KOTAK OPINI

Jumat, 11 Januari 2013

Pendekatan Studi Kepemimpinan



Pendekatan Studi Kepemimpinan

Fieldler dan Charmer dalam Diktat Pelatihan CAKEP SLTP (Depdikbud,1999),  mengemukakan bahwa kepemimpinan dapat dibagi menjadi tiga masalah pokok, yaitu: (1) bagaimana seseorang dapat menjadi seorang peimimpin, (2) bagaimana pemimpin berperilaku, dan (3) apa yang membuat pemimpin itu berhasil.
Sehubungan dengan hal diatas, studi kepemimpinan yang teridiri dari berbagai macam, pada hakikatnya  merupakan usaha untuk menjawab atau memberikan pemecahkan persoalan yang terkandung didalam ketiga permasalahan tersebut.
Kepemimpinan dapat dikelompokkan kedalam empat macam pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pengaruh kewibawaan, (2) sifat, (3) perilaku, dan (4) situasional (Wahjosumidjo, 2002:19).
a)      Pendekatan pengaruh kewibawaan (power influence approach)
Menurut pendekatan ini, keberhasilan pemimpin dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada para pemimpin, dan dengan cara yang bagaimana para pemimpin  menggunakan kewibawaan tersebut kepada bawahan. Pendekatan ini menekankan proses saling mempengaruhi, sifat timbal balik dan pentingnya pertukaran hubungan kerjasama antara para pemimpin dengan bawahan.
French dan Raven dalam Wahjosumidjo (2002:21), menge-mukakan bahwa: berdasarkan hasil penelitian terdapat pengelompokan sumber dari mana kewibawaan tersebut berasal, yaitu (1) Legitimate power: bawahan melakukan sesuatu karena pemimpin memiliki kekuasaan untuk meminta bawahan dan bawahan mempunyai kewajiban  untuk menuruti atau mematuhinya, (2) Coersive Power: bawahan mengerjakan sesuatu agar dapat terhindar dari hukuman yang dimiliki oleh pemimpin,   (3) Reward power: bawahan mengerjakan sesuatu agar memperoleh penghargaan yang dimiliki oleh pemimpin, (4) Referent power: bawahan mengerjakan sesuatu karena bawahan kagum terhadap atasan, bawahan merasa kagum atau membutuhkan untuk menerima restu pemimpin, dan mau berperilaku pula seperti pemimpin, dan (5) Expert power: bawahan mengerjakan sesuatu karena bawahan percaya pemimpin memiliki pengetahuan khusus dan keahlian serta pengetahuan apa yang diperlukan.
Kewibawaan merupakan keunggulan, kelebihan atau pengaruh yang dimiliki oleh kepala sekolah. Kewibawaan kepala sekolah dapat dipengaruhi bawahan, bahkan menggerakkan, memberdayakan segala sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan sekolah sesuai dengan keinginan kepala sekolah.
Berdasarkan pendekatan pengaruh kewibawaan, seorang kepala sekolah dimungkinkan untuk menggunakan pengaruh yang dimilikinya dalam membina, memberdayakan. Dan memberi tauladan kepada guru sebagai bawahan. Legitimate dan coersive power memungkinkan kepala sekolah dapat melakukan pebinaan terhadap guru, sebab dengan kekuasaan dalam pemerintah dan memberi hukuman, pembinaan terhadap guru akan lebih mudah dilakukan . Sementara itu dengan reward power memungkinkan kepala sekolah memberdayakan guru secara optimal, sebab penghargaan bagi guru untuk menampilkan performan terbaiknya. Selanjutnya dengan referent dan expert power, keahlian dan perilaku kepala sekolah  yang diimplenentasikan dalam bentuk rutinitas kerja, diharapkan mampu meningkatkan motivasi kerja para guru.
b)     Pendekatan sifat (the trait approach)
Pendekatan ini menekankan pada kualitas pemimpin. Keberhasilan pemimpin ditandai oleh daya kecakapan luas biasa yang dimiliki oleh pemimpin, seperti tidak kenal lelah, intuisi yang tajam, wawasan masa depan yang luas, dan kecakapan yang meyakinkan yang sangat menarik.
Menurut pendekatan sifat, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya  yang dibawah sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih. Seperti dikatakan oleh Thierauf dalam Purwanto (1997:31): ”The hereditary approach states that leaders are born and note made tha leaders do not acquaeire theability to lead, but intherit it” yang artinya pemimpin adalah dilahirkan, bukan dibuat bahwa pemimpin tidak dapat memperoleh kemampuan untuk memimpin, tetapi mewarisinya. Selanjutnya Stogdill dalam Sutisna (1985:31) mengemukakan bahwa seseorang tidak menjadi pemimpin dikarenakan memiliki suatu kombinasi sifat-sifat kepribadian, tetapi pola sifat-sifat pribadi pemimpin itu mesti menunjukkan hubungan tertentu dengan sifat, kegiatan, dan tujuan dari pada penghikutnya.
Berdasarkan pendekatan sifat, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi, melainkan dipengaruhi pula oleh keterampilan (skill) pribadi pemimpin.
c)      Pendekatan perilaku ( the behavior approach)
Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin dalam kegiatannya sehari-hari dalam hal: bagaimana cara memberi perintah, membagi tugas dan wewenang, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, dan cara mengambil keputusan. (Purwanto, 1997:32).
Pendekatan perilaku penekanan pentingnya perilaku yang dapat diamati yang dilakukan oleh para pemimpin dari sifat pribadi atau sumber kewibawaan yang dimilikinya. Oleh sebab itu pendekatan perilaku itu mempergunakan acuan sifat pribadi dan kewibawaan. Kemampuan perilaku serta konsepsional telah berkembang kedalam berbagai macam cara dan berbagai macam tingkatan abstraksi. Perilaku seorang pemimpin digambarkan kedalam istilah pola  aktivitas, peran manajerial, atau kategori perilaku.
d)     Pendekatan situasional (situational approach)
Pendekatan situasional menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur  atau memperkirakan cirri-ciri pribadi ini, dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dari kemungkinan yang berifat kepribadian dan situasional. (Wahjosumidjo, 2002:29)
Pendekatan situasional atau pendekatan kontingensi merupakan suatu teori yang berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang mengatakan adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang berifat universal, dan pandangan yang berpendapat bahwa setiap organisasi adalah unik dan memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemipinan tertentu.
Pendekatan situasional bukan hanya merupakan hal yang penting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena kepemimpinan, tetapi membantu pula cara pemimpin yang potensial dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang bermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat berdasarkan situasi. Peranan pemimpin harus dipertimbangkan dalam hubungan situasi dimana peranan itu dilaksanakan. Pendekatan situasional dalam kepemimpinan mengatakan bahwa kepemimpinan ditentukan tidak oleh sifat kepribadian individu-individu, melainkan oleh persyaratan situasional.
Dalam kaitan ini Sutisna (1985:260) menyatakan bahwa kepe-mimpinan adalah hasil dari hubungan-hubungan dalam situasi sosial, dalam situasi berbeda para pemimpin memperlihatkan sifat kepribadian yang berlainan. Jadi pemimpin dalam situasi yang satu mungkin tidak sama dengan tipe pemimpin dalam situasi lain  dimana keadaan dan faktor sosial berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar