KOTAK OPINI

Kamis, 24 Januari 2013

PERAN ORANG TUA untuk BINA DIRI ANAK TUNAGRAHITA




1.      GRANT THEORY
a.      Tipologi peran orang tua
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian tipologi adalah ilmu yang watak tentang bagian manusia di golongan-golongan menurut corak watak masing-masing.
Tipe orang tua yang khas menurut Elizabeth B. Murlock (1978:204) adalah :
1.      Melindungi secara berlebihan. Melindungi secara berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang berlebihan
2.      Permisivitas. Membiarkan anak berbuat sesuka hati dan sedikit pengekangan
3.      Memanjakan. Memanjakan membuat anak egois
4.      Penolakan. Mengabaikan anak
5.      Penerimaan. Orang tua yang menerima, memperhatikan perkembangan dan kemampuan anak.
6.      dominasi
7.      Tunduk pada anak. Orang tua yang tunduk pada anaknya. Anak mendominasi dirumah
8.      Faforitisme. Tipe orang tua yang hanya memperhatikan salah satu anaknya.
9.      Ambisi orang tua. Ambisi orang tua yang berharap anaknya naik status sosialnya.

Ada 6 tipe yang mempengaruhi perkembangan anak yaitu ;
1.      Tipe orang tua bayang-bayang
2.      Tipe orang tua rapuh
3.      Tipe orang tua kontrol
4.      Tipe orang tua piala
5.      Tipe orang tua sibuk
6.      Tipe orang tua meninggal
b.      Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan Kusus menurut Bandi Delphie (2006:1)adalah Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata ”Anak Luar Biasa”  anak yang yang menandakan adanya kelainan kberupa penglihatan husus yang mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dan lainnya  yaitu hendaya penglihatan (tuna Netra), hendaya pendengaran dan bicara (tunarungu wicara), hendaya perkembangan kemampuan (tuna grahita), anak dengan hendaya kondisi fisik (tuna daksa), anak dengan hendaya prilaku maladjusment (tuna laras), anak autisme, anak dengan hendaya belajar, anak dengan hendaya perkembangan ganda (tuna ganda)
Anak Tuna grahita menurut Moh Amin (1995:11) adalah anak-anak yang kecerdasannya jelas berada dibawah rata-rata, mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kurang cakap dalam memikirkan hal bstrak, sulit dan berbelit-belit.
1.      Pendidikan Berkebutuhan Khusus (Sekolah Luar Biasa)
·         SLB/A bagian Tuna Netra
Adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kondisi indra penglihatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sebagai akibat dari kerusakan pada mata, syaraf mata dan atau bagian otak yang mengelola stimulus visual.
·         SLB/B bagian Tuna Rungu Wicara
Adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kekurangan atau kehilangan kemampuan untuk mendengar yang disebabkan oleh kerusakan sebagian atau seluruh alat pendengarannya.
·         SLB/C bagian Tuna Grahita
Adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki hambatan dalam proses berfikir, emosi, sikap, dan kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya.
·         SLB/D bagian Tuna Daksa

Adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik yang mengalami penyimpangan dari rata-rata sebab mengalami kecacatan fisik, yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi normal tulang, otot dan persendiannya.
·         SLB/E bagian Tuna Laras
Adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik yang nakal ( anak nakal, anak berkelainan tingkah laku, delingkwen)

2.       Klasifikasi anak tuna grahita
·         Tuna grahita ringan dengan IQ 50-70
·         Tuna grahita sedang dengan IQ 30-50
·         Tuna grahita berat dan sangat berat dengan IQ ‹ 30

c.       Bina Diri / Activity of Daily Living
Menurut Widjajantin (1991:72) layanan pendidikan bagi anak tunagrahita selain pada pendidikan yang bersifat akademik, non akademik juga diadakan pembinaan terhadap bantu diri atau dalam istilah lainnya Activity of Daily Living (ADL).
Ruang lingkup ADL meliputi:
1)      Bidang penampilan diri dan sikap
2)      Bidang makanan dan minuman
3)      Bidang kesehatan lingkungan
4)      Bidang tugas-tugas sederhana di rumah
5)      Bidang keuangan
6)      Bidang pemeliharaan anak kecil

2.      Penelusuran Kepustakaan
a.       Perpustakaan Kampus I Unevesitas Muhammadiyah Malang
b.      Perpustakaan SMA PGRI Lawang Malang
c.       Dari Internet
d.      Perpustakaan  Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang

3.      Validasi Kepustakaan
NO.
NAMA
JUDUL BUKU
KOMPETENSI
PENERBIT
KETERANGAN
1.
Anastasia Widjajantin
Dasar-dasar Pendidikan Luar Biasa
Di bidang Pendidikan luar Biasa
FIP. IKIP Malang. 1991
Anggota Ikapi
2.
Moh Amin
Ortopedagogik anak tuna grahita
Di bidang pendidikan tenaga guru
DepDikBud
Dirjen Pendidikan Tinggi 1995
Angota Ikapi

3.
Bandi Delphie
Pembelajaran Anak Tuna Grahita
Di bidang Pendidikan luar biasa
PT. Refika Aditama. Bandung 2006
Annggota Ikapi
ISBN: 979-1073-22-8
4.
Elizabet Hurlock
Perkembangan Anak
Alih bahasa edisi ke 6 Di bidang Psikologi
Erlangga 1978
Anggota Ikapi
UN-10
5.
UU.RI.No.20 Tahun 2003
Sistem Pendidikan Nasional
-
Depdiknas. Jakarta. 2003
-

4.      Hasil Penelusuran Kepustakaan
a.       .Widjajantin, Anastasia. 1991. Dasar-dasar Pendidikan Luar Biasa. Malang: FIP IKIP Malang.
b.      Amin Moh. 1995. Ortopedagogik Anak Tuna Grahita. Bandung. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

c.       Delphie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak Tuna Grahita. Bandung: PT. Refika Aditama.

d.      Hurlock Elizabet. 1978. Perkembangan ana  .jakarta. Erlangga
e.       Undang-Undang RI. No. 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

5.      Fokus Penelitian
a.      Peran orang tua
Fokus yang diteliti dalam penelitian ini adalah menyangkut peran orang tua  dalam pelaksanaan bina diri di keluarga dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Dengan membimbing anak supaya bisa melakukan Bina Diri untuk dirinya sendiri, seperti merawat diri, mengurus diri, menolong diri, komunikasi dan adaptasi lingkungan dan diharapkan dapat hidup mandiri di keluarga, sekolah dan masyarakat. Pembelajaran Bina Diri diarahkan untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan bina diri untuk kebutuhan dirinya sendiri sehingga mereka tidak membebani orang lain.

b.      Pendidikan Berkebutuhan Khusus bagi Anak Tunagrahita
Pendidikan berkebutuhan khusus bagi anak tunagrahita adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki hambatan dalam proses berfikir, emosi, sikap, dan kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya. Menurut batasan dari AAMD dalam Delphie (2006:15) menyatakan bahwa anak tunagrahita secara umum mempunyai tingkat kemampuan intelektual di bawah rerata.

c. Bina Diri / ADL (Aktivity of Daily Living)
Menurut Widjajantin (1991:72) Activity of Daily Living (ADL) adalah pendidikan ketrampilan dalam kehidupan sehari-hari bagi anak tunagrahita. Sehingga yang bersangkutan dapat mandiri (mengurus dirinya sendiri) dan dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan bermasyarakat.

6.      Jumlah Jurnal Penelitian, Laporan Penelitian, Text Book
NO.
REFERENSI
JUMLAH
1.
Jurnal
-
2.
Laporan Penelitian
-
3.
Tex book
5

7.      Kerangka Konsep Penelitian
a.                   Pendidikan Berkebutuhan Khusus (Sekolah Luar Biasa)
b.                  Anak tuna Grahita
c.                   Peran orang tua
d.                  Pendidikan ketrampilan hidup sehari-hari / bina diri (Activity of Daily Living)

8.      Waktu / tempat membuat dokumen
            Pembuatan dokumen ini dilakukan di sekolah (SLB Idayu jl. Sulfat indah 2 Blimbing Malang) selesai jam kerja. Dalam pembuatannya dibantu oleh teman seprofesi dengan berbagai pertimbangan terhadap permasalahan yang ada, sesuai dengan tema yang dibahas.

9.      Kesulitan (kelemahan) yang ada
a.       Kesulitan dalam Penentuan judul
b.      Mencari / penelusuran referensi di perpustakaan
c.       Menetukan fokus penelitian
d.      Menyususn kerangka konsep penelitian

10.        Rencana Mengimplementasi kesulitan (kelemahan) yang ada
    1. Mencari dengan melihat kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan sesuai dengan substansial pekerjaan yang ditekuni.
    2. Mengkonsultasikan judul penelitian, agar diperoleh penelitian yang memiliki sifat original, berkapasitas dan unik.
    3. Menelusuri buku-buku referensi di perpustakaan yang memiliki validitas yang dapat dipertanggung jawabkan.
    4. Menentukan fokus penelitian yang telah direncanakan sehingga akan diperoleh kerangka konsep penelitian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar