TUNARUNGU
1.
Identifikasi
Anak Tuna Rungu
Tunarungu adalah individu yang
memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen.
Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah
- Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
- Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
- Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
- Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
- Gangguan pendengaran ekstrem/tuli(di atas 91dB).
Karena
memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam
berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional
sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. Saat ini
dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi
total yaitu
cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa
tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari
sesuatu yang abstrak.
Identifikasi anak yang mengalami
gangguan pendengaran:
- Tidak mampu mendengar,
- Terlambat perkembangan bahasa,
- Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
- Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara,
- Ucapan kata tidak jelas,
- Kualitas suara aneh/monoton,
- Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,
- Banyak perhatian terhadap getaran,
- Keluar nanah dari kedua telinga,
- Terdapat kelainan organis telinga.
Nilai
standarnya adalah 7, artinya bila anak mengalami minimal 7 gejala di atas, maka
anak termasuk Tuna rungu.
Ciri-ciri Anak
Tunarungu.
·
Ciri-Ciri
Fisik Anak Tunarungu ( Cara berjalan anak kaku dan membungkuk disebabkankarena terganggunya alat pendengaran, Gerakan mata cepat dan agak beringas menunjukkan bahwa anak ingin menangkap keadaan yang ada di sekitarnya, Gerakan kaki dan tangannya sangat cepat atau kidal tampak pada saat berkomunikasi dengan gerak/bahasa isyarat, Pernafasannya pendek dan agak terganggu. )
·
Ciri-Ciri
Intelegensi Anak Tunarungu ( Intelegensi anak tunarungu umumnya seperti anak
normal namun karena tingkat kemampuan bahasa, keterbatasan informasi dan daya
abstraksi yang mengakibatkan menghambatnya proses pencapaian yang lebih luas.
Maksudya karena memiliki keterbatasan dalam kemampuan berbahasa maka anak lebih
sulit untuk memahami sesuatu.)
·
Ciri-Ciri Sosial Anak Tunarungu ( Merasa
rendah diri dan merasa diasingkan dari keluarga dan masyarakat, Merasa diperlakukan
tidak adil oleh orang-orang disekitarnya, Pergaulan terbatas antara sesama
tunarungu, Memiliki sifat egosentris melebihi anak normal )
·
Ciri-Ciri
Emosi Anak Tunarungu ( Mudah marah dan mudah tersinggung, Merasa takut pada
lingkungan sekitar sehingga anak merasa was-was atau kuatir )
2.
Format IDENTIFIKASI ANAK TUNA RUNGU
INFORMASI
PERKEMBANGAN ANAK
·
(Diisi oleh Orang tua)
Petunjuk :
Isilah daftar berikut pada kolom yang tersedia sesuai dengan
kondisi anak yang sebenarnya. Jika ada yang kurang jelas, konsultasikan kepada
guru kelas tempat anak Bapak/Ibu bersekolah.
A. Identitas
Anak :
1.
Nama :
..............................................
2.
Tempat dan tanggal lahir/umur :
..............................................
3.
Jenis kelamin :
..............................................
4.
Agama :
..............................................
6.
Anak ke dari jumlah saudara :
..............................................
7.
Nama sekolah :
..............................................
8.
Kelas :
..............................................
9.
Alamat :
..............................................
B.
Riwayat Kelahiran :
1.
Perkembangan masa kehamilan :
..............................................
2.
Penyakit pada masa kehamilan :
..............................................
3.
Usia kandungan :
..............................................
4.
Riwayat proses kelahiran :
..............................................
5.
Tempat kelahiran :
..............................................
6.
Penolong proses kelahiran :
..............................................
7.
Gangguan pada saat bayi lahir :
..............................................
8.
Berat bayi :
..............................................
9.
Panjang bayi :
..............................................
10.
Tanda-tanda kelainan pada bayi :
..............................................
C.
Perkebangan Masa Balita :
1.
Menetek ibunya hingga umur : ...................................................
2.
Minum susu kaleng hingga umur :
...................................................
3.
Imunisasi (lengkap/tidak) :
..................................................
4.
Pemeriksaan/penimbangan rutin/tdk :
..............................................
5.
Kualitas makanan
:
..................................................
6.
Kuantitas makan
: ..................................................
7.
Kesulitan makan (ya/tidak) :
..................................................
D.
Perkembangan Fisik :
1.
Dapat berdiri pada umur :
....................................................
2.
Dapat berjalan pada umur :
....................................................
3.
Naik sepeda roda tiga pada umur :
...................................................
4.
Naik sepeda roda dua pada umur :
....................................................
5.
Bicara dengan kalimat lengkap :
....................................................
6.
Kesulitan gerakan yang dialami :
....................................................
7.
Status Gizi Balita (baik/kurang) :
....................................................
8.
Riwayat kesehatan (baik/kurang) :
....................................................
9.
Penggunaan tangan dominan :
………………………...............
E.
Perkembangan Bahasa :
1.
Meraba/berceloteh pada umur :
....................................................
2.
Mengucapkan satu suku kata yang bermakna kalimat (mis. Pa berarti bapak) pada
umur :
....................................................
3.
Berbicara dengan satu kata bermakna pada umur:
........................................
4.
Berbicara dengan kalimat lengkap sederhana pada umur : ……………........
F.
Perkembangan Sosial :
5.
Hubungan dengan saudara :
.............................................................
6.
Hubungan dengan teman :
.............................................................
7.
Hubungan dengan orangtua :
.............................................................
8.
Hobi
:
.............................................................
9.
Minat khusus :
.............................................................
G.
Perkembangan Pendidikan :
1.
Masuk TK umur :
.............................................................
2.
Lama Pendidikan di TK :
.............................................................
3.
Kesulitan selama di TK :
.............................................................
4.
Masuk SD umur :
.............................................................
5.
Kesulitan selama di SD :
.............................................................
6.
Pernak tidak naik kelas :
..............................................................
7.
Pelayanan khusus yang pernah diterima anak: ...................................
8.
Prestasi belajar yang dicapai :
............................................................
9.
Mata Pelajaran yang dirasa paling sulit
: .........................................
10.
Mata Pelajaran yang dirasa paling disenangi :
....................................
11.
Keterangan lain yang dianggap perlu :
ALAT IDENTIFIKASI ANAK
Nama Sekolah :
Kelas :
Diisi tanggal :
Nama Petugas :
Guru Kelas :
|
No
|
Gejala yang Diamati
|
Gejala Muncul
|
|
|
Ya
|
Tidak
|
||
|
1
|
Tidak mampu mendengar
|
||
|
2
|
Terlambat perkembangan bahasa
|
||
|
3
|
Sering
menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
|
||
|
4
|
Kurang/tidak
tanggap bila diajak bicara
|
||
|
5
|
Ucapan
kata tidak jelas
|
||
|
6
|
Kualitas
suara aneh/monoton
|
||
|
7
|
Sering memiringkan kepala dalam usaha
mendengar
|
||
|
8
|
Banyak
perhatian terhadap getaran
|
||
|
9
|
Keluar
nanah dari kedua telinga
|
||
|
10
|
Terdapat
kelainan organis telinga
|
||
|
Nilai
standarnya 7
|
|||
3.
Tujuan
Asesmen.
Pendidikan anak tunarungu merupakan proses yang
kompleks. Penempatan yang tepat, cara belajar terbaik bagi masing-masing anak
(auditori, visual, atau manual), kurikulum, amplifikasi, dan keputusan tentang
transisi dari satu lembaga layanan ke lembaga layanan lainnya yang diambil oleh
keluarga, sekolah, dan individu, bergantung pada informasi yang reliabel.
Informasi semacam ini hanya dapat diperoleh dari hasil asesmen yang baik, yang
memperhatikan kekuatan dan kebutuhan anak dalam bidang komunikasi, akademik,
intelektual, medis, dan karakteristik audiologis anak, yang harus diterjemahkan
oleh orang tua dan guru menjadi tujuan pembelajarannya. Bila perencanaan
program pendidikan anak sehari-hari sudah didasarkan atas informasi hasil
asesmen tersebut, maka asesmen itu sudah mencapai tujuan utamanya.
Tujuan-tujuan asesmen
anak tunarungu itu mencakup:
·
Menentukan penempatan yang tepat atau
mengubah penempatan.
·
Mengukur kemajuan anak.
·
Merumuskan saran-saran untuk pemecahan
masalah yang timbul, seperti masalah perilaku, kesulitan perhatian, atau
lambatnya kemajuan anak.
·
Mengembangkan tujuan dan sasaran program
yang sedang diimplementasikan.
Seorang diagnostisi akan dapat melaksanakan
asesmen yang valid dan memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan evaluasi bila
dia memiliki pengalaman yang memadai dengan populasi tunarungu ini. Asesmen itu
dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari pelaksanaan tes baku dalam setting
klinis hingga observasi kelas.
Populasi
anak tunarungu itu sangat beraneka ragam. Perbedaannya itu terletak pada
lingkungan rumahnya, penyebab dan tingkat ketunarunguannya, sejarah
perkembangan bahasanya, dan adanya faktor-faktor penyerta yang mempersulit
keadaan (misalnya retardasi mental, keterbatasan motorik atau visual, kesulitan
belajar). Karena keanekaragaman tersebut, seorang diagnostisi cenderung ttidak
akan memperoleh pengalaman yang sama dalam asesmen terhadap individu yang berbeda.
4.
Permasalahan
Asesmen Anak Tunarungu
· Masalah-masalah
berikut ini dapat mempengaruhi ketepatan dan kemanfaatan hasil asesmen:
Diagnostisi mungkin tidak memiliki sertifikasi atau pengalaman dengan populasi tunarungu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang valid atau menghasilkan rekomendasi program. Gelar kesarjanaan dalam bidang psikometri atau psikologi, pendidikan anak tunarungu, atau patologi ujaran dan bahasa, tidak menjamin bahwa pelaksana asesmen memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mengevaluasi anak tunarungu.
Diagnostisi mungkin tidak memiliki sertifikasi atau pengalaman dengan populasi tunarungu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang valid atau menghasilkan rekomendasi program. Gelar kesarjanaan dalam bidang psikometri atau psikologi, pendidikan anak tunarungu, atau patologi ujaran dan bahasa, tidak menjamin bahwa pelaksana asesmen memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mengevaluasi anak tunarungu.
· Dalam
kasus-kasus tertentu, diagnostisi tidak dapat berkomunikasi dengan kliennya.
Seorang anak tunarungu mungkin menggunakan salah satu dari beberapa macam cara
berkomunikasi. Cara-cara berkomunikasi tersebut dapat berupa ujaran dan
pendengaran, isyarat ujaran (cued speech), bahasa isyarat "alami",
bahasa isyarat yang dibakukan, atau kombinasi cara-cara tersebut. Komunikasi
yang efektif antara diagnostisi dengan anak tunarungu dapat terjalin hanya
apabila diagnostisi itu menguasai cara berkomunikasi yang dipergunakan oleh
kliennya, atau dibantu oleh interpreter yang berpengalaman.
· Hasil
tes yang menggunakan norma anak non-tunarungu atau dibandingkan dengan anak
non-tunarungu mungkin tidak akan valid bagi anak yang tunarungu, tetapi tes
yang menggunakan norma siswa tunarungu tidak akan berbicara banyak tentang
kemajuan anak yang sesungguhnya menuju standar akademik dan linguistik yang
telah ditetapkan, terutama bila dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya yang
non-tunarungu.
· Kinerja
anak dalam suatu tugas mandiri yang disajikan oleh seseorang yang tidak
dikenalnya jarang dapat dibandingkan dengan kinerja anak tersebut di kelasnya
dalam kegiatan yang sudah dikenalnya.
· Interpretasi
tentang hasil tes tergantung pada pengetahuan dan pengalaman tim evaluasi.
Profesional yang sudah sangat mengenal anak mungkin akan terlalu murah nilai,
sedangkan mereka yang tidak memiliki informasi yang memadai tentang anak itu
mungkin akan salah dalam mengestimasi kapabilitas anak.
Hasil berbagai jenis asesmen harus
dikaji bersama-sama. Memahami hasil tes akademik tergantung pada pemahaman
tentang hasil asesmen komunikasi dan intelektual. Perilaku dapat dievaluasi
secara memadai hanya jika psikolog mengetahui bahasa anak dan keterbatasan
akademiknya di tingkat kelasnya saat ini. Hasil terpadu dari berbagai asesmen ini
diperlukan untuk menentukan keputusan-keputusan yang penting menyangkut diri
anak. Yang Berwenang Melakukan Asesmen adalah,
· Memiliki
sertifikasi untuk melaksanakan tes formal yang dipergunakan dalam asesmen
(misalnya guru untuk tes akademik, patolog bahasa dan ujaran untuk komunikasi,
psikolog untuk asesmen intelektual, perilaku adaptif dan perilaku pada
umumnya).
· Memahami
dampak ketunarunguan terhadap kinerja anak dalam tes dan kegiatan di kelasnya.
· Berpengalaman
melakukan intervensi sebagai seorang guru, patolog bahasa dan ujaran, atau
psikolog/konselor untuk anak tunarungu.
· Dapat
berkomunikasi secara efektif dengan anak, orang tua, dan guru selama dan
setelah asesmen, dengan ataupun tanpa interpreter.
· Memiliki
akses ke informasi hasil asesmen sebelumnya dan riwayat pendidikan anak yang
pernah diasesmen.
5.
Keuntungan
Asesmen
Pengalaman menunjukkan bahwa tanpa
asesmen, ada siswa tunarungu yang mencapai usia sekolah menengah tanpa memiliki
keterampilan membaca, mengembangkan perilaku yang bermasalah akibat frustrasi
yang berkepanjangan yang disebabkan oleh penempatan yang tidak tepat, atau
kurang memperoleh perlakuan yang sesuai dengan potensinya. Asesmen yang tepat
dapat menghindari masalah-masalah tersebut dengan:
· Memvalidasi
tingkat kinerja atau kemajuan anak.
· Menunjukkan
bidang-bidang kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada diri anak untuk
pengajaran remedial atau observasi lebih lanjut.
· Mengidentifikasi
dan membantu mengatasi konflik antara orang tua dan profesional dengan
menyarankan cara pemecahan yang didasarkan pada kepentingan anak.
· Memberikan
informasi yang dapat langsung dipergunakan dalam program pendidikan
individualisasi bagi anak yang bersangkutan.
Pertanyaan Yang Perlu Diajukan pada
Saat Asesmen Dilaksanakan Pelaksana asesmen dan orang tua perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan
berikut:
·
Pertanyaan-pertanyaan diagnostik apakah
yang harus diajukan pada saat evaluasi dilaksanakan?
·
Mengapa evaluasi dilakukan dan bagaimana
hasilnya akan dipergunakan?
·
Bagaimanakah faktor-faktor lingkungan,
perilaku anak, dan familiaritas anak dengan pengasesmen mempengaruhi
reliabilitas dan validitas asesmen ini?
·
Bagaimanakah kesesuaian temuan-temuan
diagnostisi lain dengan hasil asesmen ini dalam mengungkapkan gambaran yang
komprehensif tentang anak secara menyeluruh?
·
Sumber-sumber apakah yang tersedia di
dalam masyarakat tempat tinggal anak untuk mengimplementasikan rekomendasi dari
asesmen ini?
Alat yang
digunakan untuk asesmen pendengaran anak tunarungu adalah seperti
berikut
·
Scan Test (alat untuk mendeteksi
pendengaran tanpa memerlukan ruang khusus)
·
Bunyi-bunyian (alat yang dapat
menimbulkan berbagai jenis bunyi)
·
Garputala (alat pengukur getar
bunyi/suara atau tinggi nada)
·
Audiometer & Blanko Audiogram (alat
kemampuan pendengaran dengan akurasi tinggi melalui tes audiometri)
·
Mobile Sound Proof (kotak kedap suara
sebagai perangkat tes audiometri)
·
Sound level meter (alat pengukur kuat
suara)
6.
Contoh
asesmen Anak tuna Rungu
Nama
Anak
: …………………
Jenis
Kelamin : …………………
Nama Orang
Tua : …………………
Alamat
: …………………
Tanggal
Asesmen : …………………
1.
Latihan Artikulasi
|
No
|
Organ Artikulasi
|
Tes
|
Hasil
|
||
|
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
|||
|
1.
|
Bibir
|
Memonyongkan kedua bibir
|
|||
|
Menarik bibir ke belakang
|
|||||
|
Menggetarkan bibir
|
|||||
|
2.
|
Lidah
|
Menjulurkan lidah ke depan
|
|||
|
Menjulurkan lidah ke kiri
|
|||||
|
Menjulurkan lidah ke kanan
|
|||||
|
Menyentuh lengkung kaki gigi atas
|
|||||
|
Mendorong pipi kiri
|
|||||
|
Mendorong pipi kanan
|
|||||
|
Menyapu bibir atas
|
|||||
|
Menyapu bibir bawah
|
|||||
|
3.
|
Rahang
|
Membuka mulut lebar-lebar
|
|||
|
Menutup mulut rapat-rapat
|
|||||
|
Mengunyah permen karet
|
|||||
|
4.
|
Velum
|
Meniup udara keluar melalui mulut
|
|||
|
Meniup balon
|
|||||
|
Meniup peluit
|
|||||
|
Menahan udara di mulut sampai
hitungan 5 s/d 10
|
|||||
3.
Tes Mengucapkan Kata Lembaga
|
No
|
Vokal/
Konsonan
|
Awal
|
B
|
T
|
Tengah
|
B
|
T
|
Akhir
|
B
|
T
|
Ket
|
|
Vokal
|
|||||||||||
|
1
|
a
|
apel
|
ban
|
baca
|
|||||||
|
2
|
i
|
ikan
|
pita
|
sapi
|
|||||||
|
3
|
u
|
udang
|
buku
|
baju
|
|||||||
|
4
|
e
|
ekor
|
becak
|
kue
|
|||||||
|
5
|
o
|
obat
|
bola
|
soto
|
|||||||
|
Bilabial
|
|||||||||||
|
1
|
p
|
pepaya
|
sepatu
|
atap
|
|||||||
|
2
|
b
|
batu
|
bebek
|
arab
|
|||||||
|
3
|
m
|
mata
|
jambu
|
ayam
|
|||||||
|
4
|
w
|
warna
|
sawah
|
awan
|
|||||||
|
Labio
Dental
|
|||||||||||
|
1
|
f
|
faktor
|
sifat
|
edukatif
|
|||||||
|
2
|
v
|
vokal
|
televisi
|
-
|
|||||||
|
Dental
|
|||||||||||
|
1
|
t
|
topi
|
botol
|
tomat
|
|||||||
|
2
|
d
|
dasi
|
sendok
|
masjid
|
|||||||
|
3
|
l
|
lilin
|
balon
|
pensil
|
|||||||
|
4
|
n
|
nanas
|
pintu
|
papan
|
|||||||
|
Alveolar
|
|||||||||||
|
1
|
s
|
satu
|
kasur
|
gelas
|
|||||||
|
2
|
z
|
zat
|
-
|
-
|
|||||||
|
3
|
r
|
roti
|
garpu
|
ular
|
|||||||
|
Palato
Alveolar
|
|||||||||||
|
1
|
c
|
cabe
|
beca
|
-
|
|||||||
|
2
|
j
|
jam
|
meja
|
-
|
|||||||
|
Palatal
|
|||||||||||
|
1
|
ny
|
kunyit
|
(me)
nyanyi
|
(me)
nyapu
|
|||||||
|
Velar
|
|||||||||||
|
1
|
k
|
katak
|
bakso
|
sirsak
|
|||||||
|
2
|
g
|
golok
|
gigi
|
mangga
|
|||||||
|
3
|
x
|
-
|
-
|
box
|
|||||||
|
4
|
ng
|
pisang
|
telinga
|
singa
|
|||||||
|
5
|
y
|
yoyo
|
payung
|
-
|
|||||||
|
Glotal
|
|||||||||||
|
1
|
h
|
hitam
|
pohon
|
sepuluh
|
4.
Tes Membedakan Bunyi
a.
Panjang/Pendek
|
No.
|
Kata
|
Dapat
|
Tidak
Dapat
|
Deskripsi
Kesalahan
|
|
1.
|
Pa
Paaaa
|
|
||
|
2.
|
Ma
Maaaa
|
|
||
|
3.
|
La
Laaaa
|
|
||
|
4.
|
Sa
Saaaa
|
|
||
|
5.
|
Da
Daaaa
|
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar