan.
·      Digit span test : deretan angka. Untuk mengungkap daya ingatan atau teknik mengingat anak setelah anak memiliki suatu penangkapan atas pengetahuan yang didapat.

Masalah-masalah anak autis :
1. Perilaku
·                Prilakunya sangat tidak wajar dan cenderung mengalihkan perhatian
·                Cenderung “peka secara berlebihan” (suara, sentuhan, irama) terhadap stimulus lingkungan juga kerap membuat anak berprilaku kurang menyebnangkan
2. Pemahaman
·         Anak autis lebih merespon terhadap stimulus visual, sehingga interaksi dan uraian verbal (apalagi yang panjang dalam bahasa yang rumit) akan sulit mereka pahami.
3. Komunikasi
·         Anak autis sulit berekpresi diri
·         Sebagian besar dari mereka, meskipun dapat berbicara namun menggunakan kalimat pendek dan kosakata yang sederhana
4. Interaksi
• Permasalahan pada perkembangan sosialnya
• Sulit berkomunikasi
• Tidak mampu memahami aturan-aturan dalam pergaulan, sehingga biasanya anak autis tidak memiliki banyak teman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar