KOTAK OPINI

Kamis, 17 Januari 2013

IDENTIFIKASI DAN ASESMEN



KAJIAN TENTANG IDENTIFIKASI DAN ASESMEN




a.            Pengertian Identifikasi
            Istilah identifikasi secara harfiah dapat diartikan menemukan atau mengenali. Istilah identifkasi anak dengan kebutuhan khusus dimaksudkan merupakan suatu usaha seseorang (orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, social, emosional/tingkah laku) dalam pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal).
            Setelah dilakukan identifikasi, kondisi seseorang dapat diketahui, apakah pertumbuhan/perkembangannya termasuk normal atau mengalami kelainan/penyimpangan. Bila mengalami kelainan/penyimpangan, dapat diketahui pula apakah anak tergolong: (1) Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan; (2) Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran; (3) Tunadaksa/anak yang mengalami kelainan angota tubuh/gerakan); (4) Anak Berbakat/anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa; (5) Tunagrahita; (6) Anak lamban belajar; (7) Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (disleksia, disgrafia, atau diskalkulia); (8) Anak yang mengalami gangguan komunikasi; dan (9) Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.
            Kegiatan identifikasi sifatnya masih sederhana dan tujuannya lebih ditekankan pada menemukan (secara kasar) apakah seorang anak tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan. Maka biasanya identifikasi dapat dilakukan oleh orang-orang yang dekat (sering berhubungan/bergaul) dengan anak, seperti orang tuanya, pengasuhnya, gurunya, dan pihak-pihak yang terkait dengannya. Sedangkan langkah berikutnya, yang sering disebut asesmen, bila diperlukan dapat dilakukan oleh tenaga profesional, seperti dokter, psikolog, neurolog, orthopedagog, therapis, dan lain-lain.

b.            Tujuan Identifikasi
            Secara umum tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, social, emosional, dan/atau sensoris neurologis) dalam pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal), yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program pembelajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya. Kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu: (1) penjaringan (screening), (2) pengalihtanganan (referal), (3) klasifikasi, (4) perencanaan pembelajaran, dan (5) pemantauan kemajuan belajar.

1. Penjaringan (screening)
                   Penjaringan dilakukan terhadap semua anak di kelas dengan Alat Identifikasi Anak. Pada tahap ini identifiksi berfungsi menandai anak-anak mana yang menunjukkan gejala-gejala tertentu, kemudian menyimpulkan anak-anak mana yang mengalami kelainan/penyimpangan tertentu, sehingga tergolong anak dengan kebutuhan khusus. Dengan AI ALB guru, orang tua, maupun tenaga professional terkait, dapat melakukan kegiatan ini secara baik dan hasilnya dapat digunakan untuk bahan penanganan lebih lanjut.

2. Pengalihtanganan (referral)
                   Berdasarkan gejala-gejala yang ditemukan pada tahap penjaringan, selanjutnya anak-anak dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, ada anak yang tidak perlu dirujuk ke ahli lain (tenaga profesional) dan dapat langsung ditangani sendiri oleh guru dalam bentuk layanan pembelajaran yang sesuai. Kedua, ada anak yang perlu dirujuk ke ahli lain terlebih dulu (referal) seperti psikolog, dokter, orthopedagog (ahli PLB), dan/atau therapis, baru kemudian ditangani oleh guru.

3. Klasifikasi
                   Pada tahap klasifikasi, kegiatan identifikasi bertujuan untuk menentukan apakah anak yang telah dirujuk ke tenaga professional benar-benar memerlukan penanganan lebih lanjut atau langsung dapat diberi pelayanan pendidikan khusus. Apabila berdasar pemeriksaan tenaga professional ditemukan masalah yang perlu penanganan lebih lanjut (misalnya pengobatan, therapy, latihan-latihan khusus, dan sebagainya) maka guru tinggal mengkomunikasikan kepada orang tua siswa yang bersangkutan. Jadi guru tidak mengobati dan/atau memberi therapy, melainkan sekedar meneruskan kepada orang tua tentang kondisi anak yang bersangkutan. Guru hanya akan membantu siswa dalam hal pemberian pelayanan pendidikan sesuai dengan kondisi anak.

4. Perencanaan pembelajaran
                   Pada tahap ini, kegiatan identifikasi bertujuan untuk keperluan penyusunan program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI). Dasarnya adalah hasil dari klasifikasi. Setiap jenis dan gradasi (tingkat kelainan) anak dengan kebutuhan khusus memerlukan program pembelajaran yang berbeda satu sama lain. Mengenai program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI).


5. Pemantauan kemajuan belajar
                   Kemajuan belajar perlu dipantau untuk mengetahui apakah program pembelajaran khusus yang diberikan berhasil atau tidak. Apabila dalam kurun waktu tertentu anak tidak mengalami kemajuan yang signifikan (berarti), maka perlu ditinjau lagi beberapa aspek yang berkaitan. Misalnya apakah diagnosis yang kita buat tepat atau tidak, Program Pembelajaran yang kita susun sesuai atau tidak, bimbingan belajar khusus yang kita berikan sesuai atau tidak, dan seterusnya. Sebaliknya, apabila dengan program khusus yang diberikan, anak mengalami kemajuan yang cukup signifikan maka program tersebut perlu diteruskan sambil memperbaiki/menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada.

c.             Pelaksanaan Identifikasi
            Ada beberapa langkah dalam rangka pelaksanaan identifikasi anak berkebutuhan khusus. Untuk identifikasi anak usia sekolah yang belum bersekolah atau drop out sekolah, maka sekolah yang bersangkutan perlu melakukan pendataan ke masyarakat sekitar kerjasama dengan Kepala Desa/Lurah, RT, RW setempat. Jika pendataan tersebut ditemukan anak berkelainan, maka proses berikutnya dapat dilakukan pembicaraan dengan orangtua, komite sekolah maupun perangkat desa setempat untuk mendapatkan tindak lanjutnya.
1. Menghimpun data tentang anak.
       Pada tahap ini petugas (guru) menghimpun data kondisi seluruh siswa di kelas (berdasar gejala yang nampak pada siswa) dengan menggunakan Alat Identifikasi Anak dengan kebutuhan khusus.

2. Menganalisis data dan mengklasifikasi anak.
       Pada tahap ini tujuannya adalah untuk menemukan anak-anak yang tergolong anak dengan kebutuhan khusus (yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus). Buatlah daftar nama anak yang diindikasikan berkelainan sesuai dengan ciri-ciri dan standar nilai yang telah ditetapkan. Jika ada anak yang memenuhi syarat untuk disebut atau berindikasi kelainan sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dimasukkan ke dalam daftar nama-nama anak yang berindikasi kelainan sesuai dengan format khusus yang disediakan seperti terlampir. Sedangkan untuk anak-anak yang tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda berkelainan, tidak perlu dimasukkan ke dalam daftar khusus tersebut.
3. Mengadakan pertemuan konsultasi dengan kepala sekolah.
       Pada tahap ini, hasil analisis dan klasifikasi yang telah dibuat guru dilaporkan kepada Kepala Sekolah untuk mendapat saran-saran pemecahan atau tindak lanjutnya.

4. Menyelenggarakan pertemuan kasus (case conference).
       Pada tahap ini, kegiatan dikoordinasikan oleh Kepala Sekolah setelah data anak dengan kebutuhan khusus terhimpun dari seluruh kelas. Kepala Sekolah dapat melibatkan: (1) Kepala Sekolah sendiri(2) Dewan Guru (3) orang tua/wali siswa; (4) tenaga professional terkait, jika tersedia dan dimungkinkan; (5) Guru PLB. Materi pertemuan kasus adalah membicarakan temuan dari masing-masing guru mengenai hasil identifikasi untuk mendapatkan tanggapan dan cara-cara pemecahan serta penanggulangannya.

5. Menyusun laporan hasil pertemuan kasus.
       Pada tahap ini, tanggapan dan cara-cara pemecahan masalah dan penanggulangannya perlu dirumuskan dalam laporan hasil pertemuan kasus.

d.            Alat Identifikasi.
            Secara sederhana ada beberapa aspek informasi yang perlu mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan identifikasi. Untuk mengidentifikasi seorang anak apakah tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan, dapat dilakukan oleh:  Guru kelas; orang tua anak; dan/atau tenaga professional terkait. Contoh alat identifikasi sederhana untuk membantu guru dan orang tua dalam rangka mengenali anak yang memerlukan layanan pendidikan khusus, antara lain sebagai berikut :
1. Informasi riwayat perkembangan anak
       Informasi riwayat perkembangan anak adalah informasi mengenai keadaan anak sejak di dalam kandungan hingga tahun-tahun terakhir sebelum masuk Sekolah. Informasi ini penting sebab dengan mengetahui latar belakang perkembangan anak, mungkin kita dapat menemukan sumber penyebab problema belajar. Informasi mengenai perkembangan anak sangat penting bagi guru untuk mempertimbangkan kebijakan program pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Informasi perkembangan anak biasanya mencakup identitas anak, riwayat masa kehamilan dan kelahiran, perkembangan masa balita, perkembangan fisik, perkembangan sosial, dan perkembangan pendidikan.
       Riwayat masa kehamilan dan kelahiran meliputi perkembangan masa kehamilan, penyakit yang diderita ibu, usia di dalam kandungan, proses kelahiran, tempat kelahiran, penolong persalinan, gangguan pada saat proses kelahiran, berat badan bayi, panjang badan bayi, dan tanda-tanda kelainan pada bayi.
       Perkembangan masa balita sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai lama menyusu ibunya, usia akhir minum susu kaleng, kegiatan imunisasi, penimbangan, kualitas dan kuantitas makanan pada masa balita, kesulitan makan yang dialami, dan sebagainya.
       Perkembangan fisik diperlukan terutama data mengenai kapan anak mulai dapat merangkak, berdiri, berjalan, naik sepeda roda tiga, naik sepeda roda dua, berbicara dengan kalimat lengkap, kesulitan gerakan yang dialami, status gizi balita, dan riwayat kesehatan.
       Perkembangan sosial terutama berkaitan dengan hubungan dengan saudara, hubungan dengan teman, hubungan dengan orang tua dan guru, hobi anak, dan minat khusus. Perkembangan pendidikan meliputi informasi mengenai kapan masuk TK, berapa lama pendidikan di TK, kapan masuk SD, apa kesulitan selama di TK, apa kesulitan selama di SD, apakah pernah tinggal kelas, pelayanan khusus yang pernah diberikan, prestasi belajar tiap caturwulan atau semester, mata pelajaran yang dirasa paling sulit, dan mata pelajaran yang paling disenangi.

2. Data orang tua/wali siswa
       Selain data mengenai anak, tidak kalah pentingnya adalah informasi mengenai keadaan orang tua/wali siswa yang bersangkutan. Dalam beberapa penelitian diketahui bahwa lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan belajar anak. Lingkungan keluarga dapat meliputi pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, status sosial ekonomi, sikap dan penerimaan orang tua terhadap anak, serta pola asuh yang diterapkan keluarga terhadap anak.
       Data orang tua/wali siswa sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai identitas orang tua/wali, hubungan orang tua-anak, data sosial ekonomi orang tua, serta tanggungan dan tanggapan orang tua/ keluarga terhadap anak. Identitas orang tua harus lengkap, tidak hanya identitas ayah melainkan juga identitas ibu, misalnya umur, agama, status, pendidikan, pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan, dan tempat tinggal.
       Hubungan orang tua-anak menggambarkan sejauh mana intensitas komunikasi antara orang tua dan anak. Misalnya apakah kedua orang tua satu rumah atau tidak, demikian juga dengan anak. Apakah diasuh salah satu orang tua, pembantu, atau keluarga lain. Semua kondisi tersebut mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar anak.
       Mengenai data keadaan sosial ekonomi diperlukan agar sekolah dapat memperhitungkan kemampuan orang tua dalam pendidikan anaknya. Data sosial ekonomi dapat mencakup informasi mengenai jabatan formal maupun non formal ayah dan ibu, serta besarnya penghasilan rata-rata per bulan.
       Sedangkan mengenai tanggapan orang tua yang perlu diungkapkan antara lain persepsi orang tua terhadap anak, kesulitan yang dirasakan orang tua terhadap anak yang bersangkutan, harapan orang tua dan bantuan yang diharapkan orang tua untuk anak yang bersangkutan.

3. Informasi mengenai profil kelainan anak (AI – ALB)
       Tanda-tanda kelainan atau gangguan khusus pada siswa perlu diketahui guru. Kadang-kadang adanya kelainan khusus pada diri anak, secara langsung atau tidak langsung, dapat menjadi salah satu faktor timbulnya problema belajar. Tentu saja hal ini sangat bergantung pada berat ringannya kelainan yang dialami serta sikap penerimaan anak terhadap kondisi tersebut.

e.    Asesmen
            Istilah asesmen berasal dari Bahasa Inggris yaitu assesment yang berarti penilaian suatu keadaan. Tujuan dilakukan asesmen berkaitan erat dengan waktu mengadakannya.
1. Asesmen yang dilakukan setelah deteksi
Kegiatan asesmen ini dilaksanakan setelah anak tuna ditemukan, dengan demikian
Tujuan asesmen adalah:
·      Untuk menyaring kemampuan anak. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan anak dalam setiap aspek. Misalnya,Bagaimana kemampuan bahasanya, kemampuan kognitipnya, kemampuan gerak, dan kemampuan penyesuaian dirinya.
·      Untuk keperluan pengklasifikasian, penempatan, dan penetuan program pendidikan anak  setelah diadakan penyaringan maka dapat diperkirakan apakah anak tersebut termasuk kedalam kategori tuna. pengambilan kesimpulan dan penetapan sudah tentu harus didukung oleh data yang jelas. pengklasifikasian ini kaitannya dengan usaha penempatan.sebab perbedaan kemampuan anak tunagrahita amat berbeda.
·      Untuk menentukan arah dan kebutuhan pendidikan anak. Arah atau tujuan anak pada dasarnya sama dengan tujuan pendidikan pada umumnya hanya saja mengingat kemampuan anak yang terbatas, maka perlu dirumuskan tujuan khusus yang disesuaikan dengan tingkat ketunaannya. Dengan demikian keluasan dan kedalaman tujuan pendidikan bagi mereka sangat erat kaitannya dengan tingkat ketunaan. Maka perumusan tujuan untuk masing-masing tingkat ketunaan sangat diperlukan karena merupakan dasar pandangan atau acuan untuk menentukan arah ataupun program pendidikannya.
·      Untuk mengembangkan program pendidikan yang diindividualisasakan atau biasa juga disebut IEP (Individualized Educational Program). Dengan data yang diperoleh sebagai hasil asesmen dapatlah diketahui kemampuan dan ketidak mampuan anak. Kemampuan-kemampuan itu menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan berikutnya.akibat dari pengembangan program yang didasarkan pada hasil asesmen, maka munculah rumusan program yang disesuaikan dengan kemampuan setiap anak.
·      Untuk menentukan strategi, lingkungan belajar,dan evaluasi pengajaran. Dengan melihat hasil asesmen dapat ditentukan model strategi, lingkungan belajar, evaluasi maupun tindak lanjut pengajaran, seperti contoh:
a. Strategi pengajaran
          Strategi pengajaran klasikal kurang sesuai bila diterapkan pada anak khusus ttertentu, terutama jika mengajarkan bidang-bidang yang membutuhkan konsentrasi atau pembahasan tentang konsep-konsep.
b. Lingkungan belajar
          Pengaturan lingkungan belajar baik berupa lingkungan fisik maupun lingkungan suasana harus disesuaikan dengan keadaan.Lingkungan fisik seperti pengaturan meja dan kursi, lemari, papan tulis maupun gambar-gambar dan lingkungan suasana, seperti: Peraturan-peraturan, suara guru dalam mengajar, situasi lingkungan dan sebagainya.
c. Evaluasi
          Pelaksanaan evaluasi tentu harus dirumuskan sesuai dengan tingkat ketunaan anak. Pada anak  pada umumnya dapat dihadapkan pada bentuk soal tertulis dan lisan, sedangkan pada anak lain sebaiknya evaluasi diberikan dalam bentuk perbuatan.
2.      Asesmen pada saat dan setelah diberikan pelajaran
                 Asesmen yang dilaksanakan pada saat dan setelah anak diberi pelajaran diperlukan untuk maksud merencanakan program selanjutnya.
Adapun tujuan asesmen ini adalah :
1)      Agar guru mendapat informasi tentang keberhasilan dan kegagalan mengajar serta kemajuan dan kesulitan belajar siswa.
2)      Agar guru dapat memilih dan menentukan program,evaluasi, dan strategi belajar mengajar,setra pengaturan lingkungan belajar.
3)      Agar guru dapat melakukan diagnosis,melaksanakan remididl teaching,dan memberikan tindak lanjut pelajaran.

f.    Pelaksanaan Asesmen
            Setelah mempelajari tentang pelaksanaan identifikasi, berikutnya bagaimana pelaksanaan asesmen akedemik, melaksanakan asesmen sensoris dan motorik dan melaksanakan asesmen psikologis,emosi dan sosial pada anak-anak berkebutuhan khusus.
1.    Asesmen Akademik
       Para ahli ABK umumnya mempercayai bahwa asesmen informal merupkan cara yang terbaik untuk memperoleh informasi tentang kemampuan, kesulitan masalah yang dihadapi, serta kebutuhan belajar siswa. Aspek dan ruang lingkup dari bidang yang akan diasesmen meliputi asesmen akademik misalnya : membaca, menulis, berhitung, perkembangan kognitif, prilaku adaptif. Asesmen ini meliputi:  1) ketajaman sensoris, misalnya ketajaman penglihatan, pendengaran; 2) perkembangan motorik, misalnya kemampuan memegang pensil, menulis ,menendang; 3) penguasaan konsep-konsep dasar; misalnya penjumlahan, pengurangan, perkalian;4) keterampilan bahasa, misalnya menyusun kata menjadi kalimat; serta 5) keterampilan sosial dan emosi, misalnya kemampuan memahami orang lain. Asesmen hanya akan bermakna, jika guru mengetahui materi kurikulum, jenis keterampilan yang dikembangkan, dan tahap –tahap perkembangan anak.
       Salah satu yang penting adalah bagaimana asesmen kemampuan menulis,  untuk diketahui ketrampilan yang sudah dimiliki dan hambatan yang dialami dalam melakukan aktivitas   menulis ruang lingkup ketrampilan menulis bertujuan untuk  mengetahui penguasaan ketrampilan seseorang di dalam  menuangkan gagasan kedalam aktivitas menulis baik dalam aspek kelancaran kosakata struktur dan isi.
Ruang lingkup ketrampilan menulis permulaan.
·      Ketrampilan Pra – menulis : meraih, meraba dan memegang, melepas benda, mencari perbedaan dan persamaan berbagai benda , bentuk,warna, bangun dan posisi.
·      Ketrampilan Menulis : memegang alat tulis, menggerakkan alat tulis ke atas dan ke bawah, menggerakkan alat tulis kekiri dan kekanan, menggerakkan alat tulis melingkar, menyalin huruf, menyalin namanya sendiri dengan huruf balok, menyalin huruf balok dari jarak jauh, menyalin huruf, kata dan kalimat dengan tulisan bersambung, menyalin tulisan bersambung dari jarak jauh.
·      Ketrampilan Mengeja : mengeja huruf abjad, mengenal kata, mengucapkan kata yang diketahuinya, Mengenal persamaan dan perbedaan konfigurasi kata, Membedakan bunyi pada kosa kata, mengasosiasikan bunyi dengan huruf , Mengeja kata, Menuliskan kata dengan ejaan yang benar.
2.    Asesmen Sensori dan motorik
                 Asesmen ini ditujukan untuk mengetahui kemampuan penglihatan, pendegaran, bicaranya dan bahasa, ketrampilan motorik,ketrampilan menolong diri sendiri, kematangan sosial, emosional dan perkembangan kognitif anak sebagai indikator untuk melakukan asesmen terhadap anak di sekolah dasar. Asesmen ketajaman sensoris, misalnya: 1) ketajaman penglihatan, pendengaran, 2) Asesmen perkembangan motorik, koordinasi motorik kasar, halus, misalnya kemampuan memegang pensil, menulis, menendang; 3) Asesmen penguasaan konsep dasar; penjumlahan, pengurangan, perkalian; 4) Asesmen keterampilan bahasa, misalnya menyusun kata menjadi kalimat; serta 5) Asesmen keterampilan sosial dan emosi, misalnya kemampuan memahami orang lain. Berikut ini adalah contoh asesmen membaca lisan.
3.      Asesemen Psikologik, Emosi dan Sosial.
                  Asesmen psikologik dapat digunakan untuk mengetahui potensi intelektual dan kepribadian abak, Juga dapat diperluas dengan tingkat emosi dan sosial anak.
4.      Asesemen lain yang dianggap perlu:
                  Misalnya aspek kesehatan, status gizi dan perkembangan fisik anak. Informasi ini sangat penting karena aspek kesehatan sangat berpengaruh terhadap konerja belajar anak.

Contoh asesmen membaca lisan :
Daftar cek Berbagai Kesalahan/Kekeliruan dalam Membaca Lisan

No

Jenis Kekeliruan
Cek
Ket
Ya
Tidak

1
Semua huruf vokal tidak dapat dilafalkan oleh anak (a,i,e,o,u )



2
Tidak dapat melafalkan beberapa huruf vokal



3
Huruf konsonan semuanya tidak dapat dilafalkan oleh anak (b,c,d,f,dst )



4
Anak tidak dapat melafalkan beberapa huruf konsonan (konsonan yang tidak dapat dilafalkan ditulis pada kolom keterangan )



5
Anak tidak dapat melafalkan huruf diftong ( ny,ng )



6
Anak tidak dapat melafalkan gabungan huruf konsonan- vokal, misalnya ku-da,bapa,bola (gabungan konsonan-vokal yang tidak dapat dilafalkan,misalnya kuda,ku tidak dapat,da dapat,maka hasil pengecekannya konsonan vokal ku ditulis pada kolom keterangan)



7
Anak tidak dapat melafalkan gabungan huruf diftong-vokal (nyo, ngu,.........)



8
Anak tidak dapat melafalkan vokal rangkap (ai, oi, ua, hei,dst.)



9
Anak tidak dapat melafalkan gabungan konsonan vokal konsonan (ka-pak, bam-bu )



10
Anak tidak dapat melafalkan gabungan vokal-konsonan ( am-bil, as-pal)



11
Dstnya.....................




Selanjutnya di bawah ini adalah contoh Instrumen asesmen informal berupa skala penilaian prilaku anak.
INDIKATOR
SK
K
C
B
SB
1
2
3
4
5
PEMAHAMAN AUDITORI
1.       Kemampuan mengikuti perintah
2.       Pemahaman mengikuti diskusi dalam kelas
3.       Kemampuan menyimpan informasi yang disampaikan secara lisan.
4.       Pemahaman arti kata





BAHASA UJARAN
5.       Kemampuan mengekspesikan pikiran dengan kalimat lengkap dengan tatabahasa yang akurat
6.       Kemampuan memahami perbendaharaan kata
7.       Kemampuan menhafal kata
8.       Kemampuan menghubungkan pengalaman
9.       Kemampuan memformulasikan gagasan-gagasan





ORIENTASI
10.    Ketepatan waktu
11.    Orientasi ruang
12.    Pertimbangan hubungan –hubungan ( besar –kecil, jauh-dekat, ringan – berat )
13.    Pemahaman tentang arah





 PERILAKU
14.    Kemampuan bekerjasama
15.    Kemampuan memusatkan perhatian
16.    Kemampuan mengorganisasikan pekerjaan
17.    Kemampuan menguasai situasi baru
18.    Penerimaan Sosial
19.    Penerimaan Tanggung jawab
20.    Kemampuan menyelesaikan tugas
21.    Kebijaksanaan





GERAK
22.    Koordinasi umum ( berjalan, berlari, meloncat )
23.    Keseimbangan
24.    Kemampuan mempergunakan perkakas/peralatan





Jumlah skor





Keterangan :   SK = sangat Kurang
                        K   = Kurang
                        C   = Cukup
                        B   = Baik
                        SB = Sangat Baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar