A. TUNA DAKSA
Tunadaksa
adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat
bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral
palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu
memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan
melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami
gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam
gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
Berikut identifikasi anak yang
mengalami kelainan anggota tubuh tubuh/gerak tubuh :
- Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
- Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
- Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
- Terdapat cacat pada alat gerak,
- Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
- Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal,
- Hiperaktif/tidak dapat tenang.
Nilai standarnya adalah 5, artinya
bila anak mengalami minimal 5 gejala di atas, maka anak termasuk tunadaksa
CONTOH ALAT
IDENTIFIKASI ANAK TUNA DAKSA
Nama Sekolah :
Kelas :
Diisi tanggal :
Nama GPK :
Guru Kelas :
|
Gejala
Yang Diamati
|
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
|
||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
|
|||
|
1.
Tunadaksa/Kelainan Anggota Tubuh/Gerakkan
|
|||||||||||||||||||
|
a
|
1.
Polio
jari-jari tangan kaku dan tidak
dapat menggenggam
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b
|
Terdapat bagian anggota gerak yang
tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasanya
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c
|
Terdapat cacat pada alat gerak
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
d
|
Kesulitan dalam
melakukan gerakan (tidak sempurna, tidak lentur dan tidak terkendali)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
e
|
Anggota gerak kaku,
lemah, lumpuh dan layu
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Cerebral Palcy (CP)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a
|
Selain faktor yang
ditunjukkan pada Polio juga disertai dalam gangguan otak
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b
|
Gerak yang ditampilkan
kekakuan atau tremor
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Asesmen
Sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya, permasalahan yang dialami anak tunadaksa begitu komplek. Mereka
mengalami kesulitan dalam bergerak yang diikuti juga oleh kesulitan – kesulitan
lain seperti gangguan persepsi, konsentarsi, penyesuaian diri dan lain – lain.
Kesulitan - kesulitan itu mengakibatkan terhambatnya perkembangan kognitif.
Oleh karena begitu kompleknya yang dialami anak tunadaksa, maka guru memerlukan
data yang akurat mengenai kekuatan – kekuatan yang dimiliki anak tunadaksa
dalam mengikuti pendidikan.
·
Asesmen.
Pada umumnya anak tunadaksa mengalami gangguan perkembangan motorik dan
mobilitas, intelegensi, baik secara sebagian maupun secara keseluruhan.
Bervariasinya kondisi anak tunadaksa, menuntut adanya pengelolaan yang cermat
dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini
penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan
pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.
Asesmen dilakukan pada anak tunadaksa dilakukan untuk mengetahui keadaan postur tubuh, keseimbangan tubuh, kekuatan otot, mobilitas, intelegensi, serta perabaan. Alat yang digunakan untuk asesmen anak tunadaksa seperti berupa Finger Goniometer, Flexometer, Plastic Goniometer, Reflex Hammer, Posture Evaluation Set, TPD Arsthesiometer, Gound Rhytem Tibre Instrumen, Cabinet Geometric Insert, Color Sorting Box, Tactile Board Set.
Asesmen dilakukan pada anak tunadaksa dilakukan untuk mengetahui keadaan postur tubuh, keseimbangan tubuh, kekuatan otot, mobilitas, intelegensi, serta perabaan. Alat yang digunakan untuk asesmen anak tunadaksa seperti berupa Finger Goniometer, Flexometer, Plastic Goniometer, Reflex Hammer, Posture Evaluation Set, TPD Arsthesiometer, Gound Rhytem Tibre Instrumen, Cabinet Geometric Insert, Color Sorting Box, Tactile Board Set.
·
Latihan Fisik. Pada umumnya anak tunadaksa
mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan
tubuh. Agar anak tuna daksa dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara
mobil perlu latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa Pulley Weight,
Kanavel Table, Squeez Ball, Restorator
Hand, Restorator Leg, Treadmill Jogger, Safety Walking Strap, Straight (tangga), Sand-Bag, xercise Mat,
Incline Mat, Neuro Development Rolls,
Height Adjustable Crowler,Floor Sitter, Kursi CP, Individual Stand-in Table,
Walking Paralel, Walker Khusus CP, Vestibular Board, Balance Beam Set, Dynamic
Body and Balance, Kolam Bola-bola, Infra-Red
Lamp (Infra Fill), Dual Speed Massager, Speed Training Devices, Bola karet,
Balok berganda, Balok titian
·
Bina Diri. Anak tunadaksa
mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan
tubuh. Keterbatasan atau hambatan tersebut mengakibatkan anak tunadaksa
mengalami kesulitan untuk merawat diri sendiri. Agar anak tuna daksa dapat
melakukan perawatan diri dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily
living), maka perlu latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa Swivel
Utensil, Dressing Frame Set, Lacing Shoes, Deluxe Mobile Commade
·
Orthotic dan Prosthetic. Anak
tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan
koordinasi/keseimbangan tubuh, karena kondisi tubuh mengalami kelainan. Agar
anak tuna daksa dapat melakukan ambulasi dan kegiatan hidup sehari-hari
(activity of daily living), maka perlu alat bantu (orthotic dan prosthetic).
Alat-alat yang dapat digunakan meliputi Cock-Up Resting Splint, Rigid
Immobilitation Elbow Brace, Flexion Extention, Back Splint, Night Splint,
Denish Browans Splint, X Splint, O Splint, Long Leg Brace Set, Ankle or Short
Leg Brace, Original Thomas Collar,
Simple Cervical Brace, Corsett,
Crutch (kruk), Clubfoot Walker Shoes, Thomas Heel Shoes, Wheel Chair (Kursi
Roda), Kaki Palsu Sebatas Lutut, Kaki
Palsu Sampai Paha
·
Bantu Belajar/Akademik. Layanan
pendidikan untuk anak tunadaksa mencakup membaca, menulis, berhitung,
pengembangkan sikap, pengetahuan dan kreativitas. Akibat mengalami kelainan
pada motorik dan intelegensinya, maka anak tunadaksa mengalami kesulitan dalam
menguasai kemampuan membaca, menulis, berhitung. Untuk membantu penguasaan
kemampuan di bidang akademik, maka dibutuhkan layanan dan peralatan khusus.
Alat-alat yang dapat membantu mengembangkan kemampuan akademik pada anak
tunadaksa dapat berupa Kartu Abjad, Kartu Kata, Kartu Kalimat, Torso Seluruh
Badan, Geometri Sharpe, Menara Gelang, Menara Segitiga, Menara Segiempa, Gelas Rasa,
Botol Aroma, Abacus dan Washer, Papan Pasak, Kotak Bilangan.
2.
Pelaksanaan
asesmen
Identifikasi
merupakan langkah awal untuk menjaring menentukan anak yang diasesmen. Dengan
demikian tujuan utama identifikasi menemukan adanya kelainan atau kesulitan
yang kemudian dijadikan dasar mengambil langkah selanjutnya berupa assesmen.
Teknik pengumpulan informasi dalam pelaksanaan asesmen yaitu observasi,
pengkuran informal, daftar chek lis, daftar pertanyaan. Beberapa teknik
tersebut tidak dilakukan sendiri-sendiri tetapi secara simultan. Pada waktu
wawancara atau saat tes dapat bersamaan dengan observasi
Pelaksanaan
asesmen perlu memperhatikan keadaan anak
secara umum missal perhatiannya, konsentrasinya, interaksi sosialnya,
komunikasinya. Waktu dan caranya disesuaikan dengan alat yang telah
dikembangkan. Observasi misalnya terhadap kegiatan menolong diri dalam jangka
waktu tertentu ( 1minggu berturut-turut ) serta dalam kontek yang berbeda yaitu
materi dan kegiatan berbeda. Seting dan ketrampilan menolong diri anak harus
dipertimbangkan termasuk kondisi fisik seperti ruang yang digunakan, bentuk
perintah yang digunakan, serta pendekatan yang diterapkan. Hasil observasi
harus dirangkum dan direkam secara teratur.
3. Contoh-contoh Assesmen.
Contoh instrument Assesmen
Nama
anak : Usia :
Tanggal
lahir : Asesor
:
|
No
|
Aspek yang di amati
|
Mampu
|
Tidak
|
keterangan
|
|
1
|
Gerakan dari
terlentang ke miring
|
|
|
|
|
2
|
Gerakan dari miring
ke terlentang
|
|
|
|
|
3
|
Gerakan berguling
|
|
|
|
|
4
|
Gerakan merangkak
|
|
|
|
|
5
|
Gerakan duduk ke
berdiri
|
|
|
|
|
6
|
Gerakan berjalan
|
|
|
|
|
7
|
Gerakan berlari
|
|
|
|
Contoh
instrument assesmen kemampuan koordinasi
dan keseimbangan
Nama anak :
Usia
:
Tanggal lahir : Asesor
:
|
No
|
Aspek
yang di amati
|
Mampu
|
Tidak
|
Keterangan
|
|
1
|
Gerakan koordinasi
mata dan anggota tubuh
|
|
|
|
|
2
|
Gerakan koordinasi
motorik halus
|
|
|
|
|
3
|
Gerakan koordinasi
motorik kasar
|
|
|
|
|
4
|
Keseimbangan jalan
|
|
|
|
|
5
|
Keseimbangan duduk
|
|
|
|
|
6
|
Keseimbangan berdiri
|
|
|
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar