KOTAK OPINI

Kamis, 17 Januari 2013

IDENTIFIKASI ANAK TUNAGRAHITA






A.  TUNA GRAHITA
            Tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan mental, jauh di bawah rata- rata. Gejalanya tak hanya sulit berkomunikasi, tetapi juga sulit mengerjakan tugas-tugas akademik. Ini karena perkembangan otak dan fungsi sarafnya tidak sempurna. Anak-anak seperti ini lahir dari ibu kalangan menengah ke bawah. Ketika dikandung, asupan gizi dan zat antibodi ke ibunya tidak mencukupi.
1.      Identifikasi anak
            Ada beberapa cara untuk melakukan identifikasi anak tunagrahita, diantaranya  adalah:
observasi, tes buatan, tes psikologi.
·         Observasi. Observasi merupakan metode yang tertua diantara metode-metode yang digunakan untuk mengenali anak atau orang dewasa yang tunagrahita. Metode ini membutuhkan waktu yang relatif lama, tetapi memberikan hasil yang lebih lengkap dibandingkan dengan metode lain. observasi bisa juga untuk melengkapi hasil tes dari psikolog, karena hasil tes belum tentu menunjukkan keadaan anak yang sebenarnya. Sebelum melakukan observasi seorang observer harus memahami dulu perkembangan rata-rata anak pada umumnya . Ada dua macam bentuk observasi. Pertama membiarkan anak hidup dalam lingkungan yang wajar, observer hanya mencatat gejala-gejala yang timbul selama observasi. Supaya observasi lebih terarah harus memiliki pedoman observasi. Pedoman observasi ini dapat dibuat dengan mengacu pada perkembangan rata-rata anak pada umumnya. Cara ini tidak selamanya efektif karena memerlukan waktu yang cukup banyak. Kedua, supaya lebih efektif observer menciptakan lingkungan kondisi lingkungan yang dapat menarik perhatian anak sehingga anak mau bicara, melakukan sesuatu dan lain sebagainya. Perbandingan antara umur kecerdasan dengan umur yang sebenarnya menunjukkan tingkat ketunagrahitaan anak tersebut. Misal umur kecerdasan anak umur 2 tahun sedang umur sebenarnya 3 tahun maka anak tersebut mungkin termasuk kategori tuna grahita ringan karena menghasilkan IQ kira-kira 66 yaitu 2/3 x 100 = 66.
·         Tes Buatan Guru. Tes buatan adalah tes yang dibuat oleh guru atau orang yang berkepentingan untuk mengenali anak tunagrahita. Supaya hasil tes lebih lengkap dan akurat akan lebih baik bila disertai dengan observasi. Tes bisa dibuat berdasarkan pada tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui anak pada masa-masa perkembangannya. Pada pelaksanaannya anak diminta untuk mengerjakan tugas-tugas perkembangan yang sesuai dengan umurnya, apabila anak belum dapat maka  anak diberi tugas unuk umur sebelumnya sebaliknya apabila anak mampu untuk mengerjakan tugas perkembangan yang sesuai dengan umurnya maka dilanjutkan pada tugas perkembangan untuk umur di atasnya. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka dalam pelaksanaan tes harus diciptakan kondisi yang membuat anak nyaman dan tidak terbebani oleh keberadaan tester sehinggan membuat anak gugup dan tidak melaksanakan tugasnya. 
·         Tes Psikologi. Tes psikologi merupakan salah satu alat untuk mengenali apakah seorang anak mengalami ketunagrahitaan atau tidak. Tes psikologi yang dipergunakan adalah tes
kecerdasasan. Tes ini lebih obyektif karena materi tes sudah diujicobakan sehingga  70
memenuhi persyaratan, prosedur pelaksanaannyapun diatur, termasuk cara pengolahan
hasil tes, sehingga akan mengurangi bias pada hasil tes.   
Tes kecerdasan akan lebih baik apabila disertai dengan tes kematangan sosial, mengingat kenyataannya bahwa seseorang dikatakan tunagrahita apabila mengalami keterlambatan dalam kecerdasan dan disertai hambatan dalam prilaku adaptifnya. Tes kecerdasan yang ada dewasa ini lebih banyak yang dikembangkan di luar negeri, oleh karena itu dalam penggunaanya harus hati-hati, karena lingkungan fisik dan lingkungan sosial dan budaya serta kondisi ekonomi masing-masing negara seringkali tidak sama. Supaya tes-tes yang dikembangkan di luar negeri bisa digunakan maka perlu adaptasi dengan kondisi setempat. Diantara tes-tes psikologi yang banyak digunakan adalah tes buatan Binet yang kemudian direvisi di Stanford University sehingga disebut Test Stanford-Binet, Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) dan Raven’s Matrices.
            Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita dengan indikasi sebagai berikut:
  1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu
  2. kecil/besar,
  3. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
  4. Perkembangan bicara/bahasa terlambat
  5. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan
  6. (pandangan kosong),
  7. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
  8. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).
            Nilai standarnya adalah 4, artinya bila anak mengalami minimal 4 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.



CONTOH ALAT IDENTIFIKASI ANAK GRAHITA
1.       Nama Sekolah     :
2.       Kelas                                      :
3.       Diisi tanggal                           :
4.       Nama GPK                           :
5.       Guru Kelas                            :

Gejala Yang Diamati
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Dst
 Tunagrahita




a
1. Kecerdasan
a. Ringan :

Memiliki IQ 50-70 (dari WISC)

















b
Dua kali berturut-turut tidak naik kelas

















c
Masih mampu membaca,menulis dan berhitung sederhana

















d
Tidak dapat berberfikir secara abstrak


















Perilaku adaptif

















a
Kurang perhatian terhadap lingkungan

















b
Sulit menyesuaikan diri dengan situasi  (interaksi sosial)





































b. Sedang

















a
Memiliki IQ 25-50 (dari WISC)

















b
Tidak dapat berfikir secara abstrak

















c
Hanya mampu membaca kalimat tunggal

















d
Mengalami kesulitan dalam berhitung sekalipun sederhana





































Perilaku adaptif

















a
Perkembangan interaksi dan kumunikasinya  terlambat 

















b
Mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru (penyesuaian diri)

















c
Kurang mampu untuk mengurus diri sendiri 





































C Berat

















a
Memiliki IQ 25- ke bawah  (dari WISC)

















b
Hanya mampu membaca satu kata

















c.
Sama sekali tidak dapat berfikir secara abstrak





































Perilaku adaptif

















a
Tidak dapat melakukan kontak sosial

















b
Tidak mampu mengurus diri sendiri

















c
Akan banyak bergantung pada bantuan orang lain




































Tidak ada komentar:

Posting Komentar