KOTAK OPINI

Senin, 21 Januari 2013

Pembelajaran Kurikulum Bina Diri.




Memperhatikan bahwa belajar merupakan proses interaktif antara guru dan siswa tentang  hal yang dipelajari maka dalam hal ini perlu dilihat bahwa muatan mata pelajaran ini adalah skill atau ketrampilan  untuk mengatasi keterbatasan anak. Dalam proses belajar mengajar penerapan kurikulum Bina Diri berpatokan pada tahap-tahap tertentu antara lain :
a.       Tahap persepsi.
Pada tahap ini siswa dikondisikan sedemikian rupa untuk menerima stimulus inDrawi yang memungkinkan bekerja dan berkembangnya kemampuan motoris, proses mengaktifkan persepsi secara visual (penglihatan). Persepsi auditori (pendengaran), dan persepsi kinestik (rasa raba dan  rasa gerak), perlu distimuluskan dan dikoordinasikan secara baik.
b.      Tahap Kesiagaan.
Pada tahap ini siswa dibawa untuk berada dalam keadaan siap secara fisik, mental dan emosi untuk melakukan suatu kegiatan. Bentuk konkrit tahap ini antara lain peniruan gerak, pengulangan gerak, yang memungkinkan dengan bimbingan yang masih sangat banyak.
c.       Tahap Sambutan (Guided Respons).
Pada tahap ini siswa dibawa untuk memulai suatu kecakapan yaitu kecakapan untuk mengikuti contoh-contoh tindakan yang diperagakan guru. Diawali dengan peniruan dan dilanjutkan dengan mencoba sendiri. Dalam tahap ini latihan dan pengulangan memegang kendali dan peran sangat penting.
d.      Tahap Tindakan Mekanis.
Pada tahap ini siswa dilatih untuk memiliki ketrampilan-ketrampilan tertentu secara tetap dan konstan. Ketrampilan atau kecakapan tersebut sudah menjadi kebiasaan. Hal ini dilaksanakan dengan cara misalnya sebelum dan sesudah makan mencuci tangan dulu.
e.       Tahap sambutan yang komplek (Komplex Over Respon). Sebagai kelanjutan dari tindakan mekanis proses belajar ditujukan kepada siswa memiliki kecakapan tentang hal yang sama  dengan kualitas yang lebih baik, efisien dan bervariasi.
f.       Tahap Bervariasi.
 Kecakapan-kecakapan atau ketrampilan yang telah dimiliki akan dimanifestasikan sesuai dengan situasi dan problematika yang dihadapi. Misalnya siswa yang telah dilatih menyisir rambut dan terampil, ketrampilannya itu digunakan setiap habis mandi (situasi) dan dia tetap bisa menyisir rambut dengan rapi walau tidak didepan cermin (problematika)


g.      Tahap Keaslian (Origination).
Ketrampilan-ketrampilan suatu kegiatan yang telah dimiliki pada tahap berikutnya harus diaplikasikan sesuai dengan kondisi, situasi dan problematika yang ada. Kemampuan psikomotor yang dimiliki pada tahap ini tahapannya sudah tinggi dan terinternalisasikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar