Secara umum prosedur identifikasi anak
berbakatat memiliki dua tahapan, yaitu:
1.
Penjaringan
(scereening)
Tujuannya
adalah siap-siapa yang diduga kuat memiliki cirri-ciri keberbakatan, yag
selanjutnya dilakukan dalam tahapan berikutya. Siswa yang lolos dalam tahapan
ini belum tentu memenuhi criteria berbakat, karena harus diseleksi lebih ketat
lagi.
2.
Penyaringan
atau seleksi
Tujuannya
untuk menentukan siapoa yang dapat digolongkan sebagai anak berbakat,
berdasarkan seleksi yang lebih halus dan teliti daripada tahap pertama. Mereka
yang lolos tahap kedua berarti mereka memenuhi criteria miimal keberbakatan
yang diisyaratkan.
Prosedur
diatas biasanya diterapkan untuk jumlah populasi yang besar. Namun demikian
bukan berarti tidak dapat diterapkan untuk anak berbakat penyandang ketunaan,
yang jumlah populasinya relative kecil. Bahkan sangat mungkin sebagai suatu
tahapan untuk mengambil keputusan sementara, belum final, sebelum dievalusi
lebih dalam melalui cara atau metode yang lebih halus. Keputusan final
tergantung pada evaluasi lanjutan tersebut.
Dalam prosedur
identifikasi anak berbakat penyandang ketunaan hendaknya menganut prinsip kesegaran, fleksibilitas, pragmatis,
terpadu dan berkesinambungan. Yang dimana:
1.
Kesegaran,
artinya begitu ada tanda-tanda keberbakatan yang muncul pada anak harus segara
ditelusuri secepatnya, sehingga dapat segera dirumuskan program pendidikannya.
2.
Fleksibilitas,
artinya tidak harus menganut pola atau prosedur tertentu, tetapi disesuaikan
dengan kondisi dan situasinya.
3.
Pragmatis,
artinya perlu penggunaan cara-cara
tertentu yang sesuai dengan ketunaannya, yang dapat menjamin kemudahan,
kecepatan dan ketepatan dalam menentukan keberbakatan anak.
4.
Terpadu, artinya
disamping perlunya metode dan teknik yang bervariasi, juga perlu kerja sama
dengan orang yang ahli dan terlatih dalam identifikasi keberbakatan pada anak
tuna.
5.
Berkesinambungan,
artinya pelaksanaan harus dilakukan secara terus menerus dan dalam berbagai
setting lingkungan.
Merujuk,
prinsip diatas, sangat penting bagi guru atau siapapun adalah tidak
menunda-nunda waktu untuk melakukan penelusuran lebih cermat terhadap
keberbakatan anak, manakala ditemukan tanda-tada yang luar biasa pada mereka. Dengan
demikian, apabila ternyata memang berbakat dapat segera ditentukan program
layanan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Beberpa
prosedur dan teknik identifikasi anak berbakat penyandang ketunaan telah
dikemukakan oleh beberapa para ahli, Sisc mengemukakan bahwa untuk membantu
menandai siswa-siswa berbakat diantara anak-anak tuna digunakan dua tahapan
prosedur yaitu:

1.
Menggunakan
level yang lebih rendah untuk penerimaan pada penjaringan awal
2.
Perlunya
pemberian pengetahuan teknik khusus pada penguji tentang instumen tes yang
sesuai dan pemahaman keterbatasan-keterbatasan dari siswa-siswa penyandang
ketunaan.
Mengingat petingnya
pengetahuan dan keterampilan bagi guru dalam identifikasi anak berbakat
penyandag ketunaan terutama yang berhubungan dengan berbakat khusus yang sering
dijumpai pada mereka. Tekniknya meliputi tes-tes sebagai berikuut:
1.
Tes inteligensi
umum
2.
Tes kreatif dan
produktif
3.
Tes seni
pertunjukkan dan seni rupa
4.
Tes tulisan
kreatif (bercerita)
5.
Tes
keterampilan Psikomotor
6.
Tes
kepemimpinan
Berikut
identifikasi anak berbakat :
- Membaca pada usia lebih muda,
- Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
- Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
- Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
- Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
- Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
- Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
- Memberi jawaban-jawaban yang baik,
- Dapat memberikan banyak gagasan,
- Luwes dalam berpikir,
- Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
- Mempunyai pengamatan yang tajam,
- Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap
- tugas atau bidang yang diminati,
- Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
- Senang mencoba hal-hal baru,
- Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
- Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah,
- Cepat menangkap hubungan sebabakibat,
- Berperilaku terarah pada tujuan,
- Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
- Mempunyai banyak kegemaran (hobi),
- Mempunyai daya ingat yang kuat,
- Tidak cepat puas dengan prestasinya,
- Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
- Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
Nilai
standarnya adalah 18, artinya bila anak mengalami minimal 18 gejala di atas,
maka anak termasuk berbakat.
2. Identifikasi
Anak berbakat sesuai dengan ketunaannya.
·
Identifikasi
Anak Berbakat Penyandang Tunanetra
Untuk tes
identifikasi inlektualnya, termasuk yang setengah melihat (Partially Sighted Student) dapat digunakan tes Hayes-Binet, suatu modifikasi dari Stanfort-Binet Test yang
item-itemnya tidak menuntut kemampuan penglihatan. Tes lain adalah dengan
WISC-R yang telah diadaptasikan untuk anak-anak tunanetra atau setengah melihat
hanya dengan menggunakan item-item verbal dan mengabaikan item-item Performace. Dapat juga menggunakan Swassing-Barbe Modality Indeks Test,
karya Swassing R. H, dan W. B. Barbe (1979) suatu tes untuk mengukur kegiatan
modalitas penglihatan, pendengaran dan kinestetik. Sub tes yang berhubungan
dengan pendengaran dapat diabaikan.
Sedangkan
identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yag diuraikan sebelumnya
dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak tunanetra. Begitu juga
identifikasi yang sifatya tanpa tes.
·
Identifikasi
Anak Berbakat Penyadang Tunarunggu
Untuk
siswa-siswa tuarungu kemampuan intelektual mereka dengan diukur dengan
meggunakan Nebraska Test of Learning
Aptitude. WIS-R dapat juga digunakan hanya dengan menggunakan tes bagian
performance. Atau dengan Leiter
Iternasional Performance Scale, Raven
Progresiv matrices, serta Silver test of Cognitive Skills, karya
Silver R. A (1979) yaitu tes keterampilan kognitif yang diukur melalui gambar.
Tes ini dapat dimanfaatkan dalam identifikasi kemampuan itelektual pada
anak-anak dengan gangguan pendengaran.. Dapat juga dengan menggunakan Figure reasoning Test (FRT)
Progresiv matrices, serta Silver test of Cognitive Skills, karya
Silver R. A (1979) yaitu tes keterampilan kognitif yang diukur melalui gambar.
Tes ini dapat dimanfaatkan dalam identifikasi kemampuan itelektual pada
anak-anak dengan gangguan pendengaran.. Dapat juga dengan menggunakan Figure reasoning Test (FRT)
Salah satu tes
yang jarang digunakan tetapi secara potensial dapat dimanfaatkan dalam
identifikasi keberbakatan anak tunarunggu karena secara keseluruhan berbentuk
gambar, adalah Pictorical Test of Intelligence. Tes ini tidak menuntut
respon-respon verbal dan dapat digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual
anak tunarungu sama baiknya dengan anak normal.
Sedangkan
identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yag diuraikan sebelumnya
dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak tunanetra. Begitu juga
identifikasi yang sifatya tanpa tes.
·
Identifikasi
Anak berbakat Penyandang Tunadaksa
Untuk
siswa-siswa berketunaan dengan gangguan kemampuan motorik tingkat berat,
khususya siswa CP, dapat dijaring dengan menggunakan Colombia Metal Maturity Scale. Tes ini menggunakan kemampuan visual
dan perceptual siswa dan memberikan indekasi terhadap kemampuan mereka dalam
membedakan dan mengklafikasi. Instrumen lain untuk anak CP ini ialah Leiter Internasioal Performance Scale
yang secara khusus telah diadaptasikan untuk anak-anak CP. Dapat ditambahkan
bahwa Raven Progressicve Matrices telah
secara sukses digunakan untuk mengidentifikasi keberbakatan pada anak-anak CP
(Raven. 1952, dalam Sisc, 1897). Disamping itu dapat pula menggunakan Figure Reasoning Test.
Sedangkan
identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yag diuraikan sebelumnya
dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak tunanetra. Begitu juga
identifikasi yang sifatya tanpa tes.
· Identifikasi Anak Berbakat Penyandang
Tunalaras
Untuk
mengidentifikasi kemampuan intelektualnya anak tunalaras tidak diperlukan
instrument khusus sesuai dengan ketunaanya. Artinya dapat menggunakan semua
jenis tes yang ada, misalnya WISC-R, Progressive
Matrices, TIKI, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan adalah dalam
pengadministrasian tes. Sangat diharapkan kemampuan tester untuk menciptakan
situasi yang sama dan bebas dari rasa tertekan.
Sedangkan
identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yag diuraikan sebelumnya
dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak tunanetra. Begitu juga
identifikasi yang sifatya tanpa tes.
· Identifikasi Anak Berbakat Penyandang
Kesulitan Belajar
Untuk
kepentingan identifikasi kemamapuan inteligensi anak berbakat yang mengalami
kesulitan belajar dapat menggunakan tes-tes yang sudah diadaptasikan, seperti
WISC,WISC-R, IST (Intelegece Stucture Test). Disamping itu dapat juga dilakukan
dengan tes TIKI (Tes intelligensi Kolektif Indonesia). sedangkan untuk
identifikasi keberbakatan yang lain, dari beberapa tes yang diuraikan
sebelumnya dapat dipilih yang sesuai dengan karakteristik anak yang mengalami
kesulitan belajar. Begitu juga untuk identififkasi yang sifatnya tanpa tes.
ALAT
IDENTIFIKASI ANAK LUAR BIASA
Nama Sekolah :
Kelas :
Diisi tanggal :
Nama GPK :
Guru Kelas :
|
Gejala
Yang Diamati
|
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
|
|||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
Dst
|
||
|
1. Anak Berbakat/Memiliki
Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa
|
||||||||||||||||||
|
a
|
Membaca
pada usia lebih muda,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b
|
Membaca lebih cepat dan lebih
banyak,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c
|
Memiliki
perbendaharaan kata yang luas,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
d
|
Mempunyai
rasa ingin tahu yang kuat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
e
|
Mempunyai minat yang luas, juga
terhadap masalah orang dewasa
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
f
|
Mempunyai inisitif dan dapat
bekerja sendiri,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
g
|
Menunjukkan kesalahan
(orisinalitas) dalam ungkapan verbal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
h
|
Memberi jawaban, jawaban yang baik
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
i
|
Dapat memberikan banyak gagasan,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
j
|
Luwes dalam berpikir
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
k
|
Terbuka terhadap
rangsangan-rangsangan dari lingkungan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
l
|
Mempunyai pengamatan yang tajam
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
m
|
Dapat Berkonsentrasi dalam jangka
waktu yang panjang terutama dalam tugas atau bidang yang minati
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
n
|
Berpikir kritis juga terhadap diri
sendiri
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
o
|
Senang mencoba hal-hal baru
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
p
|
Mempunyai daya abstraksi,
konseptualisasi dan sintetis yang tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
q
|
Senang terhadap kegiatan
intelektual dan pemecahan masalah-masalah
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
r
|
Cepat menangkap hubungan sebab
akibat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
s
|
Berprilaku terarah terhdap tujuan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
t
|
Mempunyai daya imajinasi yang kuat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
u
|
Mempunyai banyak kegemaran/hobi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
v
|
mempunyai daya ingat yang kuat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
w
|
Tidak cepat
puas dengan prestasinya
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
Peka
(sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
y
|
Menginginkan kebebasan dalam
gerakan dan tindakan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar