Pendekatan Studi Kepemimpinan
Fieldler dan Charmer dalam Diktat Pelatihan CAKEP SLTP
(Depdikbud,1999), mengemukakan bahwa
kepemimpinan dapat dibagi menjadi tiga masalah pokok, yaitu: (1) bagaimana
seseorang dapat menjadi seorang peimimpin, (2) bagaimana pemimpin berperilaku,
dan (3) apa yang membuat pemimpin itu berhasil.
Sehubungan dengan hal diatas, studi kepemimpinan yang
teridiri dari berbagai macam, pada hakikatnya
merupakan usaha untuk menjawab atau memberikan pemecahkan persoalan yang
terkandung didalam ketiga permasalahan tersebut.
Kepemimpinan dapat dikelompokkan kedalam empat macam
pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pengaruh kewibawaan, (2) sifat, (3) perilaku,
dan (4) situasional (Wahjosumidjo, 2002:19).
a) Pendekatan pengaruh kewibawaan (power influence approach)
Menurut pendekatan ini, keberhasilan pemimpin
dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada
para pemimpin, dan dengan cara yang bagaimana para pemimpin menggunakan kewibawaan tersebut kepada
bawahan. Pendekatan ini menekankan
proses saling mempengaruhi, sifat timbal balik dan pentingnya pertukaran
hubungan kerjasama antara para pemimpin dengan bawahan.
French dan
Raven dalam Wahjosumidjo (2002:21), menge-mukakan bahwa: berdasarkan hasil
penelitian terdapat pengelompokan sumber dari mana kewibawaan tersebut berasal,
yaitu (1) Legitimate power: bawahan
melakukan sesuatu karena pemimpin memiliki kekuasaan untuk meminta bawahan dan
bawahan mempunyai kewajiban untuk
menuruti atau mematuhinya, (2) Coersive
Power: bawahan mengerjakan sesuatu agar dapat terhindar dari hukuman yang
dimiliki oleh pemimpin, (3) Reward power: bawahan mengerjakan
sesuatu agar memperoleh penghargaan yang dimiliki oleh pemimpin, (4) Referent power: bawahan mengerjakan
sesuatu karena bawahan kagum terhadap atasan, bawahan merasa kagum atau
membutuhkan untuk menerima restu pemimpin, dan mau berperilaku pula seperti
pemimpin, dan (5) Expert power:
bawahan mengerjakan sesuatu karena bawahan percaya pemimpin memiliki
pengetahuan khusus dan keahlian serta pengetahuan apa yang diperlukan.
Kewibawaan merupakan keunggulan, kelebihan atau
pengaruh yang dimiliki oleh kepala sekolah. Kewibawaan kepala sekolah dapat
dipengaruhi bawahan, bahkan menggerakkan, memberdayakan segala sumber daya
sekolah untuk mencapai tujuan sekolah sesuai dengan keinginan kepala sekolah.
Berdasarkan pendekatan pengaruh kewibawaan, seorang kepala
sekolah dimungkinkan untuk menggunakan pengaruh yang dimilikinya dalam membina,
memberdayakan. Dan memberi tauladan kepada guru sebagai bawahan. Legitimate dan coersive power memungkinkan kepala sekolah dapat melakukan pebinaan
terhadap guru, sebab dengan kekuasaan dalam pemerintah dan memberi hukuman,
pembinaan terhadap guru akan lebih mudah dilakukan . Sementara itu dengan reward power memungkinkan kepala sekolah
memberdayakan guru secara optimal, sebab penghargaan bagi guru untuk
menampilkan performan terbaiknya. Selanjutnya dengan referent dan expert power,
keahlian dan perilaku kepala sekolah
yang diimplenentasikan dalam bentuk rutinitas kerja, diharapkan mampu
meningkatkan motivasi kerja para guru.
b) Pendekatan sifat (the trait approach)
Pendekatan
ini menekankan pada kualitas pemimpin. Keberhasilan pemimpin ditandai oleh daya
kecakapan luas biasa yang dimiliki oleh pemimpin, seperti tidak kenal lelah,
intuisi yang tajam, wawasan masa depan yang luas, dan kecakapan yang meyakinkan
yang sangat menarik.
Menurut pendekatan sifat, seseorang menjadi pemimpin karena
sifat-sifatnya yang dibawah sejak lahir,
bukan karena dibuat atau dilatih. Seperti dikatakan oleh Thierauf dalam
Purwanto (1997:31): ”The hereditary
approach states that leaders are born and note made tha leaders do not
acquaeire theability to lead, but intherit it” yang artinya pemimpin adalah
dilahirkan, bukan dibuat bahwa pemimpin tidak dapat memperoleh kemampuan untuk
memimpin, tetapi mewarisinya. Selanjutnya Stogdill dalam Sutisna (1985:31)
mengemukakan bahwa seseorang tidak menjadi pemimpin dikarenakan memiliki suatu
kombinasi sifat-sifat kepribadian, tetapi pola sifat-sifat pribadi pemimpin itu
mesti menunjukkan hubungan tertentu dengan sifat, kegiatan, dan tujuan dari
pada penghikutnya.
Berdasarkan pendekatan sifat, keberhasilan seorang
pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi, melainkan
dipengaruhi pula oleh keterampilan (skill)
pribadi pemimpin.
c) Pendekatan perilaku ( the behavior approach)
Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang
berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan
oleh sikap dan gaya
kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin dalam kegiatannya sehari-hari dalam
hal: bagaimana cara memberi perintah, membagi tugas dan wewenang, cara
berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan
dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, dan cara mengambil
keputusan. (Purwanto, 1997:32).
Pendekatan perilaku penekanan pentingnya perilaku yang
dapat diamati yang dilakukan oleh para pemimpin dari sifat pribadi atau sumber
kewibawaan yang dimilikinya. Oleh sebab itu pendekatan perilaku itu
mempergunakan acuan sifat pribadi dan kewibawaan. Kemampuan perilaku serta
konsepsional telah berkembang kedalam berbagai macam cara dan berbagai macam
tingkatan abstraksi. Perilaku seorang pemimpin digambarkan kedalam istilah
pola aktivitas, peran manajerial, atau
kategori perilaku.
d) Pendekatan situasional (situational approach)
Pendekatan situasional menekankan pada ciri-ciri
pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur atau memperkirakan cirri-ciri pribadi ini,
dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang
didasarkan kepada kombinasi dari kemungkinan yang berifat kepribadian dan
situasional. (Wahjosumidjo, 2002:29)
Pendekatan situasional atau pendekatan kontingensi
merupakan suatu teori yang berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang
mengatakan adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang berifat universal,
dan pandangan yang berpendapat bahwa setiap organisasi adalah unik dan memiliki
situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemipinan
tertentu.
Pendekatan situasional bukan hanya merupakan hal yang
penting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena kepemimpinan,
tetapi membantu pula cara pemimpin yang potensial dengan konsep-konsep yang
berguna untuk menilai situasi yang bermacam-macam dan untuk menunjukkan
perilaku kepemimpinan yang tepat berdasarkan situasi. Peranan pemimpin harus
dipertimbangkan dalam hubungan situasi dimana peranan itu dilaksanakan.
Pendekatan situasional dalam kepemimpinan mengatakan bahwa kepemimpinan
ditentukan tidak oleh sifat kepribadian individu-individu, melainkan oleh
persyaratan situasional.
Dalam kaitan ini Sutisna (1985:260) menyatakan bahwa
kepe-mimpinan adalah hasil dari hubungan-hubungan dalam situasi sosial, dalam
situasi berbeda para pemimpin memperlihatkan sifat kepribadian yang berlainan.
Jadi pemimpin dalam situasi yang satu mungkin tidak sama dengan tipe pemimpin
dalam situasi lain dimana keadaan dan
faktor sosial berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar