1.
Pelaksanaan Asesmen Anak Tuna Grahita.
Asesmen adalah proses yang
sistimatis dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat
kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu. Mengumpulkan informasi
yang relevan, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan,
dan menerapkan seluruh proses pembuatan keputusan tersebut.
Asesmen ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan
asesmen formal dan asesmen informal. Asesmen formal adalah asesmen dengan
menggunakan tes standar yang sudah disusun sedemikian rupa oleh para ahli
sehingga memiliki standar tertentu, sedangkan tes informal adalah penilaian
dengan menganalisis hasil pekerjaan siswa atau dengan tes buatan guru. Adapun
langkah-langkah untuk melakukan asesmen sebagai berikut melakukan identifikasi,
menetukan tujuan asesmen, mengembangkan alat asesmen, dan penafsiran hasil
asesmen.
Adapun langkah-langkah untuk
melakukan asesmen sebagai berikut melakukan identifikasi, menetukan tujuan
asesmen, mengembangkan alat asesmen, dan penafsiran hasil asesmen. Dalam
penyusunan asesmen ini ada beberapa tahapan yang meliputi kegiatan
identifikasi, tujuan asesmen, pengembangan alat asesmen, pelaksanaan ,
penafsiran hasil asesmen.
·
Identifikasi, Identifikasi
disini adalah menentukan anak tunagrahita yang akan diasesmen. Identifikasi
dapat dilakukan melalui pengamatan/observasi yang cermat mengenai perilaku anak
tunagrahita saat belajar dan menganalisis hasil kerja anak. Identifikasi harus
menghasilkan siapa yang akan diasesmen dan dalam aspek apa asesmen itu perlu
dilakukan.
·
Menetapkan Tujuan Asesmen, Setelah
hasil identifikasi diketahui, selanjutya ditetapkan tujuan asesmen yang akan
dilakukan. Tujuan asesmen setiap murid akan sama atau berbeda tergantung pada
gejala yang ditemukan pada waktu identifikasi.
·
Mengembangkan alat asesmen, Untuk
melakukan asesmen guru dapat menggunakan alat asesmen yang sudah baku (asesmen
formal) atau alat asesmen buatan sendiri (asesmen informal). Dalam asesmen
informal guru harus mengembangkan alat asesmen sendiri. Alat asesmen ini
disesuaikan dengan kurikulum.
·
Penafsiran. Setelah
melaksanakan asesmen, tahap selanjutnya adalah guru mengolah hasil asesmen dan menafsirkannya.
Dalam kegiatan inilah akhirnya mengambil keputusan untuk menentukan
pembelajaran yang tepat untuk anak tunagrahita. Kegiatan menafsirkan ini cukup
menentukan, jika penafsiran keliru, maka program pembelajaran yang dikembangkan
akan keliru pula.
Hasil asesmen ini harus dikaitkan
pula dengan kurikulum. Lihatlah materi pelajaran yang sesuai dengan jenjang
kelas dimana anak tunagrahita berada. Apabila pada kurikulum itu tidak
ditemukan materi yang sesuai dengan hasil asesmen maka harus dicari pada
jenjang di bawahnya, jika masih belum ditemukan juga cari kembali pada jenjang
di bawahnya lagi, demikian seterusnya, hingga ditemukan materi yang sejalan
dengan hasil asesmen.
2. Tujuan Asesmen Anak Tuna Grahita.
Tujuan
asesmen ini adalah:
a.
Asesmen setelah deteksi.
1) Untuk menyaring kemampuan
anak tunagrahita
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui
kemampuan anak dalam setiap aspek.Misalnya,Bagaimana kemampuan
bahasanya,kemampuan kognitipnya,kemampuan gerak,dan kemampuan penyesuaian
dirinya.
2) Untuk keperluan
pengklasifikasian,penempatan,dan penetuan program pendidikan anak
tunagrahita setelah diadakan penyaringan maka dapat diperkirakan apakah anak
tersebut termasuk kedalam kategori tunagrahita ringan,sedang,atau
berat.pengambilan kesimpulan dan penetapan sudah tentu harus didukung oleh data
yang jelas.pengklasifikasian ini kaitannya dengan usaha penempatan.sebab
perbedaan kemampuan anak tunagrahita amat berbeda.
3). Untuk menentukan arah dan
kebutuhan pendidikan anak tunagrahita.Arah atau tujuan anak tunagrahita pada
adasarnya sama dengan tujuan pendidikan pada umumnya hanya saja mengingat
kemampuan anak tunagrahita yang terbatas,maka perlu dirumuskan tujuan khusus
yang disesuaikan dengan tingkat ketunagrahitaannya.dengan demikian keluasan dan
kedalaman tujuan pendidikan bagi mereka sangat erat kaitannya dengan tingkat
ketunagrahitaan.maka perumusan tujuan untuk masing-masing tingkat
ketunagrahitaan sangat diperlukan karena merupakan dasar pendangan atau acuan
untuk menentukan arah ataupun program pendidikannya.
4) Untuk mengembangkan program
pendidikan yang diindividualisasakan atau biasa juga disebut IEP
(Individualized Educational Program).dengan data yang diperoleh sebagai
hasil asesmen dapatlah diketahui kemampuan dan ketidak mampuan anak tunagrahita.
Kemampuan-kemampuan itu menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan berikutnya.
5) Untuk menentukan
strategi,lingkungan belajar,dan evaluasi pengajaran, sama halnya dengan IEP
bahwa dengan melihat hasil asesmen dapat ditentukan model strategi,lingkungan
belajar,evaluasi maupun tindak lanjut pengajaran.
Asesmen yang dilaksanakan pada saat
dan setelah anak tunagrahita diberi pelajaran diperlukan untuk maksud
merencanakan program selanjutnya. Adapun tujuan asesmen ini adalah :
·
Agar guru mendapat informasi tentang
keberhasilan dan kegagalan mengajar serta kemajuan dan kesulitan belajar siswa.
·
Agar guru dapat memilih dan menentukan
program,evaluasi, dan strategi belajar mengajar,setra pengaturan lingkungan
belajar.
·
Agar guru dapat melakukan
diagnosis,melaksanakan remidi dan memberikan tindak lanjut pelajaran.
3. Ruang lingkup asesmen
Dengan
memperhatikan tujuan asesmen maka ruang lingkup asesmen dapat dikelompokan
sebagai berikut:
a.
ruang lingkup asesmen yang diberikan sebelum anak
mengikuti pelajaran
·
Kemampuan
menolong diri,meliputi:
makan-minum,berpakaian dan merias diri,menjaga kebersiahan diri,keselamatan
diri dan orientasi lingkungan.
·
Kemampuan
psikomotor,meliputi
: gerak motorik kasar-halus,membangun bentuk, melipat, menggunting, menggambar
dan menempel
·
Perkembangan
social-emusional ,meliputi:
bereaksi terhadap rangsangan dari luar, menyesuaikan diri pada situasi, bermain
bersama, partisipasi dalam kegiatan,melaksanakan perintah, sikap percaya diri.
·
Perkembangan
bahasa, meliputi:
bicara, pembendaharaan kata, menulis, menggambar.
·
Perkembangan
kognitif ,meliputi:pengertian
tentang ukuran, jumlah, bentuk; inisiatif, melaksanakan perintah, orientasi
ruang dan sebagainya.
b.
Ruang lingkup
pada saat anak telah belajar dikelas. Setelah anak tunagrahita mengikuti pelajaran, ruang
lingkup asesmen meliputi penilaian. Untuk menentukan apa yang harus diajarkan
kepada siswa secara individu dan penilaian untuk menentukan cara guru dalam
mengajar siswa untuk mencapai kemajuan yang optimal.
c. Alat asesmen.
Bervariasinya tingkat intelegensi dan kognitif anak tunagrahita,menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasikekurangan
dan kelebihan yang dimilikinya.Asesmen pada anak tunagrahita dilakukan
untuk mengukur tingkatintelegensi dan kognitif, baik secara
individual maupun kelompok. Alatuntuk asesmen anak tunagrahita dapat digunakan
seperti berikut ini:
·
Tes Intelegensi WISC-R (alat atau
instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model WISC-R)
·
Tes Intelegensi Stanford Binet (alat atau instrumen isian untukmengukur
tingkat kecerdasan seseorang model Stanford Binet)
·
Cognitive Ability test (alat atau
instrumen isian untuk mengukur tingkat pengetahuan yang dikuasai)
4.
Macam-Macam
Asesmen Tuna Grahita.
·
Asesmen Perkembangan. Asesmen
perkembangan ini meliputi perkembangan: kognitif, motorik, sosial/emosi, dan
bahasa/komunikasi.
·
Asesmen Akademik Yang termasuk kedalam
asesmen akademik antara lain: asesmen matematik (pra matematik dan matematik),
asesmen membaca (pramembaca, membaca awal, membaca lanjut)
Asesmen Perkembangan Sosial 9-10
tahun. Perkembangan Sosial, Pengelompokan sosial dan perilaku sosial pada masa
akhir anak-anak disebut sebagai usia berkelompok karena ditandai dengan adanya
minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk
diterima sebagai suatu anggota kelompok (Elizabeth B. Hurlock: 1980: 155). Krech
et. al. (1962:104-106) mengungkapkan bahwa untuk memahami perilaku sosial
individu, dapat dilihat dari kecenderungan-kecenderungan ciri-ciri respon
interpersonalnya, yang terdiri dari :
·
Kecenderungan Peranan (Role
Disposition); yaitu kecenderungan yang mengacu kepada tugas, kewajiban dan
posisi yang dimiliki seorang individu,
·
Kecenderungan Sosiometrik (Sociometric
Disposition); yaitu kecenderungan yang bertautan dengan kesukaan, kepercayaan terhadap
individu lain, dan
·
Ekspressi (Expression Disposition),
yaitu kecenderungan yang bertautan dengan ekpresi diri dengan menampilkan
kebiasaaan-kebiasaan khas (particular fashion).
Ada beberapa langkah yang harus
ditempuh dalam melakukan asesmen perkembangan sosial anak, untuk mendapatkan
gambaran yang nyata dari perilaku sosial anak. Berdasarkan teori di atas maka
maka aspek perkembangan sosial dapat kami kembangkan kedalam indikator-indikator
antara lain Aspek Sosial yang diamati berupa 1) Kecenderungan Peranan; Meniru,
Kerjasama, Perilaku akrab. 2) Kecenderungan Sosiometrik ; Dukungan social,
Empati 3) Ekspressi; Persaingan, Membagi.
Contoh Asessmen
Menulis
Pada saat asesmen
guru dapat melakukan observasi kemampuan anak dalam hal
1. menulis dari
kiri ke kanan
2. memegang pensil
3. menulis nama
sendiri
4. menulis
huruf-huruf
5. menyalin kata
dari papan tulis ke buku atau kertas
6. menulis pada
garis yang tepat
7. posisi kertas
8. penggunaan
tangan dominan
9. posisi duduk
Instrumen
Informal Untuk Menilai Bentuk Huruf
|
Nomor
|
Jenis
Kesalahan
|
Keterangan
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
|
a seperti oa seperti
u
i seperti e tanpa titik
r seperti i
b seperti li
b seperti g
e tertutup tidak ada lubangnya
t dengan garis di atasnya
m seperti w
|
Instrumen
Informal Untuk Menilai Bentuk Huruf
|
Aspek
|
Deskripsi
|
|
Posisi duduk
|
|
|
Posisi kertas
|
|
|
Memegang pensil/alat tulis
|
|
|
Bentuk
|
|
|
Ukuran
|
|
|
Spasi (antar huru dan antar kata)
|
|
|
Ketepatan pada garis
|
|
|
Kualitas garis
|
Contoh
hasil asesmen
Catatan
Hasil Asesmen
|
Aspek
|
Deskripsi
|
|
Posisi duduk
|
Pada saat duduk, badan kurang
tegak, dagu menempel pada meja, telapak kaki menapak dengan baik pada lantai,
dan posisi tangan tidak menopang badan tapi direntangkan ke depan.
|
|
Posisi kertas
|
Posisi kertas miring/tidak sejajar
dengan badan
|
|
Memegang pensil/alat tulis
|
Mampu memegang pensil dengan tiga
jari
|
|
Bentuk
|
Bentuk tulisan huruf dan kata
terlalu condong dan tidak konsisten;kadang condong kadang tegak.
|
|
Ukuran
|
Ukuran huruf tidak konsisten ada
yang terlalu besar hingga melewati garis dan ada yang terlalu kecil
|
|
Spasi (antar huruf dan antar kata)
|
Anak belum memahami spasi antar
kata sehingga kata yang ditulis cenderung menumpuk.
|
|
Ketepatan pada garis
|
Huruf ditulis mengangkang di atas
garis.
|
|
Kualitas garis (terlalu tebal atau
terlalu
|
Penafsiran:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar