A. TUNA GRAHITA
Tunagrahita
adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan mental, jauh di bawah
rata- rata. Gejalanya tak hanya
sulit berkomunikasi, tetapi juga sulit mengerjakan tugas-tugas
akademik. Ini karena perkembangan otak dan fungsi sarafnya tidak sempurna.
Anak-anak seperti ini lahir dari ibu kalangan menengah ke bawah. Ketika
dikandung, asupan gizi dan zat antibodi ke ibunya tidak mencukupi.
1. Identifikasi
anak
Ada
beberapa cara untuk melakukan identifikasi anak tunagrahita, diantaranya adalah:
·
Observasi.
Observasi merupakan metode yang tertua diantara metode-metode yang digunakan
untuk mengenali anak atau orang dewasa yang tunagrahita. Metode ini membutuhkan
waktu yang relatif lama, tetapi memberikan hasil yang lebih lengkap
dibandingkan dengan metode lain. observasi bisa juga untuk melengkapi hasil tes
dari psikolog, karena hasil tes belum tentu menunjukkan keadaan anak yang
sebenarnya. Sebelum melakukan observasi seorang observer harus memahami dulu
perkembangan rata-rata anak pada umumnya . Ada dua macam bentuk observasi.
Pertama membiarkan anak hidup dalam lingkungan yang wajar, observer hanya
mencatat gejala-gejala yang timbul selama observasi. Supaya observasi lebih
terarah harus memiliki pedoman observasi. Pedoman observasi ini dapat dibuat
dengan mengacu pada perkembangan rata-rata anak pada umumnya. Cara ini tidak
selamanya efektif karena memerlukan waktu yang cukup banyak. Kedua, supaya
lebih efektif observer menciptakan lingkungan kondisi lingkungan yang dapat
menarik perhatian anak sehingga anak mau bicara, melakukan sesuatu dan lain
sebagainya. Perbandingan antara umur kecerdasan dengan umur yang sebenarnya
menunjukkan tingkat ketunagrahitaan anak tersebut. Misal umur kecerdasan anak
umur 2 tahun sedang umur sebenarnya 3 tahun maka anak tersebut mungkin termasuk
kategori tuna grahita ringan karena menghasilkan IQ kira-kira 66 yaitu 2/3 x
100 = 66.
·
Tes
Buatan Guru. Tes buatan adalah tes yang dibuat oleh guru atau orang yang
berkepentingan untuk mengenali anak tunagrahita. Supaya hasil tes lebih lengkap
dan akurat akan lebih baik bila disertai dengan observasi. Tes bisa dibuat
berdasarkan pada tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui anak pada
masa-masa perkembangannya. Pada pelaksanaannya anak diminta untuk mengerjakan
tugas-tugas perkembangan yang sesuai dengan umurnya, apabila anak belum dapat
maka anak diberi tugas unuk umur
sebelumnya sebaliknya apabila anak mampu untuk mengerjakan tugas perkembangan
yang sesuai dengan umurnya maka dilanjutkan pada tugas perkembangan untuk umur
di atasnya. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka dalam pelaksanaan tes
harus diciptakan kondisi yang membuat anak nyaman dan tidak terbebani oleh
keberadaan tester sehinggan membuat anak gugup dan tidak melaksanakan
tugasnya.
·
Tes
Psikologi. Tes psikologi merupakan salah satu alat untuk mengenali
apakah seorang anak mengalami ketunagrahitaan atau tidak. Tes psikologi yang
dipergunakan adalah tes
kecerdasasan. Tes ini lebih obyektif
karena materi tes sudah diujicobakan sehingga
70
memenuhi persyaratan, prosedur
pelaksanaannyapun diatur, termasuk cara pengolahan
hasil tes, sehingga akan mengurangi
bias pada hasil tes.
Tes kecerdasan akan lebih baik apabila
disertai dengan tes kematangan sosial, mengingat kenyataannya bahwa seseorang
dikatakan tunagrahita apabila mengalami keterlambatan dalam kecerdasan dan
disertai hambatan dalam prilaku adaptifnya. Tes kecerdasan yang ada dewasa ini
lebih banyak yang dikembangkan di luar negeri, oleh karena itu dalam
penggunaanya harus hati-hati, karena lingkungan fisik dan lingkungan sosial dan
budaya serta kondisi ekonomi masing-masing negara seringkali tidak sama. Supaya
tes-tes yang dikembangkan di luar negeri bisa digunakan maka perlu adaptasi
dengan kondisi setempat. Diantara tes-tes psikologi yang banyak digunakan
adalah tes buatan Binet yang kemudian direvisi di Stanford University sehingga
disebut Test Stanford-Binet, Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC)
dan Raven’s Matrices.
Adapun cara mengidentifikasi seorang
anak termasuk tunagrahita dengan indikasi sebagai berikut:
- Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu
- kecil/besar,
- Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
- Perkembangan bicara/bahasa terlambat
- Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan
- (pandangan kosong),
- Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
- Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).
Nilai standarnya adalah 4, artinya
bila anak mengalami minimal 4 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.
CONTOH ALAT IDENTIFIKASI ANAK GRAHITA
1.
Nama Sekolah :
2.
Kelas :
3.
Diisi tanggal :
4.
Nama GPK :
5.
Guru Kelas :
Gejala
Yang Diamati
|
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
|
|||||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
Dst
|
||
Tunagrahita
|
||||||||||||||||||
a
|
1. Kecerdasan
a. Ringan :
Memiliki IQ
50-70 (dari WISC)
|
|||||||||||||||||
b
|
Dua kali
berturut-turut tidak naik kelas
|
|||||||||||||||||
c
|
Masih mampu membaca,menulis dan
berhitung sederhana
|
|||||||||||||||||
d
|
Tidak dapat
berberfikir secara abstrak
|
|||||||||||||||||
Perilaku
adaptif
|
||||||||||||||||||
a
|
Kurang perhatian terhadap
lingkungan
|
|||||||||||||||||
b
|
Sulit menyesuaikan diri dengan
situasi (interaksi sosial)
|
|||||||||||||||||
b.
Sedang
|
||||||||||||||||||
a
|
Memiliki IQ 25-50 (dari WISC)
|
|||||||||||||||||
b
|
Tidak dapat berfikir secara
abstrak
|
|||||||||||||||||
c
|
Hanya mampu membaca kalimat
tunggal
|
|||||||||||||||||
d
|
Mengalami
kesulitan dalam berhitung sekalipun sederhana
|
|||||||||||||||||
Perilaku
adaptif
|
||||||||||||||||||
a
|
Perkembangan
interaksi dan kumunikasinya
terlambat
|
|||||||||||||||||
b
|
Mengalami kesulitan untuk
beradaptasi dengan lingkungan yang baru (penyesuaian diri)
|
|||||||||||||||||
c
|
Kurang mampu untuk mengurus diri
sendiri
|
|||||||||||||||||
C
Berat
|
||||||||||||||||||
a
|
Memiliki IQ 25- ke bawah (dari WISC)
|
|||||||||||||||||
b
|
Hanya mampu
membaca satu kata
|
|||||||||||||||||
c.
|
Sama sekali tidak dapat berfikir
secara abstrak
|
|||||||||||||||||
Perilaku
adaptif
|
||||||||||||||||||
a
|
Tidak
dapat melakukan kontak sosial
|
|||||||||||||||||
b
|
Tidak mampu mengurus diri sendiri
|
|||||||||||||||||
c
|
Akan banyak
bergantung pada bantuan orang lain
|
|||||||||||||||||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar