KOTAK OPINI

Kamis, 17 Januari 2013

IDENTIFIKASI DAN ASESMEN ANAK TUNADAKSA






A.  TUNA DAKSA
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh tubuh/gerak tubuh :
  1. Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
  2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
  3. Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
  4. Terdapat cacat pada alat gerak,
  5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
  6. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal,
  7. Hiperaktif/tidak dapat tenang.
            Nilai standarnya adalah 5, artinya bila anak mengalami minimal 5 gejala di atas, maka anak termasuk tunadaksa



CONTOH ALAT IDENTIFIKASI ANAK TUNA DAKSA

Nama Sekolah         :
Kelas                                       :
Diisi tanggal                        :
Nama GPK                 :
Guru Kelas                              :

Gejala Yang Diamati
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

1.         Tunadaksa/Kelainan Anggota Tubuh/Gerakkan

a
1. Polio
jari-jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam

















b
Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasanya

















c
Terdapat cacat pada alat gerak

















d
Kesulitan dalam melakukan gerakan (tidak sempurna, tidak lentur dan tidak terkendali)

















e
Anggota gerak kaku, lemah, lumpuh dan layu


















2. Cerebral Palcy (CP)

















a
Selain faktor yang ditunjukkan pada Polio juga disertai dalam gangguan otak

















b
Gerak yang ditampilkan kekakuan atau tremor


























































1.      Asesmen
            Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, permasalahan yang dialami anak tunadaksa begitu komplek. Mereka mengalami kesulitan dalam bergerak yang diikuti juga oleh kesulitan – kesulitan lain seperti gangguan persepsi, konsentarsi, penyesuaian diri dan lain – lain. Kesulitan - kesulitan itu mengakibatkan terhambatnya perkembangan kognitif. Oleh karena begitu kompleknya yang dialami anak tunadaksa, maka guru memerlukan data yang akurat mengenai kekuatan – kekuatan yang dimiliki anak tunadaksa dalam mengikuti pendidikan.
·                     Asesmen. Pada umumnya anak tunadaksa mengalami gangguan perkembangan motorik dan mobilitas, intelegensi, baik secara sebagian maupun secara keseluruhan. Bervariasinya kondisi anak tunadaksa, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.
Asesmen dilakukan pada anak tunadaksa dilakukan untuk mengetahui keadaan postur tubuh, keseimbangan tubuh, kekuatan otot, mobilitas, intelegensi, serta perabaan. Alat yang digunakan untuk asesmen anak tunadaksa seperti berupa Finger Goniometer, Flexometer, Plastic Goniometer, Reflex Hammer, Posture Evaluation Set, TPD Arsthesiometer, Gound Rhytem Tibre Instrumen, Cabinet Geometric Insert, Color Sorting Box, Tactile Board Set.
·                     Latihan Fisik. Pada umumnya anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh. Agar anak tuna daksa dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mobil perlu latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa Pulley Weight, Kanavel Table, Squeez Ball,  Restorator Hand,  Restorator Leg,  Treadmill Jogger, Safety Walking Strap,  Straight (tangga), Sand-Bag, xercise Mat, Incline Mat,  Neuro Development Rolls, Height Adjustable Crowler,Floor Sitter, Kursi CP, Individual Stand-in Table, Walking Paralel, Walker Khusus CP, Vestibular Board, Balance Beam Set, Dynamic Body and Balance, Kolam Bola-bola,  Infra-Red Lamp (Infra Fill), Dual Speed Massager, Speed Training Devices, Bola karet, Balok berganda,  Balok titian
·                     Bina Diri. Anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh. Keterbatasan atau hambatan tersebut mengakibatkan anak tunadaksa mengalami kesulitan untuk merawat diri sendiri. Agar anak tuna daksa dapat melakukan perawatan diri dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily living), maka perlu latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa Swivel Utensil, Dressing Frame Set, Lacing Shoes, Deluxe Mobile Commade
·                     Orthotic dan Prosthetic. Anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh, karena kondisi tubuh mengalami kelainan. Agar anak tuna daksa dapat melakukan ambulasi dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily living), maka perlu alat bantu (orthotic dan prosthetic). Alat-alat yang dapat digunakan meliputi Cock-Up Resting Splint, Rigid Immobilitation Elbow Brace, Flexion Extention, Back Splint, Night Splint, Denish Browans Splint, X Splint, O Splint, Long Leg Brace Set, Ankle or Short Leg Brace, Original Thomas Collar,  Simple Cervical Brace,  Corsett, Crutch (kruk), Clubfoot Walker Shoes, Thomas Heel Shoes, Wheel Chair (Kursi Roda),  Kaki Palsu Sebatas Lutut, Kaki Palsu Sampai Paha
·                     Bantu Belajar/Akademik. Layanan pendidikan untuk anak tunadaksa mencakup membaca, menulis, berhitung, pengembangkan sikap, pengetahuan dan kreativitas. Akibat mengalami kelainan pada motorik dan intelegensinya, maka anak tunadaksa mengalami kesulitan dalam menguasai kemampuan membaca, menulis, berhitung. Untuk membantu penguasaan kemampuan di bidang akademik, maka dibutuhkan layanan dan peralatan khusus. Alat-alat yang dapat membantu mengembangkan kemampuan akademik pada anak tunadaksa dapat berupa Kartu Abjad, Kartu Kata, Kartu Kalimat, Torso Seluruh Badan, Geometri Sharpe, Menara Gelang, Menara Segitiga, Menara Segiempa,  Gelas Rasa,  Botol Aroma, Abacus dan Washer, Papan Pasak, Kotak Bilangan.

2.      Pelaksanaan asesmen
            Identifikasi merupakan langkah awal untuk menjaring menentukan anak yang diasesmen. Dengan demikian tujuan utama identifikasi menemukan adanya kelainan atau kesulitan yang kemudian dijadikan dasar mengambil langkah selanjutnya berupa assesmen. Teknik pengumpulan informasi dalam pelaksanaan asesmen yaitu observasi, pengkuran informal, daftar chek lis, daftar pertanyaan. Beberapa teknik tersebut tidak dilakukan sendiri-sendiri tetapi secara simultan. Pada waktu wawancara atau saat tes dapat bersamaan dengan observasi
            Pelaksanaan asesmen  perlu memperhatikan keadaan anak secara umum missal perhatiannya, konsentrasinya, interaksi sosialnya, komunikasinya. Waktu dan caranya disesuaikan dengan alat yang telah dikembangkan. Observasi misalnya terhadap kegiatan menolong diri dalam jangka waktu tertentu ( 1minggu berturut-turut ) serta dalam kontek yang berbeda yaitu materi dan kegiatan berbeda. Seting dan ketrampilan menolong diri anak harus dipertimbangkan termasuk kondisi fisik seperti ruang yang digunakan, bentuk perintah yang digunakan, serta pendekatan yang diterapkan. Hasil observasi harus dirangkum dan direkam secara teratur.

3.      Contoh-contoh Assesmen.
Contoh instrument Assesmen

Nama anak :                                                                  Usia :
Tanggal lahir :                                                                Asesor :
No
Aspek yang di amati
Mampu
Tidak
keterangan
1
Gerakan dari terlentang ke miring



2
Gerakan dari miring ke terlentang



3
Gerakan berguling



4
Gerakan merangkak



5
Gerakan duduk ke berdiri



6
Gerakan berjalan



7
Gerakan berlari




Contoh instrument assesmen  kemampuan koordinasi dan keseimbangan

Nama anak    :                                                                                     Usia     :
Tanggal lahir :                                                                                      Asesor :
No
Aspek yang di amati
Mampu
Tidak
Keterangan
1
Gerakan koordinasi mata dan  anggota tubuh



2
Gerakan koordinasi motorik halus



3
Gerakan koordinasi motorik kasar



4
Keseimbangan jalan



5
Keseimbangan duduk



6
Keseimbangan berdiri




Tidak ada komentar:

Posting Komentar