Implementasi
menurut Daniel A. Mazmanian dan Paul Sabatier (1979) sebagaimana dikutip dalam Coleman M. & Bush T. (2006; 65), mengatakan bahwa:
“Implementasi adalah memahami apa yang
senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan
merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan yakni kejadian-kejadian
dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman
kebijaksanaan negara, yang mencakup baik usaha-usaha untuk
mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada
masyarakat atas kejadian-kejadian”.
Implementasi
secara sederhana diartikan
pelaksanaan atau penerapan. Browne dan
Wildavsky (dalam Diana A. & C.
Tjipto,
2003:7) mengemukakan
bahwa:
“implementasi adalah perluasan aktivitas yang
saling menyesuaikan”. Implementasi
melibatkan usaha dari policy makers untuk memengaruhi apa yang oleh Lipsky
disebut “street level bureaucrats” untuk memberikan pelayanan atau mengatur
prilaku kelompok sasaran (target group).
Berdasarkan uraian mengenai
kedua pendapat tentang pengertian implementasi, perlu kami memberikan batasan.
Implementasi adalah pelaksanaan dari apa yang telah ditetapkan dan menerima
segala akibat/dampak setelah dilaksanakan tersebut.
Proses implementasi
sekurang-kurangnya terdapat tiga unsur yang penting dan mutlak, seperti
dikemukakan oleh Adi, Tarwiyah (2005;11),
yaitu:
a. Adanya program atau kebijakan yang
dilaksanakan;
b.
Target groups, yaitu kelompok masyarakat yang menjadi sasaran, dan diharapkan
dapat menerima manfaat
dari program tersebut, perubahan atau peningkatan;
c.
Unsur pelaksana (implementor), baik organisasi atau perorangan, yang
bertanggungjawab dalam pengelolaan, pelaksanaan, dan pengawasan dari proses
implementasi tersebut.
Budi Winarno (2002), menyatakan
bahwa:
“implementasi
kebijakan dibatasi sebagai menjangkau tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
individu-individu pemerintah dan individu-individu swasta (kelompok-kelompok)
yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam
keputusan-keputusan kebijaksanaan sebelumnya”.
Teori-Teori Implementasi Kebijakan
·
Teori Merilee S. Grindle
(1980 )
Keberhasilan
implementasi menurut Merilee S. Grindle (1980) dipengaruhi oleh dua variabel
besar, yakni isi kebijakan dan lingkungan implementasi. Variabel isi kebijakan ini
mencakup:
1.
sejauh mana kepentingan kelompok sasaran atau target groups termuat dalam isi kebijakan.
2. jenis manfaat yang diterima oleh target group.
3. sejauh mana perubahan yang diinginkan dari
sebuah kebijakan.
4. apakah letak sebuah program sudah tepat.
5.
apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan implementornya dengan rinci, dan
6.
apakah sebuah program didukung oleh sumberdaya yang memadai.
variabel
lingkungan kebijakan mencakup:
1.
seberapa besar kekuasaan,
kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam
implementasi kebijakan.
2.
karakteristik institusi dan
rejim yang sedang berkuasa.
3.
tingkat kepatuhan dan responsivitas
kelompok sasaran.
·
Teori Daniel A. Mazmanian
dan Paul A. Sabatier ( 1983 )
Ada tiga variabel yang mempengaruhi keberhasilan
implementasi, yakni:
A. Karakteristik dari masalah
(1)
tingkat kesulitan teknis
dari masalah yang bersangkutan. Di satu pihak ada beberapa masalah sosial
secara teknis mudah dipecahkan, dipihak lain terdapat masalah-masalah sosial
yang relatif sulit dipecahkan, seperti kemiskinan, pengangguran, korupsi, dan
sebagainya. Oleh karena itu, sifat masalah itu sendiri akan memengaruhi mudah
tidaknya suatu program diimplementasikan.
(2)
tingkat kemajemukan dari
kelompok sasaran. Ini berarti bahwa suatu program akan
relatif mudah diimplementasikan apabila kelompok sasarannya heterogen, maka
implementasi program akan relatif lebih sulit, karena tingkat pemahaman setiap
anggota kelompok sasaran terhadap program relatif berbeda.
(3)
proporsi kelompok sasaran
terhadap total populasi.sebuah program akan relatif sulit implementasikan
apabila sasaranya mencakup semua populasi. Sebaliknya sebuah program relatif
mudah diimplementasikan apabila jumlah kelompok sasarannya tidak terlalu besar.
(4)
cakupan perubahan perilaku
yang diharapkan. Sebuah program yang bertujuan memberikan pengetahuan atau
bersifat kognitif akan relatif mudah diimplementasikan daripada program yang
bertujuan untuk mengubah sikap dan prilaku masyarakat.
B. Karakteristik
kebijakan/undang-undang
(1)
kejelasan isi kebijakan. Ini
berarti semakin jelas dan rinci isi sebuah kebijakan akan mudah
diimplementasikan karena implementor mudah memahami dan menterjemahkan dalam
tindakan nyata.
(2)
seberapa jauh kebijakan
tersebut memiliki dukungan teoritis.kebijakan yang memiliki dasar teoritis
memiliki sifat lebih mantap karena sudah teruji, walaupun untuk beberapa
lingkungan sosial tertentu perlu ada modifikasi.
(3)
besarnya alokasi sumberdaya
finansial terhadap kebijakan tersebut.
(4)
seberapa besar adanya
keterpautan dan dukungan antar berbagai institusi pelaksana.kegagalan program
sering disebabkan kurangnya koordinasi vertikal dan horizontal antarinstansi yang
terlibat dalam implementasi program.
(5)
kejelasan dan konsistensi
aturan yang ada pada badan pelaksana.
(6)
Tingkat komitmmen aparat
terhadap tujuan kebijakan
(7)
seberapa luas akses
kelompok-kelompok luar untuk berpartisipasi dalam implementasi kebijakan. Suatu
program yang memberikan peluang luas bagi masyarakat untuk terlibat akan
relatif mendapat dukungan daripada program yang tidak melibatkan masyarakat.
C.
Variabel lingkungan
(1)
kondisi sosial ekonomi
masyarakat dan tigkat kemajuan teknologi. Masyarakat yang sudah terbuka dan
terdidik akan relatif mudah menerima program-program pembaruan dibanding dengan
masyarakat yang masih tertutup dan tradisional.demikian juga, kemajuan
teknologi akan membantu dalam proses keberhasialan implementasi program, karena
program-program tersebut dapat disosialisasikan dan diimplementasikan dengan
bantuan teknologi modern.
(2)
dukungan publik terhadap
sebuah kebijakan. Kebijakan yang memberikan insentif biasanya mudah mendapatkan
dukungan publik. Sebaliknya kebijakan yang bersifat dis-intsentif, seperti
kenaikan BBM, atau kenaikan pajak akan kurang mendapatkan dukungan publik.
(3)
sikap dari kelompok pemilih (constituency groups) kelompok pemilih
yang ada dalam masyarakat dapat memengaruhi implementasi kebijakan melalaui
berbagai cara antara lain:
·
kelompok pemilih dapat
melakukan intervensi terhadap keputusan yang dibuat badan-badan pelaksana
melalui berbagai komentar dengan maksud untuk mengubah keputusan.
·
kelompok pemilih dapat
memiliki kemampuan untuk memengaruhi badan-badan pelaksana secara tidak
langsung melalui kritik yang dipublikasikan terhadap kinerja badan-badan
pelaksana, dan membuat pertanyaan yang ditujukan kepada badan legislatif.
(4)
tingkat komitmen dan
keterampilan dari aparat dan implementor. Pada akhirnya, komitmen aparat pelaksana
untuk merealisasikan tujuan yang telah tertuang dalam kebijakan adalah variabel
yang paling krusial. Aparat badan pelaksana harus memiliki keterampilan dalam
membuat prioritas tujuan dan selanjutnya merealisasikan prioritas tujuan
tersebut.
- Teori Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn
Ada lima variabel yang mempengaruhi kinerja
implementasi, yakni:
1) Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur
sehingga dapat direalisir.
2) Perlu dukungan sumberdaya baik sumberdaya manusia (human resources) maupun sumberdaya
non-manusia (non-human resourse).
3) Perlu dukungan dan koordinasi dengan intansi lain.
4) Karakteristik agen pelaksana.
5) Kondisi sosial, politik, dan ekonomi.
6) Disposisi implementor ini mencakup tiga hal yang
penting, yakni: respon implementor terhadap kebijakan, yang akan memengaruhi
kemauannya untuk melaksanakan kebijakan. dan intensitas disposisi implementor,
yakni preferensi nilai yang dimiliki oleh implementor.
- Teori G. Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli
Ada empat variabel yang dapat memengaruhi kinerja dan
dampak suatu program, yakni: kondisi lingkungan, hubungan antara organisasi,
sumberdaya organisasi untuk implementasi program, karakteristik dan kemampuan
agen pelaksana.
- Teori David L. Weimer dan Aidan R. Vining
Dalam pandangan weimer dan vining(1999:396) ada tiga
variabel besar yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu program,
yakni: logika kebijakan, lingkungan tempat kebijakan dioperasikan, dan
kemampuan implementor kebijakan.
1) Logika dari suatu kebijakan yakni: kebijakan yang
ditetapkan masuk akal dan mendapat dukungan teoritis.
2) Lingkungan sosial, politik, ekonomi, hankam, dan fisik
atau geografis tempat kebijakan tersebut dioperasikan akan mempengaruhi
keberhasilan implementasi suatu kebijakan.
3) Keberhasilan suatu kebijakan dapat dipengaruhi oleh
tingkat kompetensi dan keterampilan dari implementor kebijakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar