KOTAK OPINI

Kamis, 17 Januari 2013

Identifikasi Anak Berbakat Penyandang Ketunaan





Secara umum prosedur identifikasi anak berbakatat memiliki dua tahapan, yaitu:
1.      Penjaringan (scereening)
             Tujuannya adalah siap-siapa yang diduga kuat memiliki cirri-ciri keberbakatan, yag selanjutnya dilakukan dalam tahapan berikutya. Siswa yang lolos dalam tahapan ini belum tentu memenuhi criteria berbakat, karena harus diseleksi lebih ketat lagi.
2.      Penyaringan atau seleksi
            Tujuannya untuk menentukan siapoa yang dapat digolongkan sebagai anak berbakat, berdasarkan seleksi yang lebih halus dan teliti daripada tahap pertama. Mereka yang lolos tahap kedua berarti mereka memenuhi criteria miimal keberbakatan yang diisyaratkan.
            Prosedur diatas biasanya diterapkan untuk jumlah populasi yang besar. Namun demikian bukan berarti tidak dapat diterapkan untuk anak berbakat penyandang ketunaan, yang jumlah populasinya relative kecil. Bahkan sangat mungkin sebagai suatu tahapan untuk mengambil keputusan sementara, belum final, sebelum dievalusi lebih dalam melalui cara atau metode yang lebih halus. Keputusan final tergantung pada evaluasi lanjutan tersebut.
                   Dalam prosedur identifikasi anak berbakat penyandang ketunaan hendaknya menganut prinsip kesegaran, fleksibilitas, pragmatis, terpadu dan berkesinambungan. Yang dimana:
1.      Kesegaran, artinya begitu ada tanda-tanda keberbakatan yang muncul pada anak harus segara ditelusuri secepatnya, sehingga dapat segera dirumuskan program pendidikannya.
2.      Fleksibilitas, artinya tidak harus menganut pola atau prosedur tertentu, tetapi disesuaikan dengan kondisi dan situasinya.
3.      Pragmatis, artinya perlu penggunaan  cara-cara tertentu yang sesuai dengan ketunaannya, yang dapat menjamin kemudahan, kecepatan dan ketepatan dalam menentukan keberbakatan anak.
4.      Terpadu, artinya disamping perlunya metode dan teknik yang bervariasi, juga perlu kerja sama dengan orang yang ahli dan terlatih dalam identifikasi keberbakatan pada anak tuna.
5.      Berkesinambungan, artinya pelaksanaan harus dilakukan secara terus menerus dan dalam berbagai setting lingkungan.
                        Merujuk, prinsip diatas, sangat penting bagi guru atau siapapun adalah tidak menunda-nunda waktu untuk melakukan penelusuran lebih cermat terhadap keberbakatan anak, manakala ditemukan tanda-tada yang luar biasa pada mereka. Dengan demikian, apabila ternyata memang berbakat dapat segera ditentukan program layanan yang sesuai dengan kebutuhannya.
                   Beberpa prosedur dan teknik identifikasi anak berbakat penyandang ketunaan telah dikemukakan oleh beberapa para ahli, Sisc mengemukakan bahwa untuk membantu menandai siswa-siswa berbakat diantara anak-anak tuna digunakan dua tahapan prosedur yaitu:
1.      Menggunakan level yang lebih rendah untuk penerimaan pada penjaringan awal
2.      Perlunya pemberian pengetahuan teknik khusus pada penguji tentang instumen tes yang sesuai dan pemahaman keterbatasan-keterbatasan dari siswa-siswa penyandang ketunaan.
                        Mengingat petingnya pengetahuan dan keterampilan bagi guru dalam identifikasi anak berbakat penyandag ketunaan terutama yang berhubungan dengan berbakat khusus yang sering dijumpai pada mereka. Tekniknya meliputi tes-tes sebagai berikuut:
1.      Tes inteligensi umum
2.      Tes kreatif dan produktif
3.      Tes seni pertunjukkan dan seni rupa
4.      Tes tulisan kreatif (bercerita)
5.      Tes keterampilan Psikomotor
6.      Tes kepemimpinan
Berikut identifikasi anak berbakat :
  1. Membaca pada usia lebih muda,
  2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
  3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
  4. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
  5. Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
  6. Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
  7. Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
  8. Memberi jawaban-jawaban yang baik,
  9. Dapat memberikan banyak gagasan,
  10. Luwes dalam berpikir,
  11. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
  12. Mempunyai pengamatan yang tajam,
  13. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap
  14. tugas atau bidang yang diminati,
  15. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
  16. Senang mencoba hal-hal baru,
  17. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
  18. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah,
  19. Cepat menangkap hubungan sebabakibat,
  20. Berperilaku terarah pada tujuan,
  21. Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
  22. Mempunyai banyak kegemaran (hobi),
  23. Mempunyai daya ingat yang kuat,
  24. Tidak cepat puas dengan prestasinya,
  25. Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
  26. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
            Nilai standarnya adalah 18, artinya bila anak mengalami minimal 18 gejala di atas, maka anak termasuk berbakat.
2.    Identifikasi Anak berbakat sesuai dengan ketunaannya.
·      Identifikasi Anak Berbakat Penyandang Tunanetra
               Untuk tes identifikasi inlektualnya, termasuk yang setengah melihat (Partially Sighted Student) dapat digunakan tes Hayes-Binet, suatu modifikasi dari Stanfort-Binet Test yang item-itemnya tidak menuntut kemampuan penglihatan. Tes lain adalah dengan WISC-R yang telah diadaptasikan untuk anak-anak tunanetra atau setengah melihat hanya dengan menggunakan item-item verbal dan mengabaikan item-item Performace. Dapat juga menggunakan Swassing-Barbe Modality Indeks Test, karya Swassing R. H, dan W. B. Barbe (1979) suatu tes untuk mengukur kegiatan modalitas penglihatan, pendengaran dan kinestetik. Sub tes yang berhubungan dengan pendengaran dapat diabaikan.
               Sedangkan identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yag diuraikan sebelumnya dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak tunanetra. Begitu juga identifikasi yang sifatya tanpa tes.

·      Identifikasi Anak Berbakat Penyadang Tunarunggu
               Untuk siswa-siswa tuarungu kemampuan intelektual mereka dengan diukur dengan meggunakan Nebraska Test of Learning Aptitude. WIS-R dapat juga digunakan hanya dengan menggunakan tes bagian performance. Atau dengan Leiter Iternasional Performance Scale, Raven Progresiv matrices, serta Silver test of Cognitive Skills, karya Silver R. A (1979) yaitu tes keterampilan kognitif yang diukur melalui gambar. Tes ini dapat dimanfaatkan dalam identifikasi kemampuan itelektual pada anak-anak dengan gangguan pendengaran.. Dapat juga dengan menggunakan Figure reasoning Test (FRT)
               Salah satu tes yang jarang digunakan tetapi secara potensial dapat dimanfaatkan dalam identifikasi keberbakatan anak tunarunggu karena secara keseluruhan berbentuk gambar, adalah  Pictorical Test of Intelligence. Tes ini tidak menuntut respon-respon verbal dan dapat digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual anak tunarungu sama baiknya dengan anak normal.
               Sedangkan identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yag diuraikan sebelumnya dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak tunanetra. Begitu juga identifikasi yang sifatya tanpa tes.

·      Identifikasi Anak berbakat Penyandang Tunadaksa
               Untuk siswa-siswa berketunaan dengan gangguan kemampuan motorik tingkat berat, khususya siswa CP, dapat dijaring dengan menggunakan Colombia Metal Maturity Scale. Tes ini menggunakan kemampuan visual dan perceptual siswa dan memberikan indekasi terhadap kemampuan mereka dalam membedakan dan mengklafikasi. Instrumen lain untuk anak CP ini ialah Leiter Internasioal Performance Scale yang secara khusus telah diadaptasikan untuk anak-anak CP. Dapat ditambahkan bahwa Raven Progressicve Matrices telah secara sukses digunakan untuk mengidentifikasi keberbakatan pada anak-anak CP (Raven. 1952, dalam Sisc, 1897). Disamping itu dapat pula menggunakan Figure Reasoning Test.
               Sedangkan identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yag diuraikan sebelumnya dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak tunanetra. Begitu juga identifikasi yang sifatya tanpa tes.

·      Identifikasi Anak Berbakat Penyandang Tunalaras
               Untuk mengidentifikasi kemampuan intelektualnya anak tunalaras tidak diperlukan instrument khusus sesuai dengan ketunaanya. Artinya dapat menggunakan semua jenis tes yang ada, misalnya WISC-R, Progressive Matrices, TIKI, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan adalah dalam pengadministrasian tes. Sangat diharapkan kemampuan tester untuk menciptakan situasi yang sama dan bebas dari rasa tertekan.
                Sedangkan identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yag diuraikan sebelumnya dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak tunanetra. Begitu juga identifikasi yang sifatya tanpa tes.
·      Identifikasi Anak Berbakat Penyandang Kesulitan Belajar
                Untuk kepentingan identifikasi kemamapuan inteligensi anak berbakat yang mengalami kesulitan belajar dapat menggunakan tes-tes yang sudah diadaptasikan, seperti WISC,WISC-R, IST (Intelegece Stucture Test). Disamping itu dapat juga dilakukan dengan tes TIKI (Tes intelligensi Kolektif Indonesia). sedangkan untuk identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yang diuraikan sebelumnya dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar. Begitu juga untuk identififkasi yang sifatnya tanpa tes.


ALAT IDENTIFIKASI ANAK LUAR BIASA

Nama Sekolah         :
Kelas                                       :
Diisi tanggal                        :
Nama GPK                 :
Guru Kelas                              :

Gejala Yang Diamati
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Dst
1. Anak Berbakat/Memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa
a
Membaca pada usia lebih muda,

















b
Membaca lebih cepat dan lebih banyak,

















c
Memiliki perbendaharaan kata yang luas,

















d
Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat

















e
Mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa

















f
Mempunyai inisitif dan dapat bekerja sendiri,

















g
Menunjukkan kesalahan (orisinalitas) dalam ungkapan verbal

















h
Memberi jawaban, jawaban yang baik

















i
Dapat memberikan banyak gagasan,

















j
Luwes dalam berpikir

















k
Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan

















l
Mempunyai pengamatan yang tajam

















m
Dapat Berkonsentrasi dalam jangka waktu yang panjang terutama dalam tugas atau bidang yang minati

















n
Berpikir kritis juga terhadap diri sendiri

















o
Senang mencoba hal-hal baru

















p
Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi dan sintetis yang tinggi

















q
Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah-masalah

















r
Cepat menangkap hubungan sebab akibat

















s
Berprilaku terarah terhdap tujuan

















t
Mempunyai daya imajinasi yang kuat

















u
Mempunyai banyak kegemaran/hobi

















v
mempunyai daya ingat yang kuat

















w
Tidak cepat puas dengan prestasinya

















x
Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),

















y
Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar